Category Archives: Kronik

Catatan Perjalanan ke Campa

Category : Kronik , Uncategorized

Tak ada kata lelah saat kami harus menyambangi satu persatu umat yang tersebar di berbagai pelosok kota dan kabupaten Bima. Kesadaran untuk membangun generasi tetap menggelora memantik semangat keluarga besar civitas akademika STIT Sunan Giri Bima untuk menebar rahmat dan menguatkan konsep kehidupan Islam ahlu sunnah wal jamaah.

Selasa kemaren, tepatnya tanggal 30 April 2019, pukul 19.00 Wita rombongan yang berjumlah tiga mini bus bertolak dari Kampus Hijau menuju desa Campa, Sebuah desa yang terletak di ujung selatan Kecamatan Madapangga. Dibutuhkan waktu lebih kurang 1,5 jam dengan kecepatan rata-rata 60-70 km/jam untuk tiba di sana, namun karena diminta untuk hadir lebih awal maka, kendaraan yang kami tumpangi pun di pacu lebih cepat agar dapat tiba lebih awal ke lokasi acara dari waktu yang direncanakan.

Meskipun harus menerobos jalanan tepi pegunungan dan sungai yang sepi dan gelap, dan sesekali melewati jalanan berkubang sepanjang lebih kurang 1,5 Km, akhirnya kami tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 wita, kami disambut oleh pak Samsudin, M.Pd.I, salah satu dosen yang berdomisili di desa Campa sekaligus fasilitator kegiatan sosialisasi malam ini.

Sesuai rencana, kehadiran tim sosialisasi akan mempersembahkan rangkaian kegiatan hiburan dan siraman rohani sebagai strategi sosialisasi kampus ke tengah-tengah masyarakat. Kepala Desa Campa yang mewakili pihak keluarga berhajat dalam sambutan dan arahannya memberikan ucapan selamat datang dan sukses kepada seluruh tim sosialisasi yang berkenan hadir untuk memeriahkan acara kambolo weki umum yang dihelat oleh keluarga Bapak Ahmad Amin sekeluarga pada malam itu. Beliau juga mengapresiasi berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang ditampilkan oleh para mahasiswa pada pra acara kambolo weki yang di antaranya adalah seni tari dan marawis sebagai upaya dalam melestarikan budaya dan syiar Islam di tengah gempuran industri hiburan yang tidak sejalan dengan tradisi dan budaya masyarakat Bima yang Islami. Beliau ingin agar kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan di berbagai tempat sebagai bagian dari dakwah dan syiar agama, demikian harapan diakhir sambutannya.

Bagi STIT Sunan Gri Bima, Kegiatan sosialisasi sesungguhnya bukan program menebar janji namun lebih dari itu merupakan unjuk gigi dan unjuk bukti kepada masyarakat dari program yang telah dijalankan lebih kurang 8 bulan terakhir. Untuk itu di sela-sela ceramah panjangnya di hadapan masyarakat Campa, Ustadz Zul atau yang biasa kami sapa dengan UJ menyisipkan dan menyampaikan banyak hal tentang bentuk-bentuk kegiatan pembinaan yang telah dijalani oleh mahasiswa selama berada di asrama STIT Sunan Giri Bima, yakni Pencapaian yang telah diraih oleh kampus STIT Sunan Giri Bima dalam mendidik dan mengasah intelektual mahasiswa yang tidak hanya siap secara keilmuan agama untuk dirinya sendiri, namun siap dan mampu menjadi obor penerang di tengah kehidupan masyarakat.
Di akhir urainnya UJ menekankan perlunya masyarakat untuk terus melakukan kebaikan dan amal shaleh terutama mendekati bulan romadhon yakni dengan membersihkan hati dan pikiran serta i’tikad dan hubungan antara sesama manusia, hal tersebut penting karena i’tikad terhadap sesama manusia akan berpengaruh terhadap semua amalan yang kita lakukan yang berhubungan dengan manusia dan Tuhan. Di samping itu UJ juga sempat menyinggung mengenai pentingnya pendidikan agama bagi keluarga terutama anak dan istri, sebab keselamatan seorang suami bergantung dari ketaatan istri dan anaknya terhadap suami.

Sedangkan Pembantu Ketua III yang didapuk untuk mewakili ketua STIT memaparkan mengenai perlunya masyarakat untuk jeli dan memahami status sebuah Kampus yang telah atau yang belum terakreditasi untuk dijadikan sebagai tempat melanjutkan studi, ia mencontohkan STIT Sunan Giri Bima yang telah mendapatkan akreditasi B dan C pada masing-masing program studi Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, karena keberadaan akreditasi menjadi prasyarat mutlak bagi sarjana untuk melamar pekerjaan yang diidamkan utamanya di instansi pemerintahan.

Lebih lanjut ia memaparkan di hadapan masyarakat Campa bahwa keunggulan STIT Sunan Giri Bima apabila dibandingkan dengan kampus yang lain adalah paket program kreativitas yang bertujuan mengantarkan mahasiswa menjadi insan yang mandiri dan memiliki life skill dalam memenuhi kebutuhan kuliah maupun biaya hidupnya sehingga dengan adanya kegiatan pembinaan kreativitas ini, praktis seluruh kebutuhan kuliah para mahasiswa dapat terpenuhi secara mandiri, dan dimasa yang akan datang dapat dipastikan bahwa alumni STIT tidak akan menjadi bagian dari penambah jumlah pengangguran di tengah masyarakat.

