Author Archives: admin

Koperasi Kampus; Awal Kebangkitan STIT Sunan Giri Bima

Category : Uncategorized

Dalam pembangunan perekonomian  dunia,  negara melakukan transaksi perdagangan sebagai sistem untuk melancarkan keuangan dan membantu kesejahteraan masyarakat.

Para ahli ekonom dunia mengatakan Pasar bebas (Free Market) sebagai salah satu bentuk usaha dan menstabilkan sistem jual beli dalam meningkatkan kebutuhan primer dan tersier dalam dunia perdagangan.

Dalam Islampun, sistem perdagangan dan jual beli sudah menjadi keunikan yang diterapkan oleh nabi Muhammad SAW dalam meningkatkan perekonomian dan tatanan sosial untuk kehidupan yg lebih baik. Sesuai dengan sabdanya “sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada di jual-beli”.

Di era millenal  ini perdagangan dan jual beli sudah menjadi persaingan yang sangat urgen dalam dunia perekonomian, dalam hal ini pun orang-orang mulai menerapkan sistem jual beli sebagai bentuk melancarkan perekonomian secara individu dan kelompok.

Bahkan instansi dan perguruan tinggi-pun melakukan sistem jual beli dalam melancarkan perekonomian secara sistematis dan teroganisir.

STIT Sunan Giri Bima merupakan salah satu perguruan tinggi yang melakukan sistem perdagangan dan jual beli (Koperasi). Yang sekarang di beri nama Koperasi Pegawai dan Staf STIT Sunan Giri Bima.

Ketika kampus ini sedang mengalami kemunduran dari sisi peminatnya, salah satu wacana yang dilemparkan oleh unsur pimpinan STIT Sunan Giri Bima adalah mewujudkan roda perekonomian lewat koperasi. Pada tahun 2017, lahirlah perkoperasian kampus STIT Sunan Giri Bima.

Ketua STIT Sunan Giri Bima bahkan mengatakan, “Dengan adanya koperasi akan memperlihatkan kepada masyarakat dan alumnus bahwa stit masih eksis dalam dunia pendidikan” sehingga, terbantahkan semua anggapan yang mengatakan bahwa STIT telah tidur. Dengan adanya koperasi Kampus, STIT hendak menunjukkan bahwa kampus ini sedang bangun dari tidurnya.

Tamu dan alumnus yang mengunjungi STIT Sunan Giri Bima, tempat pertama yang mereka masuki adalah koperasi dan ucapan yang terlontar dari mereka sekata “Waah, hebat yaah STIT sudah ada koperasinya, sudah maju kampus ini”

Secara umum, Alquran telah menjelaskan sistem jual-beli dan hukum dalam pelaksanaannya. Allah berfirman : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”.

Dengan adanya perkoperasian kampus ini, telah memberikan efek positif bagi keberadaan kampus, di samping menunjang program unggulan kampus yang memberikan kemudahan kepada mahasiswa yaitu Asrama Gratis. Sehingga, segala keperluan mahasiswa yang tinggal di asrama terpenuhi kebutuhannya di koperasi kampus dan bahkan masyarakat sekitarpun lebih sering mendatangi kampus walau sekedar ingin berbelanja.

Semoga dengan adanya koperasi kampus ini, STIT Sunan Giri Bima bisa lebih dikenal oleh masyarakat.

Oleh; Adie Kharyadin


Catatan Perjalanan ke Campa

Category : Kronik , Uncategorized

Tak ada kata lelah saat kami harus menyambangi satu persatu umat yang tersebar di berbagai pelosok kota dan kabupaten Bima. Kesadaran untuk membangun generasi tetap menggelora memantik semangat keluarga besar civitas akademika STIT Sunan Giri Bima untuk menebar rahmat dan menguatkan konsep kehidupan Islam ahlu sunnah wal jamaah.

Selasa kemaren, tepatnya tanggal 30 April 2019, pukul 19.00 Wita rombongan yang berjumlah tiga mini bus bertolak dari Kampus Hijau menuju desa Campa, Sebuah desa yang terletak di ujung selatan Kecamatan Madapangga. Dibutuhkan waktu lebih kurang 1,5 jam dengan kecepatan rata-rata 60-70 km/jam untuk tiba di sana, namun karena diminta untuk hadir lebih awal maka, kendaraan yang kami tumpangi pun di pacu lebih cepat agar dapat tiba lebih awal ke lokasi acara dari waktu yang direncanakan.

Meskipun harus menerobos jalanan tepi pegunungan dan sungai yang sepi dan gelap, dan sesekali melewati jalanan berkubang sepanjang lebih kurang 1,5 Km, akhirnya kami tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 wita, kami disambut oleh pak Samsudin, M.Pd.I, salah satu dosen yang berdomisili di desa Campa sekaligus fasilitator kegiatan sosialisasi malam ini.

Sesuai rencana, kehadiran tim sosialisasi akan mempersembahkan rangkaian kegiatan hiburan dan siraman rohani sebagai strategi sosialisasi kampus ke tengah-tengah masyarakat. Kepala Desa Campa yang mewakili pihak keluarga berhajat dalam sambutan dan arahannya memberikan ucapan selamat datang dan sukses kepada seluruh tim sosialisasi yang berkenan hadir untuk memeriahkan acara kambolo weki umum yang dihelat oleh keluarga Bapak Ahmad Amin sekeluarga pada malam itu. Beliau juga mengapresiasi berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang ditampilkan oleh para mahasiswa pada pra acara kambolo weki yang di antaranya adalah seni tari dan marawis sebagai upaya dalam melestarikan budaya dan syiar Islam di tengah gempuran industri hiburan yang tidak sejalan dengan tradisi dan budaya masyarakat Bima yang Islami. Beliau ingin agar kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan di berbagai tempat sebagai bagian dari dakwah dan syiar agama, demikian harapan diakhir sambutannya.

