Category Archives: Kajian Keagamaan

Cerita seorang Muallaf

Category : Kajian Keagamaan

Jum’at kemarin, saya menyempatkan diri berjum’atan bersama rekan saya di masjid Akbar Surabaya. Salah satu masjid terbesar di Surabaya bahkan di Jawa Timur. Ketika kami selesai melaksanakan sholat jum’at, kami berdua tidur-tiduran sambil mengecash HP di salah satu tiang masjid. Tanpa kami sadari, HP tersebut diambil orang. berutung ada seseorang yang memberitahu kami tentang pelaku sehingga pelaku dapat ditangkap. 
  Sosok pemberi informasi itu mengaku bernama Cristian, muallaf yang mengikrarkan syahadat pada tahun 2013. Awalnya ia tinggal di Jogjakarta bersama ayah dan ibunya hingga menyelesaikan pendidikan SMA. Ayahnya berasal dari Jogjakarta sementara ibunya berasal dari Ambon.


Saya terus terang merasa penasaran atas pengakuannya sebagai seorang muallaf. Saya ingin mengetahui lebih jauh mengapa dia tertarik masuk Islam. Saya juga baru pertama kali ini bercakap-cakap dengan seorang muallaf yang tentunya sangat disayangkan kalau kisahnya tidak didokumentasikan. 

Dia bertutur, awal mula ia tertarik dengan Islam ketika ia bersama temannya jalan-jalan di kota Jogjakarta. Pada saat waktu sholat tiba, temannya minta ijin kepada Cristian untuk istrahat sebentar untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu di salah satu masjid di kota itu. Sementara Cristian sendiri menunggu di luar masjid. Ketika temannya itu keluar dari masjid, ia melihat perubahan wajah temannya demikian bersih bersinar, berbeda ketika sebelum sholat yang terlihat kusut. 

Mengetahui perubahan wajah seperti ini, membuat Cristian penasaran. Ia bertanya, mengapa perubahan seperti itu bisa terjadi. Kebetulan temannya ini lincah menjawab. Temannya bilang bahwa sholat itu adalah sarana untuk bertemu dengan Allah swt. Tuhan Pencipta alam semesta. Bertemu dengan-Nya harus dalam keadaan bersih. Bersih seluruh badan, juga bersih tempat sholatnya. Sebelum sholat, kita harus mengambil air wudhu’. Ketika sholat selesai, kita bermunajat memohon kepada Allah Swt. agar kita selamat di dunia dan selamat di akhirat. Kita juga berdo’a agar semua persoalan yang dihadapi diberikan kemudahan untuk menghadapinya. Setelah selesai sholat, beban kehidupan yang kita pikirkan terasa berkurang. Barangkali begitu penjelasannya sehingga wajah terlihat fresh dan segar. Begitu kira-kira penjelasan temannya Cristian.

Mendengar penjelasan seperti itu, Cristian mencoba melakukan sholat seperti yang diajarkan oleh temannya. Dia merasakan kedamaian dan kesejukan ketika selesai melakukan sholat. Karena itu, ia mengungkapkan kepada temannya bahwa ia ingin masuk Islam. Temannya pun membawa Cristian ke seorang ustadz agar dibimbing untuk mengucapkan syahadat.
Cristian tidak menutupi keislamannya ini kepada keluarga. Bapaknya mempersilahkan memilih agama apa, karena menurut bapaknya, Cristian sudah besar, bisa membedakan mana yang terbaik untuk dirinya. Sementara ibunya serta keluarga besar ibunya tidak bisa menerima keputusan Cristian. Mereka berharap Cristian kembali keagama semula. Malah ditawarkan untuk bekerja dipertamina mengikuti pamannya asal kembali keagama ibunya. Cristian menolak keras penawaran itu, dia sudah mantap dengan agama barunya. Pekerjaan dapat dicari. Begitu jawabnya kepada sang paman. 

Ketika ayahnya meninggal beberapa tahun silam, mereka pindah ke Sidoarjo. Mamanya menumpang di rumah bibinya, sedangkan dia tidak diperkenankan untuk tinggal bersama disana karena beda keyakinan. Jadilah dia anak “jalananâ€� yang tidur dari masjid ke masjid. Ia menunjuk beberapa masjid yang pernah ia gunakan untuk tidur. Tapi yang sering adalah masjid al-Falah, masjid UIN Sunan Ampel, juga masjid Akbar. Dimasjid-masjid itu, kalau bulan puasa tiba, biasanya disediakan ta’jil dan nasi bungkus untuk buka puasa. 

Pada masa-masa sulit seperti itu, untuk menata hidup dan untuk mengetahui tujuan hidup, ia memutuskan untuk berguru pada salah seorang ustazd di daerah seputaran Sidogiri Pasuruan. Dia tidak bercerita banyak mengenai awal mula ia bisa sampai kesana dan tidak sempat bercerita juga bagaimana ia habiskan masa belajarnya disana, cuma ia tegaskan disanalah ia dipertemukan dengan jodohnya seorang wanita keturunan Madura. Mereka menikah akhir tahun 2016 kemarin, tinggal di Sidoarjo dan sampai saat ini belum dikaruniai anak karena masih fokus mencari penghidupan. 

