Category Archives: Sejarah Tanah Bima

Uma Lengge Panda

Category : Sejarah Tanah Bima

Salah satu bentuk rumah yang dimiliki oleh masyarakat Bima zaman dulu adalah Uma Lengge. Uma Lengge ini, saat ini dapat ditemukan di tiga kecamatan di Wilayah kabupaten Bima, yaitu di desa Maria Kecamatan Wawo, desa Sambori Kecamatan Lambitu dan Dusun Mbawa Desa Mbawa Kecamatan Donggo.

Di Desa Maria, masih ditemukan banyak Uma Lengge termasuk Jompa (tempat penyimpanan padi) yang berlokasi di satu tempat dalam kondisi baik. Sementara di Desa Sambori dan Dusun Mbawa masing-masing tersisa satu Uma Lengge.

Salah seorang warga Sambori ketika dimintai pandangannya tentang Uma Lengge mengatakan bahwa masyarakat Sambori mengikuti perkembangan zaman dalam hal bentuk rumah Uma Lengge diganti dengan bentuk yang baru sebagaimana yang umum ada di daerah Bima.

Untuk melestarikan dan memoderasi bentuk Uma Lengge tersebut, pemerintah kabupaten membangun beberapa Uma Lengge permanen secara berjejer di Taman Panda Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima.

Saat ini, Uma Lengge tersebut menjadi ikon baru obyek wisata budaya yang sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat, lebih-lebih hari Sabtu dan Minggu. Banyak motor dan mobil yang parkir di pinggi jalan. Mereka ada yang datang dari kota Bima, kabupaten Bima, kabupaten Dompu, kabupaten Sumbawa bahkan masyarakat pulau Lombok yang sedang berkunjung di Bima.

Mereka menggunakan kesempatan untuk melakukan foto selvi bersama keluarga di hadapan Uma Lengge dan duduk-duduk santai di atasnya untuk sekedar menghilangkan penat sambil menikmati pemandangan laut dan pemandangan pegunungan Donggo dan Soromandi yang menjulang di arah barat.

Mudah-mudahan ikon baru Uma Lengge Taman Panda ini dapat dirawat dengan baik oleh pemerintah, lebih-lebih oleh warga masyarakat sehingga terlihat bersih, rapi, nyaman dan aman sehingga dapat bertahan lama. Wallahu a’lam.

Bima, 30 Maret 2019


Pelaksanaan Bimtek Aksara Bima 2018; Suppa Senna Menjadi Minuman Favorit Peserta

Bimtek Aksara Bima sejatinya telah dirancang oleh dinas dikpora kota Bima sejak beberapa bulan silam. Pada awalnya direncanakan pada akhir Juli, namun karena kendala anggaran yang belum cair dan penyesuaian kesiapan waktu nara sumber, menjadikan kegiatan ini diundur sampai pertengahan September 2018.

Kegiatan ini berlangsung selama lima hari sejak tanggal 17 s/d 21 September 2018 bertempat di gedung Seni dan Budaya Kota Bima. Pada awalnya sesuai dengan surat undangan, kegiatan ini bertempat di Aula SMPN 6 kota Bima, namun karena satu dan lain hal, dialihkan di gedung Seni dan Budaya kota Bima. Pada hari ke empat dan ke lima pun dipindahkan ke gedung SKB kota Bima karena berbenturan dengan kegiatan lain.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 orang guru dari berbagai Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di kota Bima. Mereka terdiri dari guru Mulok, bahasa Indonesia dan Sejarah. Ketiga guru mapel tersebut dipilih karena berdekatan materi pembahasannya dengan Aksara Bima dari segi sejarah, bahasa dan implementasinya dalam proses belajar mengajar. Rencananya, Aksara Bima ini akan dimasukkan dalam mapel Mulok.

Pada hari pertama, saya sengaja hadir lebih awal dari jadwal untuk melihat suasana gedung pelaksanaan Bimtek, karena gedung ini adalah gedung baru yang belum ditetapkan secara resmi penggunaannya. Salah seorang pegawai dinas dikpora kota berujar, “Akan segera diresmikan menunggu pelantikan wali kota baru”. Gedung ini nampak cukup mewah menurut ukuran kota Bima, karena memiliki ruangan yang berkapasitas besar, full AC, membuat suasana ruangan menjadi adem dan nyaman.

Peserta berdatangan satu persatu memasuki gedung dengan wajah mereka yang sumringah, sambil menduga-duga kira-kira materi Aksara Bima seperti apa yang hendak disampaikan oleh nara sumber karena di SD-SD sudah diajarkan Aksara Bima, kalau memang ada perbedaan, bagaimana bentuknya, terus bagaimana status aksara Bima yang telah diajarkan itu, apakah distop pembelajaran diganti dengan aksara Bima yang baru ini atau berjalan sama-sama, terus suasana Bimtek ini akan berlangsung seperti apa, monoton, membosankan atau bagaimana, dan banyak lagi bentuk pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran peserta yang hanya peserta sendiri yang tau.

Hari pertama terdapat sedikit kendala sound system yang membuat peserta tidak nyaman, suaranya memantul ke segala arah sehingga suara nara sumber terdengar samar-samar. Begitu juga alat bantu LCD tidak terlalu terang sehingga tulisan nampak buram. Walaupun suasana demikian adanya, tidak membuat peserta terganggu, mereka cukup antusias mengikuti kegiatan karena menurut mereka, ternyata Aksara Bima ini adalah pengetahuan baru yang berbeda dengan Aksara yang selama ini diajarkan. Oleh karenanya sangat perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh sesi per sesi. Salah seorang peserta berkata; “Kegiatan Bimtek aksara Bima ini sangat langka, jangan sampai saya ketinggalan tiap sesinya karena materi antara satu sesi dengan sesi berikutnya saling terkait”.

Di samping pengetahuan langka, ke dua nara sumber menyampaikannya dengan cukup santai disertai guyon-guyon kecil, tidak terkesan menggurui, menguraikan apa adanya sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang dialami selama menggeluti aksara Bima. Saya sendiri fokus menyampaikan semua informasi yang terkait dengan aksara Bima mulai dari awal perkenalan dengan aksara Bima hingga terupdate saat ini.

Nara sumber lain Munawar Sulaiman, menyampaikan juga pengalamannya ketika belajar membaca aksara Bima dan aksara Melayu yang terdapat dalam naskah-naskah warisan kesultanan Bima, naskah yang disimpan rapi oleh INA KAU MARI di Samparaja, hingga ia menemukan naskah pengobatan dan do’a. Atas dasar naskah inilah, minuman herbal Suppa Senna Sang Raja mulai diracik dan dikembangkan sehingga menjadi minuman idola masyarakat Bima saat ini.

Suppa Senna merupakan minuman favorit peserta karena sang Suhu memberikannya secara Cuma-Cuma alias gratis. Banyak peserta yang merasa penasaran dengan minuman kesehatan “Suppa Senna” ini sehingga mereka perlu mencicipi untuk mengetahui secara langsung bagaimana khasiatnya dalam tubuh. Setelah mereka meminumnya, apa yang terjadi???. “Aromanya khas dan badan langsung berkeringat”. Seru salah seorang peserta. “Suppa Senna Joss Mantap”, sambut yang lain. Bahkan salah seorang panitia memberikan testimoni dihadapan peserta mengenai keampuhan khasiat minuman khas Bima yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, khususnya yang diderita oleh sang suami.

Suhu Munawar juga menyampaikan bahwa kesultanan Bima itu kaya akan rahasia-rahasia yang hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Rahasia-rahasia itu ditulis dengan aksara Bima dan aksara Arab Melayu. Bahkan Ina Kau Mari, ketika itu, melarang keras kami yang berniat untuk menerbitkan naskah-naskah do’a itu. “Namanya rahasia, tidak boleh diketahui oleh orang banyak, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh mengetahuinya”. Begitu kira-kira yang hendak disampaikan oleh beliau. Namun demikian, ada satu, dua naskah do’a yang sudah diijinkan untuk dipelajari dan diajarkan seperti do’a agar dijauhkan dari dou mpanga, dijauhkan dari mimi dan mudu. Penjelasan dari do’a tersebut ditulis menggunakan aksara Bima dan bisa diakses di grup FB Tanao Aksara Mbojo Bima.

