Author Archives: admin

BUKU : PENGABDIAN SEORANG KYAI UNTUK NEGERI

Category : Buku

Sebuah buku catatan pengabdian seorang KH Hasyim Asy’ari sang ulama pemikir dan pejuang. Ilmu pengabdiannya menjadi pelajaran penting buat generasi selanjutnya, semoga dengan hadirnya buku ini menjadi sebuah sumber refrensi untuk kita generasi penerus dalam memaknai bagaimana mengabdi untuk negeri untuk dunia dan akhirat yang seimbang,

Buku KH Hasyim Asyari

SEMOGA BERMANFAAT

 


Peringatan Isra’ Mi’raj sebagai Ajang Penyiapan Kader

Category : Kronik

Pelaksanaan peringatan Isra’ Mi’raj di kampung Melayu dilaksanakan pada hari Minggu, 07 April 2019 dan di Karara diselenggarakan pada hari Selasa, 09 April 2019.

Pelaksanaan kegiatan di kedua tempat tersebut, masing-masing digagas oleh bapak Arif Rahman di musholla kampung Melayu dan oleh bapak Muhammad Irfan di masjid Karara. Kedua kegiatan tersebut berjalan dengan lancar berkat kerjasama yang baik antara pengurus masjid dan musholla dengan jajaran sivitas akademika STIT Sunan Giri Bima. Kegiatan diikuti dengan antusias oleh warga setempat dan rombongan dosen dan mahasiswa STIT Sunan Giri Bima.
Peringatan isra’ mi’raj di kampung Melayu langsung dihandle oleh pengurus mushollah yang kebetulan merupakaan adik kandung dari bapak Arif Rahman, sedangkan di Masjid Karara, acara dipandu oleh mahasiswa STIT Sunan Giri Bima, Afina.

Sebagaimana yang dilakukan di tempat lain sebelumnya, pra acara diisi oleh penampilan grup Sholawat STIT Sunan Giri Bima. Di mushollah kampung Melayu, pembacaan kalam ilahi dipercayakan kepada qari’ kampung setempat, sementara di masjid Karara dilantunkan oleh Julkarnain, mahasiswa PAI semester II.
Di musholla kamapung Melayu, setelah pembacaan kalam ilahi, waktu langsung diserahkan kepada da’i kondang kebanggaan STIT, Uze untuk menyampaikan uraian hikmah isra’ mi’raj. Sementara di masjid Karara, diawali dengan sambutan secara bergilir oleh kepala Kelurahan Monggonao dan ketua STIT Sunan Giri Bima.
Dalam sambutannya, kepala Kelurahan Monggonao menyampaikan banyak terima kasih dan apresiasi yang sungguh luarbiasa atas terselenggaranya kegiatan malam itu karena baru pertama kalinya terjadi kolaborasi warga masyarakat Karara dengan warga kampus dalam mewujudkan event acara Islami di masjid tersebut. Ia mengharapkan agar kerjasama yang sudah mulai terbangun dapat dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dalam rangka syi’ar Islam.

Sementara ketua STIT Sunan Giri Bima menyampaikan hal yang sama bahwa warga kampus tidak hanya berpangku tangan di menara gading tapi harus juga berkolaborasi dengan masyarakat dalam mewujud salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi yang berbentuk pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan sepeti ini, katanya, sudah dimulai, sedang dan akan dilakukan ke depannya dalam rangka merekatkan warga kampus dengan warga masyarakat dan juga dalam rangka unjuk kebolehan mahasiswa yang berperan sebagai agen of change, agen perubahan dan agen of moral force, agen gerakan moral. Diharapkan dengan kegiatan seperti ini, mahasiswa mendapatkan pengalaman sehingga ketika kembali bermasyarakat nanti selalu siap jika dibutuhkan.

Wallahu a’lam.

Dara Bima, 23 April 2019

Oleh : Syukri Abubakar


Foto Acara

Safari Malam Ke Dusun Tanale O’o Donggo

Category : Kronik

Selepas shalat Maghrib pada hari Senin, 22 April 2019 Rombongan safari Hari Besar Islam STIT Sunan Giri Bima menempuh perjalanan cukup jauh menuju Dusun Tanale Desa O’o Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Sesuai dengan kesepakatan bersama masyarakat tuan rumah, malam itu rombongan STIT Sunan Giri Bima dipercaya untuk mengisi acara peringatan ISra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan malam Nishfu Sya’ban dan menyambut kehadiran bulan Ramadhan 1440 H yang bertempat di desa tersebut. Ini merupakan rangkaian tour yang keenam kalinya yang dilakukan oleh kampus sebagai salah satu cara mensosisalisasikan kampus kepada masyarakat di Kota maupun Kabupaten Bima.

