Category Archives: Inspirasi Pagi

Ukirlah jejak terbaik dalam hidup mu !

Category : Inspirasi Pagi

Berkumpul dengan orang-orang pintar itu sangat menyenangkan karena kita bisa mendapatkan banyak wejangan keilmuan dari mereka. Contohnya kemarin saya mendapatkan pencerahan dari seorang Profesor kondang, yang sudah banyak menulis buku dan sudah malang melintang di dunia dakwah, di dalam maupun luar negeri, beliau adalah Profesor Ali Aziz.

Memulai pembicaraan, beliau bertanya kepada jama’ah, apakah mungkin manusia bisa berumur ribuan tahun lebih?, tidak mungkin, jawab para jama’ah serempak. Beliau melanjutkan, coba cek berapa umur manusia terlama yang tinggal muka di bumi. Menurut ulama, manusia terlama tinggal di bumi adalah Nabi Adam As, umurnya seribu tahun, disusul nabi Nuh 950 tahun, nabi Idris As 865 tahun (Nabi Idris sendiri disebut masih hidup sampai sekarang), nabi Hud 464 tahun dan seterusnya.

Menurut informasi yang beredar, belum ada orang di bumi yang umurnya melewati umur Nabi Adam. Namun demikian, Prof. Ali Aziz menegaskan bahwa manusia ada yang berumur bahkan lebih dari lima ribu tahun. Bukankah mereka yang sudah meninggal itu bisa dihidupkan lagi oleh Allah Swt. seperti kisahnya Nabi Idris yang meminta dicabut nyawanya oleh Allah Swt. untuk menambah ketaqwaannya. Kemudian beliau meminta untuk diperlihatkan neraka dan surga. Namun sesampainya di surga, beliau tidak mau keluar dari sana, maka Allah mengabulkan tanpa dicabut lagi nyawanya.

Demikian pula kisah Nabi Ilyas As yang merasa sedih ketika akan dicabut nyawanya, beliau menangis seketika itu kerena tidak bisa lagi berdzikir kepada Allah Swt. jika telah meninggal. Keluh kesah Nabi Idris As ini didengar oleh Allah Swt. dan Allah Swt. pun menaqdirkannya untuk hidup sampai ia meminta untuk dicabut nyawanya. Pun demikian kisah Nabi Khidir As yang dianggap memiliki ilmu hikmah dan menjadi penghulunya para wali yang masih hidup sampai saat ini, dan Nabi Isa As yang akan datang kembali pada hari akhir nanti. Juga Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu.

Allah Swt. berfirman dalam Qs. Yasin: 12
“Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh mahfuzh)”.

Terhadap ayat di atas Prof. Ali Aziz menjelaskan bahwa manusia itu bisa saja memiliki umur yang panjang, seperti yang terjadi pada para Nabi dan Imam Mahdi tersebut. Keistimewaan itu juga bisa dimiliki oleh manusia biasa seperti kita dengan memaknai yang hidup kembali itu adalah “jejak kehidupan” masa lalu bukan dimaknai secara secara fisik.

Kata “nuhyi” pada ayat di atas, secara tata bahasa Arab adalah fi’il mudhori’ yang menunjukkan arti “terus menerus”, “sekarang dan akan datang”. “Nuhyi” artinya hidup secara terus menerus sampai kapan pun. Bahwa orang yang telah mati kemudian dihidupkan lagi oleh Allah Swt. pada kehidupan yang kedua dalam jangka waktu yang cukup lama.

Demikian juga semua amal perbuatan manusia yang telah dilakukan dulu, baik berupa amal baik maupun amal buruk telah dicatat dan catatan itu akan terus ada sampai hari akhir, dikumpulkan dalam catatan induk (lauhul mahfud). Catatan itulah yang menjadi salah satu rujukan apakah orang itu layak masuk surga atau neraka.

Oleh karenanya, Prof. Ali Aziz berpesan agar kita banyak-banyak membuat atsar atau jejak yang baik dalam kehidupan ini sehingga dikenang sampai akhir masa. Dengan demikian, walaupun kita secara fisik telah tiada, tapi karya dan jejak baik kita selalu dikenang. Itulahlah yang terjadi pada orang-orang besar nan sholeh zaman dahulu, nama mereka tetap dikenang hingga kini. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad b. Hanbal dan Imam-imam lainnya, walaupun secara fisik sudah tiada, tapi namanya tetap disebut dan dikenang hingga saat ini bahkan waktu-waktu yang akan datang karena karya-karya monumental mereka dipelajari dan diajarkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kita, walaupun tidak sehebat mereka, tetap berupaya sekuat tenaga untuk berbuat baik dan mengukir jejak hidup yang terbaik sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing, sehingga dapat dikenang dan diikuti secara terun temurun oleh anak cucu dan generasi kita berikutnya. Hindari menciptakan jejak hidup yang buruk karena berkaitan dengan pahala dan dosa yang akan terus mengalir selama jejak hidup itu masih terus diikuti dan dipraktekkan oleh generasi berikutnya, na‘udzubillah min dzalika tsumma na’udzubillah. Wallahu a’lam.

Surabaya, 12 Desember 2018


Man Behind the Gun

Category : Inspirasi Pagi

Senjata akan menjadi penolong jika digunakan untuk membela diri namun senjata akan menjadi musibah jika digunakan oleh penjahat.

Demikian pula halnya media sosial memiliki 2 sudut pandang yang berbeda tergantung siapa yang menggunakannya.

Menggunakan medsos sebagai media dakwah dan pembelajaran sangat lah baik dalam rangka menebar kebaikan bagi sesama.

Yuk…. kita luangkan waktu sejenak untuk membaca mutiara hikmah berikut ini.

