Category Archives: Kuliah Tafsir III

Suasana Diskusi Semester VIIb

Category : Kuliah Tafsir III

Syukri Abubakar. Masih terngiang suasana diskusi dua minggu yang lalu Sabtu, 22 Nopember 2014 yang membahas tentang ayat-ayat penegakan hukum. Pemakalah pada saat itu ada empat orang perempuan. Ada yang menyeletuk bahwa salah satu diantara mereka berstatus “Janda Muda� tapi ketika saya lihat wajahnya sepertinya sudah tua. Mungkin umurnya sudah tua tapi cerainya baru saja atau sebutan “janda muda� itu hanya sekedar guyon saja, saya tidak tahu.

Ada yang menarik dalam diskusi kali ini. Kalau saya nilai, inilah diskusi yang paling lucu selama saya mengajar baik di STIT maupun di kampus-kampus lainnya yang pernah saya ajar. Saya sendiri bahkan tidak tahan ketawa ketika mendengar mereka berdiskusi. Apa yang terjadi sehingga diskusi ini seperti layaknya pertunjukan lawak?.

Jadi ketika pertama kali moderator diskusi memperkenalkan anggotanya, terdengar suara lantangnya dengan logat (sentu) yang sangat kental nuansa desanya. Entah beliau berasal dari desa mana, saya sendiri sampai sekarang belum sempat konfirmasi. Yang pasti, setiap beliau bicara, semua peserta diskusi yang mendengarnya langusng geeeerrrrr tertawa terbahak-bahak mendengar gaya bicara bahasa Indonesianya yang kental dengan logat (sentu)nya. Melihat kondisi seperti ini, saya sempat terhanyut beberapa saat, sampai-sampai saya foto secara khusus mereka yang sedang mempresentasikan makalahnya. Ketika saya mengambil gambarnya, mereka juga rupanya tidak tahan ketawa ketiwi. Hehehaiiiy.
Setelah saya mengambil gambar mereka, suasana diskusi masih belum stabil karena terpengaruh dengan model bicara moderator. Sekali aja moderator bicara, semua peserta diskusi langsung tertawa terbahak-bahak.
Melihat suasana diskusi yang kurang kondusif itu, salah seorang audien, kalau ndak salah pak Wahyudin, mengajukan pertanyaan yang maksudnya kurang lebih begini; “Bagaimana pendapat pemakalah tentang pelaksanaan syariat Islam di Indonesia, utamanya mengenai penegakan hukum Islam, mengingat Negara kita ini adalah Negara pancasila bukan Negara Islam�?. Mendengar pertanyaan ini, pemakalah kelihatannya sedikit kebingungan untuk menjawabnya. Maka saya ambil alih menanggapi pertanyaan tersebut.
Saya jelaskan bahwa sebagian syariat Islam sudah dimplementasikan di Negara kita tunjuk misal hukum perdata Islam tentang pernikahan, kewarisan, wasiat, perwakafan, zakat, dan haji.  Sementara hukum pidananya masih menjadi polemik di kalangan pakar hukum dan masyarakat umum. Ada sebagian yang menginginkan dilembagakan seperti perkawinan dan banyak juga yang menentangnya. Karena adanya pro kontra seperti ini, maka sampai sekarang Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Islam (RKUHPI) itu masih belum diajukan pemerintah ke DPR, sehingga praktis hukum pidana Islam tidak berlaku di negara kita.
Pertanyaan lanjutananya adalah jika hukum pidana Islam yang tercantum dalan al-Qur’an dan hadist itu tidak dijalankan oleh pemerintah dan umat Islam, bagaimana konsekwensinya?
Menjawab pertanyaan ini, kita kembali pada bagaimana kita memahami ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan hal tersebut. Dalam QS. Al-Ma’idah ayat; 44, 45, dan 47 bahwa jika umat Islam tidak menjalankan hukum sesuai dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah, maka mereka dicap sebagai kafir, dhalim dan fasik. Dalam sebuah riwayat dijelaskan dari Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas beliau berkata: “Barangsiapa yang mengingkari apa yang telah diturunkan Allah, berarti ia benar-benar kafir. Barangsiapa mengakuinya, tetapi tidak menjalankannya, ia sebagai orang dhalim dan fasik.
Memahami bunyi hadist tersebut di atas, maka kita akan mengetahui posisi kita. Jika kita ingkar terhadap apa yang telah Allah turunkan dalam al-Qur’an, maka kita termasuk orang yang kafir. Bila kita mengakuinya, tapi tidak mampu menjalankannya karena suatu hal, maka kita termasuk orang yang dhalim dan fasik. 
Itulah bebeapa point yang sempat saya sampaikan pada diskusi yang terbilang amat lucu itu sehingga salah seorang audien menyeletuk; “Enak sekali pemakalah hari ini, jawabannya diborong semua sama dosen�. Hehehe huiiii.
Wallahu a’lam
Bima, 8 Desember 2014

Penegakan Hukum

Category : Kuliah Tafsir III


Berkaitan dengan materi penegakan hukum ini, ada beberapa ayat al-Qur’an yang membahasnya. Namun dalam tulisan sederhana ini, akan dibahas tiga ayat saja. diantaranya, yaitu: 

QS. al-Ma’idah/5: 44
Telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.