Melihat rangkaian safari hari besar Islam sebelumnya, kali ini merupakan tour terjauh dengan personel terbanyak karena tercatat lebih dari 30 orang mahasiswa dan dosen ikut berpartisipasi memeriahkan acara ini. Selain dua unit mobil, Satu unit mobil bak terbuka terpaksa harus disewa agar seluruh personel bisa terangkut menuju lokasi. Sebuah pemandangan yang sangat langka melihat mobil pickup memuat puluhan mahasiswi yang sudah berdandan cantik berbalut jas almamaternya menempuh perjalanan cukup jauh melintasi jalanan, menyusuri tepi laut, membelah hutan belantara pegunungan di tengah gelapnya malam. Meski diterpa angin laut dan angin gunung khas dataran tinggi untuk ukuran warga Kota Bima suhunya lumayan dingin, itu semua tidak mengurangi semangat mereka memeriahkan kegiatan tersebut.

Setelah perjalanan selama sekitar satu setengah jam, akhirnya rombongan tiba dengan selamat di lokasi. Setelah menunaikan shalat Isya’ di Masjid setempat, rombongan pun langsung menuju tempat perhelatan acara yang ternyata sudah dihadiri beberapa warga. Sambil menunggu datangnya warga, tim ini bekerja sama dengan panitia lokal menyiapkan segala keperluan penampilan dan pelaksanaan acara. Setelah beberapa saat, warga pun mulai datang meramaikan lokasi kegiatan yang dibangun secara swadaya. Meski berbentuk sangat sederhana, namun tidak mengurangi rasa khidmat ketika mengikuti berjalannya rangkaian kegiatan sejak dimulai hingga berakhir.Warga yang hadir lebih didominasi oleh kaum hawa, anak-anak, dan sesepuh karena memang saat ini sebagian besar kaum bapak tengah menjaga kebun atau ladang mereka yang letakknya di lereng pegunungan dari gangguan hewan liar yang selalu merusak tanaman jagung mereka. Ini terpaksa dilakukan agar tidak merugikan mereka ketika panen, karena memang jagung adalah komoditas primer bagi mereka untuk dijual sebagai penyambung hidup sehari-hari.

Sebagai pembuka, kegiatan pra acarapun ditampilkan untuk memancing suasana sekaligus pemanasan. Sebagaimana sebelumnya, seni marawis, drama teater ‘Ama Mida dan Ina Mida”, dan seni tari kontemporer tetap menjadi andalan untuk menghibur para undangan yang hadir. Hal tersebut terbukti dari antusiasme dan respon positif dari warga yang hadir. Mereka tidak dapat menyembunyikan respon emosionalnya ketika menyaksikan adegan demi adegan yang ditampilkan. Gelak tawa, rasa haru dan sedih menjadi sesuatu hal yang silih berganti terdengar dari warga yang hadir. Dan seperti biasa mereka juga tidak bisa menutupi rasa bangganya ketika melihat anak-anaknya, saudara atau keluarganya menjadi pengisi acara. Hal ini memang sudah direncanakan oleh pihak kampus agar semua pengisi acara, mulai dari protokol hingga pembaca doa dipilih dari kalangan mahasiswa, khususnya yang berasal dari Kecamatan Donggo. Tidak lain, agar masyarakat dapat menilai dan menyaksikan sendiri hasil didikan kampus STIT Sunan Giri Bima terhadap mahasiswanya.

Berikutnya pada acara inti, setelah dibuka dan diawali dengan lantunan syahdu kalam Allah SWT oleh salah seorang mahasiswi STIT Sunan Giri Bima, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Yang pertama diawali oleh salah satu tokoh warga setempat yang menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada pihak kampus yang pertama kali melaksanakan kegiatan seperti ini di Desanya. Ia juga memotivasi warga yang hadir agar tidak berhenti berikhtiar untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya di kampus STIT Sunan Giri Bima. Karenanya ia juga menceritakan pengalaman pribadinya ketika dulu sekolah dan saai ini menyekolahkan anak-anaknya. Kemudian sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ketua STIT Sunan Giri Bima yang juga menyampaikan rasa terimakasihnya atas sambutan meriah warga setempat. Beliau juga menyampaikan bahwa malam itu merupakan ajang unjuk gigi dan pembuktian berbagai program serta janji yang pernah disosialisasikan oleh kampus ketika kunjungan-kunjungan sebelumnya.

