Category Archives: Tokoh Lokal

Ketua MUI Kota Bima

Muma Guru

Category : Tokoh Lokal

Terbersit dalam hati saya untuk selalu menyambung tali silaturrahim kepada siapa pun, kepada keluarga dekat, keluarga jauh, atau siapa saja sesama umat manusia, lebih-lebih kepada ulama dan para sesepuh. Khusus kepada para ulama, saya ingin mendapatkan nasehat dan barokah ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat karena bagaimana pun mereka memiliki banyak pengalaman hidup dalam meruwat umat.

Selain itu, dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa barangsiapa yang ingin dipermudah rejekinya dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah silaturrahim. Oleh karena itu, pada hari Sabtu kemarin, saya beserta mas Syagif dan pak Arif Rahman setelah mengikuti acara akad nikah salah seorang dosen STIT Sunan Giri Bima, Nurhasanah, M.Pd., berkesempatan bersilaturrahim ke rumah salah seorang ulama kota Bima Muma Guru Drs. H. M. Saleh Ismail yang saat ini menjabat sebagai ketua MUI Kota Bima dan salah seorang unsur pendiri kampus STIT Sunan Giri Bima.

Niat untuk berkunjung sudah lama terbersit namun baru kemarin dapat terwujud. Bahkan sebulan yang lalu, saya sempat mampir di rumah beliau tapi beliau sudah berangkat ke Sumbawa dua tiga hari sebelumnya. Sebelumnya, saya sudah sering berkunjung ke kediaman beliau, tapi saat ini berbeda karena saya mendapat kabar dari rekan-rekan di kampus, ketika itu saya masih di Surabaya, bahwa Muma Guru mendapatan cobaan berupa kesehatan yang tidak prima sehingga beliau masuk rumah sakit bahkan dirujuk sampai ke Bali. lhamdulillah, kemarin beliau sudah terlihat sehat, segar bugar bahkan tidak terlihat tanda-tanda sakit, cuma nampak sedikit lebih kurus dari biasanya.

Dalam perbincangan kemarin, banyak hal yang dikemukakan oleh Muma Guru, di antaranya beliau berpesan agar selala mennjalin tali silaturrahim dengan para sesepuh/orang tua karena apa yang ada saat ini adalah hasil usaha keringat orang-orang tua dulu. Generasi muda hanya melanjutkan perjuangan yang telah dirintis oleh para sesepuh.

Muma Guru juga bercerita tentang bagaimana menggaet calon mahasiswa baru yang dilakukan oleh para sesepuh dulu. Mereka turun ke kampung-kampung di kota dan kabupaten dalam rangka mensyi’arkan Islam sekaligus mengenalkan kampus STIT Sunan Giri Bima. Dengan cara demikian, kampus STIT dulu banyak dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu, Muma Guru berpesan agar gunakan cara-cara demikian, dari rumah ke rumah menjemput calon maba, dan cara demikianlah, menurutnya yang jitu dalam menggaet maba.

Saya informasikan bahwa cara tersebut sudah, sedang dan akan kami galakkan, kami mohon do’a beliau agar Muma Guru dan kami sebagai generasi muda diberi kesehatan prima, diberi kekuatan lahir bathin untuk melanjutkan perjuangan sesepuh kampus. Semoga apa yang menjadi cita-cita dan arah perjuangan para sesepuh dapat kami jalankan sesuai track Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Dalam kesempatan itu juga, saya menanyakan tentang istilah yang umum disematkan untuk para ulama Bima jaman dulu, karena terdapat beberapa istilah yang sering saya dengar di antaranya Tuan imam,  Kyai haji, Tuan Guru haji, Muma guru, kakek guru, ustad, dan lain-lain. Menurut beliau, yang Khas untuk ulama Bima adalah Muma Guru, di Dompu Uma Guru dan di Lombok Tuan Guru.

Istilah Tuan Guru menurut beliau lebih condong merujuk pada jaman penjajahan kolonial Belanda, karena pejabat-pejabat Belanda saat itu dipanggil dengan istilah Tuan misalnya Tuan Menir, Tuan Jenderal, dan lain-lain. Jadi panggilan khas untuk ulama Bima adalah Muma Guru. Walaupun terdapat panggilan lain seperti Kyai Haji M. Said Amin, Tuan Imam H. Abdurrahman Idris, Kakek Guru H. Muhammad Hasan, dan Ustad H. Adnin, dan lain-lain.

Oleh karena itu, perlu digali lebih lanjut tentang panggilan khas atau gelar khas Ulama Bima yang disematkan kepada mereka sehingga memiliki warna tersendiri dari daerah lain. Beliau melanjutkan bahwa orang-orang yang pantas diberi gelar tersebut harus memenuhi beberapa syarat di antaranya; memiliki akhlak yang mulia, menguasai ilmu agama secara mendalam kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan diajarkan kepada masyarakat dan yang terakhir harus menyandang gelar haji. Wallahu a’lam.

Dara Bima, 07 April 2019

Sykuri Abubakar*


Serial Ulama Kharismatik Bima (9)

Category : Tokoh Lokal

Sekelumit kisah Syaikh Abubakar Ngali

Sebgaimana yang diceritakan oleh Hj. Aminah Muchtar putri ke dua TGH. Muhammad Said, dalam buku “Mengenang KH. Muhammad Said dan KH. Usman Abidin” bahwa Syaikh Abubakar bin Nawawi adalah orang tua kandung dari TGH. Muhammad Said Ngali.

Saat perang Ngali yang berkecamuk dari tahun 1905-1909 M, Syaikh Abubakar bin Nawawi tengah berada di Makkah al-Mukarramah dalam rangka melaksanakan ibadah haji dan menuntut ilmu sebagai yang biasa dilakukan oleh pemuda-pemuda nusantara masa itu.

Sementara kakaknya yang bernama Yasin bin Nawawi dan adiknya Adam bin Nawawi berperan penting dalam perang Ngali. Sang adik, Adam bin Nawawi terbunuh dan sang Kakak, Yasin bin Nawawi ditawan oleh Belanda dan diasingkan di pulau Sangiang.

Sebelum berangkat haji dan perang Ngali meletus, Syaikh Abubakar telah melakukan pernikahan dan dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Fatimah. Namun pernikahan ini tidak berlangsung lama sehingga mereka cerai sebelum tahun 1903.

Selama di Makkah al-Mukarramah, ia belajar dengan tekun selama beberapa tahun. Tidak dijelaskan di sekolah mana ia belajar, siapa saja guru-gurunya dan kitab apa yang dikaji, tapi yang pasti ia mengaji dan mengajar di masjidil haram selama beberapa tahun. Murid-muridnya yang berasal dari Bima adalah putranya sendiri TGH. Muhammad Said dan Tuan Guru Imam H. Abdurrahman Idris Tente.

Pada tahun 1910 M, ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Ngali. Setahun kemudian (1911 M), ia menikah dengan seorang gadis yang bernama Saleha binti Tole yang saat itu berumur kira-kira 14 atau 15 tahun. Dari pernikahannya ini, melahirkan 6 orang anak, 3 laki-laki dan 3 perempuan. Salah seorang anak laki-lakinya bernama Muhammad Said yang menjadi bapak dari Hj. Aminah Muchtar.

Di saat suasana perang Ngali belum begitu hilang dari ingatan masyarakat Ngali dan kakaknya yang bernama Yasin bin Nawawi masih diasingkan di pulau sangiang, sultan Ibrahim (Ruma Ta Ma Taho Parange) meminta Syaikh Abubakar Ngali untuk menjadi Lebe Dala di kesultanan Bima. Diantara tugasnya adalah menjadi imam di masjid sultan Salahuddin Bima.

Hj. Aminah Muchtar masih bertanya-tanya apakah pengangkatan tersebut sebagai upaya pemulihan hubungan sultan dengan masyarakat Ngali atau memang benar-benar didasarkan pada kemampuan Syaikh Abubakar Ngali dalam hal agama. Sampai saat ini, hal tersebut masih menjadi misteri.

Terkait dengan asal muasal mengapa perang Ngali itu meletus, saat itu masih menjadi perdebatan. Pejuang Ngali berpendapat bahwa mereka berjuang demi mempertahankan kesultanan Bima dari rongrongan orang kafir Belanda, bukan membangkang kepada sultan. Sementara Belanda mengadu domba dengan mengatakan bahwa orang Ngali berperang melawan kesultanan Bima.

Setelah diangkat menjadi Lebe Dala pada tahun 1912, Syaikh Abubakar tinggal di kota Bima didampingi oleh isteri ketiganya Siti Djahora binti Abdurrahman, putri “Ompu Toi” pejabat penting dalam istana. Pernikahan dengan isteri ketiganya ini tidak membuahkan anak.

Untuk memperlancar tugas tersebut, ia menempati rumah dekat dengan masjid sultan Muhammad Salahuddin Bima agar setiap waktu dapat memenuhi kewajibannya sebagai Imam Masjid Sultan. Tugasnya sebagai Imam Masjid Sultan ini dijalaninya sampai masa pensiun dan setelah itu, putranya yang bernama Muhammad Said ditunjuk menjadi Khatib Toi kesultanan Bima.

Pada tahun 1918 M, keluarga besar Syaikh Abubakar berangkat ke Makkah al-Mukarramah dalam rangka menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan haji kali ini, banyak ujian yang dialami yakni meninggalnya empat orang putra/i beliau di al-Aziziyah Makkah. Sebelum itu, anaknya yang pertama Djunaid, juga telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Oleh karena itu, ia mengajak isteri keduanya Saleha untuk pulang kembali ke kampung halaman di Ngali. Barangkali menurut beliau, cuaca dan suasana kota Makkah tidak cocok dengan keluarganya. Umi Saleha menolak untuk pulang karena hendak menemani putranya Muhammad Said yang sedang menuntut ilmu di Madrasah Falakiyah dan mengaji di masjidil haram. Umi Saleha menganjurkan agar pulang terlebih dahulu bersama isteri ketiga yang bernama Djahora binti Abdurrahman.

Akhirnya pada tahun 1929, Syaikh Abubakar dengan isteri ketiganya Djahora binti Abdurrahman dan Qasim bin Yahya keponaannya pulang ke Ngali. Setelah itu, ia menikah lagi di Ngali dengan Habibah binti Musa dan melahirkan tiga orang anak perempuan, yaitu Asmah, Asiah, dan Fatimah.

Bagaimana kisah lengkap perjalanan hidup beliau, perlu penelusuran lebih lanjut. wallahu a’lam.

Dara Bima, 10 Januari 2019

Sumber rujukan disarikan dari buku:
Marwan Sarijo (penyunting), Mengenang KH.Muhammad Said dan KH. Usman Abidin, Bogor, Yayasan Ngali Aksara dan Pesantren al-Manar Press, 2001.


Serial Ulama Kharismatik Bima (8)

Category : Tokoh Lokal

Biografi dan Jejak Dakwah TGH. Usman Abidin

Sebagaimana dijelaskan dalam buku yang berjudul “Mengenang KH. Muhammad Said dan KH. Usman Abidin, bahwa TGH. Usman Abidin atau yang biasa dipanggil Abah oleh anak keturunannya lahir di Raba, Bima, 6 April 1916. Bapaknya, adalah seorang ulama dan pernah menjabat sebagai camat di wilayahnya. Sedangkan ibunya bernama Sa’diah juga berasal dari keluarga terpandang di Bima. Usman kecil digembleng khusus oleh ayahnya untuk mendalami ilmu agama sehingga ketika besar, Usman menjadi tokoh ulama panutan yang berpengaruh di Bima dan Jakarta.

Pada umur 14 tahun, ia dikirim oleh ayahnya untuk memperdalam ilmu agama di Makkah al-Mukarramah dan dititipkan pada kakeknya yang bernama H. Amin salah seorang tuan tanah di Bima. Di Makkah, ia belajar di Madrasah al-Falah tingkat tsanawiyah yang diasuh oleh Syaikh Sayid Alawi bin Abbas al-Maliki al-Makki, Syaikh Umar bin Hamdan al-Madani al-Makki, Sayid Muhammad Amin al-Qurtubi al-Makki, Sayid Abubakar al-Habsyi dan Sayid Abdullah Hamdu. Selebihnya beliau belajar di masjidil haram. Salah seorang teman seangkatannya yang berasal dari Indonesia adalah Syaikh Yasin al-Padangi.

Ia belajar disana selama enam tahun, karena pada saat itu, pemerintah Arab Saudi menerapkan aturan bagi warga pendatang atau asing diberikan pilihan untuk menentukan kewarganegaraannya. Karena nasionalisme yang tinggi dan ingin mengamalkan ilmu yang didapatnya selama belajar di Makkah, maka ia pun memilih untuk kembali ke tanah air.