Sebagaimana penampilannya di beberapa tempat yang lainnya, kali ini pun tim sosialisasi menunjukkan performa terbaiknya dalam menghibur masyarakat desa Campa, semoga saja kehadiran tim sosialisasi kali ini memberikan kesan positif di tengah masyarakat sehingga mereka memberikan kepercayaan kepada STIT untuk dijadikan tujuan pendidikan bagi anak-anaknya di masa yang akan datang.

Penulis : Irwan Supriadin


Safari Dakwah “Plus-plus”: Sebuah Ikhtiar Menuju Kesuksesan

Category : Kronik

Safari dakwah sosialisasi “plus-plus” STIT Sunan Giri Bima merupakan rangkaian kegiatan dakwah sekaligus sosialisasi kampus STIT Sunan Giri Bima melalui acara-acara hari besar Islam di kota maupun kabupaten Bima.

Setelah beberapa kali melakukan safari dakwah sosialisasi “plus-plus” dalam acara Isra’ Mi’raj di berbagai daerah,  Minggu malam 28 April  lalu civitas akademika STIT Sunan Giri Bima kembali melakukan safari dakwah di desa Risa.

Sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh komandan lapangan Abd Salam, M.Pd.I,  kami berkumpul di kampus STIT sebelum waktu  magrib tiba. Usai sholat magrib berjamaah di musholah kampus kami melanjutkan perjalanan menuju desa Risa. Sekira 30 orang kaum muda STIT Sunan Giri Bima berangkat menuju desa Risa baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa.

Setelah sampai di desa Risa, kami disambut antusiasme warga.  Sebagai gantinya, kami berdecak penuh kekaguman dengan segala yang tampak di depan mata kami. Mulai dari panggung, tata letak ornamen, rangkaian acara yang disusun sangat apik, bahkan tempat diadakannya acara tersebut sepertinya telah lulus seleksi berkali-kali dari tempat lainnya; ini adalah panggung terindah yang pernah kami saksikan selama bersafari. Bahkan, dalam sambutannya, Dr. Syukri Abubakar, M.Ag selaku ketua STIT Sunan Giri Bima memuji-muji seluruh persiapan acara Isra’ Mi’raj yang bertemakan “Menyambut Bulan Suci Ramadhan” tersebut.

Melihat antusiasme warga membuat kami semakin semangat menampilkan pra acara hingga acara inti. Seperti biasanya, sebelum memasuki acara inti, kami menyuguhkan warga dengan marawis yang sangat menghibur, dilanjutkan dengan tari tradisional yang mayoritas penarinya adalah mahasiswa yang berasal dari desa Risa. Puncak pra acara diakhiri dengan penampilan drama teater. Penampilan terakhir ini sekaligus menjadi ruang ekspresi bagi mahasiswa STIT Sunan Giri Bima. Bercerita tentang ina male dan ama male, dengan dua orang anak , lelaki dan perempuan, drama teater ini sukses menampilkan penokohan yang lugas. Berawal dari tokoh ama Male dengan “wajah daro” namun berhati selembut kapas hingga sosok ina Male yang bijak. Keteguhan hati pasangan ini dalam membesarkan anak-anaknya dengan karakter yang berbeda-beda, anak lelaki berperangai angkuh juga sombong dan anak perempuannya sangat taat telah pula membuat para penonton berurai air mata, sesekali dihiasi tawa juga riuh rendah dan decak kagum.

Setelah pra acara selesai, maka masuklah kami pada acara inti, yaitu uraian hikmah yang menggugah oleh ustadz Arif Julkarnain, yang biasa disapa UJ. Dalam uraian hikmahnya, UJ menyampaikan salah satu hadits Nabi Muhammad SAW; “Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta syaithan-syaithan akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan”.

Safari dakwah “plus-plus” adalah ajang bagi kaum muda yang merupakan civitas akademika STIT Sunan giri Bima untuk mengembangkan diri, bersilaturahim, juga berdakwah. Karena segala kesuksesan selalu terlahir dari ikhtiar, doa juga tawakal. Semoga safari dakwah ini menjadi bukti ikhtiar kami selaku kaum muda civitas akademika STIT Sunan Giri Bima dalam menyongsong kesuksesan.

Penulis : Muhammad Irfan


Peringatan Isra’ Mi’raj sebagai Ajang Penyiapan Kader

Category : Kronik

Pelaksanaan peringatan Isra’ Mi’raj di kampung Melayu dilaksanakan pada hari Minggu, 07 April 2019 dan di Karara diselenggarakan pada hari Selasa, 09 April 2019.

Pelaksanaan kegiatan di kedua tempat tersebut, masing-masing digagas oleh bapak Arif Rahman di musholla kampung Melayu dan oleh bapak Muhammad Irfan di masjid Karara. Kedua kegiatan tersebut berjalan dengan lancar berkat kerjasama yang baik antara pengurus masjid dan musholla dengan jajaran sivitas akademika STIT Sunan Giri Bima. Kegiatan diikuti dengan antusias oleh warga setempat dan rombongan dosen dan mahasiswa STIT Sunan Giri Bima.
Peringatan isra’ mi’raj di kampung Melayu langsung dihandle oleh pengurus mushollah yang kebetulan merupakaan adik kandung dari bapak Arif Rahman, sedangkan di Masjid Karara, acara dipandu oleh mahasiswa STIT Sunan Giri Bima, Afina.