Acarapun berlanjut ke acara inti yakni uraian hikmah Isra’ Mi’raj dan Nishfu Sya’ban oleh Da’i andalan STIT Sunan Giri Bima, Ust. Zulkarnain (Uze). Dengan selingan humor segar andalannya, beliau menerangkan berbagai hal fundamental di balik peringatan hari-hari besar islam, pentingnya pendidikan agama dan istiqamah dalam kebaikan, keutamaan menghadiri majelis ilmu, serta urgensi pembinaan akhlaq mulai dari lingkungan keluarga. Warga yang menyimak ceramahnya terlihat begitu antusias dan interaktif ketika mendengar taushiyah Uze ini.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Acara pun ditutup dengan doa yang dipimpin oleh salah seorang mahasiswa. Namun warga yang hadir tetap antusias bahkan meminta penampilan ekstra dari grup marawis sebagai penawar suasana melawan hawa dingin khas pegunungan di lokasi yang tingginya mencapai sekitar 700 m dpl itu. Setelah bersilaturahim sejenak bersama Bapak kepala Dusun setempat yang juga merupakan alumni STIT Sunan Giri Bima, rombongan pun kembali menempuh perjalanan pulang ke kampus tercinta. Rombongan pun sampai dengan selamat di kampus sekitar pukul 00.00 wita tengah malam. Semoga tidak ada anggota rombongan yang masuk angin atau flu akibat terpapar angin gunung, angin laut dan angin malam.

Oleh : Ahmad Syagif


Peringatan Isra’ Mi’raj dan Sosialisasi Kampus di Roka

Category : Kronik

Pelaksanaan peringatan isra’ mi’raj tadi malam dilaksanakan di desa Roka. Terselenggaranya kegiatan tersebut berkat kerjasama dan komunikasi yang intens antara kades  Roka Ihsan, S.Pd., remaja masjid al-Ishlah desa Roka dengan pimpinan lembaga STIT Sunan Giri Bima.

Ide awal tercetus ketika pimpinan STIT Sunan Giri Bima menjalin komunikasi dengan kades Roka mengenai kemungkinan kolaborasi pelaksanaan peringatan isra’ mi’raj yang akan dilaksanakan di Roka. Kades merespon baik ide tersebut sehingga disepakati acara dilaksanakan tanggal 2 April 2019 yang bertepatan dengan malam 27 Rajab 1440 H yang berlokasi di lapangan desa Roka.

Bagi masyarakat desa Roka, acara seperti ini rutin dilaksanakan tiap tahunnya. Namun acara tadi malam terasa beda karena disemarakkan oleh grup marawis desa Roka, tarian anak-anak desa Roka dan MIS Roka serta grup Marawis Mahasiswa STIT Sunan Giri Bima pada pra acaranya.

Kegiatan ini dipandu oleh Abdurrahman atau di kampus biasa disapa Abdur, mahasiswa semester  dua STIT Sunan Giri Bima berasal dari Roka. Abdur dipilih, menurut ketua STIT dalam sambutannya, untuk membuktikan kepada masyarakat Roka bahwa mahasiswa yang belajar di kampus hijau siap tampil kapan pun dibutuhkan. Dan untuk kali ini Abdur sukses menjalankan tugasnya sebagai MC.

Kades Roka Ihsan, S.Pd. menyampaikan terima kasih kepada panitia dan masyarakat Roka yang telah menyukseskan acara walaupun disertai rintikan hujan namun para audiens tidak beranjak dari tempat duduk. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada ketua STIT Sunan Giri Bima beserta rombongan yang telah hadir menyemarakkan kegiatan.

Pada akhir sambutannya, kades Roka menghimbau kepada warga masyarakat Roka “Bila ada yang hendak melanjutkan kuliah, pilihlah kampus STIT Sunan Giri Bima karena kebanyakan warga Roka, sekolah agama mulai dari RA, MTs dan MA dan alangkah baiknya dilanjutkan ke Perguruan Tinggi Agama seperti STIT, apalagi beliau adalah ketuanya dan putra asli desa Roka”. Pungkasnya.

Ustad Jul sebagai penceramah mengingatkan kembali akan hikmah-hikmah dibalik peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw. Salah satunya adalah pemegang pintu surga  adalah Nabi Muhammad Saw. yang diperingati peristiwa isra’ mi’rajnya malam ini. “Jika ingin mendapatkan kunci itu maka mau ndak mau kita harus mencintai baginda Rasulillah Saw.” Ujarnya.

