Mencetak Generasi Qur’ani

Mencetak Generasi Qur’ani

Category : Uncategorized

Kota Bima, Ramadhan 1440 – Nuzulul Quran berarti turunnya Alquran, sedangkan definisi secara istilah adalah diturunkannya AlQuran dari mega server lauhul mahfudz ke Baitul izzah pada malam lailatul qadar secara keseluruhan. Dari baitul izzah Lalu Quran diturunkan berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW selama 23 tahun.

Dari baitul izzah malaikat jibril menyampaikan wahyu kepada rasulullah SAW dengan beberapa model, terkadang Malaikat Jibril menampakkan dirinya dalam bentuk manusia, dan menyampaikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah memahami apa yang disampaikannya. Dilain kesempatan Malaikat Jibril menampakkan dirinya kepada Nabi SAW dengan bentuk aslinya, dan terkadang juga malaikat Jibril memasukkan wahyu ke dalam hati Nabi, Nabi tidak melihat sesuatu apapun, hanya merasa bahwa wahyu itu sudah berada di dalam hatinya. Adapun proses penyampaian wahyu terberat yang dirasakan oleh Rasulullah yaitu wahyu disampaikan seperti bunyi gemerincing lonceng, proses penerimaan wahyu inilah yang paling berat dirasakan oleh Nabi, kadang keningnya berkeringat meskipun pada saat musim dingin.

Proses penerimaan wahyu yang dialami Rasulullah dan definisi dari nuzulul Quran bukanlah hal terpenting, karena yang paling penting adalah bagaimana interaksi kita dengan alQuran.

Diantara interaksi yang perlu kita tanamkan kepada diri kita dan generasi-generasi penerus adalah membaca dan menghafal alQuran. Banyak hadits dan ayat yang menjelaskan keutamaan membaca dan menghafal Quran, diantaranya adalah, Quran akan menjadi syafaat bagi yang membacanya dan pendidik (orang tua) yang mampu menjadikan anak-anaknya penghafal alQuran akan diberikan keistimewaan yaitu dikenakannya mahkota oleh anak didiknya di Jannah-Nya.

Membaca serta menghafal alQuran adalah dua kegiatan yang sedang digalakkan di kampus STIT Sunan Giri Bima melalui program ekstrakurikuler, dengan disediakannya asrama gratis bagi mahasiswa, memberikan kemudahan bagi pendidik untuk mengontrol kegiatan tersebut. STIT Sunan Giri Bima merupakan kampus berlatar agama, akan tetapi nilai ini hampir tidak terlihat dulunya. Sejak satu tahun terakhir, nilai falsafah ini kembali digaungkan lewat program ekstrakurikuler. Azanpun berkumandang 5 waktu dikampus ini, bahkan lantunan ayat-ayat suci alQuran selalu terdengar disetiap waktu. Massyarakat sekitarpun merasa nyaman dengan lantunan al-Quran yang selalu dibaca oleh mahasiswa STIT Sunan Giri Bima lewat speaker dan bahkan beberapa diantara masyarakat memanggil khusus mahasiswa STIT Sunan Giri Bima untuk menjadi pembimbing bacaan alQuran bagi anak-anak mereka.

Kegiatan rutin ini sederhana tapi bermanfaat dunia dan akhirat, kini STIT Sunan Giri Bima selalu terlihat hidup, sejak subuh kampus ini sudah terlihat ramai oleh mahasiswa yang bangun menjalankan ibadah sholah subuh, sehabis subuh mereka akan memulai menyetor hafalan. Bahkan disela-sela kegiatan belajar mengajar, mereka selalu menyempatkan untuk murojaah kembali hafalan alQuran. Pesan singkat yang selalu dilemparkan oleh unsur pimpinan kepada masyarakat adalah “titipkan anak-anak bapak-ibu sekalian di STIT maka kami akan bimbing mereka menjadi penghafal alQuran, hafal 30 juz atau setidaknya juz 30 diselesaikan”
Seorang pemuda akan menjadi pemimpin dalam rumah tangganya dan bahkan menjadi imam sholat dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan perempuan akan menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya. Maka harus mampu menghafal alQuran 30 juz atau setidaknya menghafal juz yang ke-30.

Kegiatan seperti ini akan sulit kita temukan di kampus-kampus lain khususnya daera Bima. Kini, nilai agama kembali terpancar dari kampus ini, lulusan yang disiapkan adalah lulusan yang siap pakai di kehidupan masyarakat. Semoga ikhtiar ini menjadi amal jariah yang pahalanya tidak akan pernah putus bagi seluruh civitas akademika STIT Sunan Giri Bima.

Penulis : Muhammad Irfan


Leave a Reply