Sebagaimana yang dilakukan di tempat lain sebelumnya, pra acara diisi oleh penampilan grup Sholawat STIT Sunan Giri Bima. Di mushollah kampung Melayu, pembacaan kalam ilahi dipercayakan kepada qari’ kampung setempat, sementara di masjid Karara dilantunkan oleh Julkarnain, mahasiswa PAI semester II.
Di musholla kamapung Melayu, setelah pembacaan kalam ilahi, waktu langsung diserahkan kepada da’i kondang kebanggaan STIT, Uze untuk menyampaikan uraian hikmah isra’ mi’raj. Sementara di masjid Karara, diawali dengan sambutan secara bergilir oleh kepala Kelurahan Monggonao dan ketua STIT Sunan Giri Bima.
Dalam sambutannya, kepala Kelurahan Monggonao menyampaikan banyak terima kasih dan apresiasi yang sungguh luarbiasa atas terselenggaranya kegiatan malam itu karena baru pertama kalinya terjadi kolaborasi warga masyarakat Karara dengan warga kampus dalam mewujudkan event acara Islami di masjid tersebut. Ia mengharapkan agar kerjasama yang sudah mulai terbangun dapat dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya dalam rangka syi’ar Islam.

Sementara ketua STIT Sunan Giri Bima menyampaikan hal yang sama bahwa warga kampus tidak hanya berpangku tangan di menara gading tapi harus juga berkolaborasi dengan masyarakat dalam mewujud salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi yang berbentuk pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan sepeti ini, katanya, sudah dimulai, sedang dan akan dilakukan ke depannya dalam rangka merekatkan warga kampus dengan warga masyarakat dan juga dalam rangka unjuk kebolehan mahasiswa yang berperan sebagai agen of change, agen perubahan dan agen of moral force, agen gerakan moral. Diharapkan dengan kegiatan seperti ini, mahasiswa mendapatkan pengalaman sehingga ketika kembali bermasyarakat nanti selalu siap jika dibutuhkan.

Wallahu a’lam.

Dara Bima, 23 April 2019

Oleh : Syukri Abubakar


Foto Acara

Safari Malam Ke Dusun Tanale O’o Donggo

Category : Kronik

Selepas shalat Maghrib pada hari Senin, 22 April 2019 Rombongan safari Hari Besar Islam STIT Sunan Giri Bima menempuh perjalanan cukup jauh menuju Dusun Tanale Desa O’o Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Sesuai dengan kesepakatan bersama masyarakat tuan rumah, malam itu rombongan STIT Sunan Giri Bima dipercaya untuk mengisi acara peringatan ISra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan malam Nishfu Sya’ban dan menyambut kehadiran bulan Ramadhan 1440 H yang bertempat di desa tersebut. Ini merupakan rangkaian tour yang keenam kalinya yang dilakukan oleh kampus sebagai salah satu cara mensosisalisasikan kampus kepada masyarakat di Kota maupun Kabupaten Bima.

Melihat rangkaian safari hari besar Islam sebelumnya, kali ini merupakan tour terjauh dengan personel terbanyak karena tercatat lebih dari 30 orang mahasiswa dan dosen ikut berpartisipasi memeriahkan acara ini. Selain dua unit mobil, Satu unit mobil bak terbuka terpaksa harus disewa agar seluruh personel bisa terangkut menuju lokasi. Sebuah pemandangan yang sangat langka melihat mobil pickup memuat puluhan mahasiswi yang sudah berdandan cantik berbalut jas almamaternya menempuh perjalanan cukup jauh melintasi jalanan, menyusuri tepi laut, membelah hutan belantara pegunungan di tengah gelapnya malam. Meski diterpa angin laut dan angin gunung khas dataran tinggi untuk ukuran warga Kota Bima suhunya lumayan dingin, itu semua tidak mengurangi semangat mereka memeriahkan kegiatan tersebut.

Setelah perjalanan selama sekitar satu setengah jam, akhirnya rombongan tiba dengan selamat di lokasi. Setelah menunaikan shalat Isya’ di Masjid setempat, rombongan pun langsung menuju tempat perhelatan acara yang ternyata sudah dihadiri beberapa warga. Sambil menunggu datangnya warga, tim ini bekerja sama dengan panitia lokal menyiapkan segala keperluan penampilan dan pelaksanaan acara. Setelah beberapa saat, warga pun mulai datang meramaikan lokasi kegiatan yang dibangun secara swadaya. Meski berbentuk sangat sederhana, namun tidak mengurangi rasa khidmat ketika mengikuti berjalannya rangkaian kegiatan sejak dimulai hingga berakhir.Warga yang hadir lebih didominasi oleh kaum hawa, anak-anak, dan sesepuh karena memang saat ini sebagian besar kaum bapak tengah menjaga kebun atau ladang mereka yang letakknya di lereng pegunungan dari gangguan hewan liar yang selalu merusak tanaman jagung mereka. Ini terpaksa dilakukan agar tidak merugikan mereka ketika panen, karena memang jagung adalah komoditas primer bagi mereka untuk dijual sebagai penyambung hidup sehari-hari.

