Muma Guru

Ketua MUI Kota Bima

Muma Guru

Category : Tokoh Lokal

Terbersit dalam hati saya untuk selalu menyambung tali silaturrahim kepada siapa pun, kepada keluarga dekat, keluarga jauh, atau siapa saja sesama umat manusia, lebih-lebih kepada ulama dan para sesepuh. Khusus kepada para ulama, saya ingin mendapatkan nasehat dan barokah ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat karena bagaimana pun mereka memiliki banyak pengalaman hidup dalam meruwat umat.

Selain itu, dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa barangsiapa yang ingin dipermudah rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah silaturrahim. Oleh karena itu, pada hari Sabtu kemarin, saya beserta mas Syagif dan pak Arif Rahman setelah mengikuti acara akad nikah salah seorang dosen STIT Sunan Giri Bima, Nurhasanah, M.Pd., berkesempatan bersilaturrahim ke rumah salah seorang ulama kota Bima Muma Guru Drs. H. M. Saleh Ismail yang saat ini menjabat sebagai ketua MUI Kota Bima dan salah seorang unsur pendiri kampus STIT Sunan Giri Bima.

Niat untuk berkunjung sudah lama terbersit namun baru kemarin dapat terwujud. Bahkan sebulan yang lalu, saya sempat mampir di rumah beliau tapi beliau sudah berangkat ke Sumbawa dua tiga hari sebelumnya. Sebelumnya, saya sudah sering berkunjung ke kediaman beliau, tapi saat ini berbeda karena saya mendapat kabar dari rekan-rekan di kampus, ketika itu saya masih di Surabaya, bahwa Muma Guru mendapatan cobaan berupa kesehatan yang tidak prima sehingga beliau masuk rumah sakit bahkan dirujuk sampai ke Bali. lhamdulillah, kemarin beliau sudah terlihat sehat, segar bugar bahkan tidak terlihat tanda-tanda sakit, cuma nampak sedikit lebih kurus dari biasanya.

Dalam perbincangan kemarin, banyak hal yang dikemukakan oleh Muma Guru, di antaranya beliau berpesan agar selala mennjalin tali silaturrahim dengan para sesepuh/orang tua karena apa yang ada saat ini adalah hasil usaha keringat orang-orang tua dulu. Generasi muda hanya melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh para sesepuh.

Muma Guru juga bercerita tentang bagaimana menggaet calon mahasiswa baru yang dilakukan oleh para sesepuh dulu. Mereka turun ke kampung-kampung di kota dan kabupaten dalam rangka mensyi’arkan Islam sekaligus mengenalkan kampus STIT Sunan Giri Bima. Dengan cara demikian, kampus STIT dulu banyak dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu, Muma Guru berpesan agar gunakan cara-cara demikian, dari rumah ke rumah menjemput calon maba, dan cara demikianlah, menurutnya yang jitu dalam menggaet maba.

Saya informasikan bahwa cara tersebut sudah, sedang dan akan kami galakkan, kami mohon do’a beliau agar Muma Guru dan kami sebagai generasi muda diberi kesehatan prima, diberi kekuatan lahir bathin untuk melanjutkan perjuangan sesepuh kampus. Semoga apa yang menjadi cita-cita dan arah perjuangan para sesepuh dapat kami jalankan sesuai track Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Dalam kesempatan itu juga, saya menanyakan tentang istilah yang umum disematkan untuk para ulama Bima jaman dulu, karena terdapat beberapa istilah yang sering saya dengar di antaranya Tuan imam,  Kyai haji, Tuan Guru haji, Muma guru, kakek guru, ustad, dan lain-lain. Menurut beliau, yang Khas untuk ulama Bima adalah Muma Guru, di Dompu Uma Guru dan di Lombok Tuan Guru.

Istilah Tuan Guru menurut beliau lebih condong merujuk pada jaman penjajahan kolonial Belanda, karena pejabat-pejabat Belanda saat itu dipanggil dengan istilah Tuan misalnya Tuan Menir, Tuan Jenderal, dan lain-lain. Jadi panggilan khas untuk ulama Bima adalah Muma Guru. Walaupun terdapat panggilan lain seperti Kyai Haji M. Said Amin, Tuan Imam H. Abdurrahman Idris, Kakek Guru H. Muhammad Hasan, dan Ustad H. Adnin, dan lain-lain.

Oleh karena itu, perlu digali lebih lanjut tentang panggilan khas atau gelar khas Ulama Bima yang disematkan kepada mereka sehingga memiliki warna tersendiri dari daerah lain. Beliau melanjutkan bahwa orang-orang yang pantas diberi gelar tersebut harus memenuhi beberapa syarat di antaranya; memiliki akhlak yang mulia, menguasai ilmu agama secara mendalam kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan diajarkan kepada masyarakat dan yang terakhir harus menyandang gelar haji. Wallahu a’lam.

Dara Bima, 07 April 2019

Sykuri Abubakar*


Leave a Reply