Bagi STIT Sunan Gri Bima, Kegiatan sosialisasi sesungguhnya bukan program menebar janji namun lebih dari itu merupakan unjuk gigi dan unjuk bukti kepada masyarakat dari program yang telah dijalankan lebih kurang 8 bulan terakhir. Untuk itu di sela-sela ceramah panjangnya di hadapan masyarakat Campa, Ustadz Zul atau yang biasa kami sapa dengan UJ menyisipkan dan menyampaikan banyak hal tentang bentuk-bentuk kegiatan pembinaan yang telah dijalani oleh mahasiswa selama berada di asrama STIT Sunan Giri Bima, yakni Pencapaian yang telah diraih oleh kampus STIT Sunan Giri Bima dalam mendidik dan mengasah intelektual mahasiswa yang tidak hanya siap secara keilmuan agama untuk dirinya sendiri, namun siap dan mampu menjadi obor penerang di tengah kehidupan masyarakat.
Di akhir urainnya UJ menekankan perlunya masyarakat untuk terus melakukan kebaikan dan amal shaleh terutama mendekati bulan romadhon yakni dengan membersihkan hati dan pikiran serta i’tikad dan hubungan antara sesama manusia, hal tersebut penting karena i’tikad terhadap sesama manusia akan berpengaruh terhadap semua amalan yang kita lakukan yang berhubungan dengan manusia dan Tuhan. Di samping itu UJ juga sempat menyinggung mengenai pentingnya pendidikan agama bagi keluarga terutama anak dan istri, sebab keselamatan seorang suami bergantung dari ketaatan istri dan anaknya terhadap suami.

Sedangkan Pembantu Ketua III yang didapuk untuk mewakili ketua STIT memaparkan mengenai perlunya masyarakat untuk jeli dan memahami status sebuah Kampus yang telah atau yang belum terakreditasi untuk dijadikan sebagai tempat melanjutkan studi, ia mencontohkan STIT Sunan Giri Bima yang telah mendapatkan akreditasi B dan C pada masing-masing program studi Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, karena keberadaan akreditasi menjadi prasyarat mutlak bagi sarjana untuk melamar pekerjaan yang diidamkan utamanya di instansi pemerintahan.

Lebih lanjut ia memaparkan di hadapan masyarakat Campa bahwa keunggulan STIT Sunan Giri Bima apabila dibandingkan dengan kampus yang lain adalah paket program kreativitas yang bertujuan mengantarkan mahasiswa menjadi insan yang mandiri dan memiliki life skill dalam memenuhi kebutuhan kuliah maupun biaya hidupnya sehingga dengan adanya kegiatan pembinaan kreativitas ini, praktis seluruh kebutuhan kuliah para mahasiswa dapat terpenuhi secara mandiri, dan dimasa yang akan datang dapat dipastikan bahwa alumni STIT tidak akan menjadi bagian dari penambah jumlah pengangguran di tengah masyarakat.

Sebagaimana penampilannya di beberapa tempat yang lainnya, kali ini pun tim sosialisasi menunjukkan performa terbaiknya dalam menghibur masyarakat desa Campa, semoga saja kehadiran tim sosialisasi kali ini memberikan kesan positif di tengah masyarakat sehingga mereka memberikan kepercayaan kepada STIT untuk dijadikan tujuan pendidikan bagi anak-anaknya di masa yang akan datang.

Penulis : Irwan Supriadin


Safari Dakwah “Plus-plus”: Sebuah Ikhtiar Menuju Kesuksesan

Category : Kronik

Safari dakwah sosialisasi “plus-plus” STIT Sunan Giri Bima merupakan rangkaian kegiatan dakwah sekaligus sosialisasi kampus STIT Sunan Giri Bima melalui acara-acara hari besar Islam di kota maupun kabupaten Bima.

Setelah beberapa kali melakukan safari dakwah sosialisasi “plus-plus” dalam acara Isra’ Mi’raj di berbagai daerah,  Minggu malam 28 April  lalu civitas akademika STIT Sunan Giri Bima kembali melakukan safari dakwah di desa Risa.

Sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh komandan lapangan Abd Salam, M.Pd.I,  kami berkumpul di kampus STIT sebelum waktu  magrib tiba. Usai sholat magrib berjamaah di musholah kampus kami melanjutkan perjalanan menuju desa Risa. Sekira 30 orang kaum muda STIT Sunan Giri Bima berangkat menuju desa Risa baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa.

Setelah sampai di desa Risa, kami disambut antusiasme warga.  Sebagai gantinya, kami berdecak penuh kekaguman dengan segala yang tampak di depan mata kami. Mulai dari panggung, tata letak ornamen, rangkaian acara yang disusun sangat apik, bahkan tempat diadakannya acara tersebut sepertinya telah lulus seleksi berkali-kali dari tempat lainnya; ini adalah panggung terindah yang pernah kami saksikan selama bersafari. Bahkan, dalam sambutannya, Dr. Syukri Abubakar, M.Ag selaku ketua STIT Sunan Giri Bima memuji-muji seluruh persiapan acara Isra’ Mi’raj yang bertemakan “Menyambut Bulan Suci Ramadhan” tersebut.