Sekembalinya dari Makkah pada tahun 1933, kira-kira umur 21 tahun, ia diminta oleh Sultan Muhammad Salahuddin untuk mengajar di masjid dan istana. Di istana, ia menjadi guru ngaji sultan dan putri-putrinya dengan mengajarkan membaca al-Quran, menghafal juz amma dan surat yasin. Putri Maryam R Salahuddin menuturkan “Sekitar dua tahun beliau mengajar kami mengaji, saya sudah dapat membaca al-Qur’an dengan lancar dan mampu menghapal beberapa surah al-Qur’an seperti zuz Amma dan surat Yasin”.

Ina Kau Mari juga menuturkan bahwa beliau juga mengajarinya menulis dan membaca huruf arab Melay ketika masuk pada tahun ke tiga sehingga tidak mengherankan Ina Kau Mari sangat lancar dan fasih membaca naskah-naskah kuno peninggalan kesultanan Bima berkat ilmu yang didapatkan dari TGH. Usman Abidin tersebut.

Di istana, Ia juga mengajar ilmu tauhid dengan berpedoman pada kitab “Nur al-Mubiin fi i’tiqadi kalimat syahadatain”, yang diwariskan secara turun temurun dari sultan Abdul Qadim. Ia juga menganjurkan kepada sultan agar mendapatkan kitab “syarh al-Manhaj” karangan Syaikh Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahalli sebagai pegangan dalam menjalankan pemerintahan.

Ketika terjadi peperangan antara Jepang dengan sekutu, menurut Ruma Mari, beliau ikut mengungsi ke Dodu beserta keluarga sultan Salahuddin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dari pemboman pesawat sekutu. Selama berada di tempat pengungsian di Dodu, kegiatan pengajian al-Qu’ran dan menelaah isi kitab-kitab kuning tetap dijalankan. Penerangan di malam hari menggunakan lampu templok atau lampu peta yang terbuat dari biji wuwu atau biji jarak yang digoreng hangus, kemudian ditumbuk bersama kapas lalu dililitkan pada sebatang lidi dari bambu.

Setelah keadaan dirasakan cukup aman. Sultan sekeluarga beserta kelompok pengajian kembali ke istana. TGH. Usman Abidin tidak hanya menjadi guru ngaji, tetapi diangkat oleh Sultan sebagai Penasihat Sultan dibidang keagamaan dan sering dimintai bantuan oleh sultan untuk menyiapkan bahan khutbah atau ceramah.

Di istana Bima inilah, beliau menemukan jodohnya seorang penari istana yang bernama siti Mujnah. Dari pernikahannya ini melahirkan dua orang anak yang bernama St.Nurjanah dan Abdurrahman. Pernikahannya ini tidak berlangsung lama karena sang isteri meninggal dunia.

KH. M. Hasib Wahab, salah seoarang menantunya, mencatat bahwa setelah ditinggal mati sang isteri, TGH, Usman Abidin menikah lagi dengan enam orang perempuan yang tersebar di berbagai daerah. Ada yang dari Bima, Surabaya, Jakarta, Garut, dan Bangil. Alasan menikah lagi karena isteri meninggal dunia dan tidak ada kecocokan diantara mereka. Dari sekian pernikahannya itu melahirkan banyak anak dan cucu yang tersebar di berbagai daerah.

TGH. Usman Abidin juga aktif menjadi pengurus Nahdatul Ulama (NU) Sunda kecil (Nama lain pulau NTB dan NTT sebelum kemerdekaan) bahkan pernah diangkat sebagai Rois Syuriah PBNU. Karena suatu permasalahan, akhirnya beliau memutuskan untuk tidak aktif. Ia juga pernah di angkat sebagi ketua MUI dimasa era pemerintahan Soeharto.

Tahun 1937, ia mendirikan PIB (Persatuan Islam Bima) dan menghadiri Kongres Majlis Ala Indonesia di Yogyakarta di masa Jepang. Majlis Ala Indonesia adalah perkumpulan aliran-aliram Islam di seluruh Indonesia. Kongres itu berjalan 2 sesi, yang pertama berada di Yogyakarta yang diikuti oleh beliau dan kedua berada di Solo. Tujuan kongres ini adalah untuk menyatukan perbedaan-perbedaan aliran yang terdapat di Indonesia sejak zaman Belanda.

Ia juga mendirikan pondok pesantren yang menaungi Madrasah Tsanawiyah dan beliau mengajar sekaligus menjadi Kepala Sekolahnya. Ia juga diangkat menjadi anggota pengurus Badan Hukum Syara Bima pada tahun 1950. Menurut Abdul Ghani, beliaulah anggota Badan Hukum Syara’ yang paling banyak memiliki jumlah judul kitab, lebih dari tiga ratus judul. Ia juga pernah menjadi anggota DPRD Bima dan sempat menjabat sebagai wakil ketua DPRD.

Setelah itu, ia pindah ke Jakarta. Di jakarta, ia sering diundang ke mana-mana untuk menjadi juri MTQ dan memberikan ceramah agama. Ia aktif di lembaga pendidikan dengan mendirikan Majelis Taklim di daerah Rawasari, kemudian di daerah Petamburan dan di daerah kemanggisan. Ia juga mendirikan Yayasan Wakfiah Al-Mubarak di daerah Rawasari.

Pada tahun 1994 di Tubuh organisasi NU terdapat dua faksi yaitu kubu Abu hasan yang di dukung oleh Pemerintah Soeharto dan kubu Gus Dur yang di dukung oleh Para Kyai khos. Kubu Abu Hasan mencantumkan nama TGH. Usman Abidin sebagai Muhtasyar, namun beliau menolaknya. Beliau hanya ingin tidak ada perpecahan di kalangan NU. Beliau bersikap netral dalam rangka menjadi penengah atau mediator dalam menyelesaikan friksi antara kedua kubu. Pemilihan pun dimenangkan oleh KH. Abdurrahan Wahid, sehingga terlepaslah NU dari prahara kepentingan politik orde baru masa itu.

Menurut penuturan cucunya, TGH. Usman Abidin termasuk orang yang taat beragama dan sangat perhatian terhadap pendidikan anak-anak dan cucunya. Ia juga terkenal dengan pribadi yang tegas. Sebagai contoh, beliau mewajibkan anak-anak dan cucu-cucunya untuk mengaji dan melaksanakan shalat secara berjamaah. Setiap malam kamis ba’da Isya, ia selalu mengadakan pengajian dan tadarus al-Qur’an di rumahnya dengan mengundang tetangga dan santri-santrinya dan Jumat pagi, ia selalu bersedekah untuk fakir miskin.

Di mata Kyai Hasib Wahab, TGH. Usman Abidin adalah pribadi yang berwibawa, penuh kharisma, alim, ahli tasawuf, dan berjiwa “kewalian”. Walaupun sudah pisah dengan isteri-isterinya terdahulu (sebagian meninggal dunia), ia tetap sayang dan perhatian terhadap anak-anaknya. Ia selalu menasehati anak-anaknya agar selalu giat belajar dan mandiri. Khusus kepada anak-anak perempuannya jika kelak berumah tangga, ia selalu berpesan agar mandiri dan tidak terlalu bergantung pada suami.

Ia meninggal pada tanggal 1 Maret 1999 umur 83 tahun dan dimakamkan di TPU Karet. Ketika meninggal, banyak dari kaum fakir miskin yang mengantarnya. Barangkali mereka mengingat kebaikan-kebaikan TGH. Usman Abidin yang pernah mereka rasakan dulu. Walahu a’lam.

Bima, 08 Januari 2018

Sumber rujukan:
1.Marwan Sarijo (penyunting), Mengenang KH.Muhammad Said dan KH. Usman Abidin, Bogor, Yayasan Ngali Aksara dan Pesantren al-Manar Press, 2001.
2.Prof. Dr. Abdul Ghani Abdullah, Peradilan Agama dalam Pemerintahan Islam di Kesultanan Bima (1947-1957), Yogyakarta, Genta Publishing, 2015
3.https://web.facebook.com/…/khusman-abidin…/339268676163287/…
4.http://x1patulabsky.blogspot.com/…/tugas-2-sebuah-biografi.…, Nur Adhaini S


Serial Ulama Kharismatik Bima (6)

Category : Tokoh Lokal

Jejak Intelektual TGH. Taufiquddin Hamy

Oleh: Ahmad Syagif

H. Moh. Taufiquddin Hamy dilahirkan di desa Roka Kecamatan Belo Kabupaten Bima pada tanggal 22 Desember 1954. Beliau merupakan anak kedua dari enam bersaudara, buah hati dari pasangan H. M. Yasin Abdul Lathief dan Hj. St. Hadijah, salah seorang alim ulama yang sangat disegani di Kabupaten Bima pada masanya. Buah memang tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Pepatah ini sangat cocok untuk menggambarkan bagaimana darah ulama yang mengalir dalam diri H. Moh. Taufiquddin Hamy diwariskan dari orang tua bahkan kakeknya. Sejak kecil hingga dewasa, didikan keluarga pada beliau sangat kental dengan nuansa agama dan semangat keilmuan. Tidak heran, semua saudara-saudaranya seakan-akan sudah diwajibkan oleh sang ayah untuk menempuh pendidikan agama mulai dari pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi. Hal inilah yang jarang terdapat pada keluarga-keluarga lain di tanah kelahirannya.

Saat beliau menempuh pendidikan dasar, beliau rela berjalan kaki dari desa Roka untuk bersekolah di Madrasah Ibtida’iyah di Desa Cenggu yang jaraknya berkilo-kilometer, hingga lulus pada tahun 1967. Setelah itu, beliau turun gunung melanjutkan pendidikannya di MTSAIN Bima mengikuti sang ayah yang telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil dan kebetulan ditugaskan di Bima. Setelah tamat pada tahun 1970 beliau melanjutkan pendidikannya ke sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Bima hingga tahun 1971. Kemudian beliau masuk ke Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN) Bima hingga tamat pada tahun 1973.
Pada saat itulah sang ayah menyatakan keinginannya agar anak keduanya tersebut harus menempuh pendidikan tinggi agama. Secara lebih khusus, bahkan sang ayah berpesan agar sang anak ini nantinya mengambil jurusan bahasa Arab sebagai bekalnya nanti dalam mendalami ajaran agama Islam melalui kitab-kitab yang memang banyak dikoleksi sang ayah selama bertahun-tahun, baik yang beliau beli sendiri ketika menunaikan ibadah haji maupun pesanan atau oleh-oleh dari koleganya dari tanah suci.

Atas dasar inilah H. Moh. Taufiquddin Hamy saat itu rela jauh-jauh merantau ke tanah jawa untuk memenuhi keinginan sang ayah. Setelah berminggu-minggu berlayar dari Bima, sampailah beliau di kota Surabaya Jawa Timur. Beliau akhirnya mendaftar di jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Selama di Surabaya inilah beliau merasakan pahit-manisnya masa perkuliahan. Sistem perkuliahan, ketatnya penilaian dosen, dan bobot materi yang berat saat itu tidak bisa disamakan dengan perkuliahan pada zaman sekarang. Namun karena H. Moh. Taufiquddin Hamy memiliki semangat yang tinggi dalam membaca, memiliki hafalan yang kuat, dan semangat tidak mudah putus asa, berbagai aral dan rintangan tersebut mampu dihadapi meskipun harus jatuh bangun.

Karena kelebihannya itulah beliau sering dimintai bantuan koleganya baik sesama jurusan, lintas jurusan, adik tingkat, maupun kakak tingkatnya untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah, apalagi yang berkaitan dengan bahasa Arab. Tidak heran, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab saat itu menjadi jurusan yang menjadi momok bagi para mahasiswa sehingga tidak sedikit yang harus drop out atau pindah jurusan akibat hal tersebut. Dari puluhan teman-teman sekelasnya hanya tiga orang termasuk beliau yang meraih sarjana muda pada tahun 1977.

Setelah meraih gelar sarjana mudanya, H. Moh. Taufiquddin Hamy saat itu tidak mengendurkan semangat kuliahnya dengan tetap melanjutkan studinya untuk meraih gelar sarjana penuh. Di sela-sela proses tersebut beliau juga menjadi pengajar privat dan guru di beberapa sekolah di Surabaya. Beliau juga akhirnya menemukan jodohnya, seorang wanita Jawa dari Tanggulangin Sidoarjo bernama Lailatul Masrurah yang kebetulan merupakan mahasiswa di kampus yang sama pada Fakultas Ushuluddin. Setelah menikah pada tahun 1983 mereka dikaruniai tiga orang putera dan seorang puteri.
Pada tahun 1987 ternyata sang ayah menginginkan agar H. Moh. Taufiquddin Hamy pulang kampung dengan maksud agar bisa mengamalkan ilmu di tanah kelahiran dan melanjutkan perjuangan dakwah dan tugas orang tua yang sudah masuk masa pensiun. Karena baktinya kepada orang tua, akhirnya beliau meninggalkan pekerjaannya dan kesibukannya di Surabaya, padahal beliau sempat diminta teman-teman dan dosennya untuk menjadi asisten pengajar di kampusnya.