3 KEBAHAGIAAN YANG MEMBUAT JADI TENANG

Kebahagiaan pernah ditanya :

“Kapan kamu bisa membuat hati menjadi tenang ?””

Kebahagiaan menjawab :

“Bila terkumpul 3 hal, yaitu :

1, Tidak sedih dengan apa yang telah berlalu.

2, Tidak gelisah dengan apa yang akan datang.

3, Rela dengan apa yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Maka ketika kesulitan datang dia pun bersabar, dan ketika dibeberapa keadaan dia pun tersenyum.

Beruntunglah orang yang tidak ingin mendzolimi orang lain, tidak ingin menggunjing, dan tidak menilai dirinya lebih baik daripada orang lain

[ hikmah ulama ]
والله اعلم
ميم سين


Buah Istiqamah Membiasakan Baca Istigfar

Category : Inspirasi Pagi

Dikisahkan dalam manaqib Imam Ahmad bin Hanbal yang ditulis oleh Imam al-Jauzi bahwa Imam Ahmad bin Hanbal (salah satu Imam Madzhab terkenal di Kota Irak, murid Imam Syafi;i) dimasa akhir hidupnya beliau berkisah bahwa beliau merasa resah dan gelisah, berkeinginan mendatangi kota Basrah Irak. Seakan-akan ada dorongan kuat yang menghendakinya untuk segera kesana. Padahal sejatinya beliau tidak memiliki janji dengan seseorang dan tidak memiliki hajat untuk kesana.

Untuk memenuhi rasa ingin tahunya itu, berangkatlah beliau dari Bagdad menuju kota Basrah yang jaraknya cukup jauh. Sampai di Basyrah menjelang waktu sholat isya. Beliau pun menuju masjid untuk menunaikan sholat isya’. Setelah menunaikan sholat isya’, beliau hendak melepas penat dengan tidur-tiduran di masjid. Ta’mir masjid yang tidak kenal dengan beliau, mendatanginya sambil berkata: ya syaikh ngapain di situ?. Imam Ahmad menjawab: “Saya musafir, mau istrahat disini”. Ta’mir mempersilahkan untuk pindah ke tempat lain karena masjid akan segera ditutup dan dikunci. Beliau pun pindah ke emperan masjid untuk sekedar merebahkan badannya yang capek. Namun lagi-lagi sang ta’mir tetap mengusir dan mendorongnya hingga ke luar pagar masjid.

Melihat ada orang yang diusir oleh ta’mir masjid, pedagang roti tetangga masjid menghampiri Imam Ahmad dan menanyakan ada apa gerangan sampai ta’mir masjid mengusirnya. Imam Ahmad mengungkapkan bahwa beliau adalah musyafir yang hendak melepas penat barang sebentar di emperan masjid itu namun sang ta’mir tidak mengijinkannya. Orang tua itupun menaruh iba kepada Imam Ahmad dan menawarkan untuk bermalam di rumahnya yang kecil. Imam Ahmad pun menerima tawaran tersebut.

Pak tua itupun mempersilahkan Imam Ahmad untuk istirahat sementara ia sibuk mempersiapkan adonan roti untuk dijual keesokan harinya. Ketika pak tua membuat adonan roti yang dimulai dengan mencampur tepung dengan telur, gandum dan garam hingga menggorengnya sampai matang. Disela-sela pekerjaannya itu, ia selalu membaca istigfar hingga pekerjaannya selesai.

Diam-diam Imam Ahmad memprhatikan apa yang dilakukan dan dilafalkan oleh pak tua, sehingga Imam Ahmad penasaran ingin mengetahui apa keuntungan membaca istigfar. Sudah berapa lama membaca lafadz istigfar dan apa manfaatnya untuk bapak?, tanya Imam Ahmad. Pak tua menjawab bahwa selama 30 tahun menjual roti, ia selalu membaca istigfar, segala keinginan dan kebutuhan terpenuhi semuanya, namun ada satu hal yang belum terpenuhi hingga saat ini. Imam Ahmad penasaran, mendesak agar diberitahukan keinginan apa yang belum terpenuhi itu. Pak tua menjawab bahwa keinginannya yang belum terpenuhi adalah ingin bertemu dengan Imam besar Islam, Imam Ahmad bin Hanbal.

Mendengar jawaban pak tua tersebut, alangkah terkejutnya Imam Ahmad. Dalam hatinya, Imam Ahmad berkata, “amalan istigfar pak tua inilah yang membuatku gelisah berhari-hari hingga mendorongku datang ke kota Basrah”. Mendengar jawaban pak tua itu, Imam Ahmad mengucapkan takbir Allahu Akbar, Allah Maha Besar. Pak tua pun heran melihat tingkah Imam Ahmad. Imam Ahmad memberitahukan kepada pak tua bahwa ia adalah Imam Ahmad bin Hanbal yang pak tua rindukan selama ini. Pak tua pun terperanjat sambil mengucapkan takbir dan memeluk Imam Ahmad seerat-eratnya dan menciumnya untuk melepaskan kerinduan yang selama ini dipendam.

Kisah di atas mengajarkan kita bahwa dzikir atau amalan apapun yang dilakukan secara konsisten, istiqamah walaupun itu kecil, sungguh akan menampakkan hasilnya yang luar biasa di kemudian hari. Baginda Nabi Muhammad Saw. bersabda; “Amalan yang paling dicintai Allah Swt. adalah amalan yang kontinyu meskipun itu sedikit”. (HR. Bukhari dari Aisyah). Sabdanya yang lain, “Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan baginya pada setiap kesedihannya jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Berkah lain yang diperoleh dengan memperbanyak istigfar sesuai dengan QS. Nuh ayat 10-12 adalah; 0. Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, 11. Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, 12. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.