Sebagai pembuka, kegiatan pra acarapun ditampilkan untuk memancing suasana sekaligus pemanasan. Sebagaimana sebelumnya, seni marawis, drama teater ‘Ama Mida dan Ina Mida”, dan seni tari kontemporer tetap menjadi andalan untuk menghibur para undangan yang hadir. Hal tersebut terbukti dari antusiasme dan respon positif dari warga yang hadir. Mereka tidak dapat menyembunyikan respon emosionalnya ketika menyaksikan adegan demi adegan yang ditampilkan. Gelak tawa, rasa haru dan sedih menjadi sesuatu hal yang silih berganti terdengar dari warga yang hadir. Dan seperti biasa mereka juga tidak bisa menutupi rasa bangganya ketika melihat anak-anaknya, saudara atau keluarganya menjadi pengisi acara. Hal ini memang sudah direncanakan oleh pihak kampus agar semua pengisi acara, mulai dari protokol hingga pembaca doa dipilih dari kalangan mahasiswa, khususnya yang berasal dari Kecamatan Donggo. Tidak lain, agar masyarakat dapat menilai dan menyaksikan sendiri hasil didikan kampus STIT Sunan Giri Bima terhadap mahasiswanya.

Berikutnya pada acara inti, setelah dibuka dan diawali dengan lantunan syahdu kalam Allah SWT oleh salah seorang mahasiswi STIT Sunan Giri Bima, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Yang pertama diawali oleh salah satu tokoh warga setempat yang menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya kepada pihak kampus yang pertama kali melaksanakan kegiatan seperti ini di Desanya. Ia juga memotivasi warga yang hadir agar tidak berhenti berikhtiar untuk melanjutkan pendidikan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya di kampus STIT Sunan Giri Bima. Karenanya ia juga menceritakan pengalaman pribadinya ketika dulu sekolah dan saai ini menyekolahkan anak-anaknya. Kemudian sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ketua STIT Sunan Giri Bima yang juga menyampaikan rasa terimakasihnya atas sambutan meriah warga setempat. Beliau juga menyampaikan bahwa malam itu merupakan ajang unjuk gigi dan pembuktian berbagai program serta janji yang pernah disosialisasikan oleh kampus ketika kunjungan-kunjungan sebelumnya.

Acarapun berlanjut ke acara inti yakni uraian hikmah Isra’ Mi’raj dan Nishfu Sya’ban oleh Da’i andalan STIT Sunan Giri Bima, Ust. Zulkarnain (Uze). Dengan selingan humor segar andalannya, beliau menerangkan berbagai hal fundamental di balik peringatan hari-hari besar islam, pentingnya pendidikan agama dan istiqamah dalam kebaikan, keutamaan menghadiri majelis ilmu, serta urgensi pembinaan akhlaq mulai dari lingkungan keluarga. Warga yang menyimak ceramahnya terlihat begitu antusias dan interaktif ketika mendengar taushiyah Uze ini.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Acara pun ditutup dengan doa yang dipimpin oleh salah seorang mahasiswa. Namun warga yang hadir tetap antusias bahkan meminta penampilan ekstra dari grup marawis sebagai penawar suasana melawan hawa dingin khas pegunungan di lokasi yang tingginya mencapai sekitar 700 m dpl itu. Setelah bersilaturahim sejenak bersama Bapak kepala Dusun setempat yang juga merupakan alumni STIT Sunan Giri Bima, rombongan pun kembali menempuh perjalanan pulang ke kampus tercinta. Rombongan pun sampai dengan selamat di kampus sekitar pukul 00.00 wita tengah malam. Semoga tidak ada anggota rombongan yang masuk angin atau flu akibat terpapar angin gunung, angin laut dan angin malam.

Oleh : Ahmad Syagif


Peringatan Isra’ Mi’raj dan Sosialisasi Kampus di Roka

Category : Kronik

Pelaksanaan peringatan isra’ mi’raj tadi malam dilaksanakan di desa Roka. Terselenggaranya kegiatan tersebut berkat kerjasama dan komunikasi yang intens antara kades  Roka Ihsan, S.Pd., remaja masjid al-Ishlah desa Roka dengan pimpinan lembaga STIT Sunan Giri Bima.

Ide awal tercetus ketika pimpinan STIT Sunan Giri Bima menjalin komunikasi dengan kades Roka mengenai kemungkinan kolaborasi pelaksanaan peringatan isra’ mi’raj yang akan dilaksanakan di Roka. Kades merespon baik ide tersebut sehingga disepakati acara dilaksanakan tanggal 2 April 2019 yang bertepatan dengan malam 27 Rajab 1440 H yang berlokasi di lapangan desa Roka.

Bagi masyarakat desa Roka, acara seperti ini rutin dilaksanakan tiap tahunnya. Namun acara tadi malam terasa beda karena disemarakkan oleh grup marawis desa Roka, tarian anak-anak desa Roka dan MIS Roka serta grup Marawis Mahasiswa STIT Sunan Giri Bima pada pra acaranya.

Kegiatan ini dipandu oleh Abdurrahman atau di kampus biasa disapa Abdur, mahasiswa semester  dua STIT Sunan Giri Bima berasal dari Roka. Abdur dipilih, menurut ketua STIT dalam sambutannya, untuk membuktikan kepada masyarakat Roka bahwa mahasiswa yang belajar di kampus hijau siap tampil kapan pun dibutuhkan. Dan untuk kali ini Abdur sukses menjalankan tugasnya sebagai MC.

