Category Archives: Silaturrahim Bupati Dan MK

Silaturrahim Bupati Bima dengan Ketua MK (2)

“Menjadikan Bima sebagai Pusat Pendidikan di Wilayah Nusatenggara�.
Syukri Abubakar. Dalam paparan pak Hamdan Zoelva, paling tidak ada beberapa poin yang bisa disajikan; Pertama, beliau mulai dengan bercerita ketika beliau diangkat menjadi hakim di MK.

Dalam sambutannya beliau menyitir hadis Nabi yang mengatakan bahwa: “Hakim terdiri dari tiga golongan. Dua golongan hakim masuk neraka dan segolongan hakim lagi masuk surga. Yang masuk surga ialah yang mengetahui kebenaran hukum dan mengadili dengan hukum tersebut. Bila seorang hakim mengetahui yang haq tapi tidak mengadili dengan hukum tersebut, bahkan bertindak zalim dalam memutuskan perkara, maka dia masuk neraka. Yang segolongan lagi hakim yang bodoh, yang tidak mengetahui yang haq dan memutuskan perkara berdasarkan kebodohannya, maka dia juga masuk neraka�. (HR. Abu Dawud dan Ath-Thahawi).

Setelah menjelaskan hadist tersebut pak Hamdan Zulva berjanji akan memposisikan dirinya pada hakim yang pertama yaitu hakim yang masuk surga.
Kemudian ketika beliau diangkat menjadi ketua MK, beliau juga dalam sambutannya menyitir lagi hadist nabi yang menyatakan; Nabi bersabda, “Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya aku memotong tangannya.â€� Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Beliau mengemukakan ini untuk menepis anggapan sementara orang yang meragukan keindependenannya dalam memutuskan perkara pilpres di MK minggu depan. Mengingat beliau adalah adik Ipar Ibu Musda Mulia yang merupakan orang kepercayaan Megawati.
Kedua, beliau menceritakan bagaimana majunya peradaban Islam pada zaman dulu yaitu zaman keemasan Islam. Ketika itu Islam telah menguasai dunia sampai ke Spanyol. Apa yang diandalkan oleh Islam saat itu? Tentu saja penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam mengajarkan bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Sesuai dengan firman Allah SWT. dalam Al-Qur`an surat Al-Mujaadilah ayat 11 :“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajatâ€�. Orang-orang yang berilmu akan pula dimudahkan jalannya ke surga oleh Allah dan senantiasa dido’akan oleh para malaikat. Begitu juga beliau menegaskan bahwa Islam sedari awal dengan ayat pertamanya IQRA’ mengajak umat Islam untuk selalu membaca, membaca dan memacara. Membaca ayat qauliyah lebih-lebih membaca ayat-ayat kauniyah.  
Disamping menggali ilmu pengetahuan melalui al-Qur’an dan Hadist, pada ulama dahulu juga menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani dan Romawi untuk memperkaya khazanah pengetahuan mereka. Kegiatan ini didukung oleh penguasa pada saat itu yang memberikan ruang khusus kepada pada ulama untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Misalnya di Bagdad pemerintah menyediakan ruang khusus bagi ilmuan untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang diberi nama BAITUL HIKMAH, begitu juga di Spanyol, Cordova dan lain-lain.

Ketika bangsa Islam maju, orang-orang Barat masih dalam masa kegelapan dark age. Mereka dipimpin oleh pendeta-pendeta yang mengatasnamakan wakil Tuhan dibumi. Apa yang mereka perintahkan adalah perintah Tuhan. Maka ruang gerak untuk berpikir dibatasi. Sementara itu, mereka melihat dunia Islam sudah demikian maju. Maka untuk mengejar ketertinggalan itu, banyak ilmuan Barat belajar di Dunia Islam. Mereka banyak menerjemahkan karya-karya monumental ilmuan Islam untuk dipelajari dan dijadikan dasar untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setelah Barat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, terjadilah masa renaissance masa pencerahan. Mulailah mereka menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sampai saat ini. Sementara umat Islam terlena dengan peradaban majunya dan pembesar-pembesarnya sibuk mengejar kekuasaan. Pada akhirnya negera-negara Islam dijajah oleh bangsa Barat. Itu semua karena Barat menguasai ilmu pengetahuan dan Teknologi.