H. Moh. Taufiquddin Hamy pada awalnya pulang kampung seorang diri ke Bima dan langsung lulus menjadi PNS sebagai guru Agama Islam di MTSN Bima. Setelah menyelesaikan tugas akhirnya, beliau akhirnya berhasil mendapatkan gelar sarjana lengkap pada tahun 1988. Pada tahun 1989 akhirnya sang isteri dan anak-anaknya ikut hijrah ke Bima menemani suami tercinta.

Pada tahun 1990 H. Moh. Taufiquddin Hamy kemudian mendapat tugas baru di PGAN Bima yang pada Tahun 1992 berubah nama menjadi MAN 2 Bima. Pada tahun 1999 beliau akhirnya ditugaskan atas permintaannya sendiri ke sekolah rintisan sang ayah di Madrasah Aliyah (MA) Darul Ma’arif Roka. Dan pada tahun 2003 beliau diangkat menjadi Kepala Seksi Urusan Agama Islam Departemen Agama Islam Kabupaten Bima. Sempat dicalonkan menjadi kepala Departemen Agama Kabupaten Bima, H. Moh. Taufiquddin Hamy memilih kembali memimpin Madrasah Aliyah (MA) Darul Ma’arif Roka.

Di samping menjadi kepala Madrasah Aliyah (MA) Darul Ma’arif Roka, beliau juga diangkat sebagai ketua Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Bima sepeninggal ayahnya sejak bulan Nopember tahun 2005. Ketika dipimpin oleh beliau, yayasan ini berkembang cukup pesat. Bangunan sekolah banyak yang direnovasi, beberapa ruangan kelas dan aula dibangun, lab komputer didapatkan dari sumbangan Kemenag dan musholla TGH. Yasin Abdul Lathief pun dibangun yang terletak di bagian depan madrasah. Salah satu kebijakan yayasan adalah tidak menarik biaya pendidikan sepeser pun dari para siswa di semua jenjang pendidikan, bahkan mereka difasilitasi seragam sekolah secara cuma-cuma. Hal inilah yang menyebabkan peningkatan jumlah siswa yang terjadi dari tahun ke tahun baik pada tingkat Raudhotul Athfal (RA) maupun tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Sebagian dari para siswa tersebut, ada yang muqim di Pondok Pesantren Darul Ma’arif Roka Bima. Selain diajarkan materi kurikulum resmi dari pemerintah, para santri juga diajarkan materi tambahan yang meliputi pengajian al-Qur’an setiap selesai sholat ashar dan sholat subuh serta pengajian kitab kuning selesai sholat magrib.

Untuk menjaga loyalitas dan semangat para guru dan staf dalam menjalankan tugasnya, beliau sebagai pimpinan selalu mengupayakan pembayaran honor tiap bulan tepat waktu meski menggunakan uang dari gaji beliau pribadi. Beliau juga mendorong semua guru agar dapat disertifikasi oleh Pemerintah dalam hal ini Kemenag RI Kabupaten Bima. Dan al-hamdulillah hingga saat ini hampir semua guru sudah tersertifikasi.

Dalam bidang sosial kemasyarakatan beliau dikenal sebagai tokoh agama yang disegani. Sepak terjangnya dalam dunia dakwah dikenal luas oleh masyarakat Kota dan Kabupaten Bima. Beliau dikenal memiliki kemampuan retorika yang bagus dan materi yang berbobot serta kecepatan membaca yang sangat baik, sebagai contoh beliau mampu membaca habis tafsir al-Misbah karya Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, MA. yang berjumlah 15 jilid dalam waktu beberapa bulan saja. Ditambah lagi dengan kayanya referensi berbagai bacaan yang bersumber dari buku-buku dan kitab-kitab berbahasa Arab, beliau memiliki wawasan yang luas akan berbagai aspek keagamaan di bidang, akidah, akhlaq, fiqih, ushul fiqih, tafsir, dan sebagainya. Beliau banyak mengoleksi kitab-kitab baik dari peninggalan sang ayah, maupun yang beliau kumpulkan sendiri ketika menunaikan ibadah haji. Beliau juga dikenal sangat arif dan tidak memiliki sikap fanatisme madzhab dalam menjelaskan atau menyikapi persoalan agama, sehingga menjadikannya dapat diterima diberbagai kelompok masyarakat dan organisasi sosial keagamaan. Selain itu beliau juga dikenal tidak kenal lelah dan tidak pilih-pilih soal urusan berdakwah, baik yang lokasinya dekat di kota, maupun di lokasi yang jauh terpencil di pedesaan dan pegunungan, baik yang bersifat rutin terjadwal di masjid-masjid, pondok pesantren, lembaga sosial, sampai instansi pemerintah, maupun yang bersifat insidental atas undangan keluarga, tetangga, teman, kolega, maupun instansi pemerintah dan swasta.

Melihat kapasitas, kredibilitas, dan integritasnya itulah banyak posisi penting yang dipercayakan kepada beliau di masyarakat. Beliau pernah menjadi ketua Lembaga Pembinaan Tilawatil Qur’an, Dewan Hakam Musabaqah Tilawatil Qur’an mulai tingkat Kelurahan hingga tingkat Propinsi, Lebe Na’e (Imam Besar) Masjid Agung Al-Muwahidin Kota Bima, dan Ketua Majelis Ulama Kota Bima. Beliau juga sudah dua kali menjadi ketua Tim Pemimbing Haji Indonesia untuk jamaah haji Kota dan Kabupaten Bima.
Mungkin karena banyaknya aktifitas dan padatnya jadwal kegiatan, tidak banyak karya tulis yang beliau sempat hasilkan. Diantara sedikit produk tulisan beliau adalah buku saku kumpulan do’a dan wirid, serta kumpulan do’a perjalan haji dan umrah. Dan disebabkan hal itu jugalah, kondisi kesehatan beliau sempat drop pada bulan ramadhan tahun 2013 hingga akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 11 Oktober 2013 di kediamannya di Bima dan dimakamkan di pekuburan desa Roka yang berlokasi di sebelah timur Pondok Pesantren yang beliau pimpin.

Sepeninggal beliau, yayasan pondok pesantren Darul Ma’arif Bima yang terletak di desa Roka dipercayakan kepada adik beliau yang bernama Drs. H. A. Munir Hamy dan Drs. H. Abubakar Aziz.

Bima, 18 Desember 2018


Serial Ulama Kharismatik Bima (5)

Category : Tokoh Lokal

Jejak Intelektual TGH. Thalib Usman

Thalib lahir di desa Roi pada tanggal 7 Maret 1934 dari pasangan Usman bin Muhammad dan Zainab binti Maryam. Ayahnya termasuk orang sholeh dan mengerti agama sehingga beliau dijadikan sebagai guru ngaji di kampungnya. Ayahnya bercita-cita agar Thalib kecil, kelak menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa, terutama dalam masalah agama, sehingga beliau menginginkan suatau saat nanti, bisa menyekolahkan Thalib di tempat kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw., Makkah al-Mukarramah.

Thalib kecil disekolahkan di Sekolah Dasar yang berlokasi di Desa Cenggu. Di Sekolah Dasar itu ditempuhnya selama 3 tahun, yaitu dari tahun 1939 sampai dengan 1942. Setelah menyelesaikan Sekolah Dasar ini, Thalib melanjutkan belajar di Sekolah Rakyat yang berlokasi di Tente. Sekolah Rakyat ini pun dilaluinya selama 3 tahun, yaitu tahun 1943 sampai dengan 1945.

Sekolah berikutnya yang Thalib masuki adalah Madrasah Islam (MI) Nata. Di sekolah ini, Thalib jalani selama 1 tahun yaitu pada tahun 1946. Ketika belajar di MI Nata ini, menurut penuturannya, ia selalu mendapatkan nilai tinggi. Teman-temannya sekelas merasa curiga, mengapa Thalib bisa mendapatkan nilai tinggi. Mereka mengira, Thalib ada main dengan sang guru, karena Thalib sangat dekat dengan sang guru bahkan setiap pulang, Thalib selalu mengantar gurunya pulang ke rumah dengan sepeda miliknya. Menurutnya, nilai tinggi yang diperolehnya itu, tidak ada kaitannya dengan kedekatannya dengan sang guru, tapi karena memang ia rajin belajar sehingga nilai yang diperoleh sangat memuaskan.

Pada tahun 1947, keinginan sang ayah untuk menyekolahkan Thalib di Makkah al-Mukarramah mulai ditemukan titik terangnya. Ini berawal ketika Thalib dapat menyelesaikan belajar di Madrasah Islam Nata dengan nilai yang memuaskan. Melihat perkembangan dan kemampuan putranya secara keilmuan terus meningkat, maka sang ayah memutuskan memberangkatkan Thalib ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu agama. Keberangkatannya di Makkah al-Mukarramah ini, ditemani oleh H. Sanudin atau biasa dipanggil Muma Lebe yang berasal dari desa Ro’i.

Mereka berdua berangkat ke Makkah al-Mukarramah dengan menumpang kapal yang bernama Taliwang yang dimulai dari Bima menuju Makassar, dari Makassar menuju Jakarta dan dari Jakarta menuju Makkah al-Mukarramah. Perjalanan ini memakan waktu selama enam belas hari. Setelah menunaikan ibadah haji, Thalib menetap di sana untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. sementara H. Sanudin meninggal di Makkah al-Mukarramah ketika melaksanakan ibadah haji.

Di sana Thalib belajar di Sekolah Darul Ulum Makkah. Ketika dites, Ia diterima di kelas lima dan dijalaninya sampai kelas dua belas yaitu mulai tahun 1947 sampai dengan tahun 1955. Beliau termasuk anak yang cerdas karena selalu mendapatkan peringkat ke dua dari empat puluh orang murid. Sementara yang mendapatkan peringkat pertama selalu diraih oleh anak dari Ampenan Mataram yang bernama M. Hidir. Pada kelas terakhir (kelas 12 Aliyah) disamping beliau mendapatkan peringkat kedua, beliau juga mendapatkan hadiah pulpen yang terbuat dari emas. Penghargaan ini sangat membanggakannya sehingga sampai sekarang selalu dikenangnya.

Murid Sekolah Darul Ulum berasal dari berbagai negara, yaitu Arab Saudi, Malaysia, Bangkok, Philipina, Syam, dan Indonesia. Tenaga pengajar kebanyakan berasal dari Malaysia dan Indonesia. Salah satu gurunya adalah ulama Besar Indonesia Syeikh Yasin al-Padangi. Adapun guru-gurunya yang lain adalah Syeikh Abdullah Nuh, Syeikh Al-Atthos, dan Syeikh Mansur. Thalib banyak menimba ilmu dari guru-gurunya tersebut terutama dari Syeikh Yasin al-Padangi yang selalu memberi semangat untuk terus memperdalam ilmu agama terutama ilmu Tafsir dan Hadist. Kitab-kitab yang dikaji adalah kitab-kitab yang cukup masyhur di kalangan ulama, yaitu kitab-kitab Tafsir, Hadist, Fiqh dan lain-lain. Salah satu kitab yang dikaji adalah kitab al-Wajiz mukhtasar al-Bukhari.

Setelah tamat dari sekolah Darul Ulum Makkah, Thalib mengikuti ujian di Departemen Wajaratul Ma’arif (Departemen Pendidikan) dan dinyatakan lulus. Atas kelulusannya ini, Thalib ditugaskan di sebuah Madrasah yang bernama Madrasatus Su’udiyah. Tugas ini dijalaninya selama 2 tahun, mengajar mata pelajaran Fiqh dan mata pelajaran berhitung. Adapun tujuan mengajar di sekolah ini adalah untuk melanjutkan studi di Mesir. Namun karena orang tua memanggil untuk pulang kembali ke Tanah air, maka pulanglah ia pada tahun 1957.

Sepulang dari Makkah al-Mukarramah, pada tahun 1957, ia menikah dengan seorang gadis yang bernama Siti Ma’ani, putri dari H. Sanudin atau Muma Lebe yang menemaninya berangkat Haji dahulu. Gadis ini dibesarkan oleh orang yang cukup terpandang di Desa Roi karena yang bersangkutan menduduki jabatan sebagai Gelarang. Pernikahannya ini, menurutnya atas prakarsa orang tuanya karena sebelumnya ia tidak mengenal dekat dengan sang calon isteri. Hal semacam ini, sudah lazim terjadi pada masa lalu, dimana perjodohan seperti itu sudah menjadi tradisi.