UJ mengibaratkan seperti seseorang yang lagi jatuh cinta kepada pasangannya. Orang yang lagi jatuh cinta, lanjutnya, akan selalu mengingat pasangan yang dicintainya dalam keadaan apapun. Begitulah juga orang yang mencintai Rasulullah Saw. akan selalu mengingat Rasulullah Saw., menyebut namanya, tiap saat dengan selalu membaca shalawatnya. Wallahu  a’lam.

Dara Bima, 3 Maret 2019


Menikmati Ni’u Dori di Kampung Bugis Timur 

Category : Kronik

Jum’at, 05 April 2019 rombongan STIT Sunan Giri Bima berkesempatan mengunjungi wilayah paling timur kabupaten Bima, kampung Bugis Timur Sape dalam rangka melakukan sosialisasi kampus.

Kunjungan ke Bugis Timur ini merupakan kelanjutan dari program TURBA (turun ke bawah) yang diinisiasi oleh panitia Maba ke beberapa kelurahan dan desa di kota dan kabupaten Bima dalam rangka mensyi’arkan agama Islam sekaligus memperkenalkan program-program unggulan yang ditawarkan kampus STIT Sunan Giri Bima kepada masyarakat.

Rombongan diikuti oleh unsur pimpinan, ketua panitia Maba dan beberapa orang mahasiswa yang berasal dari desa Bugis Timur, Guda dan Lambu Pantai Papa. Sesampainya di kampung Bugis Timur, kami disambut dengan terik mentari jelang siang yang agak terik sehingga menyebabkan kerongkongan sedikit kering. Rasa haus tersebut sedikit tertangani dengan Ni’u Dori yang disuguhkan tuan Rumah. Lega rasanya menikmati Ni’u Dori ketika rasa haus menghampiri. Dua gelas Ni’u Dori tidak terasa di kerongkongan malah kepingin menambah lagi.

TURBA kali ini dipusatkan di masjid jami’ kampung Bugis Timur dirangkai dengan khutbah Jum’at yang disampaikan oleh ustad Julkarnain, S.Pd.I. dan Imam oleh ayahanda Ridwan, S.Pd.I. Diawal khutbahnya, UJ tertegun memperhatikan tiga tangga untuk naik mimbar. Menurut UJ, adanya tiga anak tangga ini memiliki sejarah tersendiri. Ia menjelaskan ucapan bilal dan apa yang harus dilakukan oleh Khatib.

Bilal mengucapkan:

مَعَاشِرَالْمُسْلِمِينَ، وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ رَحِمَكُمُ اللهِ، رُوِيَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ (أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا رَحِمَكُمُ اللهِ ٢×) أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ×١

Setelah bilal selesai membaca kalimat di atas, kemudian khatib maju menerima tongkat dan ketika naik ke atas mimbar, bilal membaca doa shalawat di bawah ini:

اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ٢× ، اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ أَجْمَعِينَ

Kemudian setelah khatib berada di atas mimbar, bilal menghadap kiblat dan membaca doa sebagai berikut:

اللَّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اللَّـٰهُمَّ قَوِّ اْلإِسْلاَمَ  وَاْلإِيمَانَ، مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِيْ الدِّينَ رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ، يَاخَيْرَ النَّاصِرِينَ، بِرَحْمَتِكَ يآأَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Dari bacaan di atas, setidaknya mengandung empat hal. Pertama, anjuran mendengarkan secara seksama khutbahnya khatib. Kedua, larangan berbicara saat khutbah berlangsung. Ketiga, pembacaan shalawat kepada Nabi. Keempat, mendoakan kaum muslimin dan muslimat. Keempat isi kandungan tarqiyyah tersebut merupakan hal yang positif. Wallahu a’lam.

Dara Bima, 10 April 2019


Ketua MUI Kota Bima

Muma Guru

Category : Tokoh Lokal

Terbersit dalam hati saya untuk selalu menyambung tali silaturrahim kepada siapa pun, kepada keluarga dekat, keluarga jauh, atau siapa saja sesama umat manusia, lebih-lebih kepada ulama dan para sesepuh. Khusus kepada para ulama, saya ingin mendapatkan nasehat dan barokah ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat karena bagaimana pun mereka memiliki banyak pengalaman hidup dalam meruwat umat.