Pak Hamdan bercerita banyak teman-temannya orang Barat yang tidak percaya lain dengan agama alias atheis karena agama menurut mereka tidak memberi mereka kebahagiaan dan kemajuan. Dengan agama mereka terkungkung sebagaimana yang terjadi pada masa lalu dark age. Sekarang ini banyak gereja ditinggalkan oleh jama’ahnya bahkan banyak yang dijual dan dialihfungsikan serta ada juga yang dibeli oleh orang Islam dan dijadikan masjid. Hanya orang Kristen di Amerika saja yang masih banyak aktif ke gereja. 

Seorang teman orang Barat berdilog dengan beliau tentang masalah agama ini, ia menanyakan “kenapa harus beragama kalau kita bisa menciptakan perdamaian diantara kita sehingga kita bisa hidup dengan rukun, kita menciptakan etika pergaulan sehingga ada harmoni diantara masyarakat. Lihat Negara-negara Islam apa yang terjadi disana, konflik, peperangan, keterbelakangan, ketidakadilan, dan lain-lain. Jadi kita tidak butuh agama. Jelasnya. Pak hamdan menjawab, hanya ada satu perbedaan diantara kita, bahwa kami orang Islam mempercayai adanya kehidupan setelah kematian. Maka untuk mempersiapkan kehidupan yang layak di akhirat kelak perlu memeluk agama yang memiliki aturan main tentang kehidupan akhirat. Begitu jawabnya.

Ketiga, beliau memaparkan bahwa untuk menjadi Negara yang maju harus memiliki dua hal; yaitu sumber daya alam dan sumber daya manusia. Dalam skala nasioanl, kita memiliki sumber daya alam yang melimpah namun minim sumber daya manusia sehingga kekayaan alam kita banyak dikeruk oleh orang asing. SDM kita kalah jauh dengan Jepang, Korea dan sekarang China bahkan kita kalah dengan Malaysia. Di luar negeri, mahasiswa yang dikenal adalah mahasiswa Malaysia. Kalau dibandingkan 8 orang  Malaysia 2 orang Indonesia. Padahal beasiswa untuk mahasiswa ke luar negeri saat ini sangat banyak sekali malah banyak yang tidak terpakai karena banyak yang daftar tapi tidak memenuhi syarat alias tidak lulus ujian. Inilah kondisi real kemampuan kita di Bidang SDM.

Dalam skala lokal, kita orang Bima terkenal dengan orang yang ulet dan perantau sejati. Beliau bercerita ketika keliling Indonesia, ada saja orang Bima disana. Misalnya di Ambon. Sambil menunggu jam pemberangkatan pesawat, beliau keliling-keliling kota Ambon dengan menaiki taksi. Beliau bertanya kepada sopir taksi, maaf bapak orang mana? Sopir taksi menjawab, orang jauh pak! NTB. Pak Hamdan pun bertanya lagi, NTB mana? Bima pak, jawab sopir taksi. Oh dou Mbojooo kata pak Hamdan mengakhiri cerita pertemuannya dengan orang Bima di Ambon. Beliau juga bercerita di Kalimantan banyak juga orang Bima ada yang menjadi ketua DPRD ada yang menjadi ketua KPU tapi sekarang sudah tidak menjabat lagi. Lanjutnya. Begitu juga di daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Khusus di Ibu Kota Jakarta, beliau mengatakan bahwa di seluruh sekolah di Jakarta pasti ada orang Bima yang menjadi Guru baik sekolah swasta maupun negeri. Coba aja ditanya pasti ada. Terangnya. Namun mereka itu generasi tua. Sedangkan generasi muda sudah jarang sekali malah yang banyak di perusahaan-perusahaan bekerja sebagai kuli. Kenapa kok banyak generasi Tua yang ada disana? Jawabnya karena memang di Bima dulu banyak sekolah guru seperti SPG, SGO, dan PGA. Setelah tamat dari sini mereka langsung merantau ke Jakarta dan di seluruh pelosok negeri. Begitu kisahnya.