Kades Roka Ihsan, S.Pd. menyampaikan terima kasih kepada panitia dan masyarakat Roka yang telah menyukseskan acara walaupun disertai rintikan hujan namun para audiens tidak beranjak dari tempat duduk. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada ketua STIT Sunan Giri Bima beserta rombongan yang telah hadir menyemarakkan kegiatan.

Pada akhir sambutannya, kades Roka menghimbau kepada warga masyarakat Roka “Bila ada yang hendak melanjutkan kuliah, pilihlah kampus STIT Sunan Giri Bima karena kebanyakan warga Roka, sekolah agama mulai dari RA, MTs dan MA dan alangkah baiknya dilanjutkan ke Perguruan Tinggi Agama seperti STIT, apalagi beliau adalah ketuanya dan putra asli desa Roka”. Pungkasnya.

Ustad Jul sebagai penceramah mengingatkan kembali akan hikmah-hikmah dibalik peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw. Salah satunya adalah pemegang pintu surga  adalah Nabi Muhammad Saw. yang diperingati peristiwa isra’ mi’rajnya malam ini. “Jika ingin mendapatkan kunci itu maka mau ndak mau kita harus mencintai baginda Rasulillah Saw.” Ujarnya.

UJ mengibaratkan seperti seseorang yang lagi jatuh cinta kepada pasangannya. Orang yang lagi jatuh cinta, lanjutnya, akan selalu mengingat pasangan yang dicintainya dalam keadaan apapun. Begitulah juga orang yang mencintai Rasulullah Saw. akan selalu mengingat Rasulullah Saw., menyebut namanya, tiap saat dengan selalu membaca shalawatnya. Wallahu  a’lam.

Dara Bima, 3 Maret 2019


Menikmati Ni’u Dori di Kampung Bugis Timur 

Category : Kronik

Jum’at, 05 April 2019 rombongan STIT Sunan Giri Bima berkesempatan mengunjungi wilayah paling timur kabupaten Bima, kampung Bugis Timur Sape dalam rangka melakukan sosialisasi kampus.

Kunjungan ke Bugis Timur ini merupakan kelanjutan dari program TURBA (turun ke bawah) yang diinisiasi oleh panitia Maba ke beberapa kelurahan dan desa di kota dan kabupaten Bima dalam rangka mensyi’arkan agama Islam sekaligus memperkenalkan program-program unggulan yang ditawarkan kampus STIT Sunan Giri Bima kepada masyarakat.

Rombongan diikuti oleh unsur pimpinan, ketua panitia Maba dan beberapa orang mahasiswa yang berasal dari desa Bugis Timur, Guda dan Lambu Pantai Papa. Sesampainya di kampung Bugis Timur, kami disambut dengan terik mentari jelang siang yang agak terik sehingga menyebabkan kerongkongan sedikit kering. Rasa haus tersebut sedikit tertangani dengan Ni’u Dori yang disuguhkan tuan Rumah. Lega rasanya menikmati Ni’u Dori ketika rasa haus menghampiri. Dua gelas Ni’u Dori tidak terasa di kerongkongan malah kepingin menambah lagi.

TURBA kali ini dipusatkan di masjid jami’ kampung Bugis Timur dirangkai dengan khutbah Jum’at yang disampaikan oleh ustad Julkarnain, S.Pd.I. dan Imam oleh ayahanda Ridwan, S.Pd.I. Diawal khutbahnya, UJ tertegun memperhatikan tiga tangga untuk naik mimbar. Menurut UJ, adanya tiga anak tangga ini memiliki sejarah tersendiri. Ia menjelaskan ucapan bilal dan apa yang harus dilakukan oleh Khatib.

Bilal mengucapkan:

مَعَاشِرَالْمُسْلِمِينَ، وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِينَ رَحِمَكُمُ اللهِ، رُوِيَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ، وَاْلإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ (أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا رَحِمَكُمُ اللهِ ٢×) أَنْصِتُوا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ×١

Setelah bilal selesai membaca kalimat di atas, kemudian khatib maju menerima tongkat dan ketika naik ke atas mimbar, bilal membaca doa shalawat di bawah ini:

اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ٢× ، اللَّـٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيبِنَا وَشَفِيعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنْ سَادَتِنَا أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ أَجْمَعِينَ

Kemudian setelah khatib berada di atas mimbar, bilal menghadap kiblat dan membaca doa sebagai berikut:

اللَّـٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اللَّـٰهُمَّ قَوِّ اْلإِسْلاَمَ  وَاْلإِيمَانَ، مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِيْ الدِّينَ رَبِّ اخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ، يَاخَيْرَ النَّاصِرِينَ، بِرَحْمَتِكَ يآأَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Dari bacaan di atas, setidaknya mengandung empat hal. Pertama, anjuran mendengarkan secara seksama khutbahnya khatib. Kedua, larangan berbicara saat khutbah berlangsung. Ketiga, pembacaan shalawat kepada Nabi. Keempat, mendoakan kaum muslimin dan muslimat. Keempat isi kandungan tarqiyyah tersebut merupakan hal yang positif. Wallahu a’lam.

Dara Bima, 10 April 2019


Ada yang Baru di RasaBou

Category : Kronik

Pada hari rabu malam tanggal 3 April 2018 Rombongan Civitas Akademika STIT Sunan Giri Bima kembali melaksanakan Safari Hari Besar Islam, yakni peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw. tahun 1440 H di Kecamatan Asakota. Kegiatan tersebut diselenggarakan atas kerja sama dengan masyarakat Lingkungan Rasabou Kelurahan Jatibaru Timur yang menjadi tempat pelaksanaannya.