Sang peracik Suppa Senna Suhu Munawar, juga bercerita bahwa ada orang Bandung yang kebetulan datang ke Bima menjadi nara sumber pada salah satu acara pelatihan di Bima, mengeluhkan suatu penyakit dalam tubuhnya. Salah seorang peserta pelatihan membawanya ke rumah Suhu Munawar dan diberikan minuman Suppa Senna. Alhamdulillah, orang tersebut berangsur sembuh.

Selanjutnya, pada hari keempat, ketika pelaksanaan Bimtek dipindahkan ke gedung SKB, ada kejadian menarik yang menimpa Suhu Munawar sang peracik Suppa Senna. Ketika meluncur dari rumah menuju gedung SKB, ia dalam keadaan super fit. Namun entah kenapa, memasuki Aula SKB ia merasa kedinginan sampai menggigil. Ia menduga, ada aura negatif di dalam gedung tersebut. Oleh karenanya ia meminta air minum yang dido’akan untuk kesembuhan. Karena berdasarkan hasil penelitian orang Jepang, katanya, bahwa air itu bisa diajak bicara dan bekerja sesuai dengan apa yang kita minta dalam do’a. Setelah meminum air do’a tersebut, seketika ia fit kembali. Luar biasa. Ia meyakinkan dirinya dan peserta bahwa air itu dapat bekerja sesuai dengan keinginan dan keyakinan kita untuk kesembuhan suatu penyakit, sehingga tidak heran banyak orang yang meminta do’a kesembuhan lewat perantaraan air.

Terakhir, Kegiatan Bimtek Aksara Bima ini merupakan salah satu langkah cerdas yang dilakukan oleh pemerintah kota cq. Dinas Dikpora Kota Bima dalam rangka melestarikan dan mengembangkan Aksara Bima agar dikenal luas oleh masyarakat Bima pada khsusnya dan masyarakat budaya pada umumnya dimana pun mereka berada. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti sampai disini, namun akan ada kegiatan-kegiatan lain yang akan menyusul baik dilakukan oleh lembaga-lembaga formal pemerintah maupun lembaga non formal.

Dan yang paling penting, menurut salah seorang peserta dalam catatan pesannya, paling tidak kegiatan Bimtek Aksara Bima ini telah memberi manfaat dalam tiga hal yaitu, 1) pengetahuan baru tentang Aksara Bima, 2) mendapatkan minuman kesehatan gratis, minuman “SUPPA SENNA” sang Raja, 3) Mendapatkan pengetahuan tentang do’a-do’a yang terdapat dalam naskah-naskah kesultanan. Wallahu a’lam.

Kota Bima, 28 September 2018


Kesultanan Bima: Masa pra Islam sampai Awal kemerdekaan (2)

Bima Lebih Tua dari Dompu

Masyarakat Bima pra-Islam, sudah mengenal system kepemimpinan yang mengepalai beberapa wilayah. Kepala-kepala suku ini disebut dengan Ncuhi. Nama-nama Ncuhi diberikan berdasarkan nama gunung atau lembah dimana mereka berkuasa. Wilayah tengah dipimpin oleh Ncuhi Dara, wilayah timur dipegang oleh Ncuhi Dorowuni, wilayah utara oleh Ncuhi Banggapupa, wilayah selatan oleh Ncuhi parewa, wilayah barat oleh Ncuhi Bolo. Mereka hidup berdampingan secara damai, jika muncul suatu persoalan terkait kepentingan bersama, mereka berkumpu untuk musyawarah. hal. 20.

Ahmad Amin berpendapat bahwa kira-kira tahun 1575 datanglah seorang dari Jawa dan oleh kelima Ncuhi sepakat mengangkat pendatang itu menjadi raja Bima dengan gelar Sangaji. Dari penjelasan tersebut, ada kemungkinan pada awalnya kerajaan Bima berbentuk federasi dan proses terbentuknya sama dengan proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Bouman berpendapat bahwa para Ncuhi tersebut adalah tuan-tuan tanah yang berkuasa di wilayahnya masing-masing, kemudian mereka dipersatukan oleh maharaja sang Bima menjadi satu kerajaan yang bercorak kehinduan.

Yang menjadi pertanyaan adalah siapa sebenarnya sang Bima tersebut, apakah ia tokoh sejarah atau hanya tokoh mitologis atau legenda. Untuk menjawab ini tentu membutuhkan data yang kuat untuk mendukungnya. BO Sangajikai sendiri menjelaskan bahwa sang Bima adalah seorang bangsawan Jawa yang berhasil mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil sehingga menjadi kerajaan Bima. Diceritakan bahwa sang Bima memiliki seorang kekasih seekor naga di pulau Satonda, ketika sang Bima memandang naga tersebut, maka ia hamil dan melahirkan seorang perempuan nan cantik yang diberi nama Sari Tasik Naga. Sang Bima lalu mengawini putrinya sendiri yang kelak melahirkan dua orang putra yang bernama Indra Jamrut dan Indra Komala yang kelak menjadi cikal bakal yang menurunkan raja-raja Bima dan Dompu. Cerita semacam ini menjadi pegangan masyarakat Bima bahwa sang Bima adalah tokoh sejarah yang datang dari Jawa kemudian kawin dengan wanita Bima yang menjadi cikal bakal raja-raja Bima.

Hal serupa disampaikan oleh Helius Sjamsuddin, sejarahwan Dompu bahwa sang Bima bukanlah tokoh dalam Mahabarata, ia mewakili tokoh sejarah yang sebenarnya yang datang dari Jawa (seorang aristokrat atau anggota elit tradisional) yang datang ke pulau Sumbawa, kemudian mempersatukan kelompok-kelompok sederhana yang dipimpin oleh Ncuhi-ncuhi atau dalu-dalu dan oleh Ncuhi-ncuhi yang diwakili oleh Ncuhi Dara, menganggkat Sang Bima sebagai Sangaji. Sang Bima menikah dengan wanita setempat dan mempunyai keturunan yang melahirkan Indra Jamrut dan Indra Komala.

Terlepas dari perdebatan apakah sang Bima tokoh legendaris atau tokoh sejarah bahwa cerita sang Bima dapat dipandang sebagai sarana legitimasi bahwa nenek moyang raja-raja Bima berasal dari Jawa yang menganut agama Hindu-Jawa. Kesimpulan demikian didukung oleh sumber tertulis dan data arkeologis. Namun yang menjadi pertanyaan adalah sejak kapan pengaruh hindu itu muncul? Apakah kerajaan Bima yang didirikan oleh sang Bima merupakan kerajaan berdaulat atau sebuah kerajaan vazal (taklukan) dari kerajaan Hindu-Jawa belum dapat dipastikan meskipun data tertulis dan bukti arkeologis memberikan indikasi adanya hubungan Bima dengan Jawa. hal. 23.

Berdasarkan naskah Jawa Kuno seperti Negarakertagama, Pararaton, Kidung Pamancangah, Roman Ranggalawe, dan Serat Kanda menyebutkan sejumlah nama tempat di pulau Sumbawa yang berada dibawah pengaruh kerajaan Majapahit. Misalnya dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca pada tahun 1365, pupuh 14: 3 berbunyi:

“sawetan ikanang tanah Jawa muwah ya warnnanen ri bali makamukya tan badahulu mwan i lwagajah gurun makamukha sukun ri taliwang ri dompu sape ri sanghayang api bhima ceram I hutan kadaly apupul”

Kutipan tersebut menyebut beberapa nama seperti Taliwang, Dompu, Sape, Sangyang Api, dan Bhima. Dalam pupuh 72: 3 kitab Negarakertagama disebutkan serangan Majapahit atas Dompo pada tahun 1357 dibawah pimpinan Senapati Nala. Peristiwa ini disebutkan juga dalam Pararaton.Van Narsen berasumsi bahwa peristiwa tersebut merupakan masa awal zaman Hindu di pulau Sumbawa. hal. 25.

Bukti lain adalah sebilah keris pusaka (sampari) pemberian Indra Jamrut untuk Ncuhi Dara sebagai tanda pengakuan kepada Ncuhi Dara sebagai bapaknya, yang diwariskan secara turun temurun oleh keturunan Ncuhi Dara (Jufrin irwan) di kelurahan Dara, memberikan informasi bahwa pada hulunya terdapat gambar sang Bima dalam posisi duduk. Menurut Tawalinuddin Haris, keris-keris dengan bilah (wilahan) yang dibuat menyatu dengan hulu kerisnya dikenal sebagai keris khas Majapahit. hal. 26.