Intinya dengan memperbanyak istigfar, maka: (1) Allah SWT turunkan hujan yang lebat, (2) Allah SWT perbanyak harta, (3) Allah SWT perbanyak anak, (4) Allah SWT adakan kebun dan sungai yang mengalir di dalamnya.

Adapun bunyi istigfar yang dibaca, ada yang pendek, ada yang sedang dan ada yang panjang. Tinggal kita memilih mana yang dikendaki.

(1) أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
(2) أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه
(3) للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت

Wallahu a’lam
Surabaya, 12 Nopember 2018.


Inspirasi Pagi; Trik Mendidik Anak yang Efektif

Category : Inspirasi Pagi

Kala itu, sang Kyai menguraikan sebuah tema tentang pendidikan anak. Anak disini, menurutnya, bisa jadi murid, mahasiswa, bawahan dan karyawan. Berdasarkan hasil bacaan dan penelusurannya dalam beberbagai referensi ditambah dengan pengalaman pribadinya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipraktekkan agar mendidik anak akan lebih efektif.
  Dari hasil kajiannya itu, sang Kyai menyimpulkan, paling tidak ada tiga metode jitu yang bisa dipakai, yaitu;

Pertama, Menjelaskan tujuan kenapa hal itu dilarang, kenapa hal itu harus dilakukan. Hal ini penting untuk dilakukan agar anak bisa paham dan mengerti kenapa hal ini disuruhlakukan kenapa hal itu dilaranglakukan. Metode ini mencontoh apa yang telah ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw. 

Ketiaka menyuruhlakukan suatu kewajiban, ayat-ayat al-Qur’an selalu memberikan penjelasan kenapa sesuatu itu disuruhlakukan. Seperti halnya kewajiban sholat, “dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku� , “sesunggunya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar�. Begitu juga perintah zakat, “Keluarkanlah zakat dari sebagian hartamu untuk membersihkan diri dan mensucikanmu�. Sementara perintah puasa agar kita bertaqwa. Demikian juga perintah-perintah lainnya.

Begitu pun ayat-ayat terkait larangan untuk melakukan sesuatu, selalu disertai dengan alasan kenapa sesuatu itu harus dilarang. Tunjuk contoh; larangan minum khomar, karena akan merusak pikiran dan merusak tubuh, larangan membunuh karena akan menghilangkan nyawa, larangan membentak orang tua karena akan menyakiti dan seterusnya. 

Jadi ketika kita menyuruh anak kita, murid kita, mahasiswa kita, bawahan dan karyawan kita untuk melakukan sesuatu maka sertakanlah dengan alasannya kenapa sesuatu itu harus dilakukan oleh mereka. Begitu juga ketika melarang mereka untuk melakukan sesuatu, hendaklah disertai dengan alasannya juga. Jika hal demikian dilakukan, menurut sang Kyai, insya Allah anak-anak itu akan manut sami’na waatho’na untuk melakukan sesuatu dan untuk tidak melakukan sesuatu dengan senang hati.

Kedua, memberikan keteladanan, uswatun hasanah. Jika kita ingin diikuti omongan kita oleh anak kita, murid kita, bawahan kita, anak buah kita, maka kita harus memberikan contoh terlebih dahulu dihadapan mereka agar mereka mau mengikuti apa yang kita perintahkan dan apa yang kita larang. Ketika orang tua menyuruh anaknya untuk menegakkan ibadah sholat, maka orang tua harus terlebih dahulu menegakkan ibadah sholat. Jika orang tua melarang anak-anaknya untuk tidak maen Hp melulu, maka orang tua juga harus mengatur waktu untuk tidak selalu maen Hp. 

Begitu juga guru atau dosen, ketika memerintahkan anak muridnya rajin belajar, maka guru dan dosen harus tambah giat lagi belajar dan membacanya. Jika memerintahkan untuk banyak menulis, maka guru dan dosen juga harus terlebih dahulu banyak-banyak menulis, dan jika dosen memerintahkan mahasiswanya untuk rajin mengeluarkan infak, maka dosen yang bersangkutan harus terlebih dahulu melakukan infaq. Beegitu seterusnya. 

Sang Kyai menginformasikan bahwa dia telah terlebih dahulu melakukan “gerakan infaq koin seribuan� untuk kaum du’afa’ dan fakir miskin. Gerakan itu kemudian diperkenalkan kepada mahasiswa didiknya untuk dipraktekkan dalam setiap kali pertemuan, menyumbang secara suka rela seribu rupiah per mahasiswa. Gerakan ini, menurut sang Kyai, telah berjalan hingga saat ini. Gerakan ini tidak melihat jumlah rupiah yang disumbangkan, tapi rutinitas dan jumlah mahasiswa yang menyumbang semakin banyak akan terkumpul dana yang banyak sehingga kaum papa dapat benar-benar terbantu dengan hasil sumbangan tersebut.

Bagi kepala atau pimpinan suatu lembaga, juga harus memberi tauladan terlebih dahulu kepada karyawan dan bawahannya sebelum memberikan perintah dan larangan kepada mereka. Misalnya, semua karyawan harus disiplin masuk jam 08.30 wib, maka kepala atau pimpinan harus sudah sampai kantor sebelum jam itu kecuali ada hal-hal penting yang tidak bisa dihindari.

Begitulah baginda Nabi Muhammad Saw. dalam seluruh kehidupannya selalu memberikan contoh uswatun hasanah kepada para sahabat dan umat Islam ketika itu, sebelum mewajibkan dan melarang suatu perkara, sehingga beliau dikenang sebagai bapak “Uswatun Hasanahâ€�, bapak teladan umat. 