Dari hasil pernikahannya tersebut, melahirkan tujuh orang anak dan dua belas orang cucu. Anak pertama seorang perempuan yang sudah terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Empunya hidup, Allah Swt. Anak kedua, seorang putra satu-satunya yang diberi nama H. Fauzi menikah dengan Hj. Fauziah yang dikaruniai tiga orang putra yang bernama Muhammad Fahrurroji, Muhammad Farhan, Muhammad Fajar. Anak ketiga, bernama Hj. Faijah menikah dengan H. Taufikurrahman yang dikaruniai dua orang anak putra dan putri yang bernama Abdurrahman Asy-Syakur yang saat ini menjadi dosen UDAYANA Denpasar dan Haifaturrahmah saat ini menjadi dosen luar biasa di UIN Mataram. Anak keempat, Hj. Fatahiyah menikah dengan H. Muhidin (saat ini menjabat sebagai wakil ketua PA Bima) dikaruniai tiga putra, masing-masing Muhammad Tajus Subki, Muhammad Taqiyuddin dan Tamlihatul Khalisah. Anak kelima, bernama Siti Maryam menikah dengan Abubakar. Anak keenam, Ida Laila menikah dengan Awad yang dikaruniai dua orang putri cantik yang diberi nama Anggira Miftahussakinah (Zihan) dan Zehan dan anak yang terakhir Nuraini menikah dengan Syukri Abubakar dikaruniai tiga orang anak yaitu M. Faridunnafis, Nailus Sa’adah dan M. Faiq Ramadhan.

Keenam putra putrinya, saat ini sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. H. Fauji bekerja di Mahkamah Agung RI, Hj. Faijah sebagai ibu rumah tangga, Hj. Fatahiyah bertugas di Pengadilan Tinggi Mataram, Siti Maryam bekerja di Pengadilan Agama Sumbawa, Ida Laila ditugaskan di Pengadilan Agama Dompu, dan Nuraini di Pengadilan Negeri Raba Bima.

Sepulang dari Makkatul Mukarramah pada tahun 1957, di samping menghelat acara pernikahan, Thalib juga diangkat sebagai Khatib Lawili di Badan Hukum Syara’ Bima yang diketuai oleh TGH. Jaharudin Rontu, sambil ditugaskan sebagai guru PGA 4 tahun dan mengajar di PGA 6 tahun. Mengajar juga di madrasah PGA Negeri, Madrasah Aliyah, dan PGA Muhammad Salahudin sebagai guru honor. Di sekolah yang disebut terakhir ini, beliau mengajar materi Bahasa Arab.

Pada tahun 1972, Thalib dipercayakan sebagai dosen luar biasa di Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya cabang Bima. Pada saat itu, yang menjabat sebagai dekan adalah H. Abdurrahman, MA. yang berasal dari desa Ntonggu. Di Fakultas ini, Thalib mengajar mata kuliah Bahasa Arab, Tafsir dan Hadist. Untuk mata kuliah tafsir, Thalib menekankan mahasiswanya untuk merujuk ke kitab-kitab klasik seperti Tafsir Ayatul Ahkam dan Tafsir Ibnu Katsir, sementara untuk mata kuliah hadist merujuk pada Kitab Syarh Shohih Bukhari, Shohih Muslim, Bulugul Maram dan kitab-kitab hadist lainnya.

Selain mengajar, Thalib juga pernah bekerja di Kantor Urusan Agama Daerah (KUAD), kemudian pindah ke kantor Perwakilan Departemen Agama yang saat itu dikepalai oleh bapak Yusuf Sulaiman. Setelah bapak Yusuf Sulaiman pensiun, kantor tersebut dikepalai oleh TGH. Amin Ismail.

Pada tahun 1973, Thalib mengikuti ujian Inspeksi Peradilan Agama (Inspra) di Surabaya untuk menjadi ketua Pengadilan Agama. Dalam ujian ini, beliau dinyatakan lulus dan ditawarkan untuk menjadi ketua Pengadilan Agama Jember, Ponorogo dan Lombok Tengah. Tawaran tersebut beliau tolak karena sebelumnya sudah ada perjanjian untuk berbakti di daerah sendiri (Bima). Berselang dua tahun (1975) beliau mendapatkan SK dari Departemen Agama Republik Indonesia untuk menjadi ketua Pengadilan Agama Dompu. Di Pengadilan Agama Dompu dijalaninya sampai tahun 1986. Banyak suka dan duka yang beliau alami selama menjalani tugas sebagai Ketua PA Dompu. Sukanya, Thalib bisa mengimplementasikan kemampuannya dalam masalah keagamaan yang diajukan disana, dengan memutuskan perkara sesuai dengan apa yang ditulis dalam kitab-kitab klasik tersebut. Sedangkan dukanya, kadang-kadang dalam memimpin suatu lembaga, ada saja yang tidak suka dengan gaya kepemimpinannya. Namun demikian, sebagai pimpinan, apapun resiko yang ada harus dihadapi dengan sikap yang bijaksana sehingga hubungan dengan karyawan dan orang yang berperkara dapat terjalin dengan baik.

Pada tahun 1986 beliau dipindahkan ke Pengadilan Agama Sumbawa. Di Pengadilan Agama Sumbawa ini, Thalib jalani tugasnya sebagai ketua Pengadilan selama sepuluh tahun, yaitu hingga tahun 1996 karena pensiun.

Selama berada di Bima, di samping mengajar dan bekerja di kantor, Thalib juga berkecimpung di organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU), pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum. Ketika aktif di NU ini, Thalib sering berdakwah dan mengikuti forum dialog yang digelar untuk mencari titik temu silang pendapat tentang pemahaman keagamaan di antara ormas-ormas Islam di Bima. Pernah suatu saat, Thalib terlibat perdebatan dengan pemuka ormas keagamaan lainnya yang mendiskusikan masalah-masalah yang dianggap Bid’ah. Dengan kemampuannya menguasai kitab-kitab kuning (kutubut turast), Thalib berargumentasi dengan berpijak pada kitab-kitab tersebut sehingga persoalan yang diberdebatkan dapat dengan mudah beliau urai satu demi satu.

Setelah pensiun dari Pengadilan Agama Sumbawa pada tahun 1996, Thalib beserta keluarga memutuskan untuk pindah ke Dompu, karena di Dompu inilah tempat tinggalnya yang permanen. Selama tinggal di Dompu ini, ia tetap melanjutkan misi dakwah dengan mengisi pengajian baik di masjid maupun di tengah masyarakat. Ia adalah salah seorang guru bagi masyarakat sekitar, jika ada persoalan keagamaan yang masih belum mereka fahami, mereka segera bertanya kepadanya. Berbekal kemampuannya dalam memahami masalah agama, maka persoalan-persoalan yang diajukan dapat dijelaskannya dengan tuntas dengan merujuk pada al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad Saw. serta pendapat pada ulama yang tercatat dalam beberapa kitab.

Sebagai bahan rujukan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang sering muncul, beliau berupaya untuk menggali beberapa pandangan ulama terkait dengan masalah yang diajukan kepadanya yang tersebar dalam berbagai kitab. Hasil kajiannya tersebut kemudian ditulis dalam buku catatan harian beliau. Buku itu cukup lama tersimpan, terlihat dari wujudnya yang terlihat agak lapuk. Dan catatan itu hanya bisa dibaca oleh beliau sendiri, mengingat tulisannya tidak terlalu jelas kalau dibaca oleh orang lain.

Agar catatan itu memiliki nilai kemanfaatan dan bisa diakses oleh masyarakat luas, penulis menyarankan kepada beliau agar catatan itu diketik ulang dikomputer sehingga suatu saat nanti dapat diterbitkan menjadi sebuah buku. Beliau pun menerima saran tersebut dan mulailah kami mengerjakannya dengan cara beliau membaca dan penulis mengetikkannya di laptop. Kegiatan ini berjalan selama kurang lebih satu tahun karena jarak antara tempat tinggal penulis dengan beliau begitu jauh sehingga tidak bisa bertemu setiap hari. Ketika penulis berlibur tiap akhir pekan di kediamannya, barulah pengetikan itu dilakukan. Walaupun tidak semua catatan beliau berhasil diketik, karena faktor kemampuan fisik beliau yang semakin menurun, atas inisiatif dari anak-anaknya, hasil pengetikan itu pun berhasil dicetak pada tahun 2015 dengan judul Nailussa’adah; Jalan menuju Surga.

Ketika hasil karyanya ini sudah dicetak, secara fisik, beliau tidak mampu lagi membacanya karena faktor usia, namun secara perasaan nampak dari raut mukanya, beliau merasa bangga memiliki satu-satunya karya yang menjadi amal jariyahnya di kemudian hari. Karyanya ini dicetak sebanyak seribu eksemplar dan sebagian besarnya sudah disalurkan ke masyarakat luas.

Di mata anak-anaknya, beliau dianggap sebagai figur seorang bapak yang bertanggungjawab. Jika anak-anak membutuhkan bantuannya, maka segera dibantunya dengan senang hati. Beliau tidak membeda-bedakan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Beliau juga figur bapak sekaligus kakek yang penyayang. Beliau sangat sayang kepada cucu-cucunya melebihi sayangnya kepada anak-anaknya sebagai contoh beliau selalu mendo’akan khusus cucu-cucunya agar menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Beliau juga dianggap sebagai figur yang suka menolong, baik kepada keluarga maupun kepada orang lain.

Di masa tuanya, beliau berusaha untuk memperbanyak amalan-amalan yang bermanfaat, memperbanyak sedekah, sekali-sekali tadabbur alam ke beberapa lokasi yang belum pernah beliau datangi, dengan harapan agar kehidupannya diakhiri dengan khusnul khotimah. Beliau meninggal pada tanggal 10 Pebruari 2016 setelah sebulan sebelumnya ditinggal pulang kerahmatullah oleh sang isteri pada tanggal 10 Januari 2016.

Surabaya, 18 Desember 2018


Serial Ulama Kharismatik Bima (4)

Category : Tokoh Lokal

Jejak Intelektual dan Dakwah TGH. M. Said Amin

By. Muhammad Mutawalli

Tidak banyak ulama di Bima yang mengambil ceruk pengetahuan di pusat lahirnya Islam, apatah lagi menjadi pengajar di Mekkah, dan apalagi menjadi perawi Hadis Musalsal yang bersambung sanadnya sampai Rasulullah yang diijazahkan langsung oleh Syeikh Yasin bin Isa Al-Fadany Al-Makky. Adalah TGH. M. Said Amin diantara sedikit dou Mbojo yang menerima langsung kearifan tersebut. Beliau boleh dikatakan, tanpa bertendensi berlebih-lebihan, dikatakan sebagai pelanjut sanad jagat keilmuan dou Mbojo pasca meninggalnya Syeikh Abdul Ghani Al-Bimawi setelah terputus ratusan tahun.

H. M. Said dilahirkan di Desa Tawali Wera kabupaten Bima pada tanggal 1 Januari 1936 dari pasangan H.M. Amin Hasan dan Hj. Thaifah Sanghaji. M. Said merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara (Anuriyah, H. Ismail, H.M. Said, Kalisom, Radiyah, Hj. Khadijah, H. Usman dan Hj. Misbah). Memulai pendidikan pada tingkat Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1943 di Tawali, juga mendapat didikan orang tua dengan pendidikan dan nilai-nilai keislaman, di desa Tawali sang ayah dikenal sebagai guru ngaji dan rumahnya dijadikan sebagai tempat mengaji bagi anak-anak yang ada di seluruh pelosok desa hingga banyak yang menginap dan tinggal di rumahnya. Sang ibu yang tidak mengenyam bangku sekolah memimpikan dan bercita-cita agar anaknya M. Said dapat menuntut ilmu di tanah Arab khususnya di Makkah Al-Mukarramah.

Niat suci dan cita-cita sang ibu yang ingin agar anaknya menuntut ilmu di tanah suci tetap terpatri dalam hatinya, walaupun pada tahun 1947 keinginan tersebut belum tercapai dikarenakan M. Said pada waktu itu masih kecil, umurnya baru 11 tahun, sehingga terpaksa batal ke Mekkah dan akhirnya masuk di SDN 1 Bima selama 1 tahun untuk menunggu tahun berikutnya. Akhirnya pada tahun 1948, do`a yang selalu dipanjatkan oleh sang ibu dikabulkan oleh Allah SWT dan mendapatkan izin berangkat ke tanah suci untuk menuntut ilmu di tanah para Nabi. Keberangkatannya ke Tanah Arab diantar oleh pamannya yang bernama H.M. Ali dan berangkat bersama jama’ah Haji dari Bima yang berjumlah 800 orang dengan menumpang kapal laut yang bernama Tawali, mungkin hanya kebetulan saja nama kapal laut itu sama dengan nama desa asal M. Said, dan menempuh perjalanan laut selama 15 hari. Setelah tiba di tanah Arab dan melaksanakan ibadah Haji, H. M. Said tinggal di Mekkah bersama dengan orang Bima yang bernama Syekh Yunus (Maryam Qudus), orang asal ngali yang sudah lama mukim di Mekkah.