Nah untuk mendorong SDM orang Bima dapat berdaya jual tinggi, maka perlu wadah untuk mempersiapkannya yaitu dengan adanya perguruan Tinggi yang berkualitas yaitu Perguruan Tinggi Negeri. Beliau termotivasi ketika sekelompok pendidik Bima di Makassar mengajukan proposal pendirian UNIVERSITAS NEGERI BIMA. Beliau menelpon Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan menanyakan peluang daerah Bima mendirikan Universitas Negeri. Dirjen menjawab bisa tapi harus menyediakan lahan kurang lebih 30 hektar untuk Universitas dan 10 hektar untuk Institut/Sekolah Tinggi/Diploma. Dirjen menyarankan mengambil Politeknik untuk Diploma 3 yaitu jurusan pertanian, peternakan, dan perikanan dan kelautan. Pak Hamdan memperkirkan kalau pemkot dan pemkab Bima tidak bisa memenuhi persyaratan untuk pendirian Universitas yang membutuhkan lahan 30 h, yang mungkin adalah menyediakan lahan untuk Politeknik yaitu 10 hektar. Informasi ini kemudian dikomunikasikan dengan walikota Bima H. Quraish H. Abidin dan disanggupi oleh beliau untuk penyiapan lahannya. Namun ditunggu-tunggu tidak ada tindak lanjutnya, maka dialihkan ke Pemkab yang disambut positif juga oleh Dae Very ketika itu. Itulah sepotong kisah tentang ide awal pendirian Politeknik di Bima.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Politeknik? kok tidak mengusahakan jurusan yang lain? Sebagaimana dijelaskan dimuka bahwa orang Bima ini orang yang ulet dan memiliki jiwa perantau dan saat ini TKI yang paling banyak itu berasal dari daerah NTB dan kebanyakan mereka menjadi tenaga kasar. Oleh sebab itu, melalui ikhtiar ini, diharapkan 7 tahun 10 tahun ke depan tenaga-tenaga yang dikirim keluar negeri khususnya yang berasal dari daerah Bima sudah memiliki keterampilan yang memadai sehingga bisa bersaing dengan tenaga-tenaga terampil lainnya. Beliau memberikan contoh daerah Istimewa Jogjakarta. Disana tumbuh usaha industry kreatif karena memang memiliki tenaga-tenaga yang terampil dalam bidang itu. Kemudian mereka mengirim tenaga-tenaga terampil itu ke daeah-daerah lain yang kaya SDA nya dan SDA nya itu dijadikan bahan mentah untuk industry kreatif di jogyakarta. Jadi system barter. Begitu juga di Gorontalo, disana tidak memiliki dokter special kemudian pemerintah menyekolahkan beberapa orang yang potensial untuk mengambil spesialisasi sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Nah sekarang ini tidak ada lagi kekurangan dokter special disana. Jadi tergantung keinginan dari pemerintah sendiri kalau ingin daerahnya maju.

Untuk sementara ini, Politeknik Bima secara administrasi diserahkan sepenuhnya kepada UNRAM sedangkan tempat perkuliahannya di Bima tepatnya di SONDOSIA. Ke depan, pemerintah harus berani menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi guru-guru yang potensial sehingga ketika mereka kembali nanti bisa mengajar di Politeknik tersebut dan pada akhirnya bisa dikelola secara mandiri.

