Category Archives: Artikel

Tamu “CANTIK” di Senja Kemarin

Category : Artikel

Boarding School (Putri) MTsN 1 Kota Bima Melakukan Kunjungan ke Kampus STIT Sunan Giri Bima kemarin sore, Rabu 6 Februari 2019. Rombongan tiba di kampus STIT Sunan Giri Bima sekita pukul 05.30 sore, disambut langsung oleh puket II dan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang tampak cukup terkejut dengan kedatangan tamu remaja putri tersebut. Hal tersebut dikarenakan mungkin rombongan dianggap tidak jadi datang karena hari sudah semakin senja dan waktu ashar sudah berlalu cukup lama. Kegiatan diawali dengan acara perkenalan rombongan tamu dan tuan rumah. Salah satu mahasiswa selanjutnya ditunjuk sebagai perwakilan untuk memperkenalkan kampus kita beserta berbagai macam kegiatannya.

Kegiatan out door seperti ini menjadi bagian rutin kegiatan bulanan mereka untuk mengenal dunia luar, membuka cakrawala berpikir sekaligus menambah wawasan pengalaman sebagai bagian pembelajaran mereka. Pilihan jatuh ke STIT Sunan Giri Bima karena dianggap memiliki kesamaan pola pendidikan yaitu menggunakan sistem asrama dan “kabar angin” soal produk-produk kegiatan kreatifitas karya mahasiswa kampus hijau ini. Kunjungan kemarin dapat dianggap sebagai ajang bertukar pengalaman mengelola asrama sebagai bagian integral dari model pendidikan yang diterapkan di tempat masing-masing, khususnya pengembangan lingkungan berbahasa yang baik untuk meningkatkan kemampuan anak didiknya dalam menggunakan bahasa asing (Arab & Inggris) minimal untuk berkomunikasi setiap harinya.

Harapan kedepannya sistem pendidikan berbasis asrama bisa menjadi magnet bagi orang di luar sebagai tempat studi banding atau pilot project dalam hal sistem pendidikan. Harus diakui bahwa pengelolaan asrama, pengadopsian sistem pondok, dan pengembangan lingkungan berbahasa di sekolah Favorit di Kota Bima tersebut sudah lebih mapan dibanding dengan kondisi yang ada di STIT Sunan Giri Bima, karena memang faktor usia yang baru seumur jagung, infrastruktur, anggaran , dan lainnya sehingga butuh proses yang cukup panjang bagi kampus kita untuk bergerak maju.

Dalam pembicaraan antara Pembina Boarding School MTsN 1 Kota Bima dengan Pembina Asrama STIT sunan Giri Bima kemarin, banyak masukan bagi kampus kita mengenai penataan kamar asrama putri, kebersihan, pengelolaan sampah, kegiatan harian, dan lain sebagainya yang insya Allah menjadi bahan evaluasi kita bersama. Kemarin juga dilakukan penempelan bersama mufradat (vocabulary) di tempat-tempat strategis di asrama putri sebagai langkah awal memperkaya kosa kata bahasa asing bagi penghuni asrama.

Kegiatan selanjutnya adalah “tour” keliling asrama kampus dan ruang produksi. Satu hal di luar prediksi pada saat kunjungan kemarin sore adalah ketika rombongan yang hadir, yang notabene adalah siswi-siswi yang masih abg beserta guru pendampingnya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum dan antusiasnya begitu melihat produk kreatifitas yang sudah lama tersimpan di lemari asrama putri yaitu bros-bros cantik menawan serta murah meriah. Tanpa menunggu waktu yang lama, akhirnya para tamu berebut memilih bros-bros yang mereka sukai, bahkan memesan tambahannya karena stok pilihan yang ada ternyata tidak mencukupi. Tidak ketinggalan, guru pendampingnya juga tertarik untuk membeli hasil karya mahasiswi-mahasiswi STIT tersebut, padahal jenis kreatifitas yang satu ini sudah lama tidak ada beritanya. Begitu pula ketika rombongan diajak ke lantai atas melihat produk tas anyaman dari tali kur, akhirnya ada juga anggota rombongan yang tertarik untuk memesan produk tas tersebut dan akan diselesaikan pembuatannya oleh mahasiswa dalam beberapa hari kedepan.

Selanjutnya rombongan diarahkan menuju ruang produksi melihat karya mahasiswa kita di bidang kayu dan bambu. Dan lagi-lagi rombongan dibuat berdecak kagum setelah melihat hasil karya mahasiswa kita. Untuk diketahui bahwa Boarding School MTsN 1 Kota Bima sudah mempercayakan pembuatan Vandel (plakat) para santrinya yang akan diwisuda pada tahun ajaran ini. Tak terasa waktu berjalan, sayup-sayup dari kejauhan terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an dari corong masjid dan mushalla pertanda waktu maghrib segera tiba. Rombongan tamu pun akhirnya mohon pamit untuk pulang, meninggalkan sejumlah kenangan dan pelajaran berharga bagi kita. Meski tidak lama, rombongan yang hadir dan mahasiswi kita sudah cukup bias membina keakraban sehingga sebelum mengakhiri kunjungannya masih disempatkan untuk berswafoto bersama.

Untuk kedepan, sebagaimana keinginan salah satu Pembina Boarding School MTsN 1 Kota Bima, dalam rangka pengembangan kebahasaan, mereka akan mengundang beberapa mahasiswi kita bergiliran hadir di asrama putri di sekolahnya (karena boarding putra beda manajemen) untuk bertukar pengalaman dan merasakan lingkungan berbahasa di sana sekaligus berbagi ilmu kreatifitas keputrian (semisal pembuatan bros sederhana) sebagai materi ekskul di sekolah mereka. Sehingga kedua belah bihak bisa saling bertukar pengalaman dan pengetahuan demi pengembangan potensi diri dan kemajuan lembaga masing-masing. Semoga ikhtiar ini membuka jalan kita menuju masa depan gemilang.

Ahmad Syagif HM, M.Pd


Maqasidul hayat Menurut Said Nursi

Category : Artikel , Tokoh Lokal

Meneruskan uraian tentang Said Nursi, ada yang menarik dari apa yang disampaikan oleh Kyai Imam Mawardi bahwa dalam salah satu tema kitabnya, Said Nursi menjelaskan tentang maqasidul hayat, tujuan hidup. Kyai Imam menuturkan bahwa jika saja manusia mengetahui tujuan hidupnya di dunia ini, maka kehidupannya akan selalu diwarnai dengan kebahagiaan dan keindahan. Sebaliknya, manusia yang tidak mengetahui tujuan hidupnya, maka keresahan, gundah gulana, kesusahan dan kesedihan akan selalu mewarnai kehidupannya walau secara fisik ia termasuk manusia tampan tanpa cacat, kaya, hartawan, the have tanpa kekurangan.

lebihb lanjut Kyai Imam menjelaskan bahwa Said Nursi dalam kitabnya menetapkan lima tujuan hidup manusia. Jika kelima hal ini dapat dijalankan secara beriringan, maka dia akan merasakan keindahan dan kenikmatan hidup yang sungguh luar biasa. Dalam tulisan singkat ini, hanya dijelaskan tiga poin terlebih dahulu, yaitu;

Pertama, Said Nursi mengatakan bahwa jika ingin kehidupan kita diwarnai kebahagiaan, keindahan dan kenyamanan, maka pertama-tama kita harus mengenal Tuhan, mengenal Allah, ma’rifatullah. Kalau orang sudah mengenal Allah pasti hidupnya indah, nyaman, tentram dan nikmat. Karena segala seuatu yang ia rasakan, yang ia nikmati dan yang ia hadapi benar-benar diyakini datang dari Allah Swt. Apapun bentuknya, berupa nikmat ataupun cobaan dan musibah, maka diterima dengan lapang dada, dinikmati dengan senang hati.

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak membutuhkan Tuhan hatta orang yang tidak mengakui eksistensi Tuhan sekalipun. Dalam kondisi tertentu, ia pasti akan kembali kepada Tuhan. Suatu misal, ketika seseorang sedang berada dalam pesawat yang hendak terbakar dan jatuh, berada dalam kapal laut yang mau tenggelam, dikejar ular kobra di hutan, tiada sesiapa yang dapat menolongnya, maka dalam kondisi demikian, secara naluriah kemanusiaan, orang itu pasti akan menyerahkan sisa hidupannya kepada kekuatan Yang Maha Agung, siapa lagi kalau bukan Allah Swt., Tuhan pencipta jagat raya. “Oh my god, help me please!, I’m so worried, so afraid”, “wahai Tuhan ku, bantulah aku karena aku sangat khawatir dan takut atas keadaanku!”. Kira-kira seperti itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya ketika dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan dan menakutkannya.

Seorang fir’aun yang memiliki segala harta dan tahta duniawi bahkan mengaku jadi Tuhan, meminta pertolongan Allah Swt. dan mengakui kekhilafannya ketika hampir tenggelam di laut merah pada saat mengejar nabi Musa As. Namun pengakuannya tersebut terlambat karena nyawa sudah berada di kerongkongan, selangkah lagi akan keluar dari mulutnya.

Pengakuan terhadap keberadaan Tuhan di alam raya ini adalah fitrah kemanusiaan, bawaan lahir, karena manusia ketika dalam alam arwah sudah berdialog dengan Tuhan, “Alastu bi rabbikum?, balaa syahidna”, bukankah Aku ini rabb kalian, Tuhan kalian?, Arwah itu menjawab, iya Engkau adalah rabb kami, Tuhan kami. Jadi jika kita ingin kehidupan kita ini bahagia, maka kita harus mengenal Tuhan kita secara lebih mendalam.

Kedua, beribadah. Setelah kita mengenal Tuhan, maka langkah selanjutnya adalah beribadah kepada-Nya dengan mengikuti apa-apa yang menjadi perintahnya dan menjauhi apa-apa yang menjadi larangannya, dalam bahasa agama, disebut dengan taqwa kepada Allah Swt.