Tahun 1949 dijadikan sebagai titik awal perjalanan panjang dan pengembaraan menuntut ilmu di tanah kelahiran Nabi junjungan kita Muhammad SAW, H. M. Said diterima sebagai siswa di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Mekkah, selama belajar di Darul Ulum bersama dengan teman-teman yang berasal dari Malaysia, Singapura, Philipina dan Negara Asia lainnya, H. M. Said selalu berprestasi dan mendapat juara paling rendah juara III di kelasnya . Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum pada waktu itu dikepalai oleh Syekh Mansyur dari Palembang, Syekh Yasin Padang menjabat Wakil kepala sekolah, sedangkan para guru berasal dari hampir seluruh Negara di Asia dan salah satunya adalah syekh Umar yang berasal dari Sumbawa yang sudah lama mukim di sana. Pada saat kelas 5, H. M. Said mendapat juara 1 dan berhak menjadi ketua kelas, karena sudah menjadi aturan bahwa yang berhak menjadi ketua kelas adalah yang mendapat juara 1 kelas.

Pada tahun 1952, H. M. Said melanjutkan studi pada MTs Al-Falah Mekkah tingkat Kafa`ah dan pernah meraih juara 5 kelas padahal didominasi oleh orang Arab yang kebanyakan anak-anak dari para pejabat tinggi kerajaan Saudi Arabia. MTs Al-Falah dikepalai oleh Syekh Sayid Ishak Ajuz yang menjabat juga sebagai anggota parlemen Saudi Arabia, Syekh Muhammad Abdul Muhsin Ridwan menjabat sebagai Wakil Kepala Madrasah. Selama menuntut ilmu di MTs Al-Falah, H.M.Said selalu dibimbing oleh tokoh-tokoh besar yang sangat mempengaruhi keilmuan dan pemikirannya, di antara yang paling berkesan adalah pernah dibimbing langsung oleh Syekh Muhammad Al-Arabi Al-Tijani, seorang Ulama yang berasal dari Aljazair dan mengajar Tafsir yang dikenal sebagai ahli Tafsir terkemuka di Tanah Arab. Dibimbing juga oleh Syekh Muhammad Nursyef berasal dari Bahrain yang dikenal juga sebagai ulama besar di Arab, khusus untuk ilmu Hadis dan Hadis, H. M. Said langsung dibimbing oleh ulama Hadis terbesar di Arab bahkan di seluruh penjuru dunia waktu itu yang bernama Syekh Alwi Abbas Al-Maliki, bidang Fiqh diajar oleh Syekh Muhammad An`am dari Yaman, bidang Tauhid dibimbing oleh Syekh Muhammad Hasan As-Sanari dari Saudi Arabia, guru sastra dan bahasa Arab yaitu Syekh Musthafa Turayyah Saraf, Bahasa Inggeris oleh Ust. Abdul Aziz dari Mesir, Bahasa Perancis dibimbing oleh Ust. Zaki Awad, guru social oleh Ust. Ismail Shabri dan ilmu Bumi oleh Ust. Taufik.

Tahun 1954, H. M. Said melanjutkan studi pada Madrasah Aliyah tingkat Taujihi al-Falah Mekkah, selama di MA Al-Falah selalu mendapat prestasi sampai juara 3 kelas dan selalu mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah, diskusi dan debat antar siswa. Pernah satu kali mengikuti kegiatan diskusi dan debat antar siswa dengan tema Ahlu Ra`yi wa Ahlu Al-Hadis dan menjadi pendukung Ahlu Al-Hadis dengan karya ilmiah yang berjudul Idza takallamal Ka`bah fa madza taquulu? (Jika Ka`bah dapat berkata, apa yang dikatakannya?. Dari hasil penilaian debat dan karya ilmiah tersebut H. M. Said mendapat apresiasi dari pimpinan Madrasah.

Pada saat Ujian Negara tingkat Madrasah Aliyah yang diselenggarakan oleh pemerintah Saudi Arabia, H.M. Said mendapat prestasi juara 2 dari 60 orang yang ikut ujian Negara tahap I. Pada tahun 1956 setelah lulus pada Madrasah Aliyah, diutus oleh lembaga untuk mendalami Bahasa Inggeris pada Universitas Iskandaria di Mesir, akan tetapi dibatalkan karena bukan warga Negara Saudi Arabia. Pada tahun yang sama pula diangkat sebagai guru Hadis pada Madrasah Ibtidaiyah Al-Falah Mekkah selama 1 tahun, pada tahun 1957 akan melanjutkan studi pada perguruan tinggi, akan tetapi nasib berkata lain, H.M. Said dijemput oleh ibunya untuk pulang kampung atas persetujuan Syekh Alwi Al-Maliki bersama dengan 60 orang warga Negara Indonesia yang lama mukim di Mekkah.

Sepulang dari Mekkah dan tiba di Bima, H. M. Said diangkat sebagai guru PGAP Bima sampai tahun 1965. Tahun 1965-1967 diangkat sebagai guru PGA M. Salahuddin Bima. Pernah juga menjadi anggota DPRGR Kab. Bima untuk mewakili golongan Islam pada periode tahun 1966-1971. Tahun 1976-1984 diangkat menjadi guru PGAN Bima. Kemudian pada tahun 1967 mulai merintis dan menjadi kepala MAAIN Saleko Bima (sekarang MAN I Kota Bima) sampai tahun 1976. Pada tahun 1984 diangkat menjadi Hakim Pengadilan Agama Bima dan pensiun pada tahun 1996.

Menikahi seorang gadis asal Saleko Kelurahan Sarae Kota Bima yang juga muridnya di PGA Bima bernama Hj. Imo H. Ahmad pada tahun 1958, buah dari cinta kasihnya telah dikaruniai 11 orang anak: Ir. H. Ahmad Syauqi Aminy, M.Si., Dra. Hj. St. Ummul Khairat, M. Fahri Aminy, SE., Majdi Aminy (mengikuti jejak abundanya menuntut ilmu di Mekkah dan sekarang mukim di sana), Nurinayatullah, SE., Naimah Aminy, S.Ag., Nurhuwaida, S.kom., Syajaratuddur Faiqah, S.SIT., M.Kes., Muhammad Mutawali, S.Ag., MA., Mustabsyirah, S.Si,. dan Zulhulaifah, S.Kom.

Pada tahun 1979, H. M. Said diundang khusus untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Imam, Khatib dan Da`i tingkat akademisi yang diadakan oleh Dewan Tertinggi Masjid se-dunia di Rabithah Alam Al-Islami di mekkah selama 3 bulan. Selama diklat, langsung dibimbing oleh para ulama besar di antaranya Syekh Ali Tantawi, Syekh Muhammad Al-Ghazali dan Syekh Muhammad Qutub dalam bidang Dakwah, Syekh Sayid Sabiq pada bidang Fiqh dan Qadha, Syekh Dr. Ahmad Umar Hasyim pada bidang Hadis, Dr. Muhammad Abu Nur Al-Hadidi pada bidang Tafsir, Dr. Mujahid As-Sawwaf dalam bidang Aliran dan aqidah, Dr. Syalabi pada bidang Bahasa Arab, Dr. Ammarah dalam bidang pidato dan ceramah, Dr. Assyal pada bidang waris, Syekh Ahmad Al-Huwaili dan Syekh Sulaiman Albalawi dalam bidang Al-Qur`an dan Tajwid.

Setelah mengikuti Diklat yang diikuti sebanyak 50 orang, 5 orang diantaranya berasal dari Indonesia, seluruh peserta ditugaskan untuk menjadi imam dan da`I di seluruh penjuru dunia, H. M. Said mendapat tugas dakwah di Malaysia akan tetapi dibatalkan karena sudah berstatus sebagai Pegawai Negeri sipil dan akhirnya ditugaskan dan kembali ke Bima. Setibanya di Bima, tugas sebagai Dai mulai dilaksanakan dan berdakwah sampai ke seluruh pelosok daerah Bima dan bergabung dengan organisasi Ittihadul Muballighin dan menjadi ketua wilayah Nusa Tenggara Barat yang berkantor di Bima. Ittihadul Muballighin adalah organisasi persatuan para muballigh yang memfokuskan kegiatannya pada bidang pendidikan dan dakwah yang memiliki cabang di setiap kecamatan di seluruh Kabupaten Bima. Melalui organisasi ini, H. M. Said melanglang buana untuk berdakwah menyampaikan dan membagi ilmu yang diperoleh selama menuntut ilmu di Mekkah.

Pengalaman organisasi H. M. Said dimulai ketika menuntut ilmu di Mekkah, pernah menjadi sekretaris Ikatan Pelajar Bima-Dompu di Mekkah Saudi Arabia pada tahun 1951-1957, tahun 1966-1980 menjadi Ketua III NU cabang Bima dan pernah menjadi pengurus Yayasan M. salahuddin Bima, mulai tahun 1968 menjadi anggota pengurus Yayasan Islam Bima sampai sekarang, pada tahun 1968, menjadi ketua presidium Musyawarah Alim Ulama Kab. Bima dan anggota panitia pendirian Fakultas Syari`ah IAIN Sunan Ampel Cabang Bima, pada tahun 1971 mendirikan Fakultas Tarbiyah Sunan Giri yang sekarang menjadi STIT Sunan Giri Bima, dari tahun 1973-2007 menjadi ketua yayasan Darul Tarbiyah Bima, tahun 1980 sampai sekarang menjabat sebagai ketua Yayasan Ittihadul Muballighin Bima, tahun 1985 menjadi Ketua Yayasan Pendidikan dan Dakwah Al-Ittihad Bima yang meliputi Pondok Pesantren Al-Amin Bima, STIS Al-Ittihad Bima, MA Plus Al-Ittihad Kota Bima, MTs La Hami Kab. Bima dan RA Al-Amin Kota Bima dan Lembaga Kaligrafi Al-Qur`an dan kreatifitas Al-Amin Kota Bima.

Pada tahun 1990, H. M. Said diangkat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Bima. Pengangkatannya sebagai ketua MUI Kab. Bima adalah berdasarkan hasil keputusan Musyawarah Daerah dan penunjukan langsung dari Ketua MUI sebelumnya yang dijabat oleh Tuan Imam K.H. Abdurrahman Idris. Tugas sebagai Ketua MUI diemban dan dilaksanakan dengan penuh amanah dan tanggung jawab selama 21 tahun, dan mengakhiri masa jabatannya pada tahun 2011.

Pada tahun 2001 sampai wafat menjadi anggota forum komunikasi lembaga dakwah kab. Bima, tahun 1997 sampai sekarang menjadi anggota pesasihat BAZDA Kab. Bima, dan tahun 2004 sampai sekarang menjadi anggota Yayasan At-Taqwa Internasional yang berpusat di London Inggeris.

Selama hidupnya, H. M. Said mengabdikan dirinya untuk berdakwah dan memperjuangkan Islam yang bermanhaj Salaf Ash-Shalih Ahlu Sunnah wal Jamaah. Dalam berdakwah dan berjuang untuk mempertahankan kemurnian ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Nabi, H. M. Said tidak hanya berdakwah dengan menggunakan media lisannya saja atau Da`wah Bi Lisan, akan tetapi untuk menyampaikan dakwah dan pemikirannya serta pemahaman keislamannya, H. M. Said telah banyak menghasilkan karya tulis dalam bentuk buku-buku yang telah beredar bukan hanya pada tingkat lokal akan tetapi hasil karyanya telah beredar secara Nasional dan dijadikan sebagai referensi dan buku rujukan bagi mahasiswa dan dosen di Perguruan Tinggi Islam.