Melihat antusiasme warga membuat kami semakin semangat menampilkan pra acara hingga acara inti. Seperti biasanya, sebelum memasuki acara inti, kami menyuguhkan warga dengan marawis yang sangat menghibur, dilanjutkan dengan tari tradisional yang mayoritas penarinya adalah mahasiswa yang berasal dari desa Risa. Puncak pra acara diakhiri dengan penampilan drama teater. Penampilan terakhir ini sekaligus menjadi ruang ekspresi bagi mahasiswa STIT Sunan Giri Bima. Bercerita tentang ina male dan ama male, dengan dua orang anak , lelaki dan perempuan, drama teater ini sukses menampilkan penokohan yang lugas. Berawal dari tokoh ama Male dengan “wajah daro” namun berhati selembut kapas hingga sosok ina Male yang bijak. Keteguhan hati pasangan ini dalam membesarkan anak-anaknya dengan karakter yang berbeda-beda, anak lelaki berperangai angkuh juga sombong dan anak perempuannya sangat taat telah pula membuat para penonton berurai air mata, sesekali dihiasi tawa juga riuh rendah dan decak kagum.

Setelah pra acara selesai, maka masuklah kami pada acara inti, yaitu uraian hikmah yang menggugah oleh ustadz Arif Julkarnain, yang biasa disapa UJ. Dalam uraian hikmahnya, UJ menyampaikan salah satu hadits Nabi Muhammad SAW; “Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta syaithan-syaithan akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan”.

Safari dakwah “plus-plus” adalah ajang bagi kaum muda yang merupakan civitas akademika STIT Sunan giri Bima untuk mengembangkan diri, bersilaturahim, juga berdakwah. Karena segala kesuksesan selalu terlahir dari ikhtiar, doa juga tawakal. Semoga safari dakwah ini menjadi bukti ikhtiar kami selaku kaum muda civitas akademika STIT Sunan Giri Bima dalam menyongsong kesuksesan.

Penulis : Muhammad Irfan


Pemuda Pelaku Sejarah

Category : Opini

Sebuah motivasi ringan yang selalu terngiang dalam pikiran saya adalah ”jadilah pelaku sejarah, bukan semata penikmat sejarah”, “Nikmat ada di proses, hasil hanyalah bonus”. Menjadi “pelaku sekaligus penikmat” inilah yang sedang kami galakkan saat ini di kampus STIT Sunan Giri Bima. Jika dulu, para tokoh sejarah di STIT Sunan Giri Bima telah meletakkan dasar-dasar penting bagi kampus ini, mulai dari awal perintisan sampai menjadi primadona di kota dan kabupaten Bima, maka sekarang saatnya kami melanjutkan tongkat estafet tersebut.

Setelah banyak menikmati perjalanan yang penuh liku, para pelaku sejarah terdahulu memang telah mencapai puncak gilang gemilang. Namun arus globalisasi telah menggerus prestasi tersebut, sehingga perlahan-lahan berimbas pada kemunduran kampus STIT Sunan Giri Bima. Kami dahulunya hanya penikmat sejarah kemajuan STIT Sunan Giri Bima, namun sekarang kami pun merasa tertantang dengan segala modernisasi dan globalisasi yang melaju kian cepat. Kampus yang dulunya menjadi rebutan lambat laun mengalami kemunduran yang bahkan ada wacana hendak di tutup.

Melihat keadaan kampus yang mulai redup, para pelaku sejarah yang sempat membangun STIT Sunan Giri Bima mulai berpikir dengan keadaan kampus ini. STIT harus kembali menjadi primadona, dengan keadaan fisik dan umur yang telah renta, maka tidak mungkin jika pelakunya harus mereka lagi, maka butuh regenerasi.
Umar Bin Khattab r.a berkata “Jika aku sedang mengalami kesulitan, maka yang aku cari adalah pemuda”. Pemuda merupakan pemimpin masa depan, pemuda memiliki pemikiran yang sangat tajam.

Dengan segala kelebihan definisi pemuda, maka pelaku sejarah terdahulu meletakkan amanah berat untuk menjadikan kampus STIT Sunan Giri Bima menjadi primadona kembali kepada pundak-pundak kaum muda. Di tahun 2017 terjadilah serah terima amanah besar dari tokoh-tokoh sepuh STIT Sunan Giri Bima kepada para pemuda yang notabene adalah civitas akademika STIT Sunan Giri Bima sendiri. Dari sini regenerasi bermula. Tiap generasi memiliki pelaku sejarah sendiri, dan sekarang pelaku sejarah STIT Sunan Giri Bima terletak di pundak-pundak pemuda.

Pada tahun pertama kepemimpinan para pemuda ini, STIT Sunan Giri Bima mulai menebarkan kembali pesonanya lewat gebrakan-gebrakan baru. Mulai dari lahirnya koperasi sampai dengan sosialisasi di sekolah-sekolah yang dilakukan dengan sangat masif. Jika tiba waktu jumat kaum muda STIT kembali berkunjung ke daerah-daerah dalam rangka Safari Dakwah Sosialisasi “Plus”, berdakwah sekaligus mengenalkan kampus STIT Sunan Giri Bima, dari rumah ke rumah, masjid ke masjid, kampung ke kampung. Proses yang tidak bisa dibilang ringan. Namun dari proses ini, implikasi terbesarnya adalah tahun pertama kepemimpinan para kaum muda, STIT mulai dilirik kembali dengan banyaknya mahasiswa baru yang masuk.