Asbabun Nuzul 

Abu Hurairah ra. bertutur:Rasulullah saw. yang sedang duduk di tengah-tengah para Sahabatnya didatangi orang-orang Yahudi. Mereka bertanya, “Wahai Abu al-Qasim, apa yang engkau katakan tentang seorang laki-laki dan perempuan yang berzina?� Beliau tidak mengeluarkan sepatah kata pun kepada mereka hingga Beliau sampai di rumah mereka yang menjadi tempat bacaan. Beliau berhenti di depan pintu dan bersabda, “Aku bersumpah atas nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa. Hukuman apa yang kalian temukan dalam Taurat terhadap orang muhshan yang berzina?� Mereka menjawab, “Wajahnya ditandai hitam, diarak di atas khimar, dan dicambuk.� Ada seorang pemuda di antara mereka yang diam. Ketika Rasulullah saw. melihat pemuda itu, Beliau menegaskan kembali penyumpahannya. Pemuda itu pun berkata, “Jika engkau menyumpah kami maka kami menemukannya di Taurat adalah rajam.� Nabi saw. bertanya, “Apa yang mengawali kalian mengurangi perintah Allah itu?� Dia menjawab, “Ada kerabat dari seorang raja yang berzina, lalu raja itu menunda pelaksanaan rajam. Setelah itu, ada seorang laki-laki yang berpengaruh di tengah masyarakat juga berzina. Ketika hendak dirajam, kaumnya mengelak seraya berkata, “Kami tidak akan merajam sahabat kami jika engkau tidak merajam sahabatmu.� Akhirnya di antara mereka pun terjadi kompromi dengan hukuman ini.� Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya aku menghukumi dengan apa yang ada dalam Taurat.� Beliau pun memerintahkan kedua pelaku perzinaan itu dirajam.
Az-Zuhri menyatakan, “Telah sampai kepada kami bahwa QS al-Maidah ayat 44 ini turun untuk mereka. Nabi saw. juga termasuk dari mereka (maksudnya ar-nabiyyûn al-ladzîna aslamû).â€� (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Jarir).

Penjelasan Ayat

Dalam ayat ini, Allah Swt. menjelaskan keutamaan Taurat dengan menyatakan: Innâ anzalnâ at-Tawrah fîhâ hudâ wa nûr (Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat; di dalamnya ada petunjuk dan cahaya).
Menurut al-Jazairi, hudâ adalah sesuatu yang mengantarkan pada maksud; nûr adalah segala sesuatu yang menunjukkan pada sasaran. Dalam konteks ayat ini, al-Jazairi menafsirkannya sebagai petunjuk dari semua kesesatan dan cahaya terang terhadap hukum-hukum, yang mengeluarkan dari gelapnya kebodohan.
Yang dimaksud An-Nabiyyun (para Nabi) sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Ibnu Katsir Jilid 3 hal. 91 bahwa Nabi Muhammad adalah salah seorang dari Nabi-nabi yang dimaksud. Sementara menurut para ulama tafsir yang dimaksud dengan An-Nabiyyun dalam ayat ini, sebagaimana disitir oleh Quraish Shihah, adalah Nabi Muhammad Saw. yaitu Nabi yang menjalankan hukum-hukum Allah Swt. yang telah difirmankan pada Nabi-Nabi sebelumnya. Digunakan lafad jamak, karena dalam bahasa Arab terbiasa kata jamak itu digunakan untuk satu orang dalam rangka mengagungkannya.