Di antara buku-buku karya tulisnya adalah
1.Sifat Shalat Rasulullah (diterbitkan oleh Sunan Ampel Press IAIN Surabaya kerjasama dengan IT Press STIS Al-Ittihad Bima, tahun 2012),
2.Sejarah timbulnya perpecahan di kalangan umat islam,
3.Menuju Pelaksanaan Syari`at Islam,
4.Peristiwa Ghadir khum melahirkan kebohongan Syi`ah ahlul bait,
5.Konspirasi Internasional dan masa depan agama-agama (diterbitkan oleh Penamadani Press, Jakarta)
6.Mewaspadai pemurtadan umat Islam
7.Adam Abul Basyar (koreksi terhadap buku Ternyata Adam dilahirkan), (diterbitkan oleh IT Press STIS Al-Ittihad Bima)
8.Manusia Dan Ibadah haji (IT Press STIS Al-Ittihad Bima tahun 2008)
9.Ajaran Agama Masehi setelah kenaikan Isa Al-masih (IT Press STIS Al-Ittihad Bima tahun 2012)
10.Siksa dan Nikmat Kubur (IT Press STIS Al-Ittihad Bima tahun 2013)
11.Menggugat Aliran-Aliran Teologi dalam Islam (diterbitkan oleh IT Press STIS Al-Ittihad Bima kerjasama dengan Alam Tara Institute, tahun 2013)
12.Ar-Risalah Al-Aminiyah, Berislam bersama TGH. M. Said Amin, (Pengantar Ilmu Hadis dan Ilmu Fiqh), (IT Press STIS Al-Ittihad Bima kerjasama dengan Alam Tara Institute, tahun 2013).
13.Ar-Risalah Al-Aminiyah, Berislam menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, seri Aliran-aliran ilmu kalam dan pemimpin yang menyesatkan umat , (IT Press STIS Al-Ittihad Bima tahun 2014).
14.Ar-Risalah Al-Aminiyah, Berislam menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, seri Manusia dan Ibadah Haji, (IT Press STIS Al-Ittihad Bima tahun 2014).
15.Ar-Risalah Al-Aminiyah, Berislam menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, seri Siksa dan Nikmat Kubur, (IT Press STIS Al-Ittihad Bima tahun 2014).
16.Ar-Risalah Al-Aminiyah, Berislam menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, seri Perjalanan Hidup Manusia dari alam arwah sampai alam Baqa`, (IT Press STIS Al-Ittihad Bima tahun 2014). Dan masih banyak yang lainnya, masih dalam proses.

Selama menuntut ilmu di tanah Mekkah, H. M. Said banyak menghabiskan waktu untuk mendalami kajian Hadis dan ilmu Hadis, sehingga tidak mengherankan kalau H. M. Said menguasai ilmu Hadis dan banyak menghafal Hadis Nabi, dan pernah diangkat sebagai guru Hadis di almamaternya Al-Falah Mekkah.

Guru Hadis yang paling mempengaruhi dan dekat dengannya adalah Ulama Hadis yang bernama Syekh Yasin bin Isa Al-Fadany al-Makky dan telah mendapatkan ijazah dari beliau sebagai Perawi Hadis Musalsal yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan mengantongi Ijazah tersebut, H. M. Said mendapat hak dan izin untuk meriwayatkan Hadis-Hadis Nabi dari seluruh Kitab-kitab Hadis yang Mu`tabarah seperti kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Tirmizi, Sunan An-Nasa`i dan Lain-lainnya. Kegiatan meriwayatkan hadis yang dilakukannya sangat jarang dilakukan oleh Ulama-ulama lainnya di Indonesia.

Dalam usia yang tidak muda lagi dan dalam kondisi yang lemah, TG.H. M. Said Amin masih aktif berdakwah memenuhi undangan dari seluruh pelosok tanah Bima, karna sudah menjadi tanggung jawab dan komitmennya untuk selalu berdakwah memperjuangkan kemurnian ajaran Islam dari pengaruh pemahaman aliran-aliran yang menyesatkan aqidah dan ibadah umat Islam yang dipelopori oleh Yahudi. Hari Kamis, tanggal 30 April 2015, seusai Shalat Shubuh, tanpa sakit berat. Dalam umur 79 tahun Beliau meninggalkan kami keluarganya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, ribuan umat mengantar kepergiannya.

Abu, demikian beliau dipanggil oleh anak-anaknya, meninggalkan warisan: Lembaga Pendidikan Islam, Pondok Pesantren yang telah lama dirintisnya yaitu Pondok Pesantren Al-Amin yang mewadahi Sekolah Tinggi Ilmu Syari`ah (STIS) Al-Ittihad Bima, Madrasah Aliyah Plus Al-Ittihad Kota Bima, MTs La Hami Kabupaten Bima, RA Al-Amin Kota Bima, dan Lembaga Kaligrafi Al-Qur`an dan Kreatifitas Al-Amin yang saat ini sudah mulai maju dan berkembang, yang akan dijadikan sebagai warisan yang tak ternilai bagi anak-anak keturunannya dan ummat Islam pada umumnya dan diharapkan sebagai lahan amal jariyahnya kelak. Amin.

Bandung, 16 Desember 2018


Serial Ulama Kharismatik Bima (3)

Category : Tokoh Lokal

Biografi dan Jejak Intelektual TGH. M. Yasin Abdul Lathief

H. M. Yasin Abdul Lathief, merupakan anak tunggal dari pasangan H. Abdul Lathief dan Siti Hawa. Beliau dilahirkan di Roka Belo, pada tanggal 7 Juli 1926, di kampung yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. H. Abdul Lathief merupakan seorang yang sangat taat beragama dan memiliki tekad yang kuat untuk mendalami ilmu agama. Hal ini ditunjukkan dengan semangatnya yang luar biasa dalam menimba ilmu agama hingga ke tempat asal munculnya agama Islam, tempat kelahiran Nabi Muhammad Saw., Makkah Al-Mukarramah.

Di kota Suci Mekah inilah, sang ayahanda bermukim cukup lama dalam menuntut ilmu agama Islam bahkan sampai beliau dipanggil menghadap Sang Pencipta, sehingga beliau belum sempat kembali ke kampung halamannya, bahkan tidak bisa menyaksikan detik-detik kelahiran putera semata wayangnya. Darah ulama rupanya diturunkan oleh sang Ayah kepada putra satu-satunya ini sehingga tidak heran sang anak yang diberi nama Yasin ini akhirnya juga menjadi seorang ulama besar.

Tidak seperti anak-anak lainnya, beliau dibesarkan tanpa didampingi oleh ayahandanya. Bahkan sepeninggal ibunya, tugas mendidik dan mengasuh menjadi tanggungjawab sang nenek. Namun demikian, meski dengan berbagai keterbatasan, melalui didikan dan kasih sayang yang tak terbalas dari sang ibu dan neneknya, Yasin kecil pun tumbuh dewasa dalam suasana dan nuansa keberagamaan yang kokoh sehingga sangat mempengaruhi karakter, sikap, dan pola pikirnya. Sikapnya yang tenang dan tidak banyak bicara hal-hal yang tidak perlu, menjadi ciri khas H.M. Yasin Abdul Lathief.

Semangat keagamaan dan keilmuan yang tinggi telah ditunjukkan oleh H.M Yasin Abdul Lathief sejak masa kecilnya. Di saat anak-anak sebayanya masih senang menikmati dunianya, beliau justru sudah tekun dan serius menuntut ilmu. Hal ini disamping karena motivasi dan dorongan dari keluarga, juga merupakan luapan semangat beliau untuk belajar. Berbagai jenjang pendidikan telah ditempuhnya dimulai dari Vervolg Gubernemen (1940), dan Landbou (1941).

Kemudian beliau melanjutkan studinya ke Madrasah Darul Ulum pada tahun 1943 dan Sekolah Menengah Islam (SMI) pada tahun 1946. Sekolah ini adalah setingkat Madrasah Tsanawiyah atau SMP di masa sekarang. Karena kecerdasannya yang luar biasa dan di atas rata-rata teman-temannya, maka ketika Tingkat V beliau tidak melanjutkan sekolah lagi karena dimata para guru-gurunya sudah dianggap memiliki kecakapan mengajar sehingga akhirnya beliau diminta bantuannya untuk membantu mengajar sebagai guru. Bahkan saat itu beliau mendapat tugas mengajar di Madrasah Darul Ulum Maria Wawo sejak tahun 1946 – 1948.

Tak lama kemudian, Allah Swt. mempertemukan beliau dengan jodohnya, yaitu Hj. Siti Hadijah, yang dinikahinya pada tahun 1949 yang juga merupakan wanita dari kampung halamannya sendiri. Dari buah cinta kasih mereka berdua, lahirlah lima orang putera dan seorang puteri. Semua putera dan puterinya ini mendapat didikan yang ketat dalam hal agama, karena memang sebagai orang tua yang jauh dari sifat keras, H.M. Yasin Abdul Lathief dengan didampingi sang isteri tercinta sangat mampu menampilkan figur teladan yang baik dan mengayomi anak-anaknya. Tidak heran, anak-anaknya rata-rata sukses menempuh jalur pendidikan agama hingga perguruan tinggi, bahkan dalam karir mereka pun tidak bisa dipandang sebelah mata.

Untuk memantapkan profesinya sebagai seorang guru, beliau pun mengikuti berbagai ujian penyetaraan dalam rangka memenuhi kualifikasi mengajar, seperti yang diikutinya pada Sekolah Guru Tingkat B SGB pada tahun 1953. Beliau juga pernah mengikuti Ujian Guru Agama (UGA) pada tahun 1961. Selain itu, beliau juga merupakan lulusan Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN) pada tahun 1967. Dan akhirnya beliau pun meraih gelar Sarjana Muda pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya Cabang Bima pada tahun 1975. Dengan bekal tersebut, beliau menjadi guru agama keliling yang berpindah-pindah lokasi untuk mengamalkan ilmunya.

Meski sudah berkeluarga dan memiliki anak, beliau tetap setia menjalankan amanah baik sebagai guru maupun sebagai pimpinan lembaga pendidikan. Walaupun tempat tugasnya berjarak puluhan kilometer dari rumah dan keluarganya, apalagi saat itu belum didukung sarana transportasi seperti saat ini, beliau tetap teguh memegang prinsipnya sebagai pendidik, meski harus berkali-kali memboyong keluarga berpindah-pindah daerah sesuai tempat tugas. Meski hanya digaji dengan jumlah kecil, terkadang pula beliau juga harus rela sementara berpisah dengan isteri dan anak-anaknya di Desa Roka Belo demi melaksanakan tugas. Karena itulah untuk menunjang ekonomi keluarga, sebagian besar sangat ditentukan oleh usaha pertanian keluarga.

Diantara tugas-tugas yang pernah beliau emban adalah sebagai Kepala Madrasah Darul Ulum Sumi – Sape Kabupaten Bima pada tahun 1948 – 1950, Kepala Madrasah Darul Ulum Tente – Woha Kabupaten Bima pada 1950 – 1957, Kepala Sekolah Rakyat Islam (SRI) Sila – Bolo Kabupaten Bima pada tahun 1957-1958, Kepala Sekolah Rakyat Islam (SRI) Samili – Woha Kabupaten Bima, (1958-1964), Kepala SRI Roi – Belo Kabupaten Bima (1964 – 1965).

Dengan mengendarai sepeda kumbang, H.M. Yasin Abdul Lathief pulang pergi ke tempat dinasnya atau pulang ke kampung halaman menemui keluarganya di Roka Belo. Di masa-masa ini pulalah beliau memprakarsai dibangunnya Madrasah Ibtida’iyah (MI) Roka yang masih bertahan hingga saat ini. Tahun-tahun tersebut dilaluinya dengan penuh tekad dan kesabaran.

Sejak tahun 1966, atas pengabdiannya beliau diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil dan ditunjuk untuk memimpin Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Bima sebagai pelaksana tugas, lalu menjadi Pejabat Sementara (Pjs.) Kepala MTsN Bima pada tahun 1968-1974, dan menjadi Kepala MTsN Bima pada tahun 1974 – 1986. Sejak saat itu, H.M. Yasin Abdul Lathief beserta keluarga besarnya pindah domisili dari Desa Roka Belo ke Lingkungan Suntu Paruga di Ibu Kota Kabupaten Bima saat itu karena lebih dekat dengan tempat tugasnya.

Madrasah yang beliau rintis tersebut dalam perkembangannya tidak mampu menampung siswa yang jumlahnya semakin meningkat. Banyak siswanya yang datang dari berbagai kecamatan, dari luar Kabupaten Bima, bahkan dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, kebijakan pemerintah saat itu mengatakan bahwa daya tampung madrasah negeri tidak boleh lebih dari dua kelas. Karena itulah akhirnya beliau bersama rekan-rekannya berinisiatif mendirikan Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Bima dengan menggunakan tempat MTsN sebagai lokasi madrasahnya.

Dengan adanya Yayasan tersebut, maka siswa-siswa yang tidak tertampung di MTsN Bima saat itu masih bisa mengenyam pendidikan di tempat yang sama meski dibawah naungan lembaga yang berbeda. Siswa MTsN bersekolah di pagi hingga siang hari, sementara siswa MTs Darul Ma’arif bersekolah siang hingga sore hari. Dalam perkembangannya, kini MTsN Bima sudah menjadi ikon pendidikan unggulan di Kota Bima. Sementara lokasi MTs Darul Ma’arif dialihkan ke Desa Roka Belo, dan kini makin berkembang dengan adanya jenjang Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang sudah memiliki ratusan siswa dan alumni.

Ketika menjabat sebagai kepala MTsN padolo Bima, beliau juga pernah ditunjuk menjadi pejabat sementara Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima selama beberapa tahun yang pada saat itu perkuliahannya masih menumpang di MTsN Padolo Bima pada sore hari. Beliau juga ikut andil dalam merintis pembangunan gedung kampus STIT Sunan Giri Bima yang berlokasi di Karara kota Bima sehingga setelah pembanguan gedung selesai, walaupun masih jauh dari kata layak, perkuliahan pun dapat dipindahkan ke situ.