Selain itu, dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa barangsiapa yang ingin dipermudah rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah silaturrahim. Oleh karena itu, pada hari Sabtu kemarin, saya beserta mas Syagif dan pak Arif Rahman setelah mengikuti acara akad nikah salah seorang dosen STIT Sunan Giri Bima, Nurhasanah, M.Pd., berkesempatan bersilaturrahim ke rumah salah seorang ulama kota Bima Muma Guru Drs. H. M. Saleh Ismail yang saat ini menjabat sebagai ketua MUI Kota Bima dan salah seorang unsur pendiri kampus STIT Sunan Giri Bima.

Niat untuk berkunjung sudah lama terbersit namun baru kemarin dapat terwujud. Bahkan sebulan yang lalu, saya sempat mampir di rumah beliau tapi beliau sudah berangkat ke Sumbawa dua tiga hari sebelumnya. Sebelumnya, saya sudah sering berkunjung ke kediaman beliau, tapi saat ini berbeda karena saya mendapat kabar dari rekan-rekan di kampus, ketika itu saya masih di Surabaya, bahwa Muma Guru mendapatan cobaan berupa kesehatan yang tidak prima sehingga beliau masuk rumah sakit bahkan dirujuk sampai ke Bali. lhamdulillah, kemarin beliau sudah terlihat sehat, segar bugar bahkan tidak terlihat tanda-tanda sakit, cuma nampak sedikit lebih kurus dari biasanya.

Dalam perbincangan kemarin, banyak hal yang dikemukakan oleh Muma Guru, di antaranya beliau berpesan agar selala mennjalin tali silaturrahim dengan para sesepuh/orang tua karena apa yang ada saat ini adalah hasil usaha keringat orang-orang tua dulu. Generasi muda hanya melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh para sesepuh.

Muma Guru juga bercerita tentang bagaimana menggaet calon mahasiswa baru yang dilakukan oleh para sesepuh dulu. Mereka turun ke kampung-kampung di kota dan kabupaten dalam rangka mensyi’arkan Islam sekaligus mengenalkan kampus STIT Sunan Giri Bima. Dengan cara demikian, kampus STIT dulu banyak dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu, Muma Guru berpesan agar gunakan cara-cara demikian, dari rumah ke rumah menjemput calon maba, dan cara demikianlah, menurutnya yang jitu dalam menggaet maba.

Saya informasikan bahwa cara tersebut sudah, sedang dan akan kami galakkan, kami mohon do’a beliau agar Muma Guru dan kami sebagai generasi muda diberi kesehatan prima, diberi kekuatan lahir bathin untuk melanjutkan perjuangan sesepuh kampus. Semoga apa yang menjadi cita-cita dan arah perjuangan para sesepuh dapat kami jalankan sesuai track Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Dalam kesempatan itu juga, saya menanyakan tentang istilah yang umum disematkan untuk para ulama Bima jaman dulu, karena terdapat beberapa istilah yang sering saya dengar di antaranya Tuan imam,  Kyai haji, Tuan Guru haji, Muma guru, kakek guru, ustad, dan lain-lain. Menurut beliau, yang Khas untuk ulama Bima adalah Muma Guru, di Dompu Uma Guru dan di Lombok Tuan Guru.

Istilah Tuan Guru menurut beliau lebih condong merujuk pada jaman penjajahan kolonial Belanda, karena pejabat-pejabat Belanda saat itu dipanggil dengan istilah Tuan misalnya Tuan Menir, Tuan Jenderal, dan lain-lain. Jadi panggilan khas untuk ulama Bima adalah Muma Guru. Walaupun terdapat panggilan lain seperti Kyai Haji M. Said Amin, Tuan Imam H. Abdurrahman Idris, Kakek Guru H. Muhammad Hasan, dan Ustad H. Adnin, dan lain-lain.

Oleh karena itu, perlu digali lebih lanjut tentang panggilan khas atau gelar khas Ulama Bima yang disematkan kepada mereka sehingga memiliki warna tersendiri dari daerah lain. Beliau melanjutkan bahwa orang-orang yang pantas diberi gelar tersebut harus memenuhi beberapa syarat di antaranya; memiliki akhlak yang mulia, menguasai ilmu agama secara mendalam kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan diajarkan kepada masyarakat dan yang terakhir harus menyandang gelar haji. Wallahu a’lam.

