Menikmati Ni’u Dori di Kampung Bugis Timur 

Menikmati Ni’u Dori di Kampung Bugis Timur 

Category : Kronik

Jum’at, 05 April 2019 rombongan STIT Sunan Giri Bima berkesempatan mengunjungi wilayah paling timur kabupaten Bima, kampung Bugis Timur Sape dalam rangka melakukan sosialisasi kampus.

Kunjungan ke Bugis Timur ini merupakan kelanjutan dari program TURBA (turun ke bawah) yang diinisiasi oleh panitia Maba ke beberapa kelurahan dan desa di kota dan kabupaten Bima dalam rangka mensyi’arkan agama Islam sekaligus memperkenalkan program-program unggulan yang ditawarkan kampus STIT Sunan Giri Bima kepada masyarakat.

Rombongan diikuti oleh unsur pimpinan, ketua panitia Maba dan beberapa orang mahasiswa yang berasal dari desa Bugis Timur, Guda dan Lambu Pantai Papa. Sesampainya di kampung Bugis Timur, kami disambut dengan terik mentari jelang siang yang agak terik sehingga menyebabkan kerongkongan sedikit kering. Rasa haus tersebut sedikit tertangani dengan Ni’u Dori yang disuguhkan tuan Rumah. Lega rasanya menikmati Ni’u Dori ketika rasa haus menghampiri. Dua gelas Ni’u Dori tidak terasa di kerongkongan malah kepingin menambah lagi.

TURBA kali ini dipusatkan di masjid jami’ kampung Bugis Timur dirangkai dengan khutbah Jum’at yang disampaikan oleh ustad Julkarnain, S.Pd.I. dan Imam oleh ayahanda Ridwan, S.Pd.I. Diawal khutbahnya, UJ tertegun memperhatikan tiga tangga untuk naik mimbar. Menurut UJ, adanya tiga anak tangga ini memiliki sejarah tersendiri. Ia menjelaskan ucapan bilal dan apa yang harus dilakukan oleh Khatib.

Bilal mengucapkan:

مَعَاشِرَالْمُسْلِمِينَ، وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ رَحِمَكُمُ اللهِ، رُوِيَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ (أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا رَحِمَكُمُ اللهِ ٢×) أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ×١

Setelah bilal selesai membaca kalimat di atas, kemudian khatib maju menerima tongkat dan ketika naik ke atas mimbar, bilal membaca doa shalawat di bawah ini:

اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ٢× ، اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ أَجْمَعِينَ

Kemudian setelah khatib berada di atas mimbar, bilal menghadap kiblat dan membaca doa sebagai berikut:

اللَّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اللَّـٰهُمَّ قَوِّ اْلإِسْلاَمَ  وَاْلإِيمَانَ، مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِيْ الدِّينَ رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ، يَاخَيْرَ النَّاصِرِينَ، بِرَحْمَتِكَ يآأَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Dari bacaan di atas, setidaknya mengandung empat hal. Pertama, anjuran mendengarkan secara seksama khutbahnya khatib. Kedua, larangan berbicara saat khutbah berlangsung. Ketiga, pembacaan shalawat kepada Nabi. Keempat, mendoakan kaum muslimin dan muslimat. Keempat isi kandungan tarqiyyah tersebut merupakan hal yang positif. Wallahu a’lam.

Dara Bima, 10 April 2019


Leave a Reply