Karena kita menyadari bahwa ibadah adalah tujuan hidup kita, maka tidak ada alasan untuk bermalas-malasan. Kita harus menikmatinya sepenuh hati karena beribadah kepada Allah Swt. merupakan kebutuhan kita, bukan kebutuhan orang lain apalagi kebutuhan Allah Swt. Allah Swt tidak butuh disembah oleh manusia tapi manusialah yang butuh menyembah Allah Swt. Jika manusia tidak memenuhi kebutuhannya sebaik-baiknya dalam mengerjakan amal saleh, baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial, maka sudah pasti menempati kaplingnya di neraka. Sebaliknya, jika kedua kesalehan tersebut dikerjakan sebaik-baiknya, maka sungguh dia akan menikmati kenyamanan hidup di dunia dan akhirat.
Ketiga, bersyukur dan Sabar. Orang yang selalu bersyukur dan sabar atas apa yang dialami, maka dia akan mendapatkan keberuntungan dengan tambahan nikmat yang melimpah dan mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Allah Swt. berfirman dalam Qs. (14), 7:
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Memang kadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan senyatanya. Tapi jika kita bersyukur dan menikmati apa yang ada, maka kita akan merasakan kebahagian dan enaknya hidup walaupun kita tinggal digubuk reok dan makan seadanya. Lain halnya, walaupun orang kaya, hidup mewah tapi tidak pandai bersyukur dan tidak sabar dalam menjalani hidup, maka ia selalu merasa kurang dan kurang sehingga ia menggunakan cara apapun agar hajatnya bisa digapai. Orang seperti ini, kalau keinginannya tidak bisa dicapai, maka akan menimbulkan stres yang berkepanjangan sehingga mudah terserang penyakit. Penyakitnya aneh-aneh lagi sehingga membutuhkan pengobatan yang ekstra. Namanya orang kaya tentu tidak memilih dokter sembarangan. Ia akan memilih dokter top yang mahal sehingga banyak menghabiskan anggaran. Kalau bagi orang biasa yang pandai bersyukur, jika sakit mendera, maka cukup disuwuk oleh ustadz, selesai itu barang, hehe. Wallauhu a’alm.

Surabaya, 9 Desember 2018


Ghozwul Fikri dan Proxy War

Category : Artikel

Ghozwul fikri (perang pemikiran) dan proxy war (perang yang diwakilkan), dua kata yang akhir-akhir ini sering kita dengar dikumandangkan oleh para da’i dan pemerhati Islam. Dua kata tersebut biasanya dilekatkan ketika membicarakan upaya musuh menghancurkan Islam.

Dahulu kita mengenal kata sandi 3 (tiga) G. Glory (kekuasaan), Gospel (agama), dan Gold (mas/harta benda). Ketiga usaha itu berjalan beriringan sesuai dengan harapan walaupun disana sini banyak kendalanya. Dahulu musuh Islam menjajah negara-negara

Islam dalam jangka waktu yang cukup lama, Indonesia misalnya dijajah selama 360 tahun. Dalam jangka waktu yang begitu lama, musuh berhasil menjalankan misinya. Kekuasaan mereka dapatkan, ajaran agama disebarkan, dan harta benda nusantara dijarah.

Namun dengan semangat membela agama, membela tanah air, umat Islam yang dipimpin oleh para ulama membantu TNI berjuang habis-habisan memukul mundur tentara musuh sampai pada saatnya meraih kemerdekaan. Setelah kemerdekaan diraih, maka pembangunan di segala bidang digalakkan sehingga menghasilkan pembangunan seperti yang kita nikmati saat ini.
Musuh Islam tentu saja tidak senang dengan kemerdekaan yang sedang kita nikmati. Mereka berupaya keras bagaimana caranya agar umat Islam yang sedang bangkit ini, bisa mati suri sebelum mencapai puncak. Mereka tidak lagi menggunakan cara lama dengan kata sandi 3 G, tapi menggalakkan kata sandi baru yang tidak lagi melakukan kontak langsung secara fisik dengan umat Islam.   
Sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. Zahroh ketika menyampaikan kajian keagamaan di masjid Akbar Surabaya beberapa hari lalu bahwa saat ini yang digalakkan kata sandi 3 F. Fashion (model pakaian), Food (makanan), dan Film (Film). Ketiga metode penyerangan gaya baru ini dilakukan secara massive melalui berbagai macam media yang mereka kuasai. Media televisi, media elektronik, media internet dan lain-lain.
Kita bisa mengamati bagaimana perang opini di dunia maya terkait cara berpakaian seseorang. Menurut mereka, pakaian yang modern adalah pakaian ala Barat, sementara pakaian ala Arab kadang-kadang dianggap pakaian kaum teroris. Pakaian ala Nusantara dianggap kampungan. Begitu juga dalam hal makanan, yang modern adalah makanan yang berbau-bau Barat, ada nama-nama Barat pada labelnya padahal makanan Nusantara tidak kalah lezat dan menyehatkan. Dan yang terakhir adalah upaya penghancuran generasi muda melalui film dan sinetron. Ketiga metode tersebut berhasil merasuki sendi kehidupan umat terutama generasi muda Islam.
Di samping upaya-upaya di atas, sarjana-sarjana Barat (orientalist) telah lama mengkaji Islam dari berbagai bidang kajian. Ada yang tertarik dengan kajian tafsir, ada yang kajian hadist, kajian sejarah, kajian bahasa, kajian hukum, kajian tasawuf, kajian budaya, dan lain-lain. Kajian-kajian itu terus berlanjut hingga saat ini. Diantara mereka ada yang murni mengkaji Islam secara jujur sehingga banyak yang mendapat hidayah masuk Islam, tapi ada juga yang bertujuan untuk mengaburkan ajaran Islam sehingga menimbulkan keragu-raguan di kalangan umat Islam.
Jika diperhatikan, peran tersebut sepertinya banyak ditunjukkan oleh kalangan liberal yang mencoba memahami ajaran Islam dari sudut pandang yang berbeda dengan mayoritas umat Islam bahkan dengan ulama salaf sekalipun. Hal seperti inilah barangkali yang disebut dengan ghozwul fikri perang pemikiran dan proxy war perang yang melibatkan pihak ketiga yang seide sepemikiran sebagai pengganti untuk melawan musuh secara langsung.
Menurut Prof. Zahroh musuh-musuh Islam itu tidak hanya datang dari luar Islam tapi ada juga yang berasal dari kalangan umat Islam sendiri. Dan mereka ini sangat sulit diidentifikasi karena mereka juga beranggapan memperjuangkan Islam yang rahmatan lil alamin sebagaimana yang diperjuangkan oleh umat Islam pada umumnya. Tapi yang jelas menurutnya, orang-orang yang menentang, menghambat, merugikan perjuangan umat Islam serta lebih condong ke musuh, merekalah musuh dalam selimut. Mereka mendahulukan kepentingkan pribadi dan kelompoknya tanpa menoleh kepada kepentingan umat secara keseluruhan.
Sebagai contoh, mereka berupaya memahami al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw. sesuai dengan kepentingannya. Mereka memaknai ayat-ayat yang sudah jelas maknanya dengan makna lain yang sesuai dengan kepentingan mereka sehingga pendapat yang mereka pegang sesuai dengan ayat tersebut. Dengan cara memahami ayat seperti ini membuat umat Islam akar rumput menjadi bingung dan ragu dibuatnya.   
Oleh karenanya, beliau sarankan agar umat Islam, terutama ulama dan kalangan intelektual muslim agar melek teknologi informasi, karena saat ini yang paling ampuh untuk menggiring opini umat adalah melalui media sosial internet. Kita harus rajin memproduksi tulisan kajian keislaman Ahli Sunnah wal Jama’ah sebanyak-banyaknya lalu dishare sehingga bisa dibaca dan dikonsumsi oleh umat. Jangan biarkan umat dibodohi dengan tulisan-tulisan haox yang merajalela. Saringlah informasi media itu secara teliti sehingga kita terhindari dari berita fitnah nan haox. Wallahu a’lam.
Surabaya, 1 Mei 2017.

Perempuan dalam Lembaran Kitab Kuning

Category : Artikel

Kemarin saya sudah mengungkapkan hasil penelitian Amina Wadud mengenai perempuan yang disebutkan dalam al-Qur’an. Saat ini, saya coba menggali hasil penelitian Masdar F. Mas’udi yang diberi judul “Perempuan diantara Lembaran Kitab Kuning�. Tulisan tersebut tertera dalam buku yang berjudul “Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual�.
Menurut Masdar, secara umum paling tidak terdapat empat tipe penempatan posisi perempuan oleh kitab kuning. Kadang diposisikan melebur dengan laki-laki, separoh harga laki-laki, sejajar dengan laki-laki dan bahkan jauh di atas laki-laki.