Selain memegang jabatan formal di atas, beliau juga pernah aktif dalam berbagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan diantaranya Ketua Komisi Fatwa MUI Kabupaten Bima, Ketua Bidang Perhakiman LPTQ Kabupaten Bima, Hakim Honorarium pada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah Bima pada tahun 1976 – 1983. Beliau juga pernah ditunjuk sebagai Lebe Na’e/Imam Masjid Agung Al-Muwahhidin Bima. Tugas mulia ini beliau emban dengan istiqamah sejak beliau memasuki masa purna bakti pada tahun 1986 hingga beliau wafat. Di masa-masa inilah beliau menjadi tokoh penting di Kabupaten Bima yang selalu menjadi tempat rujukan dalam hal agama oleh seluruh umat dan lembaga pemerintahan. Beliau juga menjabat sebagai pimpinan Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Bima sampai beliau meninggal dunia dan untuk pengembangan Yayasan tersebut lebih lanjut dipercayakan kepada putranya Drs. H. Taufiquddin Hamy. Putanya ini pun telah meninggal dunia dan Yayasan diambil alih oleh putra yang kelima Drs. H. A. Munir Hamy hingga saat ini.

Selama hidupnya beliau cukup produktif dalam menghasilkan karya-karya tulis, Sebagian besar tulisan beliau masih berupa tulisan tangan yang sangat rapi. Copy tulisan-tulisan tersebut banyak disimpan oleh putera dan puteri beliau, serta beberapa murid dan temannya yang pernah meminjam dan menggandakannya. Diantara karya beliau yang masih ada adalah: (1) Shalat Taraweh, (2) Risalah Ilmu Tajwid (1978), (3) Kumpulan Hadist tentang Mengangkat Tangan Ketika Berdo’a (1989), (4) Risalah Tuntunan Kaifiah Pengurusan Jenazah Muslim, (5) Fungsi dan Keutamaan Shalat-Shalat Sunnah, (6) Khutbah Jum’at dengan Bersandar Tongkat atau Pedang, (7) Kedudukan Hukum Ceramah antara Adzan dan Iqamah, (8) Wurayqatun fi Ilmil Mawarist, (9) Kumpulan Hadist Ddzikirullah dan Do’a Sesudah Shalat, (10) Kumpulan Dzikrullah dan Do’a yang Ma’tsur Sesudah Shalat (1994), (11) Qawa’id An-Nahwiy Was-Sharfi Ala Syakli Jadulin.

Atas inisiatif dari anak-anak dan cucunya, karya-karya beliau telah diterbitkan menjadi dua judul (1) Biografi dan Jejak Intelektual TGH. M. Yasin Abdullatief I; Kumpulan Hadist tentang Sholat Sunnah, Alamtara Institute, 2013. (2) Biografi dan Jejak Intelektual TGH. M. Yasin Abdullatief II; Kumpulan Hadist Dzikrullah setelah Sholat dan Hadist Mengangkat Tangan ketika Berdo’a, Alamtara Institute, 2014. Sementara karya-karyanya yang lain insya Allah akan menyusul diterbitkan.

Jika ditilik dari sisi pemikiran, berdasarkan karya-karya di atas, pemikiran beliau dapat digolongkan kedalam paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Dalam tataran fiqh beliau lebih dekat dengan Mazhab Imam Syafi’i. Hal ini diperkuat dengan kedudukan beliau secara struktural sebagai salah satu Pengurus Nahdlatul Ulama Kabupaten Bima yang menjadikan mazhab Syafi’i sebagai pegangannya. Namun yang menjadi catatan penting, meskipun beliau lebih condong mengikuti pemahaman Islam tradisional ini, sosok H.M. Yasin Abdul Lathief di mata para ulama, keluarga, dan teman-temannya sangat dikenal moderat dan jauh dari sikap fanatisme mazhab.

Beliau sangat menghargai dan memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap perbedaan pandangan dalam masalah agama, apalagi dalam hal-hal yang bersifar furu’iyah. Bahkan dalam mengajarkan agama pada keluarganya, tidak sekalipun ada upaya untuk mendoktrin agar mengikuti paham tertentu. Hal ini tentu saja agar anak-anak dan murid-muridnya bisa memandang dan mengamalkan Islam secara lebih universal dan komprehensif tanpa dibatasi sekat-sekat tertentu.

Pemahaman yang mendalam tentang masalah-masalah agama yang beliau miliki tidak terlepas dari motivasi belajarnya yang sangat tinggi, baik melalui lembaga formal, dari guru-guru beliau, maupun dari kitab-kitab yang menjadi sumber bacaannya. Diantara guru-guru yang banyak mendidik dan mentransfer ilmunya kepada beliau adalah TGH. Mahmud Abdurrahman, TGH. Malik yang berasal dari Desa Ngali dan TGH. Usman Abidin. Beliau juga dikenal fasih dalam bahasa Arab dan memiliki kemampuan yang bagus dalam membaca kitab-kitab berbahasa Arab.

Koleksi kitab dan buku referensi beliau jika dihitung dapat mencapai puluhan judul dengan ratusan jilid yang didominasi oleh kitab-kitab klasik gundul, baik kitab tafsir, matan hadist, syarah hadist, fiqh, ushul fiqh, maupun masalah agama lainnya. Sebagian besar koleksi pustaka ini beliau dapatkan dari hadiah yang diberikan oleh Syaikh Abdullah Mansyur, teman Ayahandanya yang juga bermukim di Mekah. Ia menghadiahkannya saat beliau berangkat haji yang pertama kali tahun 1972. Beliau juga banyak membawa kitab ketika pulang haji yang kedua bersama isterinya pada tahun 1987.

Dimata anak-anak dan keluarga besarnya, beliau dinilai sebagai pribadi yang taat, sederhana, dan bertanggungjawab. Jika muncul persoalan dalam keluarga, segera beliau selesaikan dengan musyawarah dan penuh pertimbangan. Pernah suatu ketika ada orang yang mengaku bekerja di Australia, menawarkan lowongan pekerjaan sebagai guru ngaji untuk dua orang di sebuah yayasan di sana. Segala biaya perjalanan ditanggung oleh dia. Mendengar tawaran tersebut, beliau segera mendaftarkan keponakannya untuk ikut serta. Beberapa hari sebelum pemberangkatan, beliau merasakan ada sesuatu yang ganjil dengan orang itu. Beliaupun melakukan shalat istikharah meminta kepada Allah Swt. agar diberi petunjuk tentang perasaannya. Setelah mendapatkan petunjuk dalam mimpinya, beliau tambah yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan orang tersebut. Akhirnya beliau membatalkan keberangkatan untuk keponakannya dan digantikan dengan orang lain. Selang beberapa hari, tersiar berita bahwa orang tersebut telah membohongi beberapa orang lain juga.

Bentuk tanggung jawab lain yang beliau perlihatkan, sebagaimana diceritakan oleh beberapa guru Madrasah Aliyah Darul Ma’arif Roka Belo, bahwa beliau mewakafkan tanah untuk pembangunan gedung sekolah. Pada awal pembukaan sekolah beliau menggaji guru dengan gaji beliau sendiri yang diperoleh dari gaji bulanannya. Beliau katakan: “Walaupun gajinya sedikit tapi berkah, karena kalian bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas mulia mengajar anak-anak”. Kata-kata itulah yang masih terngiang diingatan mereka sehingga mereka termotivasi dan bertambah semangat dalam mengajar dan al-hamdulillah saat ini, hampir semua guru yang mengajar di Yayasan tersebut sudah mendapatkan tunjangan sertifikasi guru.

Dalam pandangan TGH. A. Ghany Masjkur, teman sekolah beliau, seorang tokoh Muhammadiyah Bima, bahwa sosok H.M Yasin Lathief adalah pribadi panutan bagi anak-anaknya, keluarga, dan masyarakat banyak. Seorang ulama besar yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas dalam bidang agama. Hal ini bukan suatu hal yang aneh oleh karena beliau sejak kecil sudah ditempa di Madrasah Darul Ulum Bima dan Sekolah Menengah Islam yang mengadopsi sistem pengajaran seperti di Makkah al-Mukarramah. Guru-gurunya pun kebanyakan lulusan dari Makkah al-Mukarramah. Di sekolah ini beliau diajarkan dasar-dasar untuk menguasai kitab kuning seperti nahwu, sharaf, dan qira’ah. Jika ketiga materi tersebut dapat dikuasai, maka secara otomatis bisa membaca kitab kuning lainnya dalam berbagai disiplin ilmu.

Adapun kurikulum yang diterapkan di sekolah tersebut sambung TGH. A. Ghany Masjkur, sembilan puluh persen materi agama, sepuluh persen materi umum dan mata pelajaran yang umum pun menggunakan kitab kuning sebagai referensinya seperti ilmu hitung, ilmu perbintangan, sejarah, dan lain-lain. Siswa-siswa di sekolah ini benar-benar diajar oleh guru dengan hati yang ikhlas karena Allah. Mereka benar-benar menginginkan agar murid-muridnya menjadi orang yang pintar, cerdas, dan menguasai segala masalah. Guru dan murid di sekolah ini, sama-sama aktif dalam proses belajar mengajar.

Materi-materi yang sudah disampaikan oleh gurunya harus dikuasai oleh muridnya dengan menghafal dan menerangkannya kembali di depan guru dan murid-murid yang lain. Jika tidak bisa maka akan dihukum dengan “sanksi klasik” seperti berdiri depan kelas, dipukul jarinya atau dijewer telinganya. Cara pengajaran guru seperti ini diterima oleh murid-muridnya dengan ikhlas dan penuh kesabaran. Di samping itu, beliau juga menempa diri dengan belajar secara khusus di rumah gurunya dalam rangka mendalami kembali pelajaran sekolah atau mempelajari materi yang sama sekali baru. Hasil didikan inilah yang menjadikan H.M. Yasin Abdul Lathief menguasai berbagai macam ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh guru-gurunya tersebut.

TGH. Said Amin (saat ini sudah al-marhum), mantan Ketua MUI Kabupaten Bima sekaligus teman seperjuangannya, pernah memberikan penilaian bahwa TGH. Yasin Abdul Latief merupakan sosok yang ulet dalam mengembangkan lembaga pendidikan di Bima. Sekitar tahun 1960-an beliu dan TGH. Said Amin bersama rekan-rekannya berupaya menegerikan sekolah-sekolah agama karena pada waktu itu sudah ada Perguruan Tinggi Negeri di Bima, yaitu Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Adapun persyaratan calon mahasiswa baru yang masuk di Perguruan Tinggi ini harus lulusan dari sekolah negeri.

Untuk memperlancar proses penegerian tersebut, mereka menggandeng Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bima yang pada waktu itu dijabat oleh Drs. H. Husen Ayyub, dalam rangga memperjuangkan kelancaran rencana tersebut. Akhirnya upaya itu berhasil diwujudkan dengan dinegerikannya MAN Bima yang dikepalai oleh TGH. Said Amin, MTsN Padolo Bima dikepalai oleh beliau sendiri, MTsN Raba dikepalai oleh TGH. Idris Jauhar dan tiga Madrasah Ibtidaiyah masing-masing MIN Parado, MIN Sila dan MIN Bolo yang selanjutnya MIN Bolo ini lokasinya di pindahkan ke Bima menjadi MIN Tolobali.

Beliau juga dikenal sebagai pribadi yang cerdas cendekia, tempat bertanya masalah keagamaan. Persoalan keagamaan yang kerap kali muncul di tengah masyarakat, akan segera terjawab ketika beliau menjelaskan secara detail dengan merujuk kitab kuning klasik disertai dalil al-Qur’an dan al-Hadist. Kenyataan ini bisa dibuktikan dengan tampilnya beliau sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI dan Hakim Honorarium pada Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah Bima.