Lebih lanjut pak Hamdan menegaskan bahwa ada satu lagi keinginannya  untuk segera diwujudkan dan masih dalam proses, yaitu pendirian PTAIN BIMA. Kalau Politeknik Negeri Bima sudah terwujud maka berikutnya adalah Perguruan Tinggi Islam Negeri yang harus segera diupayakan . Mohon do’anya semua semoga usaha ini berjalan dengan lancar. Beliau menegaskan kalau Menteri Agama yang menjabat saat ini adalah teman dekatnya. Jadi bisa diajak kompromi. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah  apakah dalam waktu 3 bulan ini keinginan itu bisa terwujud? Mengingat masa jabatan sahabatnya itu tinggal 3 bulan lagi. Kalau beliau terus menjadi menteri insya Allah cita-cita ini akan segera terwujud. Tapi siapa pun Menteri Agamanya ke depan kita do’akan yang terbaik. Cepat atau pun lambat insya Allah cita-cita itu akan segera terwujud. Apalagi PPS sudah masuk pembahasan DPR. Jika PPS jadi maka mau tidak mau PTAIN BIMA pun akan jadi. Asal jangan sampai kedahuluan daerah lain. Jelasnya mengakhiri pemaparannya.

Itulah beberapa hal yang saya tangkap dari pembicaraan bapak Hamdan Zoelva, SH., MH. yang memakan waktu kurang lebih satu jam setengah yang berakhir pada pukul 22.30 Wita.

Bima, 31 Juli 2014

Silaturrahim Bupati Bima dengan Ketua MK (1)

“Menjadikan Bima sebagai Pusat Pendidikan di Kawasan Nusatenggara�.