Selain bukti-bukti di atas, adanya hubungan Bima dengan Jawa yang bernuansa Hindu dan Budha, diperkuat juga dengan beberapa penemuan benda-benda arkeologi di Bima. 1) di Desa Tato (patung) pernah ditemukan arca Trimurthi atau Mahesamurti dan arca Syiwamahakala pada masa sultan Abdullah. kedua arca tersebut, keberadaannya saat ini tidak diketahui. Tapi menurut Van Naerseen, kedua arca tersebut di bawa ke Koninklijk Bataviaasch Genootschap pada masa Holtz menjawab sebagai civil-gezaghebber di Bima pada tahun 1858. 2) di Sila ditemukan Lingga yang dipergunakan sebagai nisan kubur di halaman Masjid. 3) Situs Wadu Tunti di kampung Padende, desa Doro kecamatan Donggo. Batu tunti tersebut dilaporkan pada tahun 1910 dan baru dapat dibaca pada tahun 1994 oleh MM. Soekarto Kartoatmojo yang berbahasa Jawa Kuno. Didalamnya terdapat nama seorang tokoh (mungkin raja) yakni sang Aji Sapalu yang bertahta di negeri Sapalu. Menurut NY. Krom, secara paleografis, inskripsi itu diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1350 sampai 1400 Masehi. 4) Wadu Pa’a yang terletak di tepi pantai teluk Bima. Terdapat beberapa artefak arkeologi yang berlatarbelakang agama Hindu (Lingga, Ganesa, dan Agastya) yang berdampingan dengan artefak yang bernafaskan agama Budha seperti stupa dan arca Budha. Menurut Prof. Buchari secara paleografis inskripsi itu diperkirakan dari abad ke-6 atau ke-7 Masehi.

Disamping sumber tertulis dan bukti arkeologis yang dipaparkan di atas, pengaruh Jawa Hindu di Bima mendapat dukungan dari data toponim. Nama Bima sendiri adalah kata impor dari bahasa Jawa Kuno “Bhima” nama seorang pahlawan besar dalam epos Mahabarata. Selain itu, ada sejumlah toponim atau nama di Bima yang mengindikasikan pengaruh Hindu misalnya Bumi candi, bata candi, sila dan mahameru. Bata candi adalah nama istana Batara Mitra Indra Rata, Sila nama kota kecamatan, Mahameru adalah nama gunung di Wera.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masa awal perkembangan budaya Hindu di Bima sekitar abad ke-8 atau ke-9. Kesimpulan ini menggugurkan pendapat Rouffaer yang menyatakan bahwa “Dompu lebih tua dari Bima” berdasarkan perpindahan orang-orang Jawa pertama kali ke pulau Sumbawa pada abad ke-13. Namun dengan keberadaan tinggalan arkeologis Wadu Pa’a yang diperkirakan dipahat pada abad ke-8 atau ke-9 menunjukkan bahwa “Bimalah yang lebih tua dari Dompu”.

Dalam BO juga dijelaskan bahwa hubungan Jawa-Bima telah berkembang sejak abad ke-10 pada masa raja Batara Mitra yang pergi ke Jawa kemudian kawin dan mendapatkan anak yang bernama Manggampo Jawa. Hubungan baik ini kemudian berlanjut pada masa Majapahit, masa Islam dan masa kolonial. Wallahu a’lam.

Dara-Bima, 30 Mei 2018


Kesultanan Bima: Masa pra Islam sampai Awal kemerdekaan (1)

Buku ini merupakan hasil penelitian gabungan antara Tim kemenag Pusat dengan tim lokal Bima yang terdiri dari 5 orang. Dua orang tim pusat, bapak Tawalinudin Haris dan ibu Retno Kartini. Tiga orang lokal Bima, Dewi Ratna Muchlisah, saya sendiri dan Munawar Iwan.

Terwujudnya penelitian ini bermula ketika tim Puslitbang Lektur Kemenag RI menawarkan program penulisan sejarah kerajaan dan kesultanan lokal nusantara. Dari tahun 2009-2013 telah dikaji dan ditulis 15 sejarah kerajaan dan kesultanan lokal. Pada tahun 2015, Bima dipilih sebagai lokus penelitian karena Bima dianggap sebagai daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan pernah menjadi kesultanan Islam. Maka hal ini menarik ditelusur lebih lanjut untuk mengungkap bagaimana sejarah keberlangsunganya. Penelitian berlangsung selama periode tahun 2015 dan hasilnya baru bisa terbit tahun 2017.

Secara umum, buku ini membahasa lima hal, Bima sebelum Islam, Bima sebagai pusat penyebaran Islam, Bima sebagai pusat kekuasaan, dan terakhir kesultanan Bima dan masa Kolonial. Dalam penyusunannya, tim membagi tugas, beberapa bagian bab disusun oleh tim Kemenag pusat dan beberapa bagian bab lainnya disusun oleh tim lokal Bima.

Menurut penulis, Bima pra Islam belum bisa dijelajah atau digambarkan secara detail karena minimnya data sebagai sumber rujukan. Data tentang Bima mulai ada ketika Belanda menjamah Bima pada abad ke-17. Namun demikian, terdapat beberapa peninggalan arkeologis pra sejarah maupun data etnografis yang bisa dijadikan sandaran untuk menggambarkan Bima pada masa pra Islam.

Di pantai Wera, terdapat gua yang diperkirakan ditempati oleh manusia pra sejarah, sayang belum dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan jejak-jejak kehidupan manusia di gua itu. Mudah-mudahan suatu saat ini, ada ahli arkeologi yang dapat mengungkap jejak kehidupan di gua tersebut.

Di desa Mbawa Donggo, terdapat peninggalan pra sejarah berupa menhir (batu yang ditata berbentuk tugu dan berdiri tegak), beberapa buah lesung batu di Rora. Menhir memberi gambaran kehidupan masa bercocok tanam dan budaya neolitik. Lesung batu mengisyaratkan budaya megalitik dari masa bercocok tanam atau masa perundagian. Pada masa itu, manusia diperkirakan sudah menetap pada satu perkampungan di bawah seorang pemimpin. Pada masa itu juga, manusia sudah mengenal cara penguburan jenazah baik dengan wadah maupun tidak. Penguburan tanpa wadah ditemukan di Kalepe dan dengan wadah ditemukan di doro Rompu, doro Sakerah, dan Wadu Nocu pada tahun 1983. (hal. 15-16).

Zollinger pernah mengunjungi Donggo pada tahun 1847 sebagaimana yang ditulis dalam artikelnya “A Visit to the Mountainers Do Dongo in The Country of Bima”. Ia menyebut Dou Donggo dengan Do Dongo yang artinya orang pegunungan. Yang menarik dari laporan perjalanan Zollinger tersebut adalah mengenai tata cara penguburan orang Donggo. Mereka menguburkan jenazah dalam lubang dalam posisi berdiri disertai dengan pakaian lengkap seperti cincin, gelang, kalung, bokor, dan tutup kepala. Kuburan ini kemudian ditutup dengan plat batu. Penguburan seperti ini sama persis dengan penguburan tanpa wadah yang ditemukan di Kalepe.

Di desa Padende terdapat juga kuburan yang konon ditengarai sebagai kuburan Gajah Mada. Kuburan itu digali dengan kedalaman setinggi orang dewasa, dan di atasnya ditutup dengan batu plat yang rata dengan tanah, ini mirip dengan gambaran yang dijelaskan oleh Zollinger di atas. Ada juga cara lain penguburan orang Donggo dengan memasukkan mayat ke dalam batang pohon lontar. (hal. 20).

Di pulau Sangeang Api juga pernah ditemukan 5 buah nekara makalamau perunggu yang besar dan indah karena kaya dengan ornamen. Menurut para ahli, nekara ini termasuk nekara yang paling bagus ditemukan di Indonesia. Nekara makalamau ini menurut Van Heekeren kalau dilihat dari lukisan yang nampak, mengingatkan pada relief Tionghoa dari zaman Han. Bernet Kempers menghubungkan asal usul nekara itu dengan Indo-China bagian utara. Jika asumsi itu dapat dibenarkan, maka dapat disimpulkan bahwa pada masa itu, dou Mbojo sudah mengadakan hubungan dagang dengan orang luar wilayah di Asia Tenggara dan nekara tersebut adalah komoditi yang diperdagangkan. (hal. 17).