Memasuki tahun kedua, pergerakan kaum muda STIT Sunan Giri Bima semakin kuat. Jika tahun pertama pemuda-pemuda ini hanya bersosialisasi lewat sekolah-sekolah, masjid ke masjid, rumah ke rumah, maka memasuki tahun kedua, muncul ide cemerlang dari salah satu pemuda STIT, agar safari dakwah sosialisasi “Plus” ini harus melalui acara-acara besar Islam. Artinya, STIT Sunan Giri Bima mengadakan acara-acara hari besar Islam di desa-desa melalui kerja sama dengan perangkat desa dan alumnus yang berada di tempat tersebut. Dimulailah safari dakwah sosialisasi “Plus” STIT Sunan Giri Bima, yakni acara Isra’ Mi’raj yang di lakukan di Ndano Na’e, kampo melayu, Jati Baru, berlanjut di Masjid Al-Huda Karara, kemudian daerah Donggo o’o, dan puncaknya tadi malam (28/4) di Desa Risa. Hampir sebagian besar pengisi acara safari dakwah sosialisasi “Plus” ini adalah civitas akademika STIT Sunan Giri Bima, mulai dari dosen hingga mahasiswa.

Inilah kami, kaum muda STIT Sunan Giri Bima, para pelaku sejarah pada generasi ini, yang kelak akan selalu dikenang perjuanganannya. Sungguh menjadi pelaku sejarah STIT Sunan Giri Bima merupakan kebanggan, dan sungguh proses yang kami lalui begitu nikmat.

Penulis : Muhammad Irfan


Mengkaji Kedudukan Mahar dalam Pernikahan

Category : Kuliah Fiqh III

stit-sunangiribima.ac.id – Dalam salah satu diskusi kelompok di kelas PAI 2, salah seorang mahasiswa melontarkan sebuah pertanyaan kepada pemakalah tentang kedudukan mahar dalam perkawinan. Sejauh yang ia baca bahwa mahar tidak masuk dalam rukun pernikahan tapi wajib diberikan oleh calon suami kepada calon isterinya sebagaimana yang diisyaratkan oleh al-Qur’an dalam Qs. An-Nisa’: 2 dan 24. “Tolong jelaskan persoalan tersebut secara gamblang, tegasnya. Menanggapi pertanyaan tersebut, pemakalah mengatakan bahwa mahar memang bukan rukun nikah. Sebagaimana kita ketahui bahwa rukun nikah menurut jumhur ulama ada lima, yaitu calon suami, calon isteri, wali nikah, saksi nikah, dan ijab qabul yang masing-masing memiliki syarat-syarat tertentu.

Mahar sendiri oleh para ahli hukum dibahas tersendiri, terpisah dari pembahasan rukun dan syarat pernikahan karena al-Qur’an, sunnah dan ijmak ulama menetapkan bahwa mahar wajib diberikan oleh calon suami kepada calon isteri sebagaimana bunyi ayat tersebut di atas, dan besaran mahar biasanya disebutkan ketika akad nikah dilangsungkan.

Ibnu Rusy dalam kitab Bidayatul Mujtahid menjelaskan bahwa mahar ditempatkan sebagai syarat sahnya pernikahan. Artinya kalau mahar tidak disebutkan dalam akad nikah, maka pernikahan tidak dianggap terjadi. Mahar sendiri bisa berupa barang seperti mas, perak, uang, dan lain-lain, dapat juga berupa manfaat atau jasa seperti mengajarkan al-Qur’an sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat muhajirin, mengembala ternak sebagaimana yang dilakoni oleh Nabi Musa As., menggarap sawah atau jasa lainnya yang memiliki nilai manfaat.

Penentuan besaran mahar menurut Kompilasi Hukum Islam berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (pasal 30), dan atas dasar kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh agama Islam (pasal 31). Islam tidak menentukan secara pasti berapa besaran mahar yang harus dibawa oleh calon mempelai laki-laki tapi diserahkan kepada kesepakatan kedua belah pihak yang melakukan pernikahan. Sangat dianjurkan untuk meminta yang sederhana dan yang mudah agar dapat diupayakan oleh calon suami.

Sederhana dan mudah di sini tidak sampai melecehkan atau menyepelekan calon isteri terkait dengan besaran mahar, tapi sederhana dan mudah dalam pandangan dan kebiasaan masyarakat setempat, tidak terlalu murahan dan terkesan mengada-ada, juga tidak terlalu mahal nan fantastis sehingga terkesan memberatkan, cukup disesuaikan dengan kesiapan dan kesanggupan sang calon mempelai laki-laki.
Terkait dengan masalah mahar ini, penanya selanjutnya menceritakan tentang perilaku sebagian masyarakat kita di mana pihak calon isteri berinisiatif menyiapkan mahar untuk dibawa oleh calon suami ketika akad pernikahan dilangsungkan. Bagaimana tanggapan pemakalah terkait hal tersebut.

Pemakalah menjelaskan bahwa hal tersebut sah-sah saja dilakukan oleh calon mempelai perempuan selama pemberian itu atas dasar keikhlasan, tidak ada unsur paksaan dari pihak mana pun. Namanya pemberian atau hadiah dari seseorang, digunakan untuk apa saja terserah yang menerima hadiah karena itu sudah menjadi hak miliknya.