Syukri Abubakar. Kala itu, Kamis, 31 Juli 2014 pukul 15.00 Wita, saya dikejutkan dengan bunyi dering handhope berkali-kali, lalu ku angkat handphone ku terdengar suara dari seberang
sana yang sudah familiar di telingaku yaitu suara pak Ketua STIT Sunan Giri Bima.
Beliau menanyakan posisi ku pada saat itu.Kuberitahukan bahwa aku sedang berada di rumah.
Beliau menjelaskan bahwa sebentar malam ada undangan dari Bupati Bima,  undangannya terbatas dan kita diundang sebagai pimpinan perguruan tinggi di Bima. Beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa beliau tidak bisa menghadiri pertemuan tersebut karena ada halangan.Beliau meminta saya untuk menghadiri pertemuan itu sebagai rasa hormat terhadap pemerintah kabupaten Bima yang telah mengundang.Agenda pertemuan adalah mendengarkan pemaparan DR. Hamdan Zoelva, SH., MH.tentang ide besar dengan tema “Menjadikan Bima sebagai pusat pendidikan di kawasan Nusatenggaraâ€�. Pelaksanaannya nanti pukul 19.30 Wita tambahnya.Mendengar permintaan tersebut, saya langsung mengiyakan dan siap menghadiri pertemuan itu karena menurut saya pertemuan seperti itu sangat penting dan jarang terjadi di Bima. Pasti informasi yang akan disampaikan sangat berharga untuk kemajuan daerah Bima ke depan apalagi temanya sangat menarik dan insya Allah bisa diwujudkan. Jadi dalam pikiran saya, pak Hamdan akan memaparkan konsep bagaimana menata pendidikan di Bima terutama pendidikan Tinggi sehingga Bima bisa menjadi pusat pendidikan.
Selain itu, kawan Dr. Ruslan juga menginformasikan bahwa ada pertemuan di perbatasan Kota tepatnya di kawasan Ni’u dengan bapak Hamdan Zoelva.Kita juga diundang.Jelasnya.Kalau begitu, mampir di rumah saya pak biar kita sama-sama kesana kebetulan saya ditugaskan oleh Ketua STIT Sunan Giri Bima untuk menghadiri pertemuan itu.Begitu jawabku ketika menerima telponnya.
Setelah melasanakan sholat isya, datanglah bapak Dr. Ruslan menghampiri saya di rumah untuk sama-sama mendatangi pertemuan itu. Lalu kami berdua melaju ke Oi Ni’u, disana sudah ada beberapa undangan yang duduk mengisi kursi-kursi bagian depan dan sebagian lagi ada yang berdiri dan ada yang sedang menikmati hidangan. Disana juga nampak pak Hamdan Zoelva didampingi oleh Bupati Bima dan ketua Pengadilan Negeri Bima sedang menikmati hidangan.Kami berdua pun langsung masuk dan menempati kursi deretan ke empat sambil melihat-lihat mungkin ada orang yang kami kenal yang diundang. Setelah ku tengok sana sini, aku tidak melihat wajah yang familiar di sekitar, makanya kami berdua hanya duduk sambil menunggu acara dimulai dan sekali-sekali saling bertanya tentang sesuatu hal.
Tepat pukul 20.00 WIB, protokol acara meminta hadirin yang masih ada di belakang untuk mengisi kursi yang masih kosong dengan memberitahukan bahwa  acara akan segera dimulai. Setelah semuanya siap, maka protokol membacakan susunan acara yang akan dilalui yaitu pembukaan, pembacaaan kalam Ilahi, sambutan Bupati Bima, sambutan tim Pejuang Pendirian Politeknik Negeri Bima bapak Zulkifli Yusuf, pemaparan rancangan Bima sebagai pusat Pendidikan di kawasan Nusatenggara oleh bapak Hamdan Zoelva dan diakhiri dengan do’a oleh ketua MUI kab. Bima.
Dalam sambutannya Bupati Bima menyampaikan beberapa poin penting diantaranya; pertama, beliau mengawalinya dengan mengucapkan selamat Idul Fitri 1435 H dan Mohon Maaf Lahir dan Bathin.Kedua, beliau merasa gembira sekali pada malam itu karena bisa mendatangkan salah satu putra terbaik Bima yang saat ini menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi bapak Dr. Hamdan Zulva, SH., MH. Dimana selama ini hanya bisa melihatnyadi depan kaca televisi dan saat ini kita bisa bertatap muka bersalaman dengannya. Beliau mengharapkan nantinya bapak Hamdan Zoelva menjelaskan rencana daerah Bima akan dijadikan pusat pendidikan di kawasan Nusa Tenggara.  