Di samping data peninggalan arkeologis pra sejarah dan data etnografis di atas, terdapat juga data teks yang terkenal dengan BO yang memuat cerita asal muasal kerajaan Bima. Banyak hal yang diurai dalam BO yang terkait dengan kerajaan dan kesultanan Bima masa lampau. Ada beberapa kajian yang telah mengungkap hal ini baik ditulis oleh sejarawan luar seperti Tome Pires, H. Zollinger, Raffles, J. Noordyn, Bram Morris, Henri Chamber Loir, dan lain-lain, maupun sejarawan lokal Bima sendiri seperti Ahmad Amin, Abdullah Tayeb, Hilir Ismail, Maryam R. Salahuddin, Alan Malingi dan masih banyak lagi penulis-penulis sejarah Bima lain yang cukup produktif. Kita dapat merujuk pada karya mereka untuk memperkaya khazanah tentang sejarah Bima.Wallahu a’lam

Bersambung

Dara Bima, 28 Mei 2018


Mengkritisi Awal Masuk Islam di Bima

Category : Sejarah Tanah Bima

Saya kemarin sempat berbincang-bincang via inbox dengan budayawan Bima bang Alan Malingi mengenai masuknya Islam di Bima. Tidak puas dengan bincang singkat itu, beliau mengajak saya untuk mendiskusikan sejarah masuknya Islam di Bima nanti pada tanggal 11 Juni 2017 di Mushollah Kuno Kampung Melayu. Saya pun menyambut dengan senang ajakan beliau tersebut agar terkuak kapan,bagaimana dan siapa sebenarnya yang pertama kali menyebarkan ajaran Islam di Bima.


Dari sahutan singkat itu, saya tergerak membuka kembali apa yang pernah saya tulis bersama INA KAU MARI dan saudara Munawar mengenai masuknya Islam di Bima. Paling tidak, ada dua tulisan tentang ini. Pertama, yang tertuang dalam salah satu Bab buku “Aksara Bima; Peradaban Lokal yang Sempat Hilang� dan dalam salah satu bagian buku yang rencananya akan diterbitkan oleh Kemenag RI dengan anak judul “Kehadiran Islam dan Penyebarannya di Bima�.

Informasi yang saya terima dari INA KAU MARI (informasi BO) dan hasil penelusuran beberapa dokumen lainnya memberikan catatan yang beragam mengenai masuk dan berkembangnya Islam di Bima.

Pertama; Informasi versi BO

Menurut INA KAU MARI, sebagaimana yang ditulis dalam BO Sangajikai bahwa Islam masuk ke Bima pada tahun 1018 H/1609 M.
“Hijratun Nabi Saw. seribu sepuluh delapan tahun ketika itulah masuk Islam di Tanah Bima oleh Datuk di Banda dan Datuk di Tiro tatkala zamannya Sultan Abdul Kahir�.

Terkait dengan kedatangan dua tokoh ini, kronik Bima menyebutkan dua angka tahun, 1018 H/1609 M dan 1050 H/1640 M. Dalam hal ini, menurut Rauffaer sebagaimana dirujuk oleh Talaluddin haris bahwa Datuk Dibandang (Datuk ri Bandang) datang ke Sulawesi Selatan sekitar tahun 1600 M, kemudian mengislamkan Goa dan Tallo pada tahun 1606 M. Sedangkan Datuk Ditiro (Datuk ri Tiro) berasal dari Aceh. Keduanya datang ke Bima melalui Sape (labuan Sape) di pantai timur, dari Sape kemudian melanjutkan perjalanan ke Sila untuk menyebarkan agama Islam. Dari kedua penjelasan di atas, bisa jadi kedua Datuk tersebut datang ke Bima dalam waktu dua tahap. 

Tawaluddin juga menemukan dalam Kronik Bima bahwa Abdul Kahir, Sultan Bima I memeluk Islam pada tanggal 15 Rabi’ul Awal 1030 H bertepatan dengan tanggal 7 Februari 1621 M, tak lama setelah raja Goa mengirimkan ekspedisi militernya yang kedua pada tahun 1619 M.
Hal ini sama dengan informasi yang disampaikan oleh bang Alan Malingi, budayawan Bima bahwa pada tanggal 15 Rabiul Awal 1030 H bertepatan dengan tanggal 7 Pebruari 1621 M, Putera Mahkota La Ka’i bersama pengikutnya mengucapkan dua kalimat syahadat dihadapan para mubaliq sebagai gurunya di Sape. Sejak itu, putera mahkota La Ka’i berganti nama menjadi Abdul Kahir. Pengikut La Ka’i Bumi Jara Mbojo bernganti nama menjadi Awaluddin, Manuru Bata putera Raja Dompu Ma Wa’a Tonggo Dese berganti nama menjadi Sirajuddin. 

Sementara menurut catatan M. Fachrir Rahman (2011), berdasarkan BO Tanah Bima, bahwa salah satu catatan yang menunjukkan Islam pertama kali masuk ke Bima adalah:
“Hijratun Nabi Saw. Sanat 1028, 11 hari bulan Jumadil Awwal telah datang di Labuhan Sape saudara Daeng Malaba di Bugis, Luwu dan Tallo, dan Bone untuk berdagang. Kemudian pada malam hari datang menghadap Ruma Bumi Jara yang memegang Sape untuk menyampaikan ci’lo dan kain Bugis juga suratnya saudara sepupu Ruma Bumi Jara di Bone bernama Daeng Malaba. Adapun surat itu menghabarkan bahwa orang-orang itu adalah berdagang ci’lo dan kain dan keris serta membawa ajaran Islam�.

Dari catatan BO tanah Bima di atas dapat diketahui bahwa ajaran Islam mulai dikenalkan di Sape pada 11 Jumadil Awal 1028 H/1618 M.

Dari beberapa perbedaan naskah BO terkait awal mula masuknya Islam yang ditampilkan di atas, 1609 M, 1618 M, 1621 M, dan 1650 M, kita dapat menduga-duga barangkali muballig yang datang itu bisa jadi datang berkali-kali, silih berganti yang berjumlah banyak, bisa juga penulisan tahunnya yang salah karena berbedanya pengitungan tahun hijriyah dengan tahun masehi. Dalam hal ini, INA KAU MARI menganjurkan agar dalam menentukan tahun Hijriah dan Masehi harus mengikuti patokan yang telah dibuat oleh ahli dan beliau memiliki foto kopian dimaksud. Mudah-mudahan file fotokopian itu masih ada di Samparaja.

Kedua, Informasi dari sumber lain

Menurut Zollinger, sebagaimana dikutip oleh Bram Morris (dalam Tawaluddin Haris) Islam masuk di Bima pada tahun 1450 – 1540 M yang dibawa oleh para muballig dari JawaMakassar. Sementara Helius Syamsuddin menghubungkan kedatangan Islam di Bima dan daerah sekitarnya dengan masa kejayaan Malaka sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Asia Tenggara antara tahun 1400-1511 M. Ia berasumsi bahwa setelah jatuhnya Malaka ke tangan Protugis pada tahun 1511 M, pedagang-pedangan Muslim yang juga bertindak selaku muballig itu mencari daerah baru atau kembali ke Jawa atau Sumatera meneruskan kegiatannya. Di antara mereka ada yang singgah di Bima lalu menyebarkan agama Islam dalam perjalanannya dari Jawa ke Maluku atau sebaliknya. 

Tome Pires mencatat bahwa rute pelayaran perdagangan dari Malaka ke Maluku atau sebaliknya melewati Jawa dan Bima. Di Bima para pedagang menjual barang-barang dagangan yang dibawa dan dibeli dari Jawa, kemudian membeli pakaian (kain kasar) dengan murah untuk dijual (ditukar) dengan rempah-rempah di Banda dan Maluku.

Siapa saja mereka, tidak diperoleh informasi yang pasti, tapi yang jelas mereka adalah pedagang muslim dari Melayu dan pedangan muslim dari Jawa atau bisa juga pedagang muslim dari Maluku. Menurut Pigeand, lalu lintas perdagangan Malaka – Jawa – Maluku ini berjalan dalam kurun waktu abad ke 15 – abad ke 17.

Tawaluddin Haris menginformasikan dalam Babad Lombok diceritkan agama Islam di bawa ke Lombok oleh Sunan Prapen putra dari Sunan Giri Gresik. Setelah berhasil mengislamkan pulau Lombok, sunan Prapen meneruskan perjalanannya ke timur untuk mengislamkan Sumbawa dan Bima. Jika informasi ini dapat dibenarkan, maka menurut H.J. de Graaf, peristiwa itu seharusnya terjadi pada masa pemerintahan sunan Dalem Giri (1506 – 1546) M.