Dara Bima, 07 April 2019

Sykuri Abubakar*


Ada yang Baru di RasaBou

Category : Kronik

Pada hari rabu malam tanggal 3 April 2018 Rombongan Civitas Akademika STIT Sunan Giri Bima kembali melaksanakan Safari Hari Besar Islam, yakni peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw. tahun 1440 H di Kecamatan Asakota. Kegiatan tersebut diselenggarakan atas kerja sama dengan masyarakat Lingkungan Rasabou Kelurahan Jatibaru Timur yang menjadi tempat pelaksanaannya.

Meski sempat ada kekhawatiran batalnya acara ini karena kota Bima diguyur hujan merata sejak siang hingga Magrib, namun berkat kekompakan dan kerjasama panitia pelaksana dan masyarakatnya akhirnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya acara yang dimulai sekitar pukul 20.30 Wita ini dapat terlaksana dengan sangat berkesan dan tidak mengecewakan.

Kegiatan ini terasa sangat istimewa karena cukup banyak penampilan yang ditunjukkan mahasiswa dan mahasiswi dari Kampus Hijau ini. Semua pengisi tiap-tiap acara mulai dari MC, pra acara sampai acara penutup diborong oleh civitas akademika STIT Sunan Giri Bima. Hal ini semakin menunjukkan betapa kampus STIT Sunan Giri Bima mampu menunjukkan bukti konkrit kepada masyarakat bahwa mahasiswanya tidak hanya mampu menunjukkan eksistensinya dalam dunia akademis, namun juga dalam kegiatan kemasyarakatan.

Pra acara diawali dengan penampilan seni Marawis dengan iringan tabuhan rebana dan alunan gambus yang mendayu-dayu berhasil membius ratusan pasang telinga pada acara tersebut. Bahkan pada sesi acara istirahat para penonton masih meminta tambahan satu lagu ekstra karena begitu bagusnya alunan alat musik khas timur tengah yang rancak dipadu dengan lantunan vokalis yang syahdu. Pra acara berikutnya juga adalah penampilan tari kontemporer oleh beberapa mahasiswi STIT Sunan Giri Bima juga turut mendapat perhatian dari para penonton, sehingga tanpa perlu diminta, para penonton pun merekamnya dalam ponselnya masing-masing.

Ada yang spesial dari penyelenggaraan kegiatan tersebut, yaitu penampilan perdana drama teater yang mengundang decak kagum dari semua pasang mata yang menyaksikan adegan demi adegan yang disuguhkan dihadapan ratusan masyarakat yang hadir. Aktor dan aktrisnya tidak lain adalah mahasiswa yang rata-rata belum genap setahun menempuh pendidikan di STIT Sunan Giri Bima.

Drama tersebut menceritakan kegigihan dan kesabaran “Ama Mida” dan “Ina Mida” dalam menyekolahkan kedua putrinya di tengah himpitan ekonomi yang serba kekurangan serta suara-suara sumbang dari orang-orang sekitarnya yang menganggap mereka terlalu memaksakan diri dan tidak berkaca pada keadaannya.

Namun dengan penuh keyakinan dan tawakkal akhirnya perjuangan mereka dibayar manis dengan prestasi kedua putri mereka yang membanggakan kampusnya, lebih-lebih lagi bagi orang tua dan masyarakat sekitar. Karena begitu dalamnya penjiwaan para pemerannya ditambah lagi iringan backsound yang begitumenyentuh, rata-rata penonton tidak bisa menahan cucuran air matanya ketika adegannya sedih dan tidak bisa menahan tawanya ketika adegannya lucu.

Melihat berbagai penampilan yang ada, ketua panitia pelaksana Masnun, SPd.I yang juga alumni STIT Sunan Giri Bima menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya rombongan yang telah hadir dan memeriahkan acara tersebut. Kepala Kelurahan Jatibaru Timur juga dalam sambutannya  tidak lupa  memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap civitas akademika STIT Sunan Giri Bima yang bekerja sama dengan masyarakat sekitar lokasi dalam menyukseskan acara tersebut, karena menurutnya kegiatan seperti ini baru pertama kali ada di Kelurahan yang baru terbentuk dari pemekaran beberapa bulan lalu. Ketua STIT Sunan Giri Bima, Dr. Syukri M.Ag. juga dalam sambutannya menyampaikan berbagai program unggulan kampusnya serta mengajak masyarakat agar menjadikan STIT Sunan Giri Bima sebagai kampus pilihan untuk kelanjutan studi putera dan puterinya.

