Menikah itu Wajib Lhoooo !

Menikah itu Wajib Lhoooo !

Category : Kuliah Fiqh III

stit-sunangiribima.ac.id – Semester ini saya dipercaya untuk mengampu tiga mata kuliah, yaitu Fiqh III, Aswaja dan Hadis Tarbawi. Mata kuliah Fiqh III sudah beberapa kali saya ampu pada semester sebelumnya sehingga tidak sulit bagi saya untuk menyiapkan materi yang akan didiskusikan selama satu semester ke depan disertai rincian buku referensinya.

Mata kuliah Fiqh III ini erat kaitannya dengan materi hukum keluarga Islam yang menitikberatkan pembahasannya tentang pernikahan menurut hukum Islam dan hukum positif (UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam). Pembahasan diawali dengan pengertian pernikahan, rukun dan syarat pernikahan, dan tujuan serta hikmah pernikahan.

Masalah pertama adalah pengertian pernikahan. Pengertian ini sangat penting dibahas karena memperhatikan perkembangan jaman, banyak orang tidak mau meresmikan hubungannya dengan pernikahan sebagaimana banyak terjadi di negara-negara Barat, mereka lebih suka hidup se rumah tanpa ikatan pernikahan. Budaya Barat ini juga menjangkiti masyarakat kita terutama yang tinggal di kota-kota besar, di apartemen-apartemen atau lainnya yang pengawasan sosialnya sangat kurang.

Menurut kelompok ini, hidup bersama itu tidak harus dengan menikah tapi asal suka sama suka, maka kehidupan dalam satu rumah tangga dapat terjalin hingga beranak pinak. Kehidupan tanpa ikatan pernikahan seperti ini sering disebut dengan “Kumpul Kebo” atau “Kohabitasi”, living in sin, hidup dalam lumuran dosa.

Dalam Islam, kehidupan rumah tangga diatur sedemikian rupa dengan peraturan yang ketat karena pernikahan memiliki nilai ibadah di sisi Allah Swt., sehingga Kompilasi Hukum Islam memberikan pengertian menikah dengan “akad yang sangat kuat atau mistaqan ghalidan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah yang bertujuan untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah”.

Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pernikahan merupakan sebuah bentuk ibadah untuk mentaati perintah Allah Swt. Pernikahan diawali dengan prosesi akad nikah atau janji suci perkawinan antara calon bapak mertua dengan calon pengantin laki-laki dalam rangka melimpahkan tanggung jawab kepada calon suami putrinya dan juga untuk mengikat hubungan suami isteri di antara kedua insan, yang bertujuan untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Di sini jelas sekali perbedaan antara kumpul kebo dengan pernikahan. Kumpul kebo hanya dilandasi cinta dan kasih sayang di antara kedua pasangan tanpa ikatan sehingga kapan saja bisa bubar, sedang pernikahan di samping dilandasi oleh rasa cinta dan kasih sayang, juga merupakan bentuk ketaatan terhadap perintah Tuhan yang diperkuat dengan akad nikah.

Walaupun sama-sama menjalani kehidupan rumah tangga dalam satu atap, nilai-nilai agama tidak dijadikan acuan oleh pasangan kumpul kebo sehingga mereka tidak mendapatkan balasan apa-apa, malah mereka akan menerima siksaan yang pedih di akhirat kelak, kecuali mereka bertaubat. Lain halnya dengan orang yang menikah, mereka menikmati kehidupan rumah tangga yang harmonis di dunia dan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda di sisi Tunannya di akhirat kelak jika kehidupan rumah tangga itu dijalankan sesuai dengan aturan syari’at.

Itulah pentingnya mengapa pengertian pernikahan perlu dibahas secara mendalam untuk memberikan penegasan bahwa menikah itu wajib dilakukan bagi orang yang kebelet nikah sehingga terhindar dari dosa perzinaan yang dilarang agama sebagaimana yang dilakukan oleh pelaku kumpul kebo tersebut.

Tentu masih banyak pembahasan lain terkait pernikahan yang perlu dikaji lebih lanjut, misalnya tentang rukun dan syarat nikah, mahar atau mas kawin apakah termasuk rukun nikah atau bukan, berapa besaran mahar yang harus dibawa, masalah umur calon mempelai, masalah wali, apakah janda butuh wali atau tidak, dan lain-lain. Insya Allah akan diulas pada tulisan berikutnya.

Wallahu a’alam.

Penulis : Dr. Syukri Abubakar, M.Ag


Leave a Reply