Demikian sekedar informasi yang saya peroleh tentang awal mula masuknya Islam di Bima. Catatan tersebut tentu saja belum sempurna, diperlukan pencarian lebih lanjut terutama melalui situs-situs peninggalan kesultanan Bima yang berserakan di daerah Bima. Tawaluddin (arkeolog UI) sendiri mengakui bahwa untuk menentukan kapan Islam masuk dan berkembang di Bima belum dapat ditentukan secara pasti. Wallahu a’lam.

Surabaya, 24 Mei 2017


Belajar Aksara Bima pada INA KA’U MARI

Category : Sejarah Tanah Bima

 

INA KA’U MARI baru saja meninggalkan kita semua untuk selamanya, menghadap Ilahi Rabbi. Kita memanjatkan do’a semoga semua amal baiknya diterima disisi Allah Swt., semua dosa diampuni, dijauhkan dari siksa kubur serta masuk surga tanpa hisab. Aamiin.

Beliau adalah tipe ilmuwan sejati, tidak mengenal waktu dan usia dalam memperdalam ilmu pengetahuan serta mengajarkannya kepada semua orang. Khususnya kepada saya dan Munawar, beliau mengajarkan ilmu sejarah dan kebudayaan kesultanan Bima. Beliau menunjukkan kepada kami bagaimana tingginya peradaban kesultanan Bima tempo dulu yang ditunjukkan dalam naskah-naskah kesultanan Bima yang dicatat dengan aksara Arab Melayu dan Aksara Bima.  
Perihal Aksara Bima ini, pertama kali saya mendengar informasinya dari Pak Mukhlis Abali dosen IAIN Mataram sekitar tahun 2003/2004. Saat itu, saya tinggal di Mataram dalam rangka mengabdi sebagai tenaga pengajar di Perguruan Tinggi yang sama dengan beliau. Beliau adalah senior saya ketika sama-sama mengenyam pendidikan s1 di Surabaya. Banyak suka dan duka yang kami lalui ketika itu, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata hanya bisa dirasakan dengan hati sanubari, nasib anak kos. Kebersamaan itu terus berlanjut hingga kami tinggal di Mataram. 
Saya termasuk salah satu yunior yang intens berinteraksi dengan Abali karena saat itu, saya dan beliau melakukan kerjasama bisnis kecil-kecilan. Ketepatan ketika itu juga, Abali sedang melakukan penelitian tentang naskah kesultanan Bima dengan INA KA’U MARI. Abali memberitahu saya bahwa kita orang Bima memiliki aksara tersendiri, namanya aksara Bima yang tertulis dalam beberapa naskah yang tersimpan rapi di rak Perpustakaan Pribadi INA KA’U MARI di rumahnya.
Pada mulanya, saya tidak percaya informasi yang disampaikan oleh Abali, karena selama ini, sedari kecil saya belum pernah mendengar cerita atau informasi tentang aksara Bima. Berhari-hari, saya merenung dan merasa penasaran akan aksara Bima, hingga suatu sore, Abali mengajak saya untuk melihat langsung keberadaannya di rumah INA KA’U MARI. 
Sore itu, sesampainya di rumah INA KA’U MARI yang jaraknya hanya ditempuh lima menit bersepada motor dari rumah Abali, kami dipersilahkan oleh INA KA’U MARI masuk ke rumah untuk melihat-lihat dan memeriksa naskah-naskah kesultanan Bima. Abali mengambil satu naskah dan menunjukkan kepada saya naskah itu ditulis dengan aksara Bima. Melihat aksara Bima, rasa penasaran saya sedikit terobati dan membuat saya semakin yakin bahwa aksara Bima memang ada wujudnya. Saya kagum dan bangga bahwa orang Bima tempo dulu memiliki ilmu pengetahuan dan peradaban yang begitu tinggi. 
Pada saat itu, saya hanya sekedar mengetahui dan merasa kagum akan keberadaan aksara Bima, belum sampai mempelajari dan memahami abjadnya satu persatu secara utuh, karena menurut saya, ada ahli bidang bahasa yang akan mengembangkan aksara ini, saya bukan termasuk ahli bahasa apatah lagi ahli dalam bidang aksara Bima. Klaim saya ini buyar ketika saya menetap di Bima dan diminta oleh INA KA’U MARI untuk mempelajari dan mendalami aksara Bima.  
Begitulah pada tahun 2007, diselenggarakan Symposium Internasional Pernaskahan Nusantara di Bima yang mengambil lokasi di kantor DPRD Kabupaten Bima. Saya dan Munawar dimasukkan sebagai anggota panitia oleh panitia inti dari Mataram. Beberapa dari mereka sudah saya kenal baik sejak tinggal di Mataram, sehingga ketika kegiatan ini hendak diselenggarakan, kami berdua dikonfirmasi kesiapannya untuk membantu kelancaran kegiatan. Dengan demikian, kami berdua punya banyak waktu berinteraksi dengan INA KA’U MARI selaku ketua panitia dan beberapa panitia lainnya dalam rangka mensukseskan acara tersebut. 
Diakhir kegiatan itu, diperkenalkanlah aksara Bima kepada seluruh peserta Syimposium Internasional Pernaskahan Nusantara oleh panitia yang bertempat di ASI MBOJO Kesultanan Bima. Saat itulah momentum awal aksara Bima dikenal-luaskan kepada masyarakat umum, lebih khusus masyarakat Bima. 
Sejak saat itu pula, banyak orang bertanya tentang aksara Bima. Bagaimana sejarahnya kok baru sekarang diperkenalkan, kok tidak diperkenalkan sejak dulu, bentuk hurufnya seperti apa, cara membaca dan menulisnya bagaimana, dan banyak lagi pertanyaan lain yang dilontarkan. Untuk menjawab kegundahan masyarakat tersebut, INA KA’U MARI yang pada saat itu sudah tinggal di Bima, meminta saya dan Munawar untuk mempelajari dan mendalami aksara Bima sampai nantinya bisa ditulis dalam bentuk sebuah buku sehingga dapat dikenal dan dipelajari oleh masyarakat Bima. Mungkin ada yang bertanya, kenapa kami berdua yang dipanggil untuk mempelajari aksara Bima, padahal banyak warga lain yang dapat melaksanakan tugas itu. Barangkali jawabannya adalah karena kami berdua pada saat itu sangat intens berinteraksi dan berkomunikasi dengan INA KA’U MARI. Sebenarnya, beliau mengharapkan banyak generasi muda yang mau peduli terhadap khazanah pernaskahan kesultanan Bima.   
Kami berdua sebenarnya sangat kesulitan mewujudkan niat INA KA’U MARI tersebut, namun karena terus menerus diberi motivasi dan semangat, membuat kami bekerja keras untuk mempelajarinya sedikit demi sedikit. Beliau memberi kami bahan rujukan berupa foto kopian hasil deklarasi Aksara Bima, lembaran-lembaran naskah yang beraksara Bima dan lampiran sebuah buku yang berisi Huruf Bima menurut catatan Zollinger (1850) dan Huruf Bima menurut catatan Raffles (1978). Dari bahan-bahan tersebut, kami diperkenalkan oleh beliau huruf per huruf yang dimulai dari huruf A sampai Z. Setelah kami diajari, kami diberi akses selebar-lebarnya untuk membaca dan meneliti naskah-naskah yang ada diperpustakaan beliau, barangkali terdapat naskah-naskah lain yang bertuliskan aksara Bima. Dari hasil penelusuran, terdapat enam sampai tujuh naskah yang ada tulisan aksara Bima. Ada yang full Aksara Bima satu lembar naskah, ada juga yang hanya beberapa baris saja. Cuma ada satu yang berbentuk buku, semuanya beraksara Bima yaitu naskah yang pernah ditunjukkan oleh Abali waktu di Mataram dulu.    
Tugas ini, baru bisa kami rampungkan dalam rentang waktu yang cukup lama, sekitar lima tahun yaitu sejak 2007 s/d 2012. Hal ini terjadi karena kelemahan kami dalam hal tulis menulis dan tentu saja karena kesibukan kami berdua. Dalam rentang waktu itu, kami selalu ditanya dan didesak agar penulisan buku aksara Bima segera diwujudkan. Kami merasa malu sendiri karena sudah cukup lama waktu yang dilalui belum menghasilkan apapun. Akhirnya kami berdua bertekad untuk menuntaskan tugas tersebut. Begitulah, pada akhir tahun 2012 kami bisa menyelesaikan penulisan buku aksara Bima atas arahan dan koreksi beliau yang kami beri judul “Aksara Bima, Kembalinya Peradaban lokal yang sempat hilang”. Hasil kerja kami ini, kami perlihatkan kepada Aba Du Wahid dan Ibu Atun Wardatun. Mereka berdua sangat mengapresiasinya. Ibu Atun Wardatun memberi masukan agar kata “Kembalinya” dalam judul hendaknya dibuang saja karena kalimat berikutnya, menurutnya, sudah mengandung arti kembali. Maka tercetaklah buku tersebut dengan judul “Aksara Bima, peradaban lokal yang sempat hilang” pada awal tahun 2013.