Melebur dengan laki-laki
Dalam hal melakukan sholat, laki-laki dan perempuan dibedakan dalam lima hal. Diantaranya; 1) dalam hal aurat, laki-laki cukup menutup antara pusar dan lutut, sedang perempuan harus menutup semua bagian tubuhnya kecuali wajah dan tapak tangan. 2) pada sholat jahr (magrib, isya’ dan subuh) laki-laki sebaiknya mengeraskan suaranya, sedangkan perempuan tetap bersuara rendah. 3) laki-laki sebaiknya sholat di masjid, perempuan sebaiknya sholat di rumah saja. 4) laki-laki menjadi Imam sholat dan Khatib jum’at, perempuan tidak boleh. 5) Ketika Imam Lupa dalam sholat, laki-laki membaca subhanallah, perempuan menepuk tangannya.
Pembedaan lain –yang sebenarnya tidak otomatis berarti bahwa yang satu lebih rendah dengan yang lain- tampak dari struktur bahasa kitab kuning. Dalam seluruh jenis suku kata, bahasa Arab membedakan laki-laki dan perempuan; kata benda (ism), kata kerja (fi’l), maupun kata sifat.    
Kadang-kadang ada kata-kata yang tidak berjenis kelamin yang mencakup laki-laki dan perempuan tapi oleh bahasa kitab kuning diperlakukan sebagai laki-laki. Misalnya kata an-nas yang bermakna manusia. Begitu juga kata yang menunjukkan jamak laki-laki banyak hum atau kum kalian laki-laki banyak, kalau dikehendaki, bisa menunjukkan jamak bagi laki-laki dan perempuan sekaligus.
Superioritas laki-laki juga terlihat pada nama-nama Tuhan seperti Allah, ar-Rahman, ar-Rahim, al-Matiin, dll.  Sementara malaikat, sebagai kata jenis perempuan tapi secara individual nama-namanya laki-laki seperi Jibril, mika’il, Israfil, Ridwan, dll. Juga nama-nama Nabi dan Rasul semuanya berjenis laki-laki, kecuali kalau Maryam, Asiah, Masitah, Rabi’ah al-Adawiyah hendak diyakini sebagai nabi juga.
Separoh harga lelaki
Kitab kuning, dalam tata kehidupan sosial, menempatkan perempuan sebagai makhluk yang separo harga laki-laki. Misalnya dalam hal menyembelih hewan aqiqah, anak laki-laki  minimal 2 ekor kambing, perempuan 1 ekor kambing. Dalam hal diyat ganti rugi pembunuhan, nyawa seorang laki-laki diganti dengan 100 ekor unta, sedangkan nyawa orang perempuan diganti dengan 50 ekor unta. Dalam hal persaksian, persaksian 2 orang perempuan  sama dengan persaksian 1 orang laki-laki. Dalam hal pembagian waris, 2 orang anak perempuan sama dengan bagian satu anak laki-laki. Ada analisis, laki-laki bertanggung jawab untuk memberi nafkah keluarga sedangkan perempuan tidak. Maka meskipun laki-laki dapat 2 bagian tapi kotor, sedang wanita dapat 1 bagian tapi bersih. Dalam hal menikah, laki-laki boleh menikahi empat orang wanita dengan syarat yang ketat, sementara wanita mutlak hanya satu suami saja. 
Sejajar dengan Laki-laki
Dalam penelusuran Masdar, kitab kuning juga menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki dalam hal spiritualitas ketuhanan. Pendirian ini dapat ditelusuri ketika mereka menafsirkan Qs. Al-Hujurat: 13 yang artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa�. Juga dalam Qs. Al-Nahl: 97 yang artinya: “Barangsiapa yang beramal soleh, apakah ia laki-laki atau perempuan dan ia beriman, maka niscaya akan kami hidupkan ia dengan kehidupan yang sangat baik�.
Dalam kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa siapa saja yang beramal saleh dan patuh kepada Allah Swt. baik laki-laki maupun perempuan, maka ia berhak mendapatkan derajat yang mulia di sisi Allah swt.
Dua ayat yang tampak mengandung posisi setara antara laki-laki dan perempuan di akhirat tersebut, dikhawatirkan oleh Masdar karena dalam banyak kitab kuning dijelaskan bahwa laki-laki mendapatkan wanita di dunia paling banter 4 orang saja sementara di surga nanti seorang laki-laki bisa memiliki 40 orang bidadari sekaligus, bahkan bisa jauh lebih banyak lagi.
Lebih Tinggi di Atas laki-laki
Pandangan ini muncul berdasarkan hadist Nabi Muhammad Saw. yang menjelaskan bahwa “Ridhanya Allah tergantung pada ridhanya kedua orang tua�. Adapun orang tua yang harus dihormati terlebih dahulu oleh sang anak adalah ibunya baru setelah itu bapaknya.
Mendahulukan penghormatan kepada ibu ini berdasarkan hadist yang cukup terkenal di kalangan pesantren, yaitu; “Pada suatu saat datang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad Saw., Siapakah yang paling berhak diberi penghormatan?. Nabi menjawab: Ibumu!. Kemudian?. Tanya sabahat, Ibumu. Kemudian? Tanya sahabat lagi. Ibumu. Kemudian? Tanya sahabat lagi. Bapakmu.
Terdapat hadist lain juga yang dikutip oleh kitab kuning dalam memberikan posisi terhormat kepada ibu, yaitu hadist yang cukup terkenal juga yang sudah dihapal di luar kepala oleh para santri bahkan anak TK sekalipun. “Surga berada di bawah telapak kaki ibu�. Hadist ini menegaskan bahwa betapa tingginya posisi dan derajat ibu yang harus dipandang oleh anak laki-laki maupun perempuan.
Mengomentari posisi perempuan dalam kitab kuning ini, diakhir tulisannya Masdar menekankan bahwa memang kalo kita memandang dari kaca mata Barat yang penuh dengan tuntutan kesamaan hak antara pria dan wanita, maka kesan negatif akan timbul.  Tapi kalau kita fair melihatnya, maka kesan negatif itu akan sirna seketika, karena kita diajarkan bagaimana kita memperlakukan teks itu. Masdar menjelaskan kenapa kitab kuning memperlakukan wanita seperti itu. Ada banyak faktornya, diantaranya; 1) ajaran al-Qur’an dan hadist Nabi sendiri memang tidak punya pretensi untuk menyejajarkan perempuan dan laki-laki, sekurang-kurangnya sebagaimana diobsesikan oleh penganjur emansipasi wanita masa kini. 2) para penulis kitab kuning hampir semuanya laki-laki, bias kelaki-lakiannya pun menjadi sulit terhindarkan. Ini juga yang menjadi kritik Amina Wadud mengapa kitab kuning dan tafsir banyak yang bias gender. 3) kitab kuning sendiri adalah produk budaya zamannya, zaman pertengahan Islam yang didominasi oleh cita rasa budaya Timur Tengah yang secara kekerabatan menganut kekerabatan Patrilineal, pro maskulin. 
Dari situ maka kita akan arif bijaksana memaknai suatu karya dengan tidak langsung menjudge bahwa karya ini negatif, karya itu positif. Mari kita resapi terlebih dahulu siapa penulisnya, bagaimana latarbelakangnya, kapan karya itu ditulis, dan mengapa dia menulis masalah itu. Itulah kira-kira model pembacaan cerdas-akademik dalam menilai suatu karya. 
Wallahu a’lam.
Surabaya, 31 Mei 2016.

Perempuan dalam al-Qur’an

Category : Artikel


Siapa saja perempuan yang disebutkan dalam al-Qur’an?. Untuk menjawabnya, saya dengan tidak sengaja membaca buku pesanan pak Irwan Supriadin II yang berjudul “Qur’an Menurut Perempuan; Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat Keadilan” yang dikarang oleh Amina Wadud. Buku ini sejatinya sudah saya miliki enam bulan lalu namun untuk tema ini baru saya baca tadi.
Menurut penelusuran Aminah Wadud dari sumber kitab tafsir yang berbahasa Inggris dan Arab, ada beberapa perempuan yang disebut dalam al-Qur’an. Ia membuat dua kategori dilihat dari segi kemunculannya baik dalam periode Makkah maupun dalam periode Madinah.

Kategori satu meliputi perempuan-perempuan yang disebutkan tapi sedikit sekali penjelasan tentang diri mereka. Menurutnya, penyebutan ini dimaksudkan untuk membantu menjadikan suatu kisah masuk akal, sebab mereka tidak berbicara atau memerankan apapun. 
Daintaranya adalah; (1) Elizabeth dalam (Qs. 3: 40 dan Qs. 19: 5,7) isteri Zakaria. (2) Banaatii (Qs.11: 78) anak-anak perempuan atau gadis-gadis (dari kotaku), dikatakan oleh Nabi Lut (3) Aisyah (Qs. 24: 11) isteri Nabi Muhammad Saw. (4) Zainab (Qs. 33: 37) isteri Nabi Muhammad Saw., janda dari anak angkat Nabi, Zaid (5) Banaat (Qs. 33: 59) anak-anak perempuan Nabi Muhammad, gadis-gadis di kotanya. (5) Imra’ah Nuh (Qs. 66: 10) istri Nuh. (6) Auraa’ (Arwa) binti Harb bin Umayyah atau yang terkenal dengan sebutan Ummu Jamil binti Harb, Imra’ah (Qs. 111: 4,5) isteri Abu Lahab.
Kategori kedua meliputi perempuan-perempuan yang melakukan tindakan tertentu atau mengutarakan kata-kata tertentu, tapi signifikansi dari kata-kata dan tindakan itu terbatas pada peristiwa tertentu dalam kehidupan mereka dan kehidupan Nabi. diantaranya; (1) Imra’ah Lut (Qs. 7: 83, 29: 33, 11:81, 15:60, 27: 57), istri Lut. (2) Sarah (Qs. 11: 71, 51: 29) istri Ibrahim. (3) Zulaiha, imra’ah al-Aziz (Qs. 12: 23) perempuan yang menggoda Yusuf. (4) an-Niswah (Qs. 12: 30) tamu-tamu perempuan Zulaiha (5) Raytah binti Sa’d (Qs. 16: 92) dia yang menguraikan benang. (6) Maryam ukht Musa (Qs. 20: 40, 28: 7) saudara perempuan Musa. (7) Imra’atayn 9Qs. 28: 23) dua perempuan dari Madyan. (8) Azwaj an-Nabi (Qs. 33: 28) isteri-isteri Nabi Muhammad, juga dikenal sebagai ummahatul mukminin ibu kaum yang beriman. (9) Khalwah binti Tsa’labah, al-Mujadilah, wanita yang mengajukan gugatan (Qs. 58: 1) isteri Aws. (10) al-Muhajiraat (Qs. 60: 10) pengungsi perempuan. (11) Ba’dh azwaajuh, satu atau lebih isteri-isteri Nabi Muhammad Saw. (Qs. 66: 3) dalam hal ini diyakini merujuk ke ‘Aisyah dan Hafsah.
Kategori ketiga meliputi perempuan istimewa karena menyangkut orang-orang yang menjalankan fungsi unik dari perspektif kitab suci itu sendiri dan dari perspektif manusia. Mereka telah melakukan amal ibadah khusus, telah menunjukkan komitmen moral agama mereka dan/atau membentuk sebagian dari suatu kondisi luar biasa yang berpengaruh pada semua umat manusia. Mereka itu adalah; 1) Eve, Hawa (Qs. 2: 35, 4: 1, 7: 19) isteri Adam. 2) Hannah, Anna, atau Anne (Qs. 3: 35) perempuan: imra’ah Imran, ibu dari Maryam. 3) Asiyah (Qs. 28: 9, 66: 11) isteri fir’aun. 3) Umm (Qs. 20: 38, 28: 7), umm atau ibu Musa. 4) Bilqis, imra’ah (Qs. 27: 23) Ratu Saba’. 
Itulah beberapa perempuan yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagaimana yang dicatat oleh Amina Wadud berdasarkan penelusurannya dari beberapa kitab Tafsir. Namun setelah saya cek kembali dalam al-Qur’an, saya menemukan kesalahan pengutipan nomor ayat dan surat dalam buku itu, misalnya Umm Jamil binti Harb, immra’ah ditulis surah ke 11 ayat 4 dan 5 padahal yang benar surah ke 111 ayat ke 4 dan 5, barangkali angka 1 nya kehapus. Lalu informasi Asiyah isteri fir’aun dikatakan dalam Qs. 20: 36 padahal ayat itu tidak ada kaitannya dengan Asiyah, begitu juga dalam Qs. 28: 7 seharusnya yang benar Qs. 28: 9, dan Qs. 66: 12 seharusnya yang bener Qs. 66: 11. wallau a’lam. 
Surabaya, 30 Mei 2016