Ketiga, mendo’akan anak keturunan, murid, mahasiswa, bawahan dan karyawan. Memang suatu pekerjaan itu butuh kerja keras, namun demikian, kita menyadari bahwa kita hanyalah berusaha dan berikhtiar, Tuhanlah yang menentukan. Oleh karena itu, do’a merupakan sarana ampuh untuk mengegolkan upaya dan ikhtiar itu agar benar-benar dikabulkan oleh dzat Sang Maha Penerima do’a. 

Orang tua, guru, dosen, kepala dan pimpinan harus selalu mendo’akan orang-orang yang menjadi tanggungannya agar apa yang dicita-citakan, apa yang diinginan bisa tercapai. Nabiyullah Ibrahim As, tidak henti-hentinya mendo’akan anak-anak dan keturunannya agar menjadi pribadi yang selalu mentauhidkan Tuhan, pribadi yang tunduk dan patuh kepada perintah Tuhan dan pribadi yang selalu mendirikan sholat. Do’a-do’a tersebut telah diabadikan dalam beberapa ayat al-Qur’an diantaranya; Qs. al-Baqarah: 128 dan Qs. Ibrahim 35-41 yang artinya;

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Baqarah: 128)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Q.S. Ibrahim : 35-41).

Dari ayat-ayat di atas nampak bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah lupa untuk mendo’akan dirinya dan keturunannya agar menjadi orang yang selalu dalam ketundukan dan kepatuhan kepada sang Khaliq dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. 

Nabi Ibrahim As telah memberi contoh dengan mendo’akan dirinya dan anak keturunannya, Nabi Muhammad Saw. telah tampil dihadapan masyarakatnya sebagai usmatun hasanah teladan yang baik bagi segenap umat Islam, kini giliran orang tua, guru, dosen, atasan, pimpinan untuk selalu mencobapraktekkan ketiga trik mendidik tersebut sehingga anak-anak, murid, mahasiswa, bawahan dan karyawan benar-benar berperilaku sesuai dengan aturan yang kita buat dan tentu saja sesuai dengan al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga dalam menjalani kehidupan sehari-sehari menjadi lebih berkah untuk dunia dan akhirat kelak. Aamiin. Wallahu a’lam.

Surabaya, 15 Juli 2017


Pengalaman Spiritual Sang Guru

Category : Inspirasi Pagi

Konon hiduplah salah seorang guru dengan penampilan yang amat sederhana disuatu desa antah berantah nan jauh disana. Guru ini berkeinginan kuat agar orang-orang di desanya, tua muda bahkan anak-anak dapat membaca dan memahami al-Qur’an dengan baik dan benar.
Guru tersebut bercerita bahwa untuk mewujudkan cita-cita itu, harus ada keinginan kuat dari yang bersangkutan terlebih dahulu, baru disediakan wadah, tempat yang dijadikan sarana tatap muka untuk pengajarannya. 