Buku Aksara Bima ini tidak akan laik cetak dan memiliki tampilan yang sebagus itu jika saja tidak ada sentuhan manja oleh sang penyunting fenomenal Mukhlish Muma Leon Muma Ma Mbuipu Kese Weki. Ia meyakinkan kami berdua bahwa buku ini sangat bagus karena memiliki “sesuatu” yang menjadi daya tarik, memiliki keunikan dan tentu saja belum pernah ada yang menulisnya.      
Buku ini secara umum berisi tiga Bab yang menginformasikan  tentang sejarah kerajaan Bima, sejarah ditemukannya aksara Bima, bentuk aksara Bima beserta contohnya dan dibagian akhir diulas mengenai isi buku yang ditulis tangan menggunakan aksara Bima yang digunakan sebagai bahan rujukan kami dalam mempelajari aksara Bima. 
Harapan besar kami aksara Bima ini dapat dikenal luas oleh masyarakat, lebih-lebih masyarakat Bima sendiri dengan cara dimasukkan dalam muatan lokal (MULOK) di Sekolah-sekolah Dasar  di seluruh Kota dan Kabupaten Bima. Bisa juga ditulis di setiap nama kantor, nama jalan, nama bandara, nama pelabuhan, nama sekolah dan nama-nama fasilitas umum lainnya yang terdapat di kota dan kabupaten Bima. Dengan cara seperti itu, aksara Bima akan terus hidup di tengah masyarakat Bima. Namun hingga saat ini, harapan kami itu belum bisa terwujud karena belum ada political will dari pemkot dan pemkab Bima untuk merealisasikannya. Mudah-mudahan harapan ini cepat direspon oleh pemangku kebijakan di Kota dan Kabupaten Bima.
Walaupun demikian, kami tetap semangat untuk mempromosikan aksara Bima dengan menyebarkan buku di beberapa sekolah, memperkenalkannya kepada mahasiswa di sela-sela mengajar, kepada rekan-rekan kerja di kantor dan saudara-saudara di rumah.
Disamping itu, saya juga berusaha menulis hal-hal yang terkait dengan aksara Bima kemudian saya posting via facebook dan website www.stitsunangiribima.ac.id. Dari hasil postingan itu, baru-baru ini, saya disapa via messenger oleh mas Arif Budiarto, pemerhati aksara Nusantara yang tinggal di kota Yogyakarta. Ia bercerita bahwa saat googling internet tentang aksara, muncul tulisan saya mengenai aksara Bima. Ia ingin mempelajari aksara Bima dan kalau bisa ingin memiliki buku aksara Bima berapapun harganya akan dibayar dengan ongkosnya sekalian. Mendengar curhatannya itu, saya pun memberitahukan bahwa kami memiliki buku tentang aksara Bima dan saya berjanji akan segera mengirimnya dengan tanpa bayaran alias gratis. Hal ini saya lakukan karena ada orang yang mengapresiasi hasil karya kami, apalagi dia orang luar Bima. Saya pikir dia akan memperkenalkan aksara Bima ini secara lebih luas lagi kepada orang lain dengan memiliki buku tersebut.
Setelah buku Aksara Bima saya kirim, kami sangat intens berkomunikasi via messenger bertukar informasi mengenai aksara Bima. Disela-sela obrolan itu, saya menanyakan kemungkinan aksara Bima ini bisa dibuatkan fontnya sehingga dapat ditulis di komputer sebagaimana font-font aksara lainnya. Menanggapi kegalauan saya itu, ia pun menawarkan diri untuk membuatkan font aksara Bima sehingga bisa ditulis dalam komputer ataupun laptop. Sebagai bayaran buku aksara Bima yang saya kirim. Begitu dia menuturkan. Mendengar tawarannya tersebut, saya berbunga-bunga dan memintanya untuk segera membuatkan font aksara Bima. 
Seminggu dua minggu saya tunggu, muncullah informasi dari dia bahwa font aksara Bima siap diemail dan siap dipasang di komputer. Setelah menerima email dan memasang font aksara Bima di komputer, saya mulai mempelajarinya dengan menuliskan huruf demi hurus sambil memeriksa kira-kira apa yang kurang dari font tersebut sehingga diadakan perbaikan lebih lanjut. Setelah saya cek satu persatu ternyata masih ada kekurangannya sehingga saya meminta kepadanya untuk memperbaiki kekurangan sebagaimana yang saya tunjukkan. Setelah font ini sudah benar-benar sempurna, maka font ini saya share kepada kawan-kawan FB agar bisa dipergunakan untuk menulis apa saja tentang Bima dengan menggunakan aksara Bima. 
Mas Arif Budiarto ini, saya perhatikan termasuk orang yang suka seni. Saya mengatakan demikian karena dalam postingannya di FB, ia bisa menulis aksara Bima dalam beberapa bentuk, sama seperti tulisan khot Arab yang bisa ditulis dalam berbagai jenis khot. Ia beberapa kali memposting aksara Bima dalam berbagai macam tulisan, termasuk tulisan aksara Bima dalam bentuk baju kaos. 
Atas perkembangan ini, saya tidak lupa melaporkannya kepada INA KA’U MARI memperlihatkan bahwa aksara Bima sudah memiliki font sendiri sehingga bisa ditulis dikomputer ataupun laptop. Beliau tersenyum bahagia sambil melihat tulisan aksara Bima yang saya tunjukkan dilaptop dan meminta saya untuk terus mensosialisasikannya hingga dunia mengenal aksara Bima yang sempat hilang itu.
Berselang beberapa minggu, saya juga dihubungi via messenger oleh mas Ridwan Maulana. Pencinta aksara Nusantara asal kota hujan Bogor. Sama seperti mas Arif Budiarto tadi, mas Ridwan mengenal aksara Bima lewat tulisan yang saya posting di internet. Ia mengutarakan niatnya yang ingin mendalami aksara Nusantara khususnya aksara Bima. Ia sudah berusaha mencari buku-buku yang berkaitan dengan aksara Nusantara, namun tidak mudah didapatkan. Oleh sebab itu, kalau ada buku tentang aksara Bima, ia memesannya satu buku untuk dipelajari. Saya pun segera mengirimkan satu paket buku Aksara Bima kepadanya secara gratis.  Harapan saya agar akasara Bima lebih dikenal lagi oleh masyarakat Indonesia.
Setelah itu, kami saling sapa via messenger mendiskusikan mengenai aksara Nusantara lebih khusus aksara Bima. Dari dia ini, saya mendapatkan informasi bahwa menurut proposal unicode, aksara Bima, aksara satera jontal Samawa, aksara lota ende merupakan variasi dari aksara Bugis. Memang kalau diperhatikan banyak kesamaan antara keempat aksara tersebut. Namun ada huruf-huruf tertentu yang membedakan sehingga masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri.
Karena kecintaannya akan aksara Nusantara, mas Ridwan Maulana ini menyarankan saya untuk mendaftarkan aksara Bima pada website kumpulan aksara dunia di www.omniglot.com dengan cara mengajukan proposal pendaftaran. Untuk urusan pembuatan proposal ini, saya lagi-lagi masih awam. Dia menawarkan diri biar dia yang menyusun proposalnya dengan catatan datanya dari saya semua. Maka semua data yang dibutuhkan sesuai dengan permintaan dia, saya tulis kemudian saya kirim via email. Akhirnya proposal itu pun diusulkan ke www.omniglot.com lalu diproses beberapa waktu maka tampillah aksara Bima diweb tersebut. Aksara Bima mendunia sudah! hehe
Menurut mas Ridwan Maulana, agar aksara Bima ini naik statusnya menyamai aksara-aksara hebat lainnya, perlu dikenalkan dan diajarkan di sekolah-sekolah dan di tempat-tempat belajar masyarakat Bima. Digunakan sebagai tulisan nama-nama jalan, nama-nama kantor, nama bandara dan nama tempat umum lainnya. Selama hal ini tidak dilakukan, maka aksara Bima hanya sekedar berfungsi sebagai pajangan kebanggaan masa lalu saja. Namun, jika hal-hal di atas dilakukan, dia berjanji akan mengirim ulang proposal ke www.omniglot.com untuk menaikkan statusnya sama dengan aksara-aksara yang sudah mapan.
Hal lain yang dilakukan oleh mas Ridwan Maulana adalah memperbaharui tampilan aksara Bima agar terlihat apik lebih dekat dengan font aksara Bima sebagaimana yang ditulis di lembaran naskah kuno kerajaan Bima. Font terbaru aksara Bima ini bisa diakses di www.aksaranusantara.com. Dalam web tersebut, kita dapat mengunduh font-font aksara nusantara yang tersedia. Ada aksara Jawa, Aksara Bugis, aksara Bima dan aksara lainnya.
Itulah beberapa usaha yang telah kami lakukan bersama dalam rangka melestarikan aksara Bima sesuai dengan niat dan keinginan INA KA’U MARI. Mudah-mudahan semua ikhtiar ini bernilai ibadah dan dapat memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi semua orang. Aamiin. 
Bima, 26 Maret 2017