Tipologi Ulama Klasik dan Ulama Kontemporer

Category : Artikel


Tema ini adalah salah satu dari sekian tema yang disodorkan oleh dosen pengampu mata kuliah “Institusi Agama: Ulamaâ€� untuk dijelaskan apa isi kandungannya. Walaupun saya tidak memilih tema ini untuk makalah saya, tapi saya tertarik untuk membedahnya, karena menurut pandangan saya, ulama adalah manusia atau orang yang diberikan Allah Swt. pemahaman keagamaan yang lebih daripada orang lain. Walaupun demikian, karena ia adalah sosok manusia, maka sifat kemanusiaannya baik yang positif maupun negatif tetap melekat dan menempel pada dirinya. Untuk itu, saya perlu menelusuri tipe-tipe ulama dimaksud dalam rangka membuka wawasan kita tentang mereka. Dalam hal ini, saya mengajukan tipologi ulama klasik dan kontemporer yang saya peroleh datanya dari beberapa tulisan yang berserakan. 

Perlu diketahui bahwa istilah ulama dalam di beberapa daerah, sebutannya sangatlah beragama. Di Jawa kita mengenalnya dengan sebutan Kiai, di Lombok menyebutnya dengan Tuan Guru, di Aceh menyebutnya dengan Teuku, di Bima sendiri masih diperdebatkan penyebutannya apakah Kiai, Tuan Guru, Kakek Guru atau sebutan lainnya, malah kadang-kadang digabung menjadi TG KH. Entahlah apa sebutan ciri khas ulama Bima yang bener, perlu ditelusuri lebih lanjut. 

Untuk mewakili pandangan ulama klasik mengenai tipologi ini, saya merujuk pada pendapat Imam al-Ghazali yang lahir pada tahun 1055 M (ada yang menyebut 1056 atau 1058 atau 1059 M) dalam kitab masterpiece-nya yang cukup terkenal Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa tipologi atau kategorisasi ulama (ulama yang sejaman dengan beliau) terbagi menjadi dua, yaitu Ulama Akhirat (Ulama al-Akhirah) dan Ulama Dunia (Ulama ad-Dunya atau Ulama al-Su’). Dikatakan ulama akhirt karena ia memerankan dirinya sebagai pewaris Nabi, menggunakan ilmunya untuk meraih keridhaan dan kedudukan disisi Allah Swt. Sementara Ulama Dunia atau Ulama Su’ (Ulama yang Buruk) adalah ulama yang menuntut dan mendapatkan ilmu dengan niat untuk mendapatkan kenikmatan duniawi dan kedudukan yang tinggi. 

Adapun ciri-ciri Ulama Akhirat diantaranya adalah tidak mencari dunia dengan ilmunya, perbuatannya selaras dengan perkataannya, menjauhi ilmu yang sedikit manfaatnya, yang banyak perdebatannya dan omong kosong, tidak cenderung kepada kemewahan, menjauh dari pada para penguasa, tidak terburu-buru memberi fatwa, dan lebih banyak perhatiannya pada ilmu bathin, mengawasi hati, mengenal dan menempuh jalan akhirat. Sementara ciri-ciri Ulama Dunia adalah mengejar kenikmatan dunia, mendekat kepada penguasa yang lalim, terlalu mudah memberi fatwa.

Sedangkan untuk mewakili ulama kontemporer dalam mengkaji karakteristik ulama, saya mengutip beberapa pandangan atau konsep yang diajukan oleh pemikir-pemikir kontemporer, diantaranya Muhammad Abid al-Jabiri, khususnya dalam kitab Bunyat al-Aql al-Arabi: Dirasah Tahliliyah Naqdiyah li Nazm al-Ma’rifah fi al-Thaqafah al-Arabiyah. Dalam tulisannya ini, al-Jabiri memuat kritik terhadap akal ulama Arab. Al-Jabiri menjelaskan bahwa konstituen akal ulama dapat diklasifikasikan dalam tiga trend: 1) al-‘Aql al-bayani (akal retoris) akal ini yang direpresentasikan oleh bahasa Arab, usul fiqh, dan ilmu kalam adalah produk kejeniusan orang Arab yang sayangnya tidak bisa berkembang lagi, karena sudah mencapai titik klimaks kematangannya, era kodifikasi. Pada tataran ini, yang memiliki otoritas adalah teks sementara akal hanya digunakan sebagai pengawal teks. 2) al-‘Aql al-irfani (akal gnostis- makrifah, ilham dan kasyf dengan riyadhah dan mujahadah) . Al-Jabiri menyebutnya dengan al-‘aql al-mustaqil, akal yang menikam dirinya resigning reason. Akal ini justru dipergunakan untuk memberikan pembuktian rasional terhadap impotensitas akal. Akal gnostis merupakan hasil pengadopsian ajaran-ajaran Hermenetisme dan neo-Platonisme. Dalam sejarah filsafat Islam, akal ini mencapai puncak kematangannya di tangan Ibnu Sina dan meraih mahkota kejayaannya di tangan al-Ghazali. 3) dan al-Aqal al-burhani (akal demonstratif, pengetahuan yang diperoleh dari indera, percobaan dan hukum logika) berasal dari teks-teks filsafat Aristoteles. Akal ini mulai dipopulerkan oleh al-Ma’mun, tetapi baru bisa berkembang secara normal di Semenanjung Andalusia, khususnya di tangan filosof besar Arab, Abu al-Walid Ibn al-Rusd.
Terkait dengan karakteristik kiai NU, Nasiri dalam disertasinya, menemukan beberapa tipologi yang dikemukakan oleh peneliti sebelumnya, tergantung dari kacamana mana yang dipakai. Jika dilihat fungsinya, khususnya bagi masyarakat Jawa pada masa Belanda, Isma’il membagi dua, yakni; pertama, kiai bebas atau kiai yang memposisikan diri di jalur dakwah dan pendidikan, kedua, kiai penghulu atau kiai pejabat yang diangkat oleh pemerintah Belanda. Tugasnya melaksanakan bidang kehakiman yang menyangkut syariat Islam. 

Ada juga yang mengkategorikan kiai sebagai kia idealis dan kiai realis. Kiai idealis maksudnya, kiai yang memegang teguh akan kebenaran yang diyakininya yang bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan. Idealismenya itu tumbuh secara perlahan dalam jiwanya, dan termanifestasikan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir. Sedangkan kiai realis adalah kiai yang sikap/pola pikirnya mengikuti arus. Individu yang realistis cenderung bersikap mengikuti lingkungannya dengan mengabaikan beberapa/semua nilai kebenaran yang dia yakini. Sama dengan idealisme, realisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa dan pikiran seseorang.

Imam Suprayogo membuat empat kategori terkait dengan penyikapan kiai terhadap masalah politik, sosial, ekonomi dan pendidikan. Yakni, 1) kiai spiritual, kiai yang hanya mengurus pesantren dan berkonsentrasi untuk ibadah. 2) kiai advokasi, kiai yang aktif mengajar di pesantren namun dia sangat peduli terhadap persoalan pemberdayaan masyarakat. 3) kiai politik adaptif, kiai yang peduli dengan organisasi politik dan kekuasaan serta dekat dengan pemerintah, umumnya di golkar. 4) kiai politik mitra kritis, yaitu kiai yang peduli terhadap organisasi politik namun mereka kritis terhadap pemerintahan, umumnya di PPP.