Meski sempat ada kekhawatiran batalnya acara ini karena kota Bima diguyur hujan merata sejak siang hingga Magrib, namun berkat kekompakan dan kerjasama panitia pelaksana dan masyarakatnya akhirnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya acara yang dimulai sekitar pukul 20.30 Wita ini dapat terlaksana dengan sangat berkesan dan tidak mengecewakan.

Kegiatan ini terasa sangat istimewa karena cukup banyak penampilan yang ditunjukkan mahasiswa dan mahasiswi dari Kampus Hijau ini. Semua pengisi tiap-tiap acara mulai dari MC, pra acara sampai acara penutup diborong oleh civitas akademika STIT Sunan Giri Bima. Hal ini semakin menunjukkan betapa kampus STIT Sunan Giri Bima mampu menunjukkan bukti konkrit kepada masyarakat bahwa mahasiswanya tidak hanya mampu menunjukkan eksistensinya dalam dunia akademis, namun juga dalam kegiatan kemasyarakatan.

Pra acara diawali dengan penampilan seni Marawis dengan iringan tabuhan rebana dan alunan gambus yang mendayu-dayu berhasil membius ratusan pasang telinga pada acara tersebut. Bahkan pada sesi acara istirahat para penonton masih meminta tambahan satu lagu ekstra karena begitu bagusnya alunan alat musik khas timur tengah yang rancak dipadu dengan lantunan vokalis yang syahdu. Pra acara berikutnya juga adalah penampilan tari kontemporer oleh beberapa mahasiswi STIT Sunan Giri Bima juga turut mendapat perhatian dari para penonton, sehingga tanpa perlu diminta, para penonton pun merekamnya dalam ponselnya masing-masing.

Ada yang spesial dari penyelenggaraan kegiatan tersebut, yaitu penampilan perdana drama teater yang mengundang decak kagum dari semua pasang mata yang menyaksikan adegan demi adegan yang disuguhkan dihadapan ratusan masyarakat yang hadir. Aktor dan aktrisnya tidak lain adalah mahasiswa yang rata-rata belum genap setahun menempuh pendidikan di STIT Sunan Giri Bima.

Drama tersebut menceritakan kegigihan dan kesabaran “Ama Mida” dan “Ina Mida” dalam menyekolahkan kedua putrinya di tengah himpitan ekonomi yang serba kekurangan serta suara-suara sumbang dari orang-orang sekitarnya yang menganggap mereka terlalu memaksakan diri dan tidak berkaca pada keadaannya.

Namun dengan penuh keyakinan dan tawakkal akhirnya perjuangan mereka dibayar manis dengan prestasi kedua putri mereka yang membanggakan kampusnya, lebih-lebih lagi bagi orang tua dan masyarakat sekitar. Karena begitu dalamnya penjiwaan para pemerannya ditambah lagi iringan backsound yang begitumenyentuh, rata-rata penonton tidak bisa menahan cucuran air matanya ketika adegannya sedih dan tidak bisa menahan tawanya ketika adegannya lucu.

Melihat berbagai penampilan yang ada, ketua panitia pelaksana Masnun, SPd.I yang juga alumni STIT Sunan Giri Bima menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya rombongan yang telah hadir dan memeriahkan acara tersebut. Kepala Kelurahan Jatibaru Timur juga dalam sambutannya  tidak lupa  memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap civitas akademika STIT Sunan Giri Bima yang bekerja sama dengan masyarakat sekitar lokasi dalam menyukseskan acara tersebut, karena menurutnya kegiatan seperti ini baru pertama kali ada di Kelurahan yang baru terbentuk dari pemekaran beberapa bulan lalu. Ketua STIT Sunan Giri Bima, Dr. Syukri M.Ag. juga dalam sambutannya menyampaikan berbagai program unggulan kampusnya serta mengajak masyarakat agar menjadikan STIT Sunan Giri Bima sebagai kampus pilihan untuk kelanjutan studi putera dan puterinya.

Selanjutnya dalam acara puncak, seperti biasa Ust. Zulkrnain S.Pd.I atau yang biasa dipangii UZe dengan gayanya yang khas  menggunakan bahasa yang ringan dan diselingi humor-humor segar mampu membius para undangan yang hadir untuk tetap bertahan di tempat duduknya, padahal waktu sudah menunjukkan hampir pukul 23.00 wita. Dalam taushiyahnya, sang ustadz berpesan tentang pentingnya ibadah sholat sebagai aspek penting dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Selain itu hadirin juga diajak untuk lebih mencintai Nabinya dengan banyak bershalawat dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Uze juga menyampaikan pertingnya menjaga ukhuwah di tengah berbagai perbedaan, khususnya menyampun pilkada beberapa hari kedepan. Akhirnya acara mencapai pamungkasnya menjelang tengah malam dengan meninggalkan cerita indah dan pelajaran berharga bagi semua yang hadir. Semoga Allah Swt.  memberkahi setiap langkah kita. Aamiin.