Yang menjadi pertanyaan lebih lanjut adalah apa motif atau latarbelakang pemberian barang oleh calon mempelai putri tersebut? Apakah melihat calon suami sudah menjadi anggota ASN, TNI/Polri sehingga ia rela mengeluarkan biaya untuk mahar karena masa depan dengan sang calon suami sudah bisa diterka? Atau ada unsur lain, misalnya sudah menjadi adat kebiasaan dalam suatu komunitas tertentu, maka hal ini perlu ditelusur lebih lanjut.

Berdasarkan hasil penelitian Atun Wardatun, dosen Fakultas Syari’ah UIN Mataram, bahwa terdapat beberapa kelompok masyarakat Bima yang melakukan praktek seperti itu baik di kota maupun di Kabupaten. Praktek seperti ini ia namai dengan istilah “Ampa Coi Ndai”, membawa mahar sendiri. Praktek seperti ini menurutnya banyak dilakukan oleh masyarakat kabupaten terutama yang berdomisili di kecamatan Belo (Ngali Renda) dan Bolo.

Praktek yang demikian menurut masyarakat setempat memiliki landasan teologis. Berdasarkan informasi yang mereka dapatkan bahwa Siti Khadijah, seorang janda kaya raya jazirah Arab, sangat tertarik dengan kepribadian Muhammad yang waktu itu terkenal kredibilitasnya sehingga dijuluki al-Amin. Ia meminta batuan Muhammad untuk menjajakan barangnya ke Suriah ditemani oleh pembatunya, Maisarah. Di Suriah, Muhammad berhasil menjual barang titipan Khadijah bahkan dengan hasil yang berlipat ganda.

Dari situ, bertambahlah ketertarikan siti Hadijah kepada Muhammad sehingga ia berinisiatif menyampaikan keinginannya untuk melamar Muhammad. Siti Hadijah meminta bantuan temannya yang bernama Nufaisyah menghadap Muhammad untuk menanyakan kesiapannya untuk menikah dengan siti Hadijah. Muhammad pun menyetujuinya. Pada saat itu Muhammad berumur 25 tahun sedangkan siti Hadijah berumur 40 tahun.

Dari informasi itu, bagi mereka, tidak salah kalau pihak perempuan mengajukan lamaran kepada calon mempelai laki-laki sekaligus menyiapkan segala kebutuhan pernikahan termasuk mahar. Dalam pikiran mereka, kehidupan anak perempuannya nanti akan terjamin karena calon suami mereka adalah orang yang berpangkat dan menyandang jabatan sebagai ASN, TNI/Polri.

Tentu masih banyak alasan-alasan sosiologis lainnya yang diperoleh oleh peneliti terkait dengan mengapa Ampa Co’i Ndai dipraktekkan oleh masyarakat setempat. Penulis perlu menelusuri lebih lanjut untuk melengkapi ulasan tersebut.

Wallahu a’lam bissawab.

Penulis : Dr. Syukri Abubakar, M.Ag


Menikah itu Wajib Lhoooo !

Category : Kuliah Fiqh III

stit-sunangiribima.ac.id – Semester ini saya dipercaya untuk mengampu tiga mata kuliah, yaitu Fiqh III, Aswaja dan Hadis Tarbawi. Mata kuliah Fiqh III sudah beberapa kali saya ampu pada semester sebelumnya sehingga tidak sulit bagi saya untuk menyiapkan materi yang akan didiskusikan selama satu semester ke depan disertai rincian buku referensinya.

Mata kuliah Fiqh III ini erat kaitannya dengan materi hukum keluarga Islam yang menitikberatkan pembahasannya tentang pernikahan menurut hukum Islam dan hukum positif (UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam). Pembahasan diawali dengan pengertian pernikahan, rukun dan syarat pernikahan, dan tujuan serta hikmah pernikahan.

Masalah pertama adalah pengertian pernikahan. Pengertian ini sangat penting dibahas karena memperhatikan perkembangan jaman, banyak orang tidak mau meresmikan hubungannya dengan pernikahan sebagaimana banyak terjadi di negara-negara Barat, mereka lebih suka hidup se rumah tanpa ikatan pernikahan. Budaya Barat ini juga menjangkiti masyarakat kita terutama yang tinggal di kota-kota besar, di apartemen-apartemen atau lainnya yang pengawasan sosialnya sangat kurang.

Menurut kelompok ini, hidup bersama itu tidak harus dengan menikah tapi asal suka sama suka, maka kehidupan dalam satu rumah tangga dapat terjalin hingga beranak pinak. Kehidupan tanpa ikatan pernikahan seperti ini sering disebut dengan “Kumpul Kebo” atau “Kohabitasi”, living in sin, hidup dalam lumuran dosa.

Dalam Islam, kehidupan rumah tangga diatur sedemikian rupa dengan peraturan yang ketat karena pernikahan memiliki nilai ibadah di sisi Allah Swt., sehingga Kompilasi Hukum Islam memberikan pengertian menikah dengan “akad yang sangat kuat atau mistaqan ghalidan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah yang bertujuan untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah”.

Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pernikahan merupakan sebuah bentuk ibadah untuk mentaati perintah Allah Swt. Pernikahan diawali dengan prosesi akad nikah atau janji suci perkawinan antara calon bapak mertua dengan calon pengantin laki-laki dalam rangka melimpahkan tanggung jawab kepada calon suami putrinya dan juga untuk mengikat hubungan suami isteri di antara kedua insan, yang bertujuan untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Di sini jelas sekali perbedaan antara kumpul kebo dengan pernikahan. Kumpul kebo hanya dilandasi cinta dan kasih sayang di antara kedua pasangan tanpa ikatan sehingga kapan saja bisa bubar, sedang pernikahan di samping dilandasi oleh rasa cinta dan kasih sayang, juga merupakan bentuk ketaatan terhadap perintah Tuhan yang diperkuat dengan akad nikah.