Menurut Mujamil Qamar, corak pemikiran kiai NU dikategorikan dalam lima tipologi, yaitu; pertama, antisipatif, pola pikir yang cenderung menanggapi sesuatu yang sedang dan akan terjadi. Kedua, elektik, pola pikir yang berusaha memilih semua yang dianggap terbaik tidak peduli dari aliran manapun, filsafat manapun, dan teori manapun asal lebih baik dari pada yang lain. Ketiga, divergen, pola pikir yang menjelajah keluar dari cara-cara berpikir konvensional. Ciri khas pemikiran ini lebih menonjol kadar liberalismenya dari pada ciri-ciri yang lain. Keempat, integralistik, yaitu pola pikir yang berusaha menyatakan berbagai hal; mungkin dua atau lebih yang seolah-olah berlawanan dan diusahakan mencari jalan tengahnya atau mengkompromikan dua hal yang bertentangan tersebut. Kelima, responsif, pola pikir yang cenderung memberikan jawaban terhadap problem-problem yang sedang dihadapi umat. Ciri khasnya adalah cepat tanggap, suka merespon, memiliki kepekaan yang tinggi terhadap fenomena sosial, dan berusaha menawarkan solusi.

Warsono dalam disertasinya, sebagaimana dikutip Nasiri, ketika melakukan kajian terhadap fungsi kiai dalam menghadapai dominasi negara pada era Abdurrahman Wahid, menggolongkan tiga tipologi, 1) kiai intelektual organik, yaitu kia yang terkait dengan struktur produktif dan politik dari kelompok yang sedang berkuasa. Mereka tampil sebagai juru kampanye dari penguasa atau kelompok yang berjuang untuk mendapatkan kekuasaan dalam rangka menyebarkan dan menanamkan ideologi terorganisir. 2) kiai intelektual tradisional, yaitu kiai yang memiliki otonomi dan tidak terkooptasi oleh kelompok yang berkuasa. Mereka menjaga jarak dengan kekuasaan dan berkonsentrasi mengajar di pesantren dan menjalankan transformasi masyarakat. 3) kiai intelektual simultan, kiai yang berfungsi sebagai intelektual organik namun dalam situasi yang lain mereka bisa berubah fungsinya sebagai intelektual tradisional.

Itulah beberapa tipologi ulama klasik dan kontemporer yang dipetakan oleh pada ahli dalam melihat sepak terjang ulama/kiai pada masanya. Tipologi ini bisa dilihat dari pola pikirnya, perilakunya sehari-hari, atau relasinya dengan kekuasaan. Wallahu a’lam. 

Surabaya, 28 Mei 2016


Ayo… Mari Mengenal Imam Mahdi

Category : Artikel

Ide kemunculan sang penyelamat agung yang akan membentangkan keadilan dan kemakmuran pada akhir zaman, membasmi kezhaliman dan penindasan di seantero dunia dan menyerukan keadilan dan persamaan hak di bawah kepemimpinannya, merupakan ide yang dianut oleh tiga agama utama dan diyakini oleh mayoritas masyarakat dunia.

Agama Yahudi menurut kepercayaan ini, sebagaimana kaum kristiani meyakini kembalinya Nabi Isa as., demikian juga keyakinan umumnya umat Islam baik kalangan Sunni maupun Syi’i bahwa pada akhir zaman nanti, Allah swt. akan mengutus salah seorang dari keturunan Fatimah putri Rasulullah Muhammad Saw. yang bergelar Imam Mahdi al-Muntadhar, Imam Mahdi yang ditunggu. Keyakinan ini sudah berakar kuat di hati kalangan umat Islam sejak dahulu, karena langsung disabdakan oleh baginda Rasulullah Muhammad Saw. dalam banyak hadist yang oleh ahli hadist dinilai shahih dan mutawatir. Misalnya, hadist berikut:

Hadist yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, telah bersabda Rasulullah Saw.: “Kusampaikan kabar gembira kepadamu mengenai al-Mahdi, yang akan muncul di kalangan umatku, meskipun orang selisih pendapat dan terjadi banyak bencana. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi dengan kejahatan dan kezaliman. Semua penghuni bumi dan penghuni langit akan merasa puas (rela) terhadapnya. Dia akan membagi-bagikan harta dengan benar. Seorang laki-laki bertanya: Apa maksudnya dengan benar itu?, Rasulullah menjawab: “dengan merata di antara manusia�. (Ali Muhammad Ali, Imam Hasan al-Askari as. Imam Muhammad al-Mahdi, terj. (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1993, 107).

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku (Muhammad bin Abdullah) . Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.� (HR. Abu Dawud 9435).

Namun demikian, tetap saja timbul beda pandangan di kalangan Sunni dan Syi’i tentang siapa yang dimaksud oleh Rasulullah Muhammad Saw. dengan Imam Mahdi al-Munthadar tersebut.

Kalangan Sunni, dalam memandang masalah ini terbelah menjadi tiga golongan. Pertama, berpendapat bahwa Imam Mahdi berasal dari keturunan Hasan putra Fatimah az-Zahra atau lazim disebut ahlulbait yang namanya sama dengan nama Nabi Muhammad Saw., beliau akan datang pada akhir zaman. Pendapat ini dianut oleh jumhur (mayoritas) ahli sunnah wal jama’ah. Sebagian dari mereka menambahkan bahwa nama ayah Imam Mahdi sama dengan nama ayah Nabi Muhammad Saw., yakni Abdullah. Kedua, Imam Mahdi hanya merupakan figur seorang penyelamat kehidupan manusia. Dengan demikian, ia tidak harus berasal dari keturunan Fatimah az-Zahra saja, namun seorang muslim. Sehingga banyak yang mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi atau diakui sebagai Imam Mahdi. Sebagai contoh Umar bin Abdul Aziz. Imam Ahmad dan yang lain berpendapat bahwa Umar bin Abdul Aziz termasuk Imam Mahdi karena beliau adalah seorang yang bijaksana dan mendapat petunjuk. Akan tetapi ia bukanlah al-mahdi yang muncul pada akhir zaman tapi orang yang selalu berpihak kepada kebaikan dan kebijaksanaan. Ketiga, Imam Mahdi bukan merupakan figur seseorang tetapi simbol kemenangan kebenaran terhadap kebatilan atau simbol kemenangan keadilan terhadap ketidak adilan. Anggapan ini banyak dianut oleh pemikir modern. 

Sementara di kalangan Syi’ah, juga terbelah pandangannya mengenai Imam Mahdi, sesuai dengan keyakinan masing-masing golongan. Jika ditelusuri, terdapat tiga arus besar golongan Syi’ah yang mengklaim sebagai yang berhak menjadi Imam Mahdi. Pertama, golongan Kaisaniyah yang mengganggap Muhammad bin Hanafiah, putra Ali bin Abi Thalib sebagai Imam Mahdi. Kedua, Syi’ah Isma’iliyah as-Sab’iyah (Syi’ah Tujuh Imam) yang mengklaim Isma’il bin Ja’far as-Sadiq sebagai Imam Mahdi. Ketiga, Syi’ah dua belas atau syi’ah Imamiyah. Menurut mereka, yang dimaksud dengan Imam Mahdi al-Muntadhar adalah Imam yang ke dua belas yang bernama Muhammad bin Hasan al-Mahdi. Ayah beliau adalah Muhammad bin al-Hasan al-‘Askari bin Imam Ali al-Hadi bin Imam Muhammad al-Jawad bin Imam Ali Ar-Ridha bin Imam Musa al-Kadzim bin Imam Ja’far Ash-Shodiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam al-Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib as. Ibunya adalah Nargis, dulunya seorang jariah.

Imam Mahdi versi golongan Syi’ah dua belas lahir pada tanggal 15 Sya’ban 255 H di Samarra, lima tahun sebelum wafat Ayahnya. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan al-Muhtadi, dinasti Bani Abbas. Masa ini adalah masa yang penuh dengan fitnah dan pergolakan, sebagaimana yang dilukiskan oleh Ath-Thabari “Pada masa pemerintahan al-Muhtadi, seluruh dunia Islam dilanda fitnah�. Beliau dipelihara dan dilindungi secara rahasia karena adanya kekhawatiran terhadap dirinya, dan untuk melaksanakan janji Allah Swt. yang telah diwarisi oleh para Imam a.s., dari kakek mereka, Rasulullah Saw.

Kalangan Syi’ah Imamiyah Istna Asyariyah meyakini bahwa sampai saat ini, Imam Mahdi masih hidup, namun keberadaannya tidak dapat dilihat oleh manusia kebanyakan (gaib) kecuali orang-orang khusus dan dalam keadaan tertentu saja. Pada waktunya nanti, beliau akan muncul dengan izin Allah, dan akan memenuhi dunia dengan keadilan.    

Terkait dengan kegaiban, kalangan Syi’ah membaginya menjadi dua kategori, gaib syugro (gaib kecil) dan gaib kubro (gaib besar). Gaib syugro berjalan selama 69 tahun yang dimulai pada tahun 260 H/872 M sampai dengan tahun 329 H/941 M. kegaiban kecil terjadi karena sejak masa kanak-kanak dan sebelum memangku imamah beliau tidak pernah terlihat orang.

Di era gaib kecil ini, para pengikut Ahlubait berhubungan dengan beliau melalui empat orang wakil khusus (naib khas) yaitu; Pertama, Usman bin Said al-Umari yang menjadi sahabat Imam Ali Hasi as dan Imam Hasan Askari as. Kedua, Muhammad bin Usman al-Umari yaitu putra wakil khusus pertama dengan masa kenaiban yang berakhir pada tahun 305 H. Ketiga, Abdul Qasim Husain bin Ruh an-Naubakhti, seorang ulama terkemuka Syi’ah yang mengemban kenaiban hingga tahun 326 H. Dan kempat, Ali bin Muhammad as-Sammari yang mengemban tugas kenaiban hingga tahun 329 H. 

Beberapa hari menjelang wafat wakil terakhir, Imam Mahdi as menyampaikan pesan yang menyatakan bahwa kegaiban besar beliau sudah dimulai. Sejak itu (tahun 329 H/941 M sampai dengan Allah Swt. berkehendak untuk mendatangkan beliau (Imam Mahdi) kelak, beliau mengalami gaib besar.

Di masa gaib besar ini, kalangan Syi’ah Ahlubait dalam urusan syariat dan hukumah (pemerintahan) harus merujuk kepada para wakil umum (naib ‘am) beliau, yaitu para mujtahid (faqih adil yang berwawasan luas).