Selanjutnya mengomentari potongan ayat;“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir�, Quraish Shihah menjelaskan bahwa potongan ayat ini menunjukkan kecaman yang keras terhadap mereka yang menetapkan hukum yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Tapi bagi Muhammad Sayyid Thanthawi, mufti Mesir dan pemimpin tertinggi al-Azhar, diartikan bagi orang yang melecehkan dan mengingkari hukum Allah Swt. Atho’ berpendapat bahwa kekufuran seorang mukmin bisa diartikan sebagai pengingkaran nikmat. Syaikh Hasanain Makhluf, juga pernah menjabat sebagai Mufti Mesir, menjelaskan bahwa pakar-pakar tafsir berbeda pandangan menyangkut ayat ini dan dua ayat serupa setelahnya. Ayat pertama (44) ditujukan kepada orang-orang muslim, yang kedua (45) ditujukan kepada orang Yahudi, dan ayat ke tiga (47) ditujukan kepada orang-orang nasrani. Selanjutnya ia menyebutkan bahwa sifat kafir, bila disandangkan kepada orang yang beriman, ia dipahami dalam arti kecaman yang amat keras, bukan dalam arti kekufuran yang menjadikan seseorang keluar dari agama. Di sisi lain, jika non-Muslim dinilai fasik atau dzalim, maksudnya adalah pelampuan batas dalam kekufuran. (Tafsir al-Misbah Juz 3 hal. 131).
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas beliau berkata: “Barangsiapa yang mengingkari apa yang telah diturunkan Allah, berarti ia benar-benar kafir. Barangsiapa mengakuinya, tetapi tidak menjalankannya, ia sebagai orang dhalim dan fasik.
Dalam riwayat lain beliau berkata: “Bukan (yang dimaksud) adalah kekufuran yang mereka (KHAWARIJ) inginkan. Sesungguhnya (ayat ini) bukan kekufuran yang mengeluarkan dari agama, (namun) kufrun duna kufrin (kekufuran di bawah kekufuran, yaitu tidak mengeluarkan dari Islam).� (Dikeluarkan oleh Al-Hakim dan berkata: sanadnya shahih, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Terdapat jalan lain, silakan lihat dalam Silsilah Ash-Shahihah karangan Al-’Allamah Al-Albani 6/113-114).
ibnu Mas’ud dan Al Hasan berkata, �Ayat ini umum untuk SETIAP ORANG yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan yaitu yang meyakini (tidak wajibnya) dan menganggap halal (berhukum dengan selain hukum Allah).� [Al jami’ liahkamil qur’an 6/190]
Mujahid berkata, â€�Barang siapa yang meninggalkan berhukum dengan apa yang Allah turunkan karena menolak[‘iinad] kitabullah maka ia kafir, zhalim, fasiq.â€� [Mukhtashor tafsir Al Khozin 1/310]
‘Ikrimah berkata, “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan karena juhud (mengingkari) kepadanya maka ia kafir, dan barang siapa yang menetapkan (kewajiban berhukum dengannya) namun ia tidak berhukum dengannya maka ia zalim fasiq.�
Berkata ‘Aliy bin Abi Thalhah rahimahullah: �Barang siapa yang JUHUD (mengingkari) kepada apa yang Allah turunkan maka ia telah kafir, dan barang siapa yang menetapkan (kewajibannya) namun ia tidak berhukum dengannya maka ia dzalim dan fasiq.�[Dikeluarkan oleh ibnu Jarir dalam tafsirnya 4/333 cet. Dar ibnu Hazm]