Sejarah Tanah Bima

Superwadin. Kabupaten Bima berdiri pada tanggal 5 Juli 1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir dinobatkan sebagai Sultan Bima I yang menjalankan Pemerintahan berdasarkan Syariat Islam. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Bima yang diperingati setiap tahun. Bukti-bukti sejarah kepurbakalaan yang ditemukan di Kabupaten Bima seperti Wadu Pa’a, Wadu Nocu, Wadu Tunti (batu bertulis) di dusun Padende Kecamatan Donggo menunjukkan bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia.
Dalam sejarah kebudayaan penduduk Indonesia terbagi atas bangsa Melayu Purba dan bangsa Melayu baru. Demikian pula halnya dengan penduduk yang mendiami Daerah Kabupaten Bima, mereka yang menyebut dirinya Dou Mbojo, Dou Donggo yang mendiami kawasan pesisir pantai. Disamping penduduk asli, juga terdapat penduduk pendatang yang berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
Kerajaan Bima dahulu terpecah –pecah dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh Ncuhi. Ada lima Ncuhi yang menguasai lima wilayah yaitu :
1. Ncuhi Dara, memegang kekuasaan wilayah Bima Tengah
2. Ncuhi Parewa, memegang kekuasaan wilayah Bima Selatan
3. Ncuhi Padolo, memegang kekuasaan wilayah Bima Barat
4. Ncuhi Banggapupa, memegang kekuasaan wilayah Bima Utara
5. Ncuhi Dorowani, memegang kekuasaan wilayah Bima Timur.

Kelima Ncuhi ini hidup berdampingan secara damai, saling hormat menghormati dan selalu mengadakan musyawarah mufakat bila ada sesuatu yang menyangkut Profil Kabupaten Bima tahun 2008 2 kepentingan bersama. Dari kelima Ncuhi tersebut, yang bertindak selaku pemimpin dari Ncuhi lainnya adalah Ncuhi Dara. Pada masa-masa berikutnya, para Ncuhi ini dipersatukan oleh seorang utusan yang berasal dari Jawa. Menurut legenda yang dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Bima. Cikal bakal Kerajaan Bima adalah Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai 5 orang putra yaitu :
1. Darmawangsa
2. Sang Bima
3. Sang Arjuna
4. Sang Kula
5. Sang Dewa.

Salah seorang dari lima bersaudara ini yakni Sang Bima berlayar ke arah timur dan mendarat disebuah pulau kecil disebelah utara Kecamatan Sanggar yang bernama Satonda. Sang Bima inilah yang mempersatukan kelima Ncuhi dalam satu kerajaan yakni Kerajaan Bima, dan Sang Bima sebagai raja pertama bergelar Sangaji. Sejak saat itulah Bima menjadi sebuah kerajaan yang berdasarkan Hadat, dan saat itu pulalah Hadat Kerajaan Bima ditetapkan berlaku bagi seluruh rakyat tanpa kecuali.
Hadat ini berlaku terus menerus dan mengalami perubahan pada masa pemerintahan raja Ma Wa’a Bilmana. Setelah menanamkan sendi-sendi dasar pemerintahan berdasarkan Hadat, Sang Bima meninggalkan Kerajaan Bima menuju timur, tahta kerajaan selanjutnya diserahkan kepada Ncuhi Dara hingga putra Sang Bima yang bernama Indra Zamrud sebagai pewaris tahta datang kembali ke Bima pada abad XIV/ XV.
Beberapa perubahan Pemerintahan yang semula berdasarkan Hadat ketika pemerintahan Raja Ma Wa’a Bilmana adalah :
– Istilah Tureli Nggampo diganti dengan istilah Raja Bicara.
– Tahta Kerajaan yang seharusnya diduduki oleh garis lurus keturunan raja sempat diduduki oleh yang bukan garis lurus keturunan raja.

Perubahan yang melanggar Hadat ini terjadi dengan diangkatnya adik kandung Raja Ma Wa’a Bilmana yaitu Manggampo Donggo yang menjabat Raja Bicara untuk menduduki tahta kerajaan. Pada saat pengukuhan Manggampo Donggo sebagai raja dilakukan dengan sumpah bahwa keturunannya tetap sebagai Raja sementara keturunan Raja Ma Wa’a Bilmana sebagai Raja Bicara. Kebijaksanaan ini dilakukan Raja Ma Wa’a Bilmana karena keadaan rakyat pada saat itu sangat memprihatinkan, kemiskinan merajalela, perampokan dimana-mana sehingga rakyat sangat menderita. Keadaan yang memprihatinkan ini hanya bisa di atasi oleh Raja Bicara.
Akan tetapi karena berbagai kekacauan tersebut tidak mampu juga diatasi oleh Manggampo Donggo akhirnya tahta kerajaan kembali di ambil alih oleh Raja Ma Wa’a Bilmana. Kira-kira pada awal abad ke XVI Kerajaan Bima mendapat pengaruh Islam dengan raja pertamanya Sultan Abdul Kahir yang penobatannya tanggal 5 Juli tahun 1640 M. Pada masa ini susunan dan penyelenggaraan pemerintahan disesuaikan dengan tata pemerintahan Kerajaan Goa yang memberi pengaruh besar terhadap masuknya Agama Islam di Bima. Gelar Ncuhi diganti menjadi Galarang (Kepala Desa). Struktur Pemerintahan diganti berdasarkan Majelis Hadat yang terdiri atas unsur Hadat, unsur Sara dan Majelis Hukum yang mengemban tugas pelaksanaan hukum Islam.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan ini Sultan dibantu Oleh :
1. Majelis Tureli ( Dewan Menteri ) yang terdiri dari Tureli Bolo, Woha, Belo, Sakuru, Parado dan Tureli Donggo yang dipimpin oleh Tureli Nggampo/ Raja Bicara.
2. Majelis Hadat yang dikepalai oleh Kepala Hadat yang bergelar Bumi Lumah Rasa NaE dibantu oleh Bumi Lumah Bolo. Majelis Hadat ini beranggotakan 12 orang dan merupakan wakil rakyat yang menggantikan hak Ncuhi untuk mengangkat/ melantik atau memberhentikan Sultan.
3. Majelis Agama dikepalai oleh seorang Qadhi ( Imam Kerajaan ) yang beranggotakan 4 orang Khotib Pusat yang dibantu oleh 17 orang Lebe Na’E.
Seiring dengan perjalanan waktu, Kabupaten Bima juga mengalami perkembangan kearah yang lebih maju. Dengan adanya kewenangan otonomi yang luas dan bertanggungjawab yang diberikan oleh pemerintah pusat dalam bingkai otonomi daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang (UU) No. 22 tahun 1999 dan direvisi menjadi UU No. 33 tahun 2004, Kabuapten Bima telah memanfaatakan kewenangan itu dengan Profil Kabupaten Bima tahun 2008 3 terus menggali potensi-potensi daerah baik potensi sumberdaya manusia maupun sumberdaya alam agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pertumbuhan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk memenuhi tuntutan dan meningkatkan pelayanan pada masyarakat, Kabupaten Bima telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah mulai tingkat dusun, desa, kecamatan, dan bahkan dimekarkan menjadi Kota Bima pada tahun 2001. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk memenuhi semakin meningkatkan tuntutan untuk mendekatkan pelayanan pada masyarakat yang terus berkembang dari tahun ke tahun tetapi juga karena adanya daya dukung wilayah. Sejarah telah mencatat bahwa Kabuapten Bima sebelum otonomi daerah hanya terdiri dari 10 kecamatan, kemudian setelah otonomi daerah kecamatan sebagai pusat ibukota Kabupaten Bima dimekarkan menjadi Kota Bima, dan Kabupaten Bima memekarkan beberapa wilayah kecamatannya menjadi 14 kecamatan dan pada tahun 2006 dimekarkan lagi menjadi 18 kecamatan dengan pusat ibukota kabupaten Bima yang baru dipusatkan di Kecamatan Woha. (Bappeda Kab. Bima)