Wallahu a’lam

Surabaya, 30 April 2016     


Yuk… Mari Budayakan Membaca dan Menulis

Category : Artikel , Info Dosen

Irwan Supriadin. Beberapa waktu lalu Pak Anies Baswedan, shok berat melihat data bahwa Indonesia berada di urutan 63 dari 65 negara dalam hal literasi. Angka ini menunjukkna wajah bangsa kita yang memang nggak suka baca, apalagi menulis. Dalam hal membaca buku sastra, negara seperti Singapura, malaysia setiap siswa minimal membaca 5 buku per tahun. Negara Eropa bisa puluhan buku per siswa per tahun. Indonesia? NOL buku per siswa per tahun!
Dengan geram penyair Taufiq Ismail bilang orang Indonesia itu tuna baca, pincang nulis. Disuruh baca nggak suka, diminta nulis nggak terampil. Siapa yang salah?
Coba tanya apa yang sudah sekolah lakukan untuk “memaksa siswa suka baca?” Setiap ngisi acara di hadapan guru, saya selalu bertanya, siapa yang sebulan terakhir ini menamatkan satu buku? Biasanya tidak ada yang angkat tangan. Di luar sana, sejak TK, anak akan sellau dibekali buku untuk dibawa ke rumah, dan mereka “dipaksa” untuk membaca dan menceritakannya. Rendahnya budaya literasi kita juga andil dari kita para orangtua yang tidak serius menanamkan budaya literasi pada anak-anak kita. Coba lihat anggaran belanja bulanan kita. Berapa persen yang lari ke toko buku? Keberatan paling umum yang dihadapi para Book Advisor ketika menawarkan buku pada konsumen adalah “kok bukunya mahal sekali, sih?” Tetapi nilai uang yang sama dengan ringan digelontorkan di butik, FO dan pusat kuliner, atau untuk membeli pulsa dan paket internet.
Makanya Kementrian pedidikan sekarang mencanangkan gerakan literasi besar-besaran. Semua sekolah wajib baca buku (di luar buku pelajaran) minimal 15 menit sebelum memulai jam pelajaran. Anggaran sekolah didorong untuk dibelanjakan buku.
Beberapa minggu lalu saya menghadiri peluncuran gerakan literasi untuk provinsi DKI. Apk Satia Darma ketua Ikatan Guru Indonesia menyampaikan ceramah yang bagus. kepada forum dia bertanya …
“Ibu-ibu kenapa pakai kerudung?”
“Karena perintah Allah” jawab ibu-ibu
“Berapa kali Allah dalam Al-Quran menyuruh ibu-ibu pakai kerudung?”
ibu-ibu diam karena tidak ada yang tahu
“Hanya satu kali” kata pak satia, “tahukan ibu-ibu berapa banyak ayat yang memerintahkan membaca dan menulis?”
ibu-ibu diam karena tidak ada yang tahu 

“33 kali!”
“Kira-kira mana yang lebih penting mana perintah yang diulang sampai 33 kali dengan perintah yang hanya satu kali?”
Menurut saya pertanyaan ini sangat mengagetkan meski bisa juga disalahtafsirkan, misalnya … “Oh jadi membaca lebih penting dari pakai jilbab”. Bukan itu poinya.
Tapi, memakai jilbab adalah penting karena kewajiban, tapi membaca buku sangat-sangat penting wajibnya dikali 33! Jadi kalau pakai jilbab nggak suka baca buku, berarti menjalankan 1 kewajiban tetapi meninggalkan 33 kewajiban. Kira-kira begitu pesan pak Satia saat itu.
Orang Islam kini ribut dengan ini syar’i atau tidak, padahal syari’at baru berlaku efektif 13 tahun setelah dakwah Islam, hal pertama (dan utama) yang Allah pesankan adalah IQRA. Kewajiban menutup aurat bisa kita temukan juga di kitab injil dan taurat. Tapi hanya di Al-Quran yang memuat perintah membaca, bahkan ayat yang pertama turun. Syari’at tak akan tegak tanpa ilmu.
Pasca perang badar, pasukan muslim menawan bbrp tentara Quraiys. Kalau ditebus, nilainya bisa 800 dinar per orang (kalau 1 dina 1,5juta, nilainya udah lebih dari 1M). Tapi nabi memberi pilihan pada mereka, kalau si tawanan itu bisa mengajarkan baca tulis, maka dia bisa bebas! Bisa saja nabi meminta tawanan itu untuk mengajarkan dagang, atau latihan berperang. Tapi nabi meminta mereka mengajarkan baca tulis. Apa manfaaatnya baca tulis untuk masyarakat gurun 14 abad lalu? Perlu kita tahu, saat itu tak ada buku yang bisa di baca!
Tapi nabi itu visioner, beberapa ratus tahun berikutnya Islam jaya karena suburnya tradisi literasi. Sejarah Islam dipenuhi tokoh-tokoh tukang baca dan tukang nulis….
Al-Thabari, seorang mufassir dan sejarawan Islam menulis 40 halaman setiap hari! Selama 40 tahun dalam masa-masa hidupnya, yang bila dijumlahkan seluruhnya menjadi 584.000 halaman.
Ibn Sina kitab al-Inshaf selama 6 bulan, 28.000 halaman. Setiap jilid berisi 1000 halaman tebalnya. Itu hanya 1 dari kurang lebih 196 karya/kitab yang pernah ia tulis. Semua karya ini ia tulis dalam masa hidupnya yang 57 tahun. Jika dirata-ratakan maka ia bisa menulis 3-4 judul buku pertahun.
Al-Kindi, filosof muslim periode awal telah menulis sebanyak 270 judul kitab.
Bangsa kita juga didirikan oleh bapak-bapak bangsa yang gila baca jago nulis…
Buya Hamka juga penggila buku. Jika ke toko buku/kitab, dia sering kehabisan uang karena semua dibelikan buku. Dia menulis sekitar 80 buku.
Bung Hatta, pulang dari belanda, dibuang ke digul, selalu membawa koleksi bukunya yang berkotak-kotak besar. Ketiak menikah, mas kawinnya buku.
Sukarno, saat dipenjara juga kerajaannya baca dan menulis.
Ahmad Dahlan, saat pulang ke Indonesia dari Makkah, konon bukunya hampir memenuhi gerbong.
Ada pertanyaan besar: agama kita ajaran pertamanaya adalah Iqro. Sejarah Islam adalah sejarah literasi. Bangsa ini dibangun oleh founding fathers yang cinta buku. Lalu kenapa indonesia no 63 dari 65 negara dalam hal literasi?
Mangga dijawab masing-masing!
NB: Oh ya, khusus untuk pengguna facebook salam dari Mark Zuckerberg. Sementara kita menghabiskan waktu baca status di FB, pembuat FB ini malah sibuk menikmati membaca Muqaddimah Ibn Khaldun yang konon versi asilnya 4 jilid setebal gambreng. Ada yang udah tamat baca karya Ibn Khaldun?
Bagaimana dg civitas akademika STIT ??
DOSEN dan MAHASISWA ??
Berapa judul buku yg sudah anda baca dan berapa judul buku yg sudah anda tulis ??


Sejarah Tanah Bima

Superwadin. Kabupaten Bima berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan Pemerintahan berdasarkan Syariat Islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang diperingati setiap tahun. Bukti-bukti sejarah kepurbakalaan yang ditemukan di Kabupaten Bima seperti Wadu Pa’a, Wadu Nocu, Wadu Tunti (batu bertulis) di dusun Padende Kecamatan Donggo menunjukkan bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia.
Dalam sejarah kebudayaan penduduk Indonesia terbagi atas bangsa Melayu Purba dan bangsa Melayu baru. Demikian pula halnya dengan penduduk yang mendiami Daerah Kabupaten Bima, mereka yang menyebut dirinya Dou Mbojo, Dou Donggo yang mendiami kawasan pesisir pantai. Disamping penduduk asli, juga terdapat penduduk pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
Kerajaan Bima dahulu terpecah –pecah dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh Ncuhi. Ada lima Ncuhi yang menguasai lima wilayah yaitu :
1. Ncuhi Dara, memegang kekuasaan wilayah Bima Tengah
2. Ncuhi Parewa, memegang kekuasaan wilayah Bima Selatan
3. Ncuhi Padolo, memegang kekuasaan wilayah Bima Barat
4. Ncuhi Banggapupa, memegang kekuasaan wilayah Bima Utara
5. Ncuhi Dorowani, memegang kekuasaan wilayah Bima Timur.

Kelima Ncuhi ini hidup berdampingan secara damai, saling hormat menghormati dan selalu mengadakan musyawarah mufakat bila ada sesuatu yang menyangkut Profil Kabupaten Bima tahun 2008 2 kepentingan bersama. Dari kelima Ncuhi tersebut, yang bertindak selaku pemimpin dari Ncuhi lainnya adalah Ncuhi Dara. Pada masa-masa berikutnya, para Ncuhi ini dipersatukan oleh seorang utusan yang berasal dari Jawa. Menurut legenda yang dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Bima. Cikal bakal Kerajaan Bima adalah Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai 5 orang putra yaitu :
1. Darmawangsa
2. Sang Bima
3. Sang Arjuna
4. Sang Kula
5. Sang Dewa.