Dari beberapa tafsiran yang dijelaskan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:
Pertama : Ia menentang dan mengingkari untuk berhukum dengan apa yang diturunkan Allah. Misalnya, ia tidak menganggap wajibnya berhukum dengan hukum syari’at. Atau ia menilai bahwa hukum-hukum buatan manusia lebih utama (dan lebih baik, Red) daripada hukum syari’at. Atau ia berpandapat bahwa hukum syari’at tidak lagi relevan pada zaman ini. Atau ia berkeyakinan, bahwa hukum syari’at dan hukum-hukum buatan manusia adalah sama derajatnya. Maka, orang ini adalah kafir murtad (keluar dari keislamannya, Red).
Kedua : (Yaitu) jika ia tidak berhukum dengan hukum Allah disebabkan kelemahan, rasa takut, dan hal-hal semisal lainnya yang menghalanginya dari berhukum dengan hukum Allah, sedangkan ia masih berkeyakinan bahwa hukum syari’at adalah yang benar dan tetap relevan pada semua tempat dan zaman. Namun, karena ia terpaksa dan terkalahkan, seperti seorang qadhi (hakim) yang terpaksa mendapat suap, atau seorang qadhi (hakim) yang cenderung mendukung salah satu dari kedua belah pihak, dan akhirnya ia menghukumi dan membela orang yang ia pilih karena hawa nafsunya, maka orang semacam ini tidak kafir dengan kekufuran yang besar (yang mengeluarkannya dari Islam, Red), akan tetapi ini adalah dosa besar.
QS. al-Ma’idah/5: 45 
Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Ma’idah: 45).
Penjelasan Ayat
Ayat ini termasuk cercaan dan celaan terhadap orang-orang yahudi. Bagi mereka seperti yang tertera dalam kitab Taurat bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, sedangkan mereka melanggar ketentuan hukum tersebut secara sengaja dan penuh keingkaran. Mereka menuntut qishash seorang bani Nadhir karena membunuh seorang dari bani Quraidhah, tetapi mereka tidak mengqishash seorang dari bani Quraidhah karena membunuh seorang dari bani Nadhir, mereka mengganti hal itu dengan diat.
Jadi mereka tidak berlaku adil kepada yang didholimi dalam perkara yang telah diperintahkan oleh Allah untuk ditegakkan keadilan dan tidak (memberlakukan) secara sama diantara semua umat manusia. Namun mereka menyalahi dan berbuat dhalim.
Hasan al-Bashri mengatakan bahwa ketentuan hukum tersebut di atas berlaku bagi mereka dan semua umat manusia secara keseluruhan. Demikian yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim.
Ayat di atas juga menginformasikan bahwa diberi peluang bagi korban atau keluarga korban untuk memaafkan pelaku kriminal, karena memaafkan itu suatu hal yang baik. Jika pun tidak dimaafkan, maka hukum qishash harus ditegakkan. Karena hukum qishash ini bertujuan untuk mengobati hati yang teraniaya atau mengobati hati keluarganya, menghalangi adanya balas dendam, dan lain-lain. Jika hal itu tidak dilaksanakan, maka peluang untuk berbuat zhalim akan terbuka lebar. Oleh sebab itu, putuslah perkara sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah swt. yaitu memberi maaf atau melaksanakan qishash.  
Mengomentari potongan ayat : “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim�. Thawus dan ‘Atha’, keduanya mengatakan yaitu kedhaliman yang tidak sampai kepada kekufuran.
QS. al-Ma’idah/5: 47
Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya[419]. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik (membangkang perintah Allah dan keluar dari ketentuan agama).[420]. (QS. Al-Ma’idah: 47).
[419]Pengikut pengikut Injil itu diharuskan memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalam Injil itu, sampai pada masa diturunkan Al Quran.
[420]Orang yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah, ada tiga macam: a. karena benci dan ingkarnya kepada hukum Allah, orang yang semacam ini kafir (surat Al Maa-idah ayat 44). b. karena menurut hawa nafsu dan merugikan orang lain dinamakan zalim (surat Al Maa-idah ayat 45). c. karena Fasik sebagaimana ditunjuk oleh ayat 47 surat ini. (orang-orang yang melanggar batas karena banyak berbuat dosa (pelaku dosa besar dan banyak melakukan dosa kecil)
Penjelasan Ayat
Maksud ayat di atas adalah agar mereka beriman kepada semua yang dikandung dalam Injil dan menjalankan semua apa yang Allah perintahkan kepada mereka. Dan diantara informasi yang terdapat dalam Injil adalah berita gembira akan diutusnya Muhammad sebagai Rasul, serta perintah untuk mengikuti dan membenarkannya jika dia telah diutus.
Mengomentari potongan ayat terakhir: “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.� Yaitu orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Tuhan mereka, dan cenderung kepada kebatilan serta meninggalkan kebenaran. (tafsir Ibnu Kathir jilid 3 hal. 99).

Wallahu a’lam
Bima, 15 Nopember 2014


Tafsiran QS. al-Baqarah ayat 221

Category : Kuliah Tafsir III


221. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

Asbabun Nuzul Ayat 
Mengenai sebab turunnya ayat ini, oleh Al-Wahidi diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sebagai berikut:
“Rasulullah saw. telah mengutus Mursad Al-Ganawi pergi ke Mekah guna menjemput sejumlah kaum muslimin yang masih tertinggal di sana untuk dibawa ke Madinah. Kedatangan Mursad ke Mekah itu terdengar oleh seorang wanita musyrik bernama `Anaq, yaitu teman lama Mursad sejak zaman jahiliah. Dia adalah seorang perempuan yang rupawan. Semenjak Mursad hijrah ke Madinah, mereka belum pernah berjumpa. Oleh sebab itu, setelah ia mendengar kedatangan Mursad ke Mekah, ia segera menemuinya. Setelah bertemu, maka `Anaq mengajak Mursad untuk kembali berkasih-kasihan dan bercumbuan seperti dahulunya. Akan tetapi Mursad menolak dan menjawab: “Islam telah memisahkan antara kita berdua; dan hukum Islam telah melarang kita untuk berbuat sesuatu yang tidak baik.� Mendengar jawaban itu `Anaq berkata: “Masih ada jalan keluar bagi kita, yaitu baiklah kita menikah saja.� Mursad menjawab: “Aku setuju, tetapi aku lebih dahulu akan meminta persetujuan kepada Rasulullah saw.� Setelah kembali ke Madinah, Mursad melaporkan kepada Rasulullah hasil pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, dan di samping itu diceritakannya pula tentang pertemuannya dengan `Anaq dan maksudnya untuk menikahinya. Ia bertanya kepada Rasulullah saw.: “Halalkah bagiku untuk mengawininya, padahal ia masih musyrik?� Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan itu.“