Oleh: Ahmad Syagif

Kota Bima, 4 April 2019


Peringatan Isra’ Mi’raj dan Sosialisasi Kampus di Roka

Category : Kronik

PELAKSANAAN peringatan isra’ mi’raj tadi malam dilaksanakan di desa Roka. Terselenggaranya kegiatan tersebut berkat kerjasama dan komunikasi yang intens antara kades  Roka Ihsan, S.Pd., remaja masjid al-Ishlah desa Roka dengan pimpinan lembaga STIT Sunan Giri Bima.

Ide awal tercetus ketika pimpinan STIT Sunan Giri Bima menjalin komunikasi dengan kades Roka mengenai kemungkinan kolaborasi pelaksanaan peringatan isra’ mi’raj yang akan dilaksanakan di Roka. Kades merespon baik ide tersebut sehingga disepakati acara dilaksanakan tanggal 2 April 2019 yang bertepatan dengan malam 27 Rajab 1440 H yang berlokasi di lapangan desa Roka.

Bagi masyarakat desa Roka, acara seperti ini rutin dilaksanakan tiap tahunnya. Namun acara tadi malam terasa beda karena disemarakkan oleh grup marawis desa Roka, tarian anak-anak desa Roka dan MIS Roka serta grup Marawis Mahasiswa STIT Sunan Giri Bima pada pra acaranya.

Kegiatan ini dipandu oleh Abdurrahman atau di kampus biasa disapa Abdur, mahasiswa semester  dua STIT Sunan Giri Bima berasal dari Roka. Abdur dipilih, menurut ketua STIT dalam sambutannya, untuk membuktikan kepada masyarakat Roka bahwa mahasiswa yang belajar di kampus hijau siap tampil kapan pun dibutuhkan. Dan untuk kali ini Abdur sukses menjalankan tugasnya sebagai MC.

Kades Roka Ihsan, S.Pd. menyampaikan terima kasih kepada panitia dan masyarakat Roka yang telah menyukseskan acara walaupun disertai rintikan hujan namun para audiens tidak beranjak dari tempat duduk. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada ketua STIT Sunan Giri Bima beserta rombongan yang telah hadir menyemarakkan kegiatan.

Pada akhir sambutannya, kades Roka menghimbau kepada warga masyarakat Roka “Bila ada yang hendak melanjutkan kuliah, pilihlah kampus STIT Sunan Giri Bima karena kebanyakan warga Roka, sekolah agama mulai dari RA, MTs dan MA dan alangkah baiknya dilanjutkan ke Perguruan Tinggi Agama seperti STIT, apalagi beliau adalah ketuanya dan putra asli desa Roka”. Pungkasnya.

Ustad Jul sebagai penceramah mengingatkan kembali akan hikmah-hikmah dibalik peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw. Salah satunya adalah pemegang kunci pintu surga  adalah Nabi Muhammad Saw. yang diperingati isra’ mi’rajnya malam ini. “Jika ingin mendapatkan kunci itu, maka mau ndak mau kita harus mencintainya”. Ujarnya.

UJ mengibaratkan seperti seseorang yang lagi jatuh cinta kepada pasangannya. Orang yang lagi jatuh cinta, jelasnya,  dia akan selalu mengingat pasangan yang dicintainya dalam keadaan apapun. Begitulah juga orang yang mencintai Rasulullah Saw. akan selalu mengingat beliau, menyebut namanya tiap saat dengan membacakan shalawat padanya. Wallahu  a’lam.

Dara Bima, 3 Maret 2019


Sosialisasi di Sampungu part 2

Category : Kronik

Untuk menggalang calon Maba yang banyak, panitia penerimaan Maba STIT Sunan Giri Bima tahun akademik 2018/2019 terus menggalakkan sosialisasi kampus di berbagai kelurahan dan desa di wilayah Kota dan Kabupaten Bima dengan melakukan kegiatan sholat jum’at berjama’ah.

Sosialisasi kampus jum’at, 29 Maret 2019 dilaksanakan di dusun Sampungu 1 untuk yang kedua kalinya setelah sosialisasi minggu sebelumnya di Sampungu 3. Sosialisasi dilakukan setelah sholat Jum’at yang dipandu oleh bapak Irwan Supriadin J., M.Sos.I.

Berdasarkan hasil pantauan penulis, jama’ah sangat antusias mendengarkan sosialisasi kampus STIT Sunan Giri Bima sehingga ada seorang jama’ah yang mengajukan usulan agar biaya perkuliahan dapat dibayar pada akhir perkuliahan karena minimnya dana yang dimiliki oleh para orang tua calon Maba.

Mendengar usulan jama’ah tersebut, bapak Irwan Supriadin menjelaskan bahwa hal itu bisa saja dilakukan, namun ia menegaskan bahwa biaya perkuliahan di kampus STIT Sunan Giri Bima sangat murah dan terjangkau “Biaya SPP di kampus STIT sangat murah dan dapat dibayar secara menyicil selama proses perkuliahan dalam satu semester. Biaya tersebut tidak sampai menghabiskan sekali hasil panen jagung bapak-bapak yang jumlahnya puluhan juta”. jelasnya yang disambut ketawa oleh para jama’ah.

Begitu antusiasnya mendengar penjelasan bapak Irwan Supriadin J, banyak orang tua yang tertarik untuk mengkuliahkan putra/putrinya di kampus hijau, karena adanya tawaran asrama gratis, SPP murah bisa dicicil serta program-program unggulan yang menjanjikan masa depan.