Walaupun sama-sama menjalani kehidupan rumah tangga dalam satu atap, nilai-nilai agama tidak dijadikan acuan oleh pasangan kumpul kebo sehingga mereka tidak mendapatkan balasan apa-apa, malah mereka akan menerima siksaan yang pedih di akhirat kelak, kecuali mereka bertaubat. Lain halnya dengan orang yang menikah, mereka menikmati kehidupan rumah tangga yang harmonis di dunia dan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda di sisi Tunannya di akhirat kelak jika kehidupan rumah tangga itu dijalankan sesuai dengan aturan syari’at.

Itulah pentingnya mengapa pengertian pernikahan perlu dibahas secara mendalam untuk memberikan penegasan bahwa menikah itu wajib dilakukan bagi orang yang kebelet nikah sehingga terhindar dari dosa perzinaan yang dilarang agama sebagaimana yang dilakukan oleh pelaku kumpul kebo tersebut.

Tentu masih banyak pembahasan lain terkait pernikahan yang perlu dikaji lebih lanjut, misalnya tentang rukun dan syarat nikah, mahar atau mas kawin apakah termasuk rukun nikah atau bukan, berapa besaran mahar yang harus dibawa, masalah umur calon mempelai, masalah wali, apakah janda butuh wali atau tidak, dan lain-lain. Insya Allah akan diulas pada tulisan berikutnya.

Wallahu a’alam.

Penulis : Dr. Syukri Abubakar, M.Ag


STIT KAMPUS SEDERHANA

Category : Uncategorized

stit-sunangiribima.ac.id – STIT Sunan Giri Bima adalah kampus yang telah berdiri sejak tahun 1971, sebenarnya sudah sangat tua, jika sejak awal selalu dirawat, kemungkinan besar kampus STIT telah dinobatkan sebagai kampus tertua dan patuh dicontohi oleh kampus-kampus yang ada disekitarnya.

Kampus STIT Sunan Giri Bima terjadi masa transisi beberapa tahun terakhir, sehingga tim lapangan yang turun sering mendapatkan pernyataan masyarakat bahwa kampus STIT terasa asing dan bahkan baru diketahuinya saat tim lapangan bertemu dengan masyarakat, ini sebenarnya ada apa? Bahkan sering dilontarkan bahwa kampus STIT Sunan Giri Bima itu adalah kampus baru dan ilegal.

Yah…. mungkin ini buah dari kesederhanaannya atau memang selama ini tak pernah ada promosi seperti yang dilakukan sekarang. Namun, terbantahkan oleh sudah sekian banyak alumni STIT yang telah menyebar di tanah pulau Sumbawa hingga tanah NTT, mencetak rekor menjadi orang hebat ditubuh lembaga pemerintah, apakah itu belum cukup bukti.?

Memang masa transisi itu adalah masa senyap  untuk menghilangkan noda buruk yang perlu dihindari dan tak perlu diulangi lagi, dan semoga hal yang terjadi itu sebagai tanda bahwa STIT itu akan menjadi kampus raksasa yang berkualitas dibalik gedung yang sederhana, dosen-dosen yang sederhana namun berkualitas dalam berbuat.

Beberapa kisah terbangun dari berbagai lembaga besar  yang ada di Indonesia tidak pernah terlepas dari persoalan yang sama, sehingga yang memberikan kode bahwa lembaga tersebut bisa bangkit menjadi hebat dan kuat pasti menorehkan fase masa kelamnya dan semoga salah satunya STIT juga memiliki kisah yang sama diantara kisah-kisah lembaga yang sudah hebat sebelumnya. Artinya bisa bangkit dan diminati oleh para mahasiswa.

Topik yang selalu hangat diakhir ini di kampus STIT Sunan Giri Bima adalah perjuangan tim Lapangan,  namun bagi tim lapangan tidak memiliki kekuatan dan tak ada jaminan bahwa kampus akan bisa besar jika tidak dinahkodai oleh pemimpin yang super, pemimpin yang merangkul, apik dan berwibawa dan sangat cocok dinobatkan kampus yang sederhana, baik dari bangunan dan cara hidup masyarakat didalamnya.

Diakhir-akhir ini ada tanda besar bahwa kampus STIT Sunan Giri Bima akan besar, yaitu dengan konsep yang terbangun dari para pimpinan untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa STIT Sunan Giri Bima siap terjun ke masyarakat dan mahasiswa didalamnya telah dibina khusus dengan berbagai macam program unggulannya, yaitu.

  1. Pembinaan bahasa Arab
  2. Bahasa Inggris
  3. Tahfiz
  4. Tilawah
  5. Kreativitas
  6. Pembelajaran aksara bima

Pembinaan yang dilakukan tidak hanya sebatas teori namun mahasiswa diwajibkan untuk terjun langsung di  lapangan dan menunjukan kebolehannya, dan tidak kalah pentingnya lagi dari konsep para pimpinan kampus STIT Sunan Giri Bima iyalah hadirnya asrama GRATIS ini sangat membantu bagi masyarakat yang ingin menguliahkan putra dan putrinya di kampus STIT Sunan Giri Bima mengingat biaya kos-kosan yang sangat mahal.