Dia sendiri mengaku sedang mencari pekerjaan tetap setelah beberapa kali ganti tempat kerja karena tidak ada kecocokan. Terakhir ia memutuskan keluar dari tempat kerjanya di lingkungan Wonokromo. Adapun isterinya sehari-hari bekerja sebagai SPG Pameran yang tempatnya berpindah-pindah. Kebetulan pada saat kejadian kemarin, isterinya sedang bertugas di Mojokerto selama dua minggu dan malam itu, isterinya minta ijin untuk menginap di rumah temannya di Mojokerto karena kalau setiap hari pulang pergi terasa capek.
Cristian menuturkan juga bahwa ia pernah dua kali membuka warung kopi (warkop) di Sidoarjo. Ia mempercayakan semua pekerjaan kepada seorang karyawan. Ia juga memberikan fasilitas sepeda motor kepada karyawannya, Namun sang karyawan tidak amanah karena ia membawa kabur sepeda motor meninggalkan warkop. Warkop bubar.

Kemudian ia mencoba lagi keberuntungan membuka warkop untuk yang kedua kalinya. Ia juga mempekerjakan seorang karyawan. Masalahnya pada usaha warkop yang kedua ini adalah tidak adanya keuntungan yang diterima. Hasil penjualan tetap saja segitu tidak ada tambahannya. Melihat keadaan yang demikian, ia memutuskan untuk menutup warkop tersebut. 

Walaupun menghadapi berbagai cobaan dan tantangan seperti di atas, ia tetap tabah menghadapinya bahkan dengan ibunya sendiri, ia masih tetap berkomunikasi walaupun pihak keluarga besar tidak menyukainya. Saya katakan kepadanya tetaplah mencintai dan menyayangi ibumu karena bagaimanapun beliau adalah ibu yang mengandung dan melahirkanmu. Doakan dia mudah2an suatu saat dia dapat hidayah. Pungkasku.

Demikian kisah singkat seorang muallaf yang sedang bersusah payah untuk bangkit dalam rangka mencapai kesuksesan hidup di dunia dan akhirat. Semoga tidak melenceng. Aamiin. Wallahu a’lam.

Surabaya, 30 April 2017.


Ummi Musa dan Siti Asiah; Sosok Perempuan Pejuang

Category : Kajian Keagamaan

Jum’at kali ini saya berkesempatan mengikuti jum’atan di masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya. Jum’atan disini saya pilih, disamping untuk melaksanakan kewajiban sholat jum’at, juga untuk mendengarkan petuah-petuah khatib dosen UIN Sunan Ampel Surabaya yang kebanyakan bertitel profesor doktor yang penguasaannya dalam bidang keagamaan sudah tidak diragukan lagi. 

Dari beberapa jum’atan terdahulu yang saya hadiri, tema-tema yang disampaikan memang sudah umum diketahui oleh para jama’ah, tapi menariknya disini, khatib menyampaikan khutbah dengan gaya bahasa dan retorika yang tegas dan lugas serta kontennya dikemas dengan berbagai macam sudut pandang. 

Jum’at kali ini, misalnya, bertepatan dengan tanggal 21 April, dikenal dengan hari Kartini, hari Ibu, hari kebangkitan kaum perempuan, hari persamaan hak antara perempuan dan laki-laki atau sebutan-sebutan lainnya untuk kejayaan kaum perempuan. Berkaitan dengan ini, khatib menyesuaikan tema khutbah dengan menyampaikan kisah dua orang Ibu, Kisah Ummi Musa, Ibu Nabi Musa dan Siti Asiah, istrinya Fir’aun. 

Topik ini sengaja diangkat karena, menurutnya, kedua sosok tersebut merupakan sosok pejuang perempuan yang patut diingat jasa-jasanya dalam mempertahankan hak hidup Musa, As dihadapan Raja yang kejam dan dholim.

Fir’aun membuat kebijakan agar semua bayi laki-laki yang lahir harus segera dibunuh. Kebijakan ini diambil karena dia bermimpi mahkota yang dipakainya hilang. Untuk mengartikan mimpi tersebut, dia memanggil ahli ramalnya. Berdasarkan ramalan, mimpi itu diartikan sebagai pertanda bahwa pada suatu masa, kekuasaan raja akan terancam oleh seorang bayi laki-laki yang sebentar lagi akan dilahirkan. 

Beberapa waktu kebijakan itu diberlakukan, sebagian warga mengajukan permohonan kepada sang Raja agar kebijakan itu dipertimbangkan untuk dicabut, karena menurut mereka, jika bayi laki-laki yang lahir terus menerus dibunuh, maka jumlah laki-laki akan berkurang dan lama kelamaan kaum laki-laki akan habis, yang tersisa hanya kaum perempuan, sementara kaum perempuan tidak bisa melakukan semua hal yang menjadi tugas kaum laki-laki.