Sang guru pun melontarkan ide itu dihadapan warga kampung apakah ide tersebut diterima atau ditolak. Warga yang merasa kekurangan dalam bidang agama pun mengiyakan ide sang guru. Karena menurut warga ide tersebut sangat membantu mencerdaskan warga beserta sanak keluarganya.
Untuk mewujudkan ide tersebut, sang guru menghimbau warga agar bergotong royong membangun sebuah mushollah untuk dijadikan sarana ibadah dan mengaji. Setelah mushollah dibangun, banyak tantangan yang dihadapi oleh sang guru, terutama bagaimana memakmurkan mushollah itu dengan kegiatan sholat berjama’ah lima waktu dan kegiatan belajar mengaji al-Qur’an.
Menurutnya, mengajak orang itu tidak boleh hanya sekedar menyampaikan ceramah tapi harus dilakukan dengan pendekatan individual sesuai dengan karakter masing-masing warga. Sang guru terlebih dahulu membaca karakter setiap warga agar mengetahui metode apa yang harus digunakan sebagai sarana penyadarannya.
Begitulah hari demi hari, bulan berganti, tahun berlalu, sedikit demi sedikit warga tersadarkan walau tidak seluruhnya, tapi yang terlihat mata bahwa kesadaran warga untuk sholat berjamaah lima waktu di mushollah sang guru sangat tinggi terlihat dari jumlah shaff yang ada. Begitu juga dengan kegiatan mengaji anak-anak semakin semarak setiap harinya. Semua berkah ini tidak terlepas dari hasil riyadhah yang dilakukan oleh sang guru setiap malamnya.
Sang guru menuturkan bahwa setiap upaya yang kita lakukan harus dijalani dengan konsisten, istiqamah disertai dengan kesadaran dan kesabaran. Segala sesuatu yang dilakukan secara konsisten dan telaten insya Allah akan membawa hasil yang maksimal.
Sang guru mencontohkan apa yang pernah beliau praktekkan secara konsisten dalam upayanya meraih malam lailatul qadr. Beliau tidak memastikan bahwa beliau mendapatkan lailatul qadr, tapi kalau dilihat dari isyarat yang disampaikan oleh baginda Nabi Besar Muhammad Saw. dalam hadistnya, mengarah ke sana. 
Sang guru menginformasikan bahwa untuk menggapai malam lailatul qadr harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum bulan ramadhan. Dan itulah yang dilakukan oleh ulama-ulama salaf jaman dulu. Bagaimana caranya?. Sang guru katakan, kita harus membaca ayat yang berkaitan dengan malam lailatur qadr secara konsisten istiqamah. Kapan dan dimana membacanya?, yakni dibaca dalam salah satu rakaat shalat ba’da al-Fatihah. Shalat apapun yang kita lakukan setiap harinya, kita usahakan Qs. al-Qadr dibaca dalam salah satu rakaatnya. Jika memungkinkan, shalat kita sepanjang tahun dipraktekkan seperti itu.
Praktek seperti ini memang tidak berdasarkan dalil khusus, tapi bisalah kita cantolkan dengan dalil umum mengenai keistiqamahan suatu amalan yang mengakibatkan banyak manfaat. Jadi amalan seperti ini tidak perlu dipertentangkan tapi butuh dilakukan dan dijalani. Lihatlah hasilnya setelah diamalkan. 
Sang guru menginformasikan secara rahasiakepada sang murid bahwa beliau pernah mendapatkan isyarat malam lailatul qadr, paling tidak dua tiga kali dalam tahun yang berbeda pada tanggal yang ganjil akhir bulan ramadhan.
Pertama, pada suatu malam ganjil 10 hari terakhir bulan ramadhan, tiba-tiba cahaya putih dari langit memancarkan sinarnya masuk menerobos atap genteng rumah, seakan-akan genteng rumah pecah berantakan. Ketika diperiksa pagi harinya, genteng baik-baik saja.
Kedua, saat tidur-tiduran di mushollah setelah lelah melakukan amalan pada malam ganjil bulan ramadhan, tiba-tiba datang angin mengelilingi wajahnya mengeluarkan suara ya hayyu ya qayyuum.
Ketiga, pada malam ke dua puluh sembilan ramadhan habis subuh, melihat awan membentuk asma Allah di atas langit di sebelah timur sana.
Sang guru menerka-nerka barangkali beberapa isyarat di atas merupakan tanda-tanda malam lailatul qadr. Wallahu a’lam. Sang guru juga menambahkan agar apa yang dirasa, dilihat dan didengar itu memiliki nilai, maka harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. 
Selain itu, sang guru juga menceritakan pengalaman spiritualnya bertemu dengan Nabi Ibrahim As dan Nabi Hidir As sekaligus dalam satu tempat. Sang guru menuturkan pada suatu malam, beliau bermimpi melakukan sholat berjama’ah dengan sang Imam dan dua orang makmum, dirinya dan satu orang lainnya. 
Setelah selesai melakukan sholat, makmum disebelahnya mengajak salaman kepada beliau sambil bertanya “tahukan kamu siapa yang menjadi Imam kita?â€�, sang guru menjawab “tidak tahu tuanâ€�. Makmum itu memberitahukan bahwa yang menjadi Imam adalah bapakmu. Sang guru pun penasaran dengan jawaban tersebut, lalu bertanya lagi “bapak saya pribadi yaâ€�?. Makmum itu menjawab “bukan bapak kandungmu tapi Nabi Ibrahim Asâ€�. Lalu makmum bertanya lagi “apakah kamu kenal dengan ku?â€�, sang guru menjawab “tidak tuanâ€�. Makmum itu pun memperkenalkan namanya “saya adalah Nabi Hidir Asâ€�. Setelah itu, sang guru terbangun dari mimpinya. 
Tanda-tanda untuk mengetahui Nabi Hidir As menurutnya, ketika salaman, ibu jari kanan Nabi Hidir As tidak bertulang, terasa ibu jarinya lemas, begitu sang guru menguraikan ketika itu.
Sang guru memberitahukan bahwa untuk mencapai maqam seperti ini harus istiqamah melakukan suatu amalan. Beliau mengaku telah puluhan tahun mengirimkan do’a al-Fatihah untuk 25 Nabi dan Rasul, mulai Nabi Adam As sampai Nabi Muhammad Saw. dan terkhusus kepada Nabi Khidir As.     
Itulah sebagian amalan dan keberkahan yang sang guru rasakan sebagai pengalaman spritual dalam menjalani kehidupannya. Memang kehidupan ini penuh dengan warna, tinggal bagaimana kita mewarnainya dengan warna yang membuat kita nyaman dalam menjalani hidup. Wallahu a’lam.
Surabaya, 11 Juli 2017

Puasa, Ramadhan dan al-Qur’an

Category : Inspirasi Pagi

Pada kesempatan ini, sang Kyai menguraikan kandungan Qs. al-Baqarah: 183, 184 dan 185. Menurutnya, dalam tiga ayat itu terdapat tiga kata kunci yang memiliki nilai yang sangat dahsyat, yaitu syaum, ramadhan dan al-Qur’an.
 
Kata Syaum, puasa berfungis untuk melatih umat agar dapat mengendalikan hawa nafsunya dari melakukan hal-hal yang dilarang. Jika hawa nafsunya bisa kendalikan, maka puasa yang dia lakukan telah berhasil menghilangkan penyakit internal yang bercokol dalam diri setiap umat, seperti iri, dengki, riya, adu domba, fitnah memfitnah, hasud, sombong, ujub dan lain-lain. Penyakit-penyakit inilah yang menggerogoti amal perbuatan manusia sehingga tidak bernilai di sisi Tuhan. Misalnya, seseorang mengeluarkan infaq dengan jumlah yang banyak tapi dengan niat pamer, maka infaqnya itu tidak bernilai disisi Tuhan karena sudah digrogoti oleh perilaku pamernya. Di posisi ini, puasa memiliki peran yang sangat strategis untuk memberangus semua penyakit hati tersebut. 

Kata Ramadhan dalam al-Qur’an, menurut hasil penelusuran sang Kyai, hanya disebut satu kali saja. Walaupun begitu, kata ramadhan memiliki makna yang sangat dalam dan sangat dahsyat pengaruhnya dalam kehidupan umat. 