Hubungan Darah Bima-Bugis-Makassar
Arus modernisasi dan demokratisasi disegala bidang kehidupan telah mempengaruhi cara pandang dan cara berpikir seluruh element masyarakat. Hubungan keakrabatan antar etnis dan bahkan hubungan darah sekalipun terpisahkan oleh tembok modernisasi dan demokrasi hari ini. Hubungan keakrabatan dan kekeluargaan yang terjalin selama kurun waktu 1625 – 1819 (194 tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan kekeluargaan antara dua kesultanan besar dikawasan Timur Indonesia yaitu Kesultanan Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai pada turunan yang ke- VII. Hubungan ini merupakan perkawinan silang antara Putra Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke- VI. Sedangkan yang ke- VII adalah pernikahan Putri Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota Kesultanan Gowa. Berikut urutan pernikahan dari silsilah kedua kerajaan ini :
1. Sultan Abdul Kahir (Sultan Bima I) menikah dengan Daeng Sikontu, Putri Karaeng Kasuarang, yang merupakan adik iparnya Sultan Alauddin pada tahun 1625. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke-II)
2. Sultan Abil Khair (Sultan Bima ke- II) menikah dengan Karaeng Bonto Je’ne. Adalah adik kandung Sultan Hasanuddin, Gowa pada tanggal 13 April 1646. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) pada tahun 1651.
3. Sultan Nuruddin (Sultan Bima ke-III) menikah dengan Daeng Ta Memang anaknya Raja Tallo pada tanggal 7 mei 1684. dari pernikahan tersebut melahirkan Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke-IV)
4. Sultan Jamaluddin (Sultan Bima ke IV) menikah dengan Fatimah Karaeng Tanatana yang merupakan putri Karaeng Bessei pada tanggal 8 Agustus 1693. dari pernikan tersebut melahirkan Sultan Hasanuddin (sultan Bima ke- V).
5. Sultan Hasanuddin (Sultan Bima ke- V) menikah dengan Karaeng Bissa Mpole anaknya Karaeng Parang Bone dengan Karaeng Bonto Mate’ne, pada tanggal 12 september 1704. dari pernikahan ini melahirkan Sultan Alaudin Muhammad Syah pada tahun 1707 (Sultan Bima ke- VI)
6. Sultan Alaudin Muhammad Syah (Sultan Bima ke- VI) menikah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji putrinya sultan Gowa yaitu Sultan Sirajuddin pada tahun 1727. pernikahan ini melahirkan Kumala Bumi Pertiga dan Abdul Kadim yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- VII pada tahun 1747. ketika itu beliau baru berumur 13 tahun. Kumala Bumi Pertiga putrinya Sultan Alauddin Muhammad Syah dengan Karaeng Tana Sanga Mamonca Raji ini kemudian menikah dengan Abdul Kudus Putra Sultan Gowa pada tahun 1747. dan dari pernikahan ini melahirkan Amas Madina Batara Gowa ke-II. Sementara Sultan Abdul Kadim yang lahir pada tahun 1729 dari pernikahan dari pernikahannya melahirkan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Sultan Abdul Hamid (La Hami) dilahirkan pada tahun 1762 kemudian diangkat menjadi sultan Bima tahun 1773.
7. Sultan Abdul Kadim (Sultan Bima ke- VII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- mohon Maaf) melahirkan Sultan Abdul Hamid pada tahun 1762 dan Sultan Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Bima ke- VIII pada tahun 1773.
8. Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan Sultan Ismail pada tahun 1795. ketika sultan Abdul Hamid meninggal dunia pada tahun 1819, pada tahun ini juga Sultan Ismail diangkat menjadi Sultan Bima ke- IX
9. Sultan Ismail (Sultan Bima ke- IX) dari pernikahannya (Istrinya tidak terlacak oleh dalam referensi sejarah yang kami baca- Mohon Maaf) melahirkan sultan Abdullah pada tahun 1827
10. Sultan Abdullah (Sultan Bima ke- X) menikah dengan Sitti Saleha Bumi Pertiga, putrinya Tureli Belo. Dari pernikahan ini abdul Aziz dan Sultan Ibrahim.
11. Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII pada tahun 1888 dan memimpin kesultanan hingga tahun 1917.
12. Sultan Salahuddin (Sultan Bima ke- XII) sebagai Sultan Bima terakhir dari pernikahannya melahirkan Abdul Kahir II (Ama Ka’u Kahi) yang biasa dipanggil dengan Putra Kahi dan St Maryam Rahman (Ina Ka’u Mari). Putra Kahir ini kemudian Menikah dengan Putri dari Keturunan Raja Banten (Saudari Kandung Bapak Ekky Syachruddin) dan dari pernikahannya melahirkan Bapak Fery Zulkarnaen

Adalah sangat Ironi memang jika pada hari ini generasi baru dari kedua Kesultanan Besar ini kemudian tidak saling kenal satu sama lain. Bahkan pada zaman kerajaan, pertumbuhan dan perkembangan penduduk Gowa dan Bima merupakan Etnis yang tidak bisa dipisahkan dan bahkan masyarakat Gowa pada umumnya tidak bisa dipisahkan dengan Etnis Bima (Mbojo) sebagai salah satu Etnis terpenting dalam perkembangan kekuatan kerajaan Gowa. Dari catatan sejarah yang dapat dikumpulkan dan dianalisa, hubungan kekeluargaan antara kedua kesultanan tersebut berjalan sampai pada keturunan ke- IX dari masing-masing kesultanan, dan jika dihitung hal ini berjalan selama 194 tahun. Dari data yang berhasil dikumpulkan, dapat disimpulkan bahwa hubungan kesultanan Bima dan Gowa dengan pendekatan kekeluargaan (Darah) terjalin sampai pada tahun 1819. Analisa ini berawal dari pemikiran bahwa ada hubungan darah yang masih dekat antara Amas Madina Batara Gowa Ke- II anaknya Kumala Bumi Pertiga dengan Sultan Abdul Hamid (Sultan Bima ke- VIII). Karena keduanya masih merupakan saudara sepupu satu kali. Bahkan ada kemungkinan yang lebih lama lagi hubungan ini terjalin. Yaitu ketika Sultan Abdul Hamid meninggal pada tahun 1819 dan pada tahun itu juga langsung digantikan oleh putra mahkotanya yaitu Sultan Ismail sebagai sultan Bima ke- IX. Karena Sultan Ismail ini kalau dilihat keturunannya masih merupakan kemenakan langsungnya Amas Madina Batara Gowa Ke- II, jadi hubungan ini ternyata berjalan kurang lebih 194 tahun.
Pada beberapa catatan yang kami temukan, bahwa pernikahan Salah satu Keturunan Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) masih terjadi dengan keturunan Sultan Gowa. Sebab pada tahun 1900 (pada kepemimpinan Sultan Ibrahim), terjadi acara melamar oleh Kesultanan Bima ke Kesultanan Gowa. Mahar pada lamaran tersebut adalah Tanah Manggarai. Sebab Manggarai dikuasai oleh kesultanan Bima sejak abad 17. Namun, pada catatan sejarah tersebut tidak tercatat secara jelas.(dari berbagai sumber)

EDISI 10 MARET 2016