Selama hidupnya, H.M. Yasin Abdul Lathief sangat jarang sakit. Meski memiliki jadwal aktivitas dan kesibukan yang padat, kondisi beliau relatif sehat. Namun mungkin karena faktor usia, sejak tahun 2005 kondisi fisik beliau sudah semakin menurun. Dan Pada bulan September 2005, setelah seminggu menjalani operasi Hernia, akhirnya beliau kembali menghadap Sang Khaliq dengan meninggalkan seorang isteri tercinta, 5 orang putera dan seorang puteri, yaitu: Drs. H. Taufikurrahman (Pensiunan Pengawas Kemenag Kota Mataram), al-Marhum Drs. H. Taufiquddin Hamy (Ketua MUI Kota Bima periode 2012 – 2017), Drs. H. M.Fachrirrahman, M.A. (Dosen UIN Mataram), Hj. Siti Ulfah (pensiunan Kemenag Kota Bima), Drs. H. A. Munir (Kepala kemenag Kota Bima), Drs. Furqan Ar Roka (Kasi Haji Kemenag Kota Bima). The end. Wallahu a’lam. This articel was written by Syukri Abubakar dan Ahmad Syagif

Surabaya, 15 Desember 2018


Serial Ulama Kharismatik Bima (2)

Category : Tokoh Lokal

Biografi dan Karomah TGH. Ibrahim Rontu-Ntobo (2)

Secara geneologis, TGH. Ibrahim merupakan keturunan dari Sayyid Adam yang berasal dari Luru Gaja Makkah al-Mukarramah beranak pinak hingga melahirkan Syaikh Nurul Mubin (Ama Bibu) Soro Sape, salah seorang ulama kharismatik Sape dari anaknya yang bernama Sulaiman yang tinggal di Rontu Bima. Beliau dilahirkan di Rontu Bima dari pasangan Halijah dengan H. Musa. Tidak banyak diperoleh informasi yang cukup memadai terkait masa kecilnya. Hanya diperoleh informasi bahwa ia orang biasa, sama dengan kebanyakan anak-anak kecil lainnya, biasa mandi di sungai, main di ladang dan hal lainnya yang biasa dilakukan oleh anak-anak kecil Bima pada umumnya. Ketika itu juga, belum terlihat kelebihan yang menonjol pada diri beliau.

Afandi Ibrahim, salah seorang anaknya, menjelaskan bahwa di kalangan keluarga, ada semacam keyakinan yang berkembang bahwa keluarga ini tidak akan bisa sampai ke Makkah. Kalaupun sampai di Makkah, maka tidak akan kembali lagi karena akan meninggal disana. Hal ini merujuk pada kejadian yang dialami oleh nenek moyang beliau, Sayyid Adam ketika hendak pulang ke tanah kelahirannya di Luru Gajah Makkah al-Mukarramah, Sayyid Adam hanya sampai kota Jeddah saja dan meninggal di sana.

Untuk membuktikan bahwa keyakinan itu tidak benar, maka ibunya, biasa disapa Nene Laju memintanya untuk pergi ke Makkah al-Mukarramah dengan dua tujuan (1) dalam rangka mematahkan anggapan bahwa keluarga besarnya tidak bisa sampai kota Makkah (2) mencocokkan ilmu nenek moyang beliau Sayyid Adam yang dipraktekkan di Bima dengan ilmu yang sebenarnya diajarkan di Makkah al-Mukarramah.

Menuruti permintaan ibundanya tersebut, Ibrahim telah berusaha dua kali berangkat menuju kota Makkah al-Mukarramah, namun selalu gagal, ia hanya bisa sampai di Batavia (Jakarta). Untuk kali yang ke tiga, barulah ia bisa sampai di kota Makkah al-Mukarramah ketika berumur 16 tahun. Peristiwa ini mematahkan keyakinan yang berkembang ketika itu bahwa keturunannya bisa saja berangkat ke Makkah tanpa adanya gangguan sebagaimana keyakinan kebanyakan keluarga.

Di Makkah, beliau mengaji di masjidil Haram, memperdalam ilmu agama khususnya ilmu syariat dan tasawuf dibawa bimbingan para Syeikh. Untuk ilmu tasawuf, beliau mendapatkan ijazah dari gurunya yang bernama Abdul Hamid bin Suhud. Setelah mendapatkan ijazah tersebut, beliau membagi ilmunya kepada orang lain dengan menjadi tenaga pengajar di Masjidil haram, digaji dengan 60 biji dukat. Belajar di Makkah ini, beliau lalui selama kurang lebih 25 tahun. Beliau berada di kota Makkah sekitar tahun 1902, dimana ketika itu, terjadi huru hara antara pihak kerajaan dengan kaum wahabi. Dalam kesendirannya di sana, beliau ditemani oleh seorang gadis Arab yang dinikahinya bernama Mariyamah. Ketika beliau hendak pulang ke tanah air, sang isteri tidak berkenan ikut ke Indonesia, maka beliau kembalikan sang isteri kepada mertuanya.

Ketika pulang ke tanah air tahun 1933, beliau tidak langsung ke Indonesia tapi mampir terlebih dahulu di Kelantan Malaysia. Disana beliau mengajar dan mengakhiri masa kesendiriannya dengan menikahi seorang gadis Malaysia bernama Fatimah. Disana, biasanya beliau dipanggil dengan nama H. Badulik. Tidak diketahui secara pasti apa alasan dipanggil dengan nama tersebut. Setelah beliau merasa cukup tinggal di Kelantan Malaysia, beliau bersama isterinya berpamitan kepada keluarga hendak pulang ke Bima. Dari Malaysia, beliau menuju Batavia (Jakarta) dan langsung ke Bima.

Setelah tinggal beberapa saat di Bima, ternyata isterinya, Tuan Fatimah, karena satu dan lain hal, meminta ijin kepada sang suami untuk kembali ke Malaysia. Akhirnya, beliau mengantar sang isteri menuju Malaysia. Pernikahannya ini tidak membuahkan anak. Oleh sebab itu, sang isteri Tuan Fatimah mencarikan seorang gadis dari keturunannya sendiri untuk dinikahi beliau. Menikahlah beliau dengan gadis pilihan isterinya yang bernama Aisyah. Ketika Aisyah tengah hamil, beliau hendak mengajaknya pulang ke Indonesia, namun kedua isterinya tidak ada yang mau ikut. Namun begitu, isteri-isterinya ini meminta agar tidak diceraikan, biarkan tetap menjadi isteri beliau, agar dapat ketemu lagi di akhirat kelak. Begitu pinta mereka kepada suami kala itu.

Sepulang dari Malaysia, beliau meneruskan kegiatan dakwah di Rontu Bima dengan memenuhi undangan masyarakat untuk melakukan do’a RASU, atau permintaan untuk do’a-do’a selamatan lainnya di rumah-rumah orang yang mengundang. Disaat itulah beliau memberikan tausiah mengenai ilmu agama dihadapan para undangan yang hadir. Biasanya kalau beliau yang memimpin do’a, maka banyak orang yang hadir. Kegiatan seperti ini rutin dilakukan di berbagai kelurahan dan desa di Bima.

Di rumahnya di Rontu, beliau juga menerima tamu hampir setiap hari, dengan tujuan meminta do’a dan berguru pada beliau, sehingga beliau memiliki banyak murid yang bersebaran mulai dari Sumbawa, Dompu, Bima hingga Flores NTT. Tidak sedikit juga ulama-ulama dari Makassar dan Jawa datang ke Bima hanya sekedar bersilarurrahmi dengan beliau.

Di samping itu, beliau juga mempraktekkan tarekat dzikir Qadariah Naqsabandiyah. Kegiatan dzikir tarekat qadariyah dilaksanakan tiap sore selasa dan jum’at dan dzikir tarekat Naqsabandiyah dilaksanakan tiap malam tanggal 11 bulan Qamariah. Ditengah-tengah kegiatan berdakwah ini, beliau mempersunting seorang putri keturunan raja Permata Sumbawa yang bernama Siti Aminah. Buah pernikahannya dengan Siti Aminah, melahirkan enam orang anak, tiga orang laki-laki, tiga orang perempuan, yaitu H. Muhammad Nur, H. Muhtar, Abdul Suhud alias Abdus Syukur, Gamariah (pr), Sariyano (pr), dan Darma (pr).

Diceritakan juga bahwa suatu saat di Rontu, Abdurrahim Ama Raja Dai mengajak beliau bertani di Ntobo, sekaligus ingin memberantas kepercayaan Parafu atau Pamboro yang sudah mentradisi di sana. Maka beliau minta ijin pada isterinya Siti Aminah untuk bertani di sana. Atas permintaan suaminya tersebut, isterinya mengijinkan dengan catatan, semua hasil pertanian harus dibawa ke Rontu. Catatan ini diamini oleh beliau dan dilaksanakan hingga akhir hayat.

Suatu ketika berjalan-jalan di Ntobo, beliau melihat seorang gadis yang bernama Maemunah sedang menumbuk padi (mbaju). Beliau jatuh hati padanya lalu membelikan sepotong baju untuknya. Kemudian beliau meminta kepada orang tuanya agar putrinya itu beliau nikahi. Pada awalnya, Maemunah merasa segan karena akan dinikahi oleh ulama besar. Namun setelah diberi pengertian oleh orang tuanya karena masih ada hubungan keluarga juga dari Panggi, akhirnya Maemunah setuju dan mau dinikahi. Dari pernikahan ini melahirkan delapan orang anak, empat orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan, yaitu Mariamah, H. Afandi, H. Muhammad Husain, Najmah, H.Muhammad Yusuf, Umi Salamah, Hanafi dan Harijah.

Untuk memberantas kepercayaan Parafu di desa Ntobo ini, beliau mengadakan pendekatan dengan masyarakat setempat dengan cara berdakwah dengan berdo’a dari rumah ke rumah, baik do’a Rasu, do’a Aqiqah, do’a qurban dan do’a selamatan lainnya. Setelah melakukan do’a, biasanya beliau memberikan tausiah mengenai ajaran Tauhid. Kadang-kadang tausiahnya ini begitu panjang hingga sampai subuh. Namun para undangan tetap mendengarnya dengan penuh antusias.

M. Saleh Yasin, salah seorang menantunya yang mendampingi beliau selama 17 tahun, menceritakan bahwa suatu saat, ketika beliau datang ke rumah muridnya, sepanjang jalan, orang-orang menyambutnya dengan antusias dan berebut menyalami beliau lalu mengikuti do’a dan tausiah beliau sampai akhir. Selain itu, karena begitu taatnya mereka kepada Ruma Guru, sampai-sampai air sisa wudhu beliau berebut diambil untuk diminum bahkan kakinya dicium.

Selain masyarakat biasa yang mengundang beliau, sultan Muhammad Salahuddin dan Sultan Abdul Kahir II pun jika ada hajat, sering memanggil beliau untuk memimpin do’a di istana dan di pandopo. Ketika sultan Muhammad Salahuddin meninggal, beliau dipanggil khusus untuk memimpin do’a arwah sultan. Walaupun terkenal dekat dengan pihak istana, beliau selalu menolak jika diberi jabatan. Suatu saat, beliau diminta oleh sultan untuk menjadi Lebe Dala atau pimpinan Lebe/Imam, beliau merasa bahwa menjadi Lebe Dala itu memiliki tanggung jawab yang besar, maka beliau menolak secara halus permintaan tersebut dengan mengatakan “jadikan saja saya marbot”. Begitu beliau merendah.

Selain di Rontu, beliau juga melakukan praktek dzikir tarekat Qadariyah Naqsabandiyah di Ntobo. Dzikir tarekat Qadariyah dilaksanakan pada setiap sore Selasa dan Jum’at. Sementara dzikir tarekat Naqsabandiyah dilaksanakan setiap malam tanggal 11 bulan Qamariah. Dzikir tarekat ini beliau laksanakan di samping rumah dengan membuat lingkaran yang dipagari dengan kayu jati. Lama-kelamaan, muridnya di Ntobo juga semakin banyak, maka pada tahun 1959, beliau mendirikan mushollah pertama di Ntobo yang diberi nama al-Khitab, meskipun pembangunan ini ditentang oleh pemerintah karena tidak mau berpolitik. Musholla ini dibangun dari hasil penjualan dua ekor kuda miliknya. Sementara kayu jati dan pengerjaan dilakukan secara gotong royong oleh murid-murid beliau serta partisipasi masyarakat setempat. Selanjutnya, di mushollah inilah sebagai pusat dakwah dan pelaksanaan do’a dan dzikir tarekat. Dengan cara dakwah seperti ini, beliau dianggap berhasil menyingkirkan kepercayaan Parafu di kalangan masyarakat Ntobo hingga saat ini.

Pengajaran ilmu syariat dan Tarekat ini tentu saja tidak semua orang mengikutinya, hanya orang-orang tertentu yang memiliki minat memperdalam Tarekat yang menjadi muridnya. Diperkirakan murid tarekatnya di Ntobo berjumlah kurang lebih seratus orang. Biasanya mereka ini sudah mendalam ilmu syari’ahnya. Adapun materi yang biasa diajarkan antara lain berkaitan dengan Istinja’, Thoharah, kalimat La ilaha Illallah, Sholat dan sifat-sifat Allah. Sebagai panduan dalam melakukan dzikir tarekat qadariah naqsabandiyah, beliau menulis buku yang diberi judul al-Hikmah.

Tiga tahun sebelum meninggal, beliau sempat jatuh sakit, namun pada saat itu, beliau katakan bahwa beliau akan meninggal tiga tahun lagi. Benar, tiga tahun kemudian, beliau jatuh sakit dan meninggal dunia pada tanggal 12 Muharram