Salah seorang dari lima bersaudara ini yakni Sang Bima berlayar ke arah timur dan mendarat disebuah pulau kecil disebelah utara Kecamatan Sanggar yang bernama Satonda. Sang Bima inilah yang mempersatukan kelima Ncuhi dalam satu kerajaan yakni Kerajaan Bima, dan Sang Bima sebagai raja pertama bergelar Sangaji. Sejak saat itulah Bima menjadi sebuah kerajaan yang berdasarkan Hadat, dan saat itu pulalah Hadat Kerajaan Bima ditetapkan berlaku bagi seluruh rakyat tanpa kecuali.
Hadat ini berlaku terus menerus dan mengalami perubahan pada masa pemerintahan raja Ma Wa’a Bilmana. Setelah menanamkan sendi-sendi dasar pemerintahan berdasarkan Hadat, Sang Bima meninggalkan Kerajaan Bima menuju timur, tahta kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Ncuhi Dara hingga putra Sang Bima yang bernama Indra Zamrud sebagai pewaris tahta datang kembali ke Bima pada abad XIV/ XV.
Beberapa perubahan Pemerintahan yang semula berdasarkan Hadat ketika pemerintahan Raja Ma Wa’a Bilmana adalah :
– Istilah Tureli Nggampo diganti dengan istilah Raja Bicara.
– Tahta Kerajaan yang seharusnya diduduki oleh garis lurus keturunan raja sempat diduduki oleh yang bukan garis lurus keturunan raja.

Perubahan yang melanggar Hadat ini terjadi dengan diangkatnya adik kandung Raja Ma Wa’a Bilmana yaitu Manggampo Donggo yang menjabat Raja Bicara untuk menduduki tahta kerajaan. Pada saat pengukuhan Manggampo Donggo sebagai raja dilakukan dengan sumpah bahwa keturunannya tetap sebagai Raja sementara keturunan Raja Ma Wa’a Bilmana sebagai Raja Bicara. Kebijaksanaan ini dilakukan Raja Ma Wa’a Bilmana karena keadaan rakyat pada saat itu sangat memprihatinkan, kemiskinan merajalela, perampokan dimana-mana sehingga rakyat sangat menderita. Keadaan yang memprihatinkan ini hanya bisa di atasi oleh Raja Bicara.
Akan tetapi karena berbagai kekacauan tersebut tidak mampu juga diatasi oleh Manggampo Donggo akhirnya tahta kerajaan kembali di ambil alih oleh Raja Ma Wa’a Bilmana. Kira-kira pada awal abad ke XVI Kerajaan Bima mendapat pengaruh Islam dengan raja pertamanya Sultan Abdul Kahir yang penobatannya tanggal 5 Juli tahun 1640 M. Pada masa ini susunan dan penyelenggaraan pemerintahan disesuaikan dengan tata pemerintahan Kerajaan Goa yang memberi pengaruh besar terhadap masuknya Agama Islam di Bima. Gelar Ncuhi diganti menjadi Galarang (Kepala Desa). Struktur Pemerintahan diganti berdasarkan Majelis Hadat yang terdiri atas unsur Hadat, unsur Sara dan Majelis Hukum yang mengemban tugas pelaksanaan hukum Islam.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan ini Sultan dibantu Oleh :
1. Majelis Tureli ( Dewan Menteri ) yang terdiri dari Tureli Bolo, Woha, Belo, Sakuru, Parado dan Tureli Donggo yang dipimpin oleh Tureli Nggampo/ Raja Bicara.
2. Majelis Hadat yang dikepalai oleh Kepala Hadat yang bergelar Bumi Lumah Rasa NaE dibantu oleh Bumi Lumah Bolo. Majelis Hadat ini beranggotakan 12 orang dan merupakan wakil rakyat yang menggantikan hak Ncuhi untuk mengangkat/ melantik atau memberhentikan Sultan.
3. Majelis Agama dikepalai oleh seorang Qadhi ( Imam Kerajaan ) yang beranggotakan 4 orang Khotib Pusat yang dibantu oleh 17 orang Lebe Na’E.
Seiring dengan perjalanan waktu, Kabupaten Bima juga mengalami perkembangan kearah yang lebih maju. Dengan adanya kewenangan otonomi yang luas dan bertanggungjawab yang diberikan oleh pemerintah pusat dalam bingkai otonomi daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang (UU) No. 22 tahun 1999 dan direvisi menjadi UU No. 33 tahun 2004, Kabuapten Bima telah memanfaatakan kewenangan itu dengan Profil Kabupaten Bima tahun 2008 3 terus menggali potensi-potensi daerah baik potensi sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pertumbuhan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk memenuhi tuntutan dan meningkatkan pelayanan pada masyarakat, Kabupaten Bima telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah mulai tingkat dusun, desa, kecamatan, dan bahkan dimekarkan menjadi Kota Bima pada tahun 2001. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk memenuhi semakin meningkatkan tuntutan untuk mendekatkan pelayanan pada masyarakat yang terus berkembang dari tahun ke tahun tetapi juga karena adanya daya dukung wilayah. Sejarah telah mencatat bahwa Kabuapten Bima sebelum otonomi daerah hanya terdiri dari 10 kecamatan, kemudian setelah otonomi daerah kecamatan sebagai pusat ibukota Kabupaten Bima dimekarkan menjadi Kota Bima, dan Kabupaten Bima memekarkan beberapa wilayah kecamatannya menjadi 14 kecamatan dan pada tahun 2006 dimekarkan lagi menjadi 18 kecamatan dengan pusat ibukota kabupaten Bima yang baru dipusatkan di Kecamatan Woha. (Bappeda Kab. Bima)

Hubungan Darah Bima-Bugis-Makassar
Arus modernisasi dan demokratisasi disegala bidang kehidupan telah mempengaruhi cara pandang dan cara berpikir seluruh element masyarakat. Hubungan keakrabatan antar etnis dan bahkan hubungan darah sekalipun terpisahkan oleh tembok modernisasi dan demokrasi hari ini. Hubungan keakrabatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kurun waktu 1625 – 1819 (194 tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan kekeluargaan antara dua kesultanan besar dikawasan Timur Indonesia yaitu Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai pada turunan yang ke- VII. Hubungan ini merupakan perkawinan silang antara Putra Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke- VI. Sedangkan yang ke- VII adalah pernikahan Putri Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota Kesultanan Gowa. Berikut urutan pernikahan dari silsilah kedua kerajaan ini :
1. Sultan Abdul Kahir (Sultan Bima I) menikah dengan Daeng Sikontu, Putri Karaeng Kasuarang, yang merupakan adik iparnya Sultan Alauddin pada tahun 1625. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke-II)
2. Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke- II) menikah dengan Karaeng Bonto Je’ne. Adalah adik kandung Sultan Hasanuddin, Gowa pada tanggal 13 April 1646. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) pada tahun 1651.
3. Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) menikah dengan Daeng Ta Memang anaknya Raja Tallo pada tanggal 7 mei 1684. dari pernikahan tersebut melahirkan Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke-IV)
4. Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke IV) menikah dengan Fatimah Karaeng Tanatana yang merupakan putri Karaeng Bessei pada tanggal 8 Agustus 1693. dari pernikan tersebut melahirkan Sultan Hasanuddin (sultan Bima ke- V).
5. Sultan Hasanuddin (Sultan Bima ke- V) menikah dengan Karaeng Bissa Mpole anaknya Karaeng Parang Bone dengan Karaeng Bonto Mate’ne, pada tanggal 12 september 1704. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Alaudin Muhammad Syah pada tahun 1707 (Sultan Bima ke- VI)
6. Sultan Alaudin Muhammad Syah (Sultan Bima ke- VI) menikah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji putrinya sultan Gowa yaitu Sultan Sirajuddin pada tahun 1727. pernikahan ini melahirkan Kumala Bumi Pertiga dan Abdul Kadim yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- VII pada tahun 1747. ketika itu beliau baru berumur 13 tahun. Kumala Bumi Pertiga putrinya Sultan Alauddin Muhammad Syah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji ini kemudian menikah dengan Abdul Kudus Putra Sultan Gowa pada tahun 1747. dan dari pernikahan ini melahirkan Amas Madina Batara Gowa ke-II. Sementara Sultan Abdul Kadim yang lahir pada tahun 1729 dari pernikahan dari pernikahannya melahirkan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Sultan Abdul Hamid (La Hami) dilahirkan pada tahun 1762 kemudian diangkat menjadi sultan Bima tahun 1773.
7. Sultan Abdul Kadim (Sultan Bima ke- VII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- mohon Maaf) melahirkan Sultan Abdul Hamid pada tahun 1762 dan Sultan Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Bima ke- VIII pada tahun 1773.
8. Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan Sultan Ismail pada tahun 1795. ketika sultan Abdul Hamid meninggal dunia pada tahun 1819, pada tahun ini juga Sultan Ismail diangkat menjadi Sultan Bima ke- IX
9. Sultan Ismail (Sultan Bima ke- IX) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan sultan Abdullah pada tahun 1827
10. Sultan Abdullah (Sultan Bima ke- X) menikah dengan Sitti Saleha Bumi Pertiga, putrinya Tureli Belo. Dari pernikahan ini abdul Aziz dan Sultan Ibrahim.
11. Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII pada tahun 1888 dan memimpin kesultanan hingga tahun 1917.
12. Sultan Salahuddin (Sultan Bima ke- XII) sebagai Sultan Bima terakhir dari pernikahannya melahirkan Abdul Kahir II (Ama Ka’u Kahi) yang biasa dipanggil dengan Putra Kahi dan St Maryam Rahman (Ina Ka’u Mari). Putra Kahir ini kemudian Menikah dengan Putri dari Keturunan Raja Banten (Saudari Kandung Bapak Ekky Syachruddin) dan dari pernikahannya melahirkan Bapak Fery Zulkarnaen