Kampus STIT Memang sederhana namun siap menciptakan intelektual yang siap, mandiri, profesional dan kreatif. Semoga kampus STIT Sunan Giri Bima Bisa menjadi contoh, suatu saat nanti Bagaimana cara bangkitnya dari tangan-tangan pemimpin yang muda.

Penulis : Hermawansyah


Tidak Ada Usaha maka Tidak Akan Ada Hasil

Category : Opini

stit-sunangiribima.ac.id – Sosialisasi kampus butuh petualang, butuh kerja keras agar mendapatakan hasil yang maksimal, do’a tanpa usaha maka tidak akan ada berkahnya, do’a tanpa ikhtiar maka itu sia-sia.

Usaha yang dilakoni oleh panitia Maba kampus STIT Sunan Giri Bima turun di berbagai kelurahan di Kota Bima dan di berbagai desa di Kabupaten Bima, salah satunya dengan melakukan kegiatan safari keliling yang tidak mengenal lelah, tidak mengenal letih, siang dan malam, bertempat di berbagai masjid dengan melaksanakan khutbah jum,at sekaligus menjadi imam Shalat tidak lain adalah dalam rangka memperkenalkan kampus agar dilirik oleh calon Maba.

Seusai sholat Jum’at, biasanya panitia Maba meminta waktu barang 10 sampai 15 menit untuk mensosialisasikan kampus STIT. Dan alhamdulillah para jama’ah merespon dengan baik sehingga ada di antara mereka yang berminat untuk mengantarkan anak-anak mereka bergabung dengan kampus STIT Sunan Giri Bima.

Panitia Maba STIT juga melaksanakan sosialisasi kampus dengan cara mendatangi kediaman calon Maba dari satu rumah ke rumah yang lain dalam rangka bersilaturrahim dengan orang tua mereka sambil menyampaikan informasi secara langsung mengenai keberadaan kampus STIT beserta program-program unggulannya. Cara yang demikian ini sangat ampuh untuk meyakinkan orang tua Maba sehingga mereka banyak yang tertarik untuk mengkuliahkan anak-anak mereka ke kampus STIT.

Setelah dilakukan evaluasi terhadap sosialisasi kampus yang pertama, ternyata banyak kendala yang terjadi di lapangan, seperti adanya godaan dari kampus lain yang memberikan angin surga sehingga calon Maba merasa bingung harus pilih kampus yang mana. Oleh karena itu, permasalahan seperti ini menjadi catatan penting bagi panitia Maba kampus STIT untuk segera mengambil sikap dengan cara turun kembali untuk memperkuat sosialisasi yang pertama. Kalau tidak dilakukan seperti itu, maka sosialisasi yang pertama akan sia-sia belaka.

Dengan adanya sosialisasi lanjutan, al-hamdulillah banyak calon Maba yang memantapkan hatinya untuk tetap memilih kampus STIT tercinta walau banyak godaan yang menghampiri. Mereka tetap teguh menjatuhkan pilihannya pada kampus STIT dengan menyerahkan berkas pendaftarannya secara langsung saat sosialisasi.

Sosialisasi kampus oleh panitia Maba kampus STIT Sunan Giri Bima ini menjadi ajang memperkenalkan kampus ke khayalak ramai sehingga memberikan dampak positif terkait dengan penilaian masyarakat bahwa kampus STIT adalah kampus yang bermasyarakat. Sebagaimana pepatah mengatakan pandai-pandailah jemput bola agar tidak terlebih dahulu dikuasai oleh orang lain. Dalam konteks ini, rajin-rajinlah menjemput mahasiswa baru agar mereka banyak yang bergabung. Wallahu a’lam.

Penulis : Abd. Salam, M.Pd.I


STIT SUNAN GIRI BIMA BERGERAK MAJU MENUJU KEDIKDAYAAN

Category : Opini

stit-sunangiribima.ac.id – Era kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan memberikan efek terhadap keberlangsungan berbagai sendi kehidupan manusia, termaksud pendidikan yang setiap komponennya tidak akan mampu dipisahkan dari pengaruh dahsyatnya revolusi modernisasi teknologi. Sendi-sendi perkembangan di era advances in technology melahirkan sebuah fenomena yang menarik dalam keberlangsungan community life saat ini. Life style masyarakat mencorakkan dampak yang paling kentara dan dapat disaksikan openly by all humans arround the world.

Globalisasi dapat diartikan terhubungnya seluruh aspek kehidupan dalam bermasyarakat mulai perekonomian, budaya hidup, politik hingga kehidupan sosial antar bangsa dan negara satu dengan negara lainnya, sehingga dunia ini seakan tidak memiliki skat dalam menjelajahi atau mengakses informasi satu sama lain. Berita terkait kemajuan, keunikan, bahkan masalah yang dirahasiakan negara sekalipun dengan mudahnya dapat diakses dan diketahui negara lainnya hanya dengan menggunakan teknologi yang digerakkan telunjuk serta jempol.

