Salah satu tugas yang dibebankan kepada saya adalah teori “menuju masyarakat heterogen� Herbert Spencer. Pada mulanya, ketika mendapatkan tugas ini, saya belum bisa mereka-reka bagaimana dan pada kasus aktual dan kasus sejarah macam apa seharusnya saya terapkan teori ini.
Setelah saya baca dan dalami maksud dari teori tersebut, muncul ide untuk menerapkan teori tersebut ke dalam masyarakat Islam Bima, karena kalau dilihat dari sejarahnya, masyarakat Bima dapat ditelusuri sejak masa Naka, masa Ncuhi, masa kerajaan dan masa-masa setelahnya yang mengalami perubahan secara evolutif. Oleh karenanya, saya buat judul “Masyarakat Islam Bima dalam Teori “Menuju Masyarakat Heterogen Herbert Spencer�.

Spencer (1820-1903) berpandangan bahwa masyarakat adalah sebuah organisme. Maksudnya ada kesamaan antara cara memandang masyarakat dengan cara memandang organisme biologi manusia. Menurutnya, masyarakat sebagai organisme biologis diartikan sebagai sesuatu yang selalu tumbuh dan berkembang melalui proses evolusi. Jelasnya bahwa proses evolusi sosial berlangsung melalui diferensiasi struktural dan fungsional sebagai berikut: Pertama, dari yang sederhana menuju yang kompleks; kedua, dari tanpa bentuk yang dapat dilihat ke keterkaitan bagian-bagian; ketiga, dari keseragaman, homogenitas ke spesialisasi, heterogenitas; keempat, dari ketidakstabilan ke kestabilan. Proses seperti ini adalah universal.

Sementara proses evolusi masyarakat, menurutnya dilalui dalam beberapa tahap perkembangan, yaitu: Pertama, tahap masyarakat sederhana. Masyarakat ini dicirikan dengan masyarakat yang terisolasi, aktivitas seluruh anggotanya serupa, tidak ada organisasi politik. Kedua, masyarakat kompleks, yang dicirikan dengan adanya pembagian kerja antarindividu, serta pembagian fungsi antar bagian-bagian masyarakat yang mulai muncul, hierarki organisasi politik sangat penting. Ketiga, masyarakat lebih kompleks, yang dicirikan dengan adanya wilayah bersama, memiliki konstitusi dan sistem hukum permanen. Keempat, peradaban, yaitu sebuah kesatuan sosial yang paling kompleks, terbentuknya negara bangsa, adanya federasi beberapa negara atau diwujudkan dengan kekhaisaran yang besar.
Jika kita melihat masyarakat Bima dari kaca mata Herbert Spencer, maka kita diajak untuk menelusuri perubahan yang terjadi pada masyarakat Bima itu sendiri. Kalau kita menengok sejarah Bima, khususnya yang dicatat dalam BO (catatan lama Istana Bima), sebagaimana yang dikutip oleh sejarahwan Bima M. Hilir Ismail bahwa sistem pemerintahan yang pernah tumbuh dan berkembang dalam sejarah kerajaan Bima ada tujuh masa pemerintahan. 1) masa Naka, 2) masa Ncuhi, 3) masa Kerajaan, 4) masa Kesultanan, 5) masa Swapraja, 6) masa Swatantra, dan 7) masa Kabupaten/Kota (M. Hilir Ismail: 2004, 22).

Pada masa pertumbuhan masyarakat Bima yakni masa Naka dan Ncuhi, masyarakat Bima masuk dalam kategori tipe masyarakat homogen, karena masyarakat Bima pada kedua masa ini masih hidup nomaden (berpindah-pindah), berkelompok-kelompok yang dipimpin oleh seorang kharismatik yang disebut Naka dan Ncuhi. Mata pencaharian hanya fokus pada berladang dan melaut. Pada zaman ini masyarakat Bima belum memiliki ciri-ciri masyarakat heterogen, masyarakat yang kompleks, yang rumit, sebagaimana yang dimaksud oleh Spencer. 

Adapun pada masa perkembangan dan masa kesultanan, masyarakat Bima mulai terlihat perkembangannya dalam beberapa bidang. Hal ini ditandai dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh sangaji Manggampo Jawa dengan mendatangkan khusus seorang ahli dari Majapahit bernama Ajar Panuli untuk mengajari masyarakat Bima mengenai teknik pembuatan candi, pembuatan batu bata dan tulis menulis. Bahkan sejak itu, Manggampo Jawa merintis penulisan buku sejarah Bima yang biasa di sebut BO Sangajikai (buku catatan sejarah kerajaan Bima) dengan aksara Bima, yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di Museum Samparaja Kota Bima. 

Begitu juga usaha-usaha pengembangan yang dilakukan oleh Manggampo Donggo dan Ma Wa’a Bilmana dalam bidang ekonomi, pertanian, kehutanan, armada laut dan darat serta sistem pemerintahan yang berlaku. Kemudian dilanjutkan oleh sultan kedua yang bernama Abil Khair Sirajudin menggantikan sistem pemerintahan sebelumnya dengan sistem pemerintahan berdasarkan Hadat dan Hukum Islam. Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Bima berevolusi menjadi masyarakat heterogen. 

Dari uraian di atas menjelaskan, menurut catatan sejarah bahwa masyarakat Bima mengalami beberapa tahap perubahan sistem pemerintahan yang mempengaruhi pola hidup masyarakat Bima, yang dimulai pada masa Naka (pra sejarah), masa Ncuhi (proto sejarah atau ambang sejarah), masa klasik (masa kerajaan), masa kesultanan sampai saat ini. Perubahan itu dapat dilihat dari pola hidup mereka, pola kerja mereka dan system pemerintahan yang mereka bangun pada tiap masa tersebut. 

Sehingga dapat kita sarikan bahwa pada masa Naka (pra sejarah) dan masa Ncuhi (proto sejarah) dan masa awal kerajaan, masyarakat Bima masuk dalam kategori masyarakat homogen, sementara mulai masa pertengahan kerajaan dan seterusnya mulai terlihat perkembangan masyarakat yang mengarah kepada masyarakat heterogen. 

Wallahu a’lam.
Surabaya, 25 Mei 2016