Adalah sangat Ironi memang jika pada hari ini generasi baru dari kedua Kesultanan Besar ini kemudian tidak saling kenal satu sama lain. Bahkan pada zaman kerajaan, pertumbuhan dan perkembangan penduduk Gowa dan Bima merupakan Etnis yang tidak bisa dipisahkan dan bahkan masyarakat Gowa pada umumnya tidak bisa dipisahkan dengan Etnis Bima (Mbojo) sebagai salah satu Etnis terpenting dalam perkembangan kekuatan kerajaan Gowa. Dari catatan sejarah yang dapat dikumpulkan dan dianalisa, hubungan kekeluargaan antara kedua kesultanan tersebut berjalan sampai pada keturunan ke- IX dari masing-masing kesultanan, dan jika dihitung hal ini berjalan selama 194 tahun. Dari data yang berhasil dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa hubungan kesultanan Bima dan Gowa dengan pendekatan kekeluargaan (Darah) terjalin sampai pada tahun 1819. Analisa ini berawal dari pemikiran bahwa ada hubungan darah yang masih dekat antara Amas Madina Batara Gowa Ke- II anaknya Kumala Bumi Pertiga dengan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Karena keduanya masih merupakan saudara sepupu satu kali. Bahkan ada kemungkinan yang lebih lama lagi hubungan ini terjalin. Yaitu ketika Sultan Abdul Hamid meninggal pada tahun 1819 dan pada tahun itu juga langsung digantikan oleh putra mahkotanya yaitu Sultan Ismail sebagai sultan Bima ke- IX. Karena Sultan Ismail ini kalau dilihat keturunannya masih merupakan kemenakan langsungnya Amas Madina Batara Gowa Ke- II, jadi hubungan ini ternyata berjalan kurang lebih 194 tahun.
Pada beberapa catatan yang kami temukan, bahwa pernikahan Salah satu Keturunan Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) masih terjadi dengan keturunan Sultan Gowa. Sebab pada tahun 1900 (pada kepemimpinan Sultan Ibrahim), terjadi acara melamar oleh Kesultanan Bima ke Kesultanan Gowa. Mahar pada lamaran tersebut adalah Tanah Manggarai. Sebab Manggarai dikuasai oleh kesultanan Bima sejak abad 17. Namun, pada catatan sejarah tersebut tidak tercatat secara jelas.(dari berbagai sumber)

EDISI 10 MARET 2016


Konflik di Tanah Syam Suriah: Apa sebenarnya yang terjadi?

Category : Artikel

Syukri Abubakar. Senin, 07 Maret 2016 Al-hamdulillah saya berkesempatan mengikuti seminar Internasional yang bertajuk “Peran Ulama dalam Rekonsiliasi Krisis Politik dan Idiologi di Timur Tengah�. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dengan Ikatan Alumni Syam Indonesia (al-Syam) yakni mahasiswa Indonesia yang pernah belajar di Suriah.

Diantara pembicara yang ditampilkan adalah Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi, Ketua Persatuan Ulama Syam, pimpinan Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus Suriah.  Tujuan didatangkannya beliau dalam seminar ini, dalam rangka memberikan informasi yang sebenarnya mengenai kondisi Suriah terkini, karena informasi yang disebarkan melalui media sosial internet ataupun you tube yang beragam membuat kita bingung tentang apa sebenarnya yang terjadi di sana. 

Dalam uraiannya beliau menjelaskan bahwa dalam beberapa dasawarsa, masyarakat Suriah hidup dalam keadaan damai tanpa ada konflik, dengan  berbagai ragam perbedaan keyakinan, agama, perbedaan sekte, perbedaan faham, dan perbedaan mazhab yang melingkupinya. Mereka hidup dengan rukun, saling menghargai dalam bingkai perbedaan yang ada. 

Pertanyaannya, mengapa empat tahun terakhir ini terjadi konflik berdarah-darah di Timur Tengah, khususnya di Suriah padahal selama ini mereka hidup berdampingan satu sama lainnya selama berabad-abad dalam bingkai perbedaan?.   

Menurut beliau, petaka ini dimulai sejak adanya wacana Arab Spring musim semi Arab yang diimpor oleh kaum reformist dari Barat melalui media sosial, yang menginginkan adanya perubahan kepemimpinan di tanah Arab. Arab Spring ini berhasil menumbangkan paling tidak lima presiden, yaitu Presiden Zine El Abidine Ben Ali Tunisia, Hosni Mubarak Mesir, Muammar Qadafi Libya, Ali Abdullah Saleh Yaman, Mohammed Mursi Mesir dan yang tersisa adalah Bassar al-Asad di Suriah. Disamping itu, beliau juga tidak menafikan campur tangan asing yang menginginkan kekacauan di negara Arab khususnya Suriah seperti yang terjadi akhir-akhir ini dengan membentuk ISIS.

Sebab lain adalah adanya fatwa ulama yang menganjurkan jihad di Suriah. Menanggapi fatwa ulama ini, beliau membagi ulama menjadi dua, yaitu ulama murni dan ulama yang disebutnya sebagai umala yakni ulama yang berperilaku sebagai agent. Umala atau agent inilah yang mengeluarkan fatwa jihad sehingga menarik minat orang-orang di luar negara Suriah yang sealiran berduyun-duyun datang berjihad di sana.  

Akibat dari konflik tersebut telah menghilangkan nyawa ribuan orang dan memaksa ribuan bahkan jutaan warga Suriah mengungsi di negara-negara lain. Salah seorang korbannya adalah seorang ulama terkemuka Suriah pembela ajaran Ahli Sunnah Wal Jama’ah yang memberi kebebasan dalam mengikuti Imam Mazhab yang empat, penulis produktif lebih dari 60 karya yang telah dihasilkananya meliputi bidang syariah, sastra, filsafat, sosial, masalah-masalah kebudayaan, dan lain-lain, Syeikh Said Ramadhan al-Buthi beserta beberapa santrinya ditembak oleh pemberontak ketika sedang memberikan pengajian di Masjid Al Iman Damaskus Suriah pada 05 Jumadil Awwal 1434 H/ 21 Maret 2013.  Begitu juga cucu beliau tewas dalam konflik tersebut.

Menurut beliau, dengan membunuh ulama, mereka hendak mencitrakan jelek terhadap ulama murni sehingga fatwa-fatwa mereka tidak diindahkan oleh masyarakat. Walaupun demikian, beliau dan ulama-ulama murni lainnya tidak gentar menghadapi umala dan pemberontak ISIS dalam mendakwahkan Islam yang rahmatan lil alamin walau nyawa sebagai taruhannya.  

Terkait konflik sunni syiah yang dihembuskan oleh Media, beliau menghimbau agar teliti dalam menerima informasi, karena informasi media itu belum tentu benar sesuai dengan kenyataan yang terjadi di Suriah, bisa saja ditambah tambahkan atau dikurangi. “Kita jangan langsung menshare berita-berita itu sebelum kita pastikan bahwa berita itu benar adanyaâ€�, Ujarnya. Karena terjadinya konflik di Suriah itu, menurutnya, salah satu pemicunya adalah peran media sosial yang menyebarluaskan berita yang belum tentu kebenarannya tanpa ada cek dan ricek terlebih dahulu. 

Beliau katakan bahwa petinggi Syiah Ali Rafsanjani mengharamkan warga Syi’ah mengutuk atau merendahkan para Sahabat. Perbedaannya hanya dalam hal furuiyyah saja. Memang benar dalam syi’ah terdapat banyak aliran sebagaimana dalam sunni. Ada yang moderat dan ada yang menyimpang, rafidah. Beliau hendak katakan bahwa konflik Suriah itu bukan murni konflik Sunni Syiah tapi ada faktor lain yang melatarbelakanginya. 

Beliau melanjutkan, perbedaan Sunni Syi’ah hanya terdapat pada dua hal, yaitu pada masa awal Islam dan masa yang akan datang. Pada masa awal Islam terjadi perbedaan pendapat mengenai siapa yang menggantikan posisi Nabi Muhammad Saw. sebagai Khalifah. Ketika Umat Islam berkumpul membicarakan siapa pengganti Nabi Muhammad Saw., terjadilah perdebatan yang alot, sehingga Umar berdiri membai’at Abubakar sebagai Khalifah pengganti Nabi Muhammad Saw. dengan beberapa argumentasinya yang diikuti oleh umat Islam yang lain. Sementara orang-orang yang bersimpati pada Ali bin Abi Thalib menghendaki Ali lah yang menggantikan posisi Nabi Muhammad Saw. sebagai Khalifah. 

Setelah terjadinya bai’at tersebut, Sayyidina Ali pun ikut membai’at Abubakar sebagai Khalifah pertama, begitupun dengan Khalifah kedua Umar bin Khattab dan Khalifah ketiga Utsman bin Affan. Jadi tidak ada persoalan dengan ketiga khalifah tersebut. Mulai timbul persoalan adalah ketika Abdullah bin Saba’ orang Yahudi yang masuk Islam mempengaruhi pengikut Ali bin Abi Thalib dengan faham Yahudi-nya bahwa yang berhak menjadi Khalifah adalah keturunan langsung dari Nabi Muhammad Saw. Faham inilah yang dipegang kuat oleh sebagian pengikut Ali bin Abi Thalib sehingga tidak menerima kekhalifahan Abubakar, Umar dan Utsman. 

Sementara hal yang kedua adalah masalah yang akan datang berkaitan dengan keyakinan Syi’ah akan munculnya Imam yang ditunggu-tunggu yaitu Imam Mahdi. Jika pun Imam Mahdi itu bener muncul nantinya, maka kita semua umat Islam akan mempercayainya, tuturnya.

Setelah empat tahun negara digoncang konflik, perlahan-lahan kondisi keamanan negara Suriah berangsur-angsur membaik. Beliau menginformasikan bahwa sebulan yang lalu, Universitas Damaskus menyelenggarakan wisuda mahasiswa setelah empat tahun vakum.  Beliau mempersilahkan mahasiswa Indonesia yang berminat melanjutkan pendidikan di Universitas Damaskus untuk segera mendaftar dengan beasiswa dari mereka. Beliau juga menghendaki agar dibuatkan MOU kerjasama antara Universutas Damaskus dengan UINSA Surabaya terkait pertukaran dosen, mahasiswa, pegawai atau kegiatan lainnya yang bermanfaat untuk pengembangan ilmu keislaman.

Wallahu a’lam

Surabaya, 09 Maret 2016