Teknologi tersebut dinamai gadget, dengannya seruluh penjuru dunia bisa di akses melalui suatu program media sosial bernama mbah google, maupun aplikasi berbasis internet lainnya. Hal tersebut terjadi pada generasi muda-mudi di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia yang saat ini lagi booming dengan predikat masyarakat era milenial. Hal ini senada dengan apa yang telah dikemukakan Lyons dalam Putra bahwa generasi milenial atau milenium mulai di publikasikan pada editorial salah satu koran terbesar di negara yang berjuluk Paman Sam New York Amerika Serikat pada bulan Agustus tahun 1993 silam. Keturunan yang lahir pada masa ramainya penggunaan teknologi korespondensi instan semisal short massage service dan elektronik mail serta media daring seperti facebook, whatsapp dan twitter serta instagram dengan pribahasa yang lain bahwa generasi milenial adalah keturunan yang berkembang atau hidup pada era internet yang berkembangan dengan luar biasa cepat atau istilah gaulnya “lagi booming”. Singkatnya Anak millennial atau millenium merupakan sebutan bagi sekelompok manusia yang lahir pada tahun 1980 sampai 2000an dengan salah satu cirinya lahir pada saat TV berwarna, Handphone,Tablet, internet dan semua yang berbasis IT sudah dipergunakan. Sehingga generasi ini sangat mahir teknologi.

Kemajuan teknologi yang dirasakan sejak meraka lahir tentu juga berpengaruh terhadap perkembangan watak dan karakteristik mereka. Hal ini sudah pasti berbeda dengan watak dan karaktek anak yang lahir tanpa teknologi. Kalangan remaja Indonesia saat ini hampir kesemuanya mengenal dan menggunakan internet dalam keseharian mereka. Namun kebanyakan pula dari mereka belum mampu mengendalikan atau memilah antara aktivitas internet yang bernuansa posistif dan atau bersipat negatif, mereka masih cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka dalam penggunaannya. Inilah yang mejadi keluhan masyarakat akhir-akhir ini. Dimana generasi muda bangsa yang digadang-gadang menjadi tokoh dibalik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku kesehariannya yang mengesampingkan etika dan moral. Beranjak dari fenomena tersebut dibutuhkan langkah cepat dan tepat untuk membentuk karakteristik anak bangsa dimulai dari usia dini. Karakter melambangkan dimensi yang sangat berkedudukan urgen dalam menyukseskan manusia menjalani kehidupan sosialnya di dunia. Kepribadiaan yang paripurna akan menciptakan moral yang tangguh sedangkan moral yang tangguh akan mencetak spirit yang kokoh, pantang mengalah dan berani menjelajahi kerasnya kehidupan serta berani melawan derasnya badai gelombang yang menghantam. Karakteristik yang tangguh serta kokoh menjadi prasyarat urgen demi menjadi seorang pemenang dalam medan turnamen atau pertandingan.

Penulis : SAM AL-MAROZI


STIT Sunan Giri Gelar Workshop Jurnalistik Millenial

Category : Uncategorized

Kamis, 25 April 2019  Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima mengadakan Workshop Jurnalistik Millenial yang bertempat di aula kampus. “Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa agar termotivasi untuk mengembangkan minat dan bakat menulis. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk membenahi kembali MEDIKA (Media Kreasi Mahasiswa) yang telah vakum beberapa tahun terakhir”, ungkap  ketua STIT bapak Dr. Syukri Abubakar M. Ag. dalam sambutannya.

Beliau sangat antusias dengan adanya kegiatan tersebut dan berharap agar  semua mahasiswa STIT termotivasi untuk terus menulis karena menulis merupakan cara yang baik untuk mengasah kemampuan intelektual agar ilmu yang dimiliki tidak gampang hilang dan dapat dibaca oleh orang banyak, jelasnya lebih lanjut.

Muhahmmad Irfan, M.Pd.I selaku Ketua Prodi PGMI sekaligus ketua panitia pelaksana Workshop Jurnalistik Millenial menyampaikan pesan dan motivasi buat para mahasiswa/i agar terus berbenah dan meningkatkan bakat menulis karena menulis sangat bermanfaat buat pribadi yang bersangkutan dan orang lain.

Pada Workshop kali ini, yang menjadi pemateri adalah kakanda RAFIIN,  salah seorang Jurnalis media online, Suara NTB. Ia bisa dikatakan pemateri yang cukup handal karena memiliki kemampuan yang cukup luar biasa dalam hal tulis menulis karena memang kesehariannya adalah berkutat dalam bidang penulisan. 

Ketika ia menyampaikan materi, audiens nampak antusias menyimak isi materi yang disampaikan olehnya. Namun sebelum menyampaikan materi lebih jauh, ia sedikit berintermezo bahwa ia sangat sering mengunjungi kampus STIT dan ia sampaikan pula bahwa ia telah banyak menimba ilmu tentang jurnalistik kepada senior-senior yang ada di kampus STIT yang salah satunya sedang duduk sebagai ketua Komisioner KPU Kabupaten Bima, bang Ady Supriadin yang cukup lama berkecimpung di media online Kahaba.net.

Menurutnya, dari semua kampus yang ada di Bima, kampus STITlah yang telah banyak mencetak mahasiwa dan alumni yang konsens terhadap bidang jurnalistik sehingga bermunculan jurnalis-jurnalis milineal di kampus ini. Hal ini tidak terlepas dari adanya mata kuliah Pendidikan Jurnalistik yang harus diikuti oleh semua mahasiswa. Dosen pengajarnya pun merupakan Jurnalis senior di kota Bima, bapak Sofiyan Asy’ari, S.Pd.I.

Hal demikian menjadi cambuk buat mahasiswa baru yang masih duduk di semester awal untuk senantiasa mengasah kemampuan dan bakat menulis sehingga bisa meniru senior-seniornya yang lebih dahulu berhasil.

Oleh:  Afina