Ramadhan yang memiliki arti membakar atau sepanas terik matahari, bisa mengandung beberapa maksud. Pertama, bagi orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah Swt, bisa berarti membakar dosa-dosanya yang telah lampau, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.; Barangsiapa berpuasa ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap ridah Allah Swt., maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Kedua, bisa juga bermakna bahwa situasi pada saat Nabi Muhammad Saw. hidup memang lagi panas-panasnya karena dalam perspektif sejarah, ketika Nabi Muhammad Saw. lahir sampai beliau meninggal, selalu saja terjadi hura hara sosial, misalnya bergeraknya pasukan gajah menuju Makkah yang bertujuan menghancurkan ka’bah, situasi-situasi peperangan yang dialami oleh Nabi Saw. dan para sahabat dan situasi panas lainnya yang terkait dengan dekadensi moral masyarakat pada saat itu. Oleh karena itu, kehadiran bulan ramadhan memiliki nilai penting untuk membangun peradaban moral umat agar naik derajatnya ke level yang lebih tinggi dalam rangka menggapai ridha Allah Swt.  

Kata al-Qur’an. Turunnya al-Qur’an di bulan ramadhan berfungsi untuk mendinginkan suasa lahir dan bathin umat yang sedang berkecamuk pada saat itu. Dengan al-Qur’an, maka umat diajak untuk kembali mengenal siapa dirinya dan untuk apa dia hidup didunia ini.

Tujuan manusia diciptakan tidak lain adalah hanya untuk beribadah kepada sang Khaliq. Nah, al-Qur’an turun untuk menuntun umat menuju Allah Rabbul Ijjati.   

Surabaya, 01 Juni 2017


Puasa Umat terdahulu

Category : Inspirasi Pagi

Kali ini sang Kyai membahas masalah yang berhubungan dengan puasa umat terdahulu yang diterangkan dalam Qs. al-Baqarah: 183. Sang Kyai mempertanyakan siapa saja umat terdahulu yang dimaksud oleh ayat tersebut dan bagaimana mereka melaksanakan puasanya. Apakah mereka puasa ramadhan seperti kita atau pada waktu-waktu tertentu saja?.

Menjawab persoalan tersebut, sang Kyai yang ahli sejarah ini menjawabnya sendiri dengan menguraikan apa gerangan yang dimaksud dengan puasa umat terdahulu tersebut.Menurutnya, puasa umat terdahulu bukan pada bulan ramadhan tapi waktunya berfariasi antara Nabi yang satu dengan Nabi yang lainnya. Adapun manusia pertama yang menjalankan ibdah puasa adalah Nabi Adam As. 

Puasa pertama yang beliau lakukan adalah puasa pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram dalam rangka bersyukur karena dipertemukan kembali dengan siti Hawa di jabal nur padang Arafah setelah mereka berdua dikeluarkan dari surga. Konon Nabi Adam As diturunkan di Sri Langka sedangkan siti Hawa di padang Arafah.
Puasa yang kedua yang dilakukan Nabi Adam adalah puasa tiga hari setiap tanggal 13, 14 dan 15 bulan Qamariah sepanjang tahun. Puasa ini dikenal dengan puasa Ayyamul Bidh, puasa hari-hari putih. Dinamakan demikian karena pada tanggal tersebut rembulan menampakkan sinar cerahnya yang terang benderang menerangi bumi sehingga semuanya terlihat putih.
Ada juga riwayat yang menerangkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi seluruh tubuhnya terbakar oleh matahari sehingga menjadi hitam/gosong. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadanya untuk berpuasa selama tiga hari, tanggal 13, 14, 15. Ketika berpuasa pada hari pertama, sepertiga badannya menjadi putih. Puasa hari kedua, sepertiganya lagi menjadi putih. Puasa hari ketiga, sepertiga sisanya menjadi putih.
Selanjutnya puasa Nabi Nuh As. ketika berbulan-bulan terkatung-katung berada di atas perahu besar pada saat banjir bandang menghadang. Nabi Nuh As beserta kaumnya diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa dalam rangka memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah sang Khaliq.
Nabi Ibrahim As. bapak bangsa Arab dan Yahudi, juga berpuasa ketika Raja Namruz memerintahkan pengumpulan kayu bakar yang menggunung tinggi. Ketika dilemparkan ke dalam api, beliau dalam keadaan berpuasa.  Atas kuasa dan perintah Allah Swt., api menjadi dingin sehingga beliau selamat.
Nabi Daud As. juga tidak ketinggalan melanjutkan tradisi puasa dengan cara sehari puasa, sehari berbuka. Nabi Daud As. berkata, “Adapun hari yang aku berpuasa di dalamnya adalah untuk mengingat kaum fakir, sedangkan hari yang aku berbuka untuk mensyukuri nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah Swt.â€� Perkataan Nabi Daud As itu ditegaskan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.â€� (HR. Muslim).
Nabi Yunus As. berpuasa ketika berada dalam ikan paus. Nabi Ya’kub As. berpuasa meminta keselamatan anak-anaknya. Nabi Yusuf berpuasa ketika berada dalam penjara ketika difitnah berbuat seerong dengan Zulaikha.
Nabi Musa As. dan kaumnya melakukan puasa pada 10 muharram untuk mensyukuri keselamatannya dari kejaran Fir’aun di laut merah. Ketika kaumnya belum yakin akan keberadaan Tuhan Nabi Musa As, mereka meminta agar Nabi Musa memberikan suatu tanda bukti tentang Tuhannya. Nabi Musa As pun melakukan puasa selama 40 hari sambil bermunajat kepada Tuhannya, sampai akhirnya, Tuhan mengabulkan permintaan Nabi Musa As dengan memberikan kitab Taurat sebagai pedoman hidup bagi umatnya.
Al-Qurthubi, dalam kitab Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, menyebutkan bahwa Allah Swt . telah mewajibkan puasa kepada Yahudi selama 40 hari, kemudian umat Nabi Isa selama 50 hari. Tetapi kemudian mereka merubah waktunya sesuai keinginan mereka. Jika bertepatan dengan musim panas mereka menundanya hingga datang musim bunga. Hal itu mereka lakukan demi mencari kemudahan dalam beribadah. Itulah yang disebut nasi’ seperti disebutkan dalam Qs. At-Taubah: 37,