Tafsiran Ayat

Yang dimaksud dengan syirk dalam ayat di atas menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah Juz 1 hal. 577 adalah mempersekutukan sesuatu dengan sesuatu. Dalam pandangan agama, seorang musyrik adalah siapa yang percaya bahwa ada Tuhan bersama Allah atau siapa yang melakukan aktivitas yang bertujuan utama ganda, pertama kepada Allah Swt. dan kedua kepada selain-Nya. Dengan demikian semua orang yang mempersekutukan Allah Swt. dari sudut pandang ini adalah musyrik. Orang-orang Kristen yang percaya tentang Trinitas, kalau mengikuti pandangan tersebut di atas adalah dikategorikan musyrik. Namun demikian, al-Qur’an tidak menamai mereka orang-orang musyrik, tetapi menamai mereka dengan Ahli Kitab. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Baqarah: 105.

“Orang-orang kafir dari ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar”.

Juga firman Allah Swt. dalam QS. Al-Bayyinah: 1 yang berbunyi:

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”.

Dari kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa orang kafir itu ada dua kategori, yaitu: orang-orang Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (penyembah berhala). Orang musyrik secara gamblang ditegaskan keharamannya untuk menikahi mereka. Baik dari pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Sementara ahli kitab, terdapat satu ayat yang membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita-wanita ahli kitab, yaitu dalam QS. Al-Ma’idah (5): 5. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa halal menikahi perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan diantara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian.

Menanggapi ayat ini, lagi-lagi Quraish Shihab berpendapat bahwa ahli kitab itu sudah masuk dalam kategori kafir sebagaimana dijelaskan dalam dua ayat di atas. Jadi sebelum mereka beriman dengan iman Islam, maka keharamannya tetap berlaku. Hal ini sesuai dengan QS. Al-Mumtahanah (60): 10 yang menjelaskan bahwa wanita-wanita muslimah tidak diperkenankan dinikahkan dengan laki-laki ahli Kitab. “ Mereka wanita-wanita muslimah tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.

Lalu alasan utama larangan menikah dengan non-muslim sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas adalah perbedaan iman. Tujuan perkawinan dalam Islam adalah agar mendapatkan kehidupan yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Perkawinan yang mendapatkan ketiga hal tersebut adalah perkawinan yang se iman. Dua iman berbeda yang disatukan dalam satu keluarga, tentu saja memiliki rintangan yang sangat berat. Iman yang kepada Tuhan Yang Esa harus terus dipupuk sampai ke anak cucunya. Jika terdapatp dua keyakinan dalam keluarga, maka yang dikalahkan adalah keyakinan yang lemah diantara keduanya. Jika keyakinan pihak muslim dikalahkan, maka bisa-bisa dia akan diseret masuk mengikuti keyakinanya dan melepas keyakinan Islamnya. Inilah yang dikhawatirkan jika perkawinan itu tetap dilangsungkan.

Disamping itu, ulama juga menjadikan faktor anak yang menjadikan larangan nikah dengan non-muslim. Anak membutuhkan waktu bimbingan yang sangat lama hingga ia berumur remaja. Orangtuanyalah yang membimbingnya sampai umur dewasa. Jika orang tua yang membimbingnya tidak memiliki nilai-nilai ketuhanan yang Esa, maka dapat dipastikan imannya memiliki kekeruhan akibat pendidikan orang tuanya di masa kecil.

Setelah menjelaskan larangan tersebut, Allah Swt. melanjutkan alasan mengapa pernikahan itu dilarang. Secara terang benderang Allah Swt. menegaskan bahwa dilarangnya pernikahan itu karena mereka mereka orang-orang kafir itu mengajak kamu, anak-anakmu, yang lahir dari buah perkawinan ke neraka dengan ucapan, perbuatan dan keteladanan mereka, sedang Allah mengajak kamu dan siapapun menuju amalan-amalan yang dapat mengantar ke surga atas izinnya.

Wallahu a’lam

Bima, 04 Nopember 2014