Mendengar masukan sebagian warganya tersebut, Fir’aun pun bisa menerima alasan itu. Akhirnya Fir’aun membuat kebijakan baru dengan ketentuan bahwa pembunuhan terhadap bayi yang baru dilahirkan akan dilakukan secara bersilang tiap tahun, tahun ini berlaku, tahun berikutnya tidak berlaku. Berkat kebijakan ini, Nabi Harun saudara Nabi Musa yang kebetulan lahir pada masa itu luput dari pembunuhan karena ketika beliau lahir, bertepatan dengan tahun tidak diberlakukannya kebijakan pembunuhan bayi.

Sementara Nabi Musa, lahir bertepatan dengan tahun diberlakukannya kebijakan pembunuhan bayi. Ketika mengandung, Ummi Musa menyembunyikan kandungannya dari khayalak sehingga tidak banyak orang mengetahuinya. Saat melahirkan hingga berumur tiga bulan, hanya keluarga dekat yang tau, sementara orang lain tidak ada yang mengetahuinya, hatta tentara pengintai Raja. Menghadapi kenyataan seperti ini, Ummi Musa merasa takut dan sedih memikirkan nasib anaknya, karena menurutnya, suatu saat nanti lambat laun anaknya akan diketahui juga oleh tentara pengintai Raja yang sudah disebar di seluruh penjuru negri. Ia hanya bisa pasrah dan berdo’a kepada sang Khaliq agar anaknya bisa selamat dari jeratan sang Raja. 

Pada saat itulah Allah Swt. menjawab do’a Ummi Musa dengan memerintahkan agar anaknya disusui terlebih dahulu jika memang masih merasa khawatir akan keselamatannya, maka ibunya diminta agar bayi itu dimasukkan dalam peti kemudian dihanyutkan ke sungai NIL. Allah Swt. menegaskan, kelak Musa akan dikembalikan kepadanya dan Musa dipilih menjadi seorang Rasul Allah. Kejadian tersebut direkam secara apik dalam QS. al-Qashash: 7-8. 

7.Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, Karena Sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.
8.Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.

Dari ayat di atas, kita dapat sarikan beberapa pelajaran; pertama, perintah agama kadang-kadang bertentangan dengan akal pikiran manusia. Coba bayangkan perintah al-Qur’an kepada Ummi Musa untuk menghanyutkan anaknya di sungai disaat yang sama tentara pengintai Fir’aun sedang gencar-gencarnya mencari bayi laki-laki yang lahir untuk dibunuh. Begitulah, pada bagian-bagian tertentu, nalar manusia tidak gatuk, tidak nyampe untuk menggapai maksud Tuhan yang sebenarnya. Dalam kasus ini, tentu Tuhan memiliki rencana lain, bahwa dengan menghanyutkan Nabi Musa di sungai NIL, Allah Swt. menyelamatkan Nabi Musa dari kebijakan jahat sang Raja. 

Rencana Tuhan itu diwujudkan dengan ditemukannya Peti yang dihanyutkan itu oleh Siti Asiah isteri Fir’aun, yang kebetulan sedang bersantai dengan dayangnya di tepi Sungai NIL. Ketika bayi ini diperlihatkan kehadapan Fir’aun, hampir saja Fir’aun membunuhnya, lagi-lagi Siti Asiah bertindak cepat mencegah sang Raja untuk tidak membunuhnya dengan alasan dia tidak memiliki anak dan sudah jatuh hati dengan sang bayi. Ia menginginkan agar sang bayi dijadikan sebagai anak angkat. Atas rayuan sang isteri, sang Raja pun luluh juga dibuatnya. Musa pun dibesarkan dengan penuh kasih sayang di lingkungan istana sampai usia dewasa walaupun pada akhirnya Musa melarikan diri dari lingkungan istana karena membunuh seorang warga. 

Kedua, apapun status yang disandang oleh seorang perempuan, tugas utama sebagai ibu harus selalu diperhatikan. Sebagaimana Allah Swt. memerintahkan ummi Musa untuk menyusui terlebih dahulu anaknya sebelum melakukan hal-hal lain di luar rumah. 

Ketiga, bahwa melakukan pekerjaan di luar rumah itu tidaklah dilarang namun tetap dalam koridor yang telah ditetapkan oleh Agama. Artinya menuntut persamaan hak itu sah sah saja selagi sesuai dengan kodratnya. Sebagaimana ummi Musa merasa khawatir atas keselamatan anaknya didalam rumah, maka atas perintah Tuhan, dia menghanyutkan anaknya di sungai sambil selalu memanjat do’a untuk keselamatan jiwa anaknya.

Keempat, kita harus menyikapi kebatilan dengan cara yang bijak. Sebab kadang-kadang kebatilan itu melahirkan kebenaran dan kebenaran itu akan melibas kebatilan itu sendiri. Sebagaimana digambarkan di atas bahwa Musa dibesarkan dalam lingkungan istana Fir’aun yang dikenal dengan raja yang kejam dan dholim. Pada akhirnya, Musa memberangus kebatilan yang dilakukan oleh Fir’aun dan tentara-tentaranya. 

Itulah sekelumit kisah ibu-ibu pejuang yang barangkali dapat dijadikan ibrah dalam menata kehidupan kedepan yang lebih baik lagi. Wallahu a’alam.

Surabaya, 21 April 2017.