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah…�
Disamping puasa tidak makan, ada juga perintah puasa bicara. Ini dialami oleh Maryam, ibu Nabi Isa As. dan Nabi Zakariya As. Maryam tidak mau berbicara ketika ditanya oleh orang-orang mengenai kelahiran Nabi Isa As. begitu juga Nabi Zakariya tidak berbicara selama tiga hari tiga malam ketika bermunajat keharibaan Tuhan di depan Mihrab dalam rangka meminta keturunan yang akhirnya dikabulkan oleh Allah Swt. dengan kehadiran Nabi Yahya As.
Sang Kyai menginformasikan bahwa Mihrab Zakariya itu masih ada di masjid al-Aqsha yang lama sampai saat ini bukan di masjid al-Aqsha yang baru. Masjid al-Aqsha yang lama, jelasnya, sudah dibangun sejak Nabi Zakariya karena mereka berdo’a di situ, Zakariya, Maryam, dan Yahya. Sedangkan pendirian masjid al-Aqsha yang baru dilakukan pada masa pemerintahan bani Umayyah.
Bagi umat Muhammad Saw. puasa-puasa yang dilakukan oleh umat terdahulu itu dijadikan sebagai puasa sunnah. Seperti puasa Ayyamul Bidh tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Qamariah yang dilakaukan oleh Nabi Adam As., puasa Nabi Dawud As. dan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram yang dilakukan oleh orang Yahudi.
Terkait dengan puasa Asyura ini, Nabi Muhammad Saw. hanya melakukannya sekali saja, keburu beliau meninggal dunia. Oleh karena itu, ketika sahabat bertanya mengenai hal ini karena sama dengan ritual ibadah puasa yang dilakukan oleh orang Yahudi, Nabi Saw. pun menganjurkan untuk menambahkannya pada tanggal 9 Muharram sebagai pembeda dengan orang Yahudi. Wallau a’lam.

Surabaya, 29 Mei 2017


Meraih pahala berlipatganda di bulan Ramadhan

Category : Inspirasi Pagi

Dalam menyambut kehadiran bulan ramadhan tahun 1348 H ini, sang Kyai menyampaikan ceramah agama terkait bulan ramadhan. Beliau mengatakan bahwa orang-orang yang sudah meninggal dunia saja, meminta kepada Tuhan agar dikembalikan lagi ke dunia untuk berbuat amal sholeh. Orang kafir berkata: ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia untuk berbuat amal sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan. Qs. al-Mukminun: 99-100;

“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah Aku (ke dunia). 

Agar Aku berbuat amal yang saleh terhadap yang Telah Aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”.

Namun permintaan mereka itu sia-sia belaka karena mereka sudah berada di alam barzakh yang sudah tidak bisa lagi kembali ke alam dunia.

Sang Kyai mengingatkan bahwa orang yang sudah meninggal, merasakan bagaimana siksaan yang dialaminya dalam kubur, mereka merengek-rengek kepada Tuhan agar dikembalikan lagi ke dunia dalam rangka beramal sholeh namun permintaa mereka sia-sia belaka.

Orang-orang yang beriman dalam kuburan, juga merasa menyesal karena tidak maksimal dalam berbuat baik. Jika seandainya mereka tau dahulu di dunia bahwa pahala kebaikan itu sangat bermanfaat untuk kehidupan di alam barzakh dan alam akhirat, maka mereka akan melakukan kebaikan dengan berlipat ganda dan meninggalkan segala perbuatan dosa. Jikalau di dunia dahulu aku menjalankan semua perintah Tuhan dan menjauhi segala larangannya dengan sungguh-sungguh, tidak menunda-nunda berbuat kebajikan, bersedekah sebanyak-banyaknya, beramal shaleh sebanyak-banyaknya, alangkah bertambah-tambahnya kenikmatan yang ku peroleh, begitu kira-kira harap mereka, namun harapan itu hanya ilusi yang tidak akan pernah terlaksana.

Oleh karena itu, pada bulan ramadhan yang penuh berkah, rahmat dan  ampunan ini, sang Kyai mengajak kepada jama’ah untuk memperbanyak amal kebajikan, memperbanyak sedekah, memperbanyak baca al-Qur’an, memperbanyak dzikir dan amal-amal kebaikan lainnya, karena amal kebajikan pada bulan ini, dilipat gandakan pahalanya daripada beramal di luar ramadhan.

Rasulullah Saw. Menyampaikan bahwa “Jika umatku tahu nilai yang ada dalam bulan Ramadhan, maka pasti mereka berharap seluruh bulan menjadi bulan Ramadhan�.