Selanjutnya dalam acara puncak, seperti biasa Ust. Zulkrnain S.Pd.I atau yang biasa dipangii UZe dengan gayanya yang khas  menggunakan bahasa yang ringan dan diselingi humor-humor segar mampu membius para undangan yang hadir untuk tetap bertahan di tempat duduknya, padahal waktu sudah menunjukkan hampir pukul 23.00 wita. Dalam taushiyahnya, sang ustadz berpesan tentang pentingnya ibadah sholat sebagai aspek penting dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Selain itu hadirin juga diajak untuk lebih mencintai Nabinya dengan banyak bershalawat dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Uze juga menyampaikan pertingnya menjaga ukhuwah di tengah berbagai perbedaan, khususnya menyampun pilkada beberapa hari kedepan. Akhirnya acara mencapai pamungkasnya menjelang tengah malam dengan meninggalkan cerita indah dan pelajaran berharga bagi semua yang hadir. Semoga Allah Swt.  memberkahi setiap langkah kita. Aamiin.

Oleh: Ahmad Syagif

Kota Bima, 4 April 2019


Peringatan Isra’ Mi’raj dan Sosialisasi Kampus di Roka

Category : Kronik

PELAKSANAAN peringatan isra’ mi’raj tadi malam dilaksanakan di desa Roka. Terselenggaranya kegiatan tersebut berkat kerjasama dan komunikasi yang intens antara kades  Roka Ihsan, S.Pd., remaja masjid al-Ishlah desa Roka dengan pimpinan lembaga STIT Sunan Giri Bima.

Ide awal tercetus ketika pimpinan STIT Sunan Giri Bima menjalin komunikasi dengan kades Roka mengenai kemungkinan kolaborasi pelaksanaan peringatan isra’ mi’raj yang akan dilaksanakan di Roka. Kades merespon baik ide tersebut sehingga disepakati acara dilaksanakan tanggal 2 April 2019 yang bertepatan dengan malam 27 Rajab 1440 H yang berlokasi di lapangan desa Roka.

Bagi masyarakat desa Roka, acara seperti ini rutin dilaksanakan tiap tahunnya. Namun acara tadi malam terasa beda karena disemarakkan oleh grup marawis desa Roka, tarian anak-anak desa Roka dan MIS Roka serta grup Marawis Mahasiswa STIT Sunan Giri Bima pada pra acaranya.

Kegiatan ini dipandu oleh Abdurrahman atau di kampus biasa disapa Abdur, mahasiswa semester  dua STIT Sunan Giri Bima berasal dari Roka. Abdur dipilih, menurut ketua STIT dalam sambutannya, untuk membuktikan kepada masyarakat Roka bahwa mahasiswa yang belajar di kampus hijau siap tampil kapan pun dibutuhkan. Dan untuk kali ini Abdur sukses menjalankan tugasnya sebagai MC.

Kades Roka Ihsan, S.Pd. menyampaikan terima kasih kepada panitia dan masyarakat Roka yang telah menyukseskan acara walaupun disertai rintikan hujan namun para audiens tidak beranjak dari tempat duduk. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada ketua STIT Sunan Giri Bima beserta rombongan yang telah hadir menyemarakkan kegiatan.

Pada akhir sambutannya, kades Roka menghimbau kepada warga masyarakat Roka “Bila ada yang hendak melanjutkan kuliah, pilihlah kampus STIT Sunan Giri Bima karena kebanyakan warga Roka, sekolah agama mulai dari RA, MTs dan MA dan alangkah baiknya dilanjutkan ke Perguruan Tinggi Agama seperti STIT, apalagi beliau adalah ketuanya dan putra asli desa Roka”. Pungkasnya.

Ustad Jul sebagai penceramah mengingatkan kembali akan hikmah-hikmah dibalik peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw. Salah satunya adalah pemegang kunci pintu surga  adalah Nabi Muhammad Saw. yang diperingati isra’ mi’rajnya malam ini. “Jika ingin mendapatkan kunci itu, maka mau ndak mau kita harus mencintainya”. Ujarnya.

UJ mengibaratkan seperti seseorang yang lagi jatuh cinta kepada pasangannya. Orang yang lagi jatuh cinta, jelasnya,  dia akan selalu mengingat pasangan yang dicintainya dalam keadaan apapun. Begitulah juga orang yang mencintai Rasulullah Saw. akan selalu mengingat beliau, menyebut namanya tiap saat dengan membacakan shalawat padanya. Wallahu  a’lam.