Semoga usaha keras panitia Maba tahun ini membuahkan hasil maksimal sesuai dengan target yang telah direncanakan. Aamiin ya rabbal Aalamiin. Wallahu a’lam.

Kota Bima, 31 Maret 2019


Peringatan Isra’ Mi’raj di Dadibou

Category : Kronik

Untuk kedua kalinya, pelaksanaan peringatan isra’ mi’raj dilaksanakan di masjid at-Taqwa desa Dadibou hari Ahad, 24 Maret 2019.  Perlaksanaan isra’ mi’raj ini terwujud berkat kalaborasi antara lembaga STIT Sunan Giri Bima dengan pengurus masjid al-Taqwa desa Dadibou.

Kegiatan ini diikuti oleh rombongan mahasiswa STIT Sunan Giri Bima dan masyarakat desa Dadibou. Kegiatan seperti ini menurut pengurus masjid tetap dilaksanakan setiap tahun. Namun tahun ini terasa istimewa karena diisi oleh penceramah dari kampus STIT Sunan Giri Bima ustad Julkarnain, S.Pd.I. atau biasa disapa UJ.

Pra acara diisi pembacaan shalawat oleh grup SDN Dadibou yang dilanjutkan oleh grup shalawat STIT Sunan Giri Bima. Demikian juga yang menjadi qari’ dan qari’ah perwakilan dari warga Dadibou dan mahasiswa STIT Sunan Giri Bima.

Dalam uraiannya selama satu jam itu, ustad Jul menyampaikan banyak hal, di antaranya; bahwa bukti cinta kita kepada Rasulullah Saw. adalah dengan cara selalu membaca sholawat  kepadanya.  Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. menurutnya memiliki pahala yang banyak pahala, sesuai dengan hadis Nabi Saw.

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat padanya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan.”

Jika seseorang membaca shalawat kepada Nabi Saw di bulan Rajab, maka dia akan mendapatkan tambahan pahala di sisi Allah. Dia akan mendapatkan minuman segar kelak di surga. Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh Syaikh Utsman bin Hasan al-Khaubari dalam kitabnya Durratun Nashihin, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda;

رأيت ليلة المعراج نهرا ماؤه احلى من العسل وابرد من الثلج واطيب من المسك. فقلت لجبريل : لمن هذا؟ قال : لمن صلى عليك في رجب

“Pada malam Mi’raj, saya melihat sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih dingin dibanding salju, lebih wangi dibanding minyak misik. Kemudia aku bertanya kepada Malaikat Jibril, ‘Untuk siapa ini?.’ Jibril menjawab, ‘Untuk orang yang membaca shalawat kepadamu di bulan Rajab.’”

Ustad Jul melanjutkan bahwa sebelum isra’ mi’raj dilakukan, Nabi Muhammad Saw. sedang berbaring di antara pamannya Hamzah dan sepupunya Ja’far bin Abi Thalib di Hijr Ismai’il. Tiba-tiba tiga malaikat, Jibril, Mika’il dan Israfil mendatangi beliau dan dibawanya ke arah sumur zam-zam. Dada Nabi dibedah dan hatinya dikeluarkan dan dicuci dengan air zam-zam, lalu dikembalikan ke tempatnya dan diisi dengan keimanan dan hikmah.

Pembersihan ini dalam rangka menambah kesucian hati Nabi agar lebih mantap dan kuat menjalani perjalanan yang maha dahsyat dan penuh hikmah serta mempersiapkan diri  berjumpa dengan Allah Swt. Oleh karena itu, ketika kita hendak sholat menghadap Allah Swt., di samping tempat dan badan kita yang dibersihkan, hati kita juga harus ikut dibersihkan.

Pelaksanaan peringatan isra mi’raj seperti ini, menurut ustad Jul harus terus digalakkan dalam rangka syi’ar Islam dan saling mengingatkan bahwa dulu Nabi Muhammad Saw. pernah mengalami peristiwa isra’ dan mi’raj menghadap sang Khaliq di Sidratul Muntaha dalam rangka menerima perintah sholat lima waktu.

Ustad Jul juga menjelaskan bahwa ketika menghadap Allah Swt. di Sidratul Muntaha, terjadi dialog antara Allah Swt. dengan Nabi Muhammad Saw. sebagai berikut:

Nabi Muhammad Saw. bersabda:

Attahiyatul Mubaraatush Shalawatut Thoyyibatu Lillah (Semua ucapan penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah)

Kemudian Allah Swt. menjawab:

Assalamu Alaika Ayyuhan Nabiyyu Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh (Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah untukmu wahai Nabi, begitupun rahmat Allah dan segala karunianya).

Nabi Muhammad Saw. menjawab lagi:

Assalamu’alainaa Wa Alaa Ibadillahis Shalihiin (Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kepada kami dan semua hamba Allah yang Shalih).

Melihat dan mendengar peristiwa  tersebut di luar Sidratul Muntaha, Para Malaikat terkagum-kagum, betapa mulianya Rasulullah Saw. maka mereka pun berucap dengan penuh keyakinan:

Asyhadu Alla Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah (Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah).

Demikian dialog yang terjadi antara Allah Swt. dengan Nabi Muhammad Saw. ketika bertemu di Sidratul Muntaha yang kemudian dialog tersebut diabadikan dalam tahiyat awal dan tahiyat akhir dalam sholat sunnah dan sholat fardhu. Wallahu a’alam.

Bima, 30 Maret 2019