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR Muslim)

Sholat fardhu di bulan ramadhan dilipat gandakan pahalanya menjadi 70 kali lipat. Sementara Sholat sunnah sama pahalanya dengan sholat fardhu di bulan lain. Artinya sholat sunnah mendapatkan pahala 10 kali lipat di bulan ramadhan. Sholat sunnah qabliyah subuh saja, menurut hadist Nabi Saw. yang lain, sama dengan dunia seisinya. Jika seandainya kita menyakini janji Tuhan ini seyakin-yakinnya, maka kita tidak akan rela melewatkan waktu detik demi detik kecuali untuk berbuat kebaikan. Oleh karenanya, sang Kyai menganjurkan untuk meraih sebanyak-banyaknya pahala yang diberikan oleh Tuhan pada bulan ini. Karena hasilnya nanti akan menjadi bekal kehidupan akhirat kelak nan abadi selama-lamanya.

Terkait dengan tingkatan pahala sholat ini, sang Kyai menyinggung juga tempat-tempat yang memiliki nilai pahala lebih. Sang Kyai menginformasikan bahwa sholat di masjidil haram Makkah sama pahalanya dengan seratus ribu kali sholat di masjjid yang lain. Sholat di masjid Nabawi Madinah sama dengan seribu kali sholat di masjid lainnya. Sholat di masjdil Aqsho Palestina sama dengan dua ratus lipa puluh kali sholat dimasjid lainnya, karena dalam hadist disebutkan bahwa sekali sholat di masjidil haram sama dengan empat kali sholat di masjidil Aqsho.

Nabi Saw. bersabda: 

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.� (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.)

Tinggal hitung sendiri berapa banyak pahala diperoleh jikalau alaman-amalan tersebut dikerjakan pada bulan ramadhan. Alangkah berlipatgandanya bukan?.  Untuk itu, sang Kyai memberi ijazah, agar bisa cepat berangkat menunaikan ibadah haji atau umrah, beliau menyarankan supaya rajin-rajin membaca surat Yaa Siin, surat al-Waqi’ah, surat ar-Rahman, Tabaarak, kalau masih belum bisa berangkat juga, sang Kyai menganjurkan untuk menggunakan surat tanah. Penjelasannya ini disambur gerrrr oleh para jama’ah sholat subuh. Wallahu a’alm

Surabaya, 28 Mei 2017


Kapan seorang hamba layak disebut Muttaqin

Category : Inspirasi Pagi

Menarik untuk disimak apa yang diuraikan sang khatib pada jum’at kemarin tentang indikator seseorang yang mendapatkan gelar muttaqin, seorang hamba yang mampu menjalankan semua perintah Allah swt. dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya.
 

Kalau kita perhatikan ada dua ayat yang sering dikumandangkan berkaitan dengan gelar muttaqin, yaitu Qs. al-Hujurat ayat 13 yang menjelaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah Swt. di kalangan umat Muhammad Saw. adalah orang yang paling bertaqwa. Begitu juga dalam Qs. al-Baqarah; 183 yang menjelaskan bahwa dengan menjalankan puasa ramadhan, kita diharapkan dapat meraih gelar taqwa.
Sebenarnya, gelar taqwa bisa kita raih kapan saja, dengan syarat menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi semua larangan-Nya. Namun demikian, Allah Dzat Yang Maha Pemurah memberikan jalan pintas untuk meraih derajat taqwa itu dengan menghadirkan bulan puasa, karena dengan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh itu, kita diharapkan lulus dengan nilai terbaik sehingga dapat menggenggam predikat taqwa.
Barangkali muncul pertanyaan dibenak kita masing-masing, apakah puasa ramadhan yang pernah kita lakukan pada tahun-tahun kemarin telah mengantarkan kita sebagai hamba yang muttaqin?. 
Untuk mengetahui perihal ini, menurut sang khatib, kita coba mendalami kata syaumyang terdapat dalam Qs. al-Baqarah: 183. Barangkali dengan membedah arti kata shaum tersebut kita mendapatkan penjelasan yang memadai apakah kita termasuk dalam golongan hamba yang muttaqin atau bukan.
Kata shaumdalam bahasa Arab berasal dari akar kata sha wa ma.
Pertama huruf shad melambangkan kata shabrun sabar. Kedua huruf waw menandakan kata wiqayatun waspada dan hati-hati dan ketiga huruf mim yang mewakili kata mustajabatun, diterimanya semua do’a.
Sabar sendiri dibagi menjadi tiga bagian, pertama sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah Swt., kedua sabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah Swt. dan ketiga sabar dalam menghadapi ujian Allah Swt. 
Wiqayatun yang berarti hati-hati dalam menjaga kemuliaan. Sungguh Allah Swt. telah memuliakan hamba yang melaksanakan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan mencari ridha Allah swt. Apakah kemuliaan yang telah Allah Swt. berikan itu mampu dipertahankan oleh hamba selama mengarungi kehidupan di luar bulan ramadhan atau justru dia hancurkan sendiri sehingga jatuh dalam lumpur kehinaan. Maka sebaiknya, seorang hamba, harus selalu waspada dan berhati-hati menjaga kemuliaan yang telah disematkan padanya agar tetap melekat dan tidak mudah luntur.  
Mustajaabatun. Diterimanya do’a. Kita renungkan pada diri kita masing-masing apakah do’a-do’a yang kita panjatkan selama ini sudah terkabul atau belum?. Jika ada yang sudah terkabul, maka tanda-tanda menjadi orang yang bertaqwa bisa jadi ada pada dirinya.
Jadi, jika ketiga ciri atau indikator tersebut, sudah dirasakan dan dialami oleh setiap hamba, maka tanda-tanda hamba mendapatkan gelar muttaqin sudah melekat pada pribadi yang bersangkutan.
Barangkali masih banyak indikator-indikator lain, namun karena terbatasnya waktu sang kahitb, hanya tiga itu saja yang dapat disampaikan. Wallahu a’lam.
Surabaya, 27 Mei 2017