Dara Bima, 3 Maret 2019


Sosialisasi di Sampungu part 2

Category : Kronik

Untuk menggalang calon Maba yang banyak, panitia penerimaan Maba STIT Sunan Giri Bima tahun akademik 2018/2019 terus menggalakkan sosialisasi kampus di berbagai kelurahan dan desa di wilayah Kota dan Kabupaten Bima dengan melakukan kegiatan sholat jum’at berjama’ah.

Sosialisasi kampus jum’at, 29 Maret 2019 dilaksanakan di dusun Sampungu 1 untuk yang kedua kalinya setelah sosialisasi minggu sebelumnya di Sampungu 3. Sosialisasi dilakukan setelah sholat Jum’at yang dipandu oleh bapak Irwan Supriadin J., M.Sos.I.

Berdasarkan hasil pantauan penulis, jama’ah sangat antusias mendengarkan sosialisasi kampus STIT Sunan Giri Bima sehingga ada seorang jama’ah yang mengajukan usulan agar biaya perkuliahan dapat dibayar pada akhir perkuliahan karena minimnya dana yang dimiliki oleh para orang tua calon Maba.

Mendengar usulan jama’ah tersebut, bapak Irwan Supriadin menjelaskan bahwa hal itu bisa saja dilakukan, namun ia menegaskan bahwa biaya perkuliahan di kampus STIT Sunan Giri Bima sangat murah dan terjangkau “Biaya SPP di kampus STIT sangat murah dan dapat dibayar secara menyicil selama proses perkuliahan dalam satu semester. Biaya tersebut tidak sampai menghabiskan sekali hasil panen jagung bapak-bapak yang jumlahnya puluhan juta”. jelasnya yang disambut ketawa oleh para jama’ah.

Begitu antusiasnya mendengar penjelasan bapak Irwan Supriadin J, banyak orang tua yang tertarik untuk mengkuliahkan putra/putrinya di kampus hijau, karena adanya tawaran asrama gratis, SPP murah bisa dicicil serta program-program unggulan yang menjanjikan masa depan.

Semoga usaha keras panitia Maba tahun ini membuahkan hasil maksimal sesuai dengan target yang telah direncanakan. Aamiin ya rabbal Aalamiin. Wallahu a’lam.

Kota Bima, 31 Maret 2019


Uma Lengge Panda

Category : Sejarah Tanah Bima

Salah satu bentuk rumah yang dimiliki oleh masyarakat Bima zaman dulu adalah Uma Lengge. Uma Lengge ini, saat ini dapat ditemukan di tiga kecamatan di Wilayah kabupaten Bima, yaitu di desa Maria Kecamatan Wawo, desa Sambori Kecamatan Lambitu dan Dusun Mbawa Desa Mbawa Kecamatan Donggo.

Di Desa Maria, masih ditemukan banyak Uma Lengge termasuk Jompa (tempat penyimpanan padi) yang berlokasi di satu tempat dalam kondisi baik. Sementara di Desa Sambori dan Dusun Mbawa masing-masing tersisa satu Uma Lengge.

Salah seorang warga Sambori ketika dimintai pandangannya tentang Uma Lengge mengatakan bahwa masyarakat Sambori mengikuti perkembangan zaman dalam hal bentuk rumah Uma Lengge diganti dengan bentuk yang baru sebagaimana yang umum ada di daerah Bima.

Untuk melestarikan dan memoderasi bentuk Uma Lengge tersebut, pemerintah kabupaten membangun beberapa Uma Lengge permanen secara berjejer di Taman Panda Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima.

Saat ini, Uma Lengge tersebut menjadi ikon baru obyek wisata budaya yang sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat, lebih-lebih hari Sabtu dan Minggu. Banyak motor dan mobil yang parkir di pinggi jalan. Mereka ada yang datang dari kota Bima, kabupaten Bima, kabupaten Dompu, kabupaten Sumbawa bahkan masyarakat pulau Lombok yang sedang berkunjung di Bima.

Mereka menggunakan kesempatan untuk melakukan foto selvi bersama keluarga di hadapan Uma Lengge dan duduk-duduk santai di atasnya untuk sekedar menghilangkan penat sambil menikmati pemandangan laut dan pemandangan pegunungan Donggo dan Soromandi yang menjulang di arah barat.

Mudah-mudahan ikon baru Uma Lengge Taman Panda ini dapat dirawat dengan baik oleh pemerintah, lebih-lebih oleh warga masyarakat sehingga terlihat bersih, rapi, nyaman dan aman sehingga dapat bertahan lama. Wallahu a’lam.

Bima, 30 Maret 2019