Untuk diketahui bahwa pada tahun ini Pemerintah Kabupaten Bima sudah membuka Program D3 Piliteknik Negeri yang berlokasi di Kawasan SONDOSIA yang terdiri dari 3 Jurusan yaitu jurusan pertanian, peternakan dan perikanan dan kelautan. Untuk mengungkap bagaimana Politeknik ini bisa didapat oleh Pemerintah Kabupaten Bima, Bupati meminta bapak Zulkifli Yusuf  putra Bima yang saat ini menjabat di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta untuk menceritakan kronologis diperolehnya ijin pendirian Piliteknik Negeri Bima. Ketiga, Bupati minta dijelaskan juga tentang proses persidangan sengekata pilpres di MK yang hasilnya sedang ditunggu-tunggu oleh masyarakat di seluruh nusantara.Keempat, Pemkab Bima dalam bulan-bulan mendatang berencana untuk memperluas Bandara Sultan Salahudin Bima dan memperpanjang landasan pacu sehingga bisa didarati oleh pesawat BOING. Juga Pemkab akan segera membangun kantor Bupati Bima yang berlokasi di Talabiu tiga SKPD terlebih dahulu.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Bupati meminta bapak Zulkifli Yusuf untuk naik ke podium mendampingi beliau menjelaskan kronologis turunnya ijin Politeknik Negeri Bima.Sesaat kemudian Bapak Zulkifli Yusuf naik ke Podium dan menceritakan kronologis pengurusan ijin Politeknik Negeri Bima.Menurut beliau, sebenarnya ide pendirian Perguruan Tinggi Negeri Bima ini sudah lama bergulir yaitu ketikaNurlathif yang saat itu menjabat sebagai Walikota Bima.Namun ide itu masih sekedar wacana belum bisa diwujudkan.
Suatu ketika bapak Hamdan Zoelva berbincang-bindang dengan beliau mengenai pendirian Perguruan Tinggi Negeri di Bima, beliau pun merespon positif ide tersebut.Kemudian ide tersebut ditawarkan ke walikota Bima yang pada saat itu sudah dijabat oleh H. Quraish H. Abidin.Beliau memberi persyaratan hanya menyediakan lahan 10 hektar tanah. Dengan semangat yang menggebu, Walikota pun menerima tawaran itu dan akan menyiapkan lahan 10 hektar. Kegembiraan dengan datangnya Perguruan Tinggi Negeri ini sudah sering diumumkan oleh walikota Bima di berbagai forum kegiatan misalnya di MTQ tingkat kelurahan Dara dan MTQ tingkat kelurahan RasanaE Barat tahun 2012/2013 yang lalu. Namun setelah beberapa bulan berselang, tidak ada respon dari walikota Bima sementara pak Hamdan sudah deal dengan Kementerian bahwa Perguruan Tinggi ini akan jadi. Malu rasanya kalau sudah diiyakan oleh Kementerian kemudian tidak ada kesiapan dari pemda.Maka pak Zulkifli Yusuf meminta tanggapan dari walikota Bima tentang kesiapannya.Walikota mengatakan bahwa ternyata lahan 10 hektar untuk pembangunan kampus itu tidak tersedia di Kota Bima.Akhirnya pak Zul memutuskan untuk pindah di Kabupaten dengan mendatangi Dae Very dan Dae Very sangat setuju sekali karena memang sudah dari dulu dae Very menyiapkan lahan dan bangunannya. Akhirnya ide itu diproses dipemkab Bima yang dipimpin oleh Wakil Bupati saat itu bapak H. Syafruddin dan dengan loby2 tingkat tinggi yang dilakukan oleh pak Hamdan Zulva dan pak Zul serta yang lainnya maka Politeknik Negeri Bima bisa berwujud seperti sekarang ini. Demikian kurang lebih paparan pak Zulkifli Yusuf.
Pak Zul juga mencatat terdapat empat kegaiban dan keajaiban yang dialaminya selama mengurus ijin Politeknik negeri Bima ini.Pertama, pendelegasian penanganan bakal Perguruan Tinggi ini oleh Bupati Bima ke bapak wakil Bupati Bima. Ini tanda-tanda apa? Tanyanya.Sebagaimana kita mafhum saat ini bupati Bima dijabat oleh wakil Bupati Bima.Kegaiban yang kedua, bahwa acara ini sebenarnya sudah direncanakan oleh Bupati Bima saat (Dae Very) itu pada tanggal 27 Desember 2013.Makanya mendiang Dae Very mengundang khusus bapak Hamdan Zulva dan bapak Zulkifli Yusuf untuk datang ke Bima menghadiri acara tersebut.Sesampai di Bima yang terjadi adalah menghadiri pemakaman beliau Dae Very.Sedangkan kegaiban yang ketiga menurut pak Zul adalah ketika pak Zul meminta rekomendasi Gubernur NTB Tuan Guru Bajang. Gubernur dengan senang hati mendukung penuh dan menandatangi surat rekomendasi tersebut. Sedangkan kegaiban yang keempat adalah Anggota DPRD dan DPR Propinsi kompak menyetujui pendirian Politeknik Negeri di Bima. Hal ini menurut beliau sangat jarang terjadi dan tidak ada satu sen pun uang yang dikeluarkan untuk pengurusan ijin Politeknik Negeri Bima ini. Pungkasnya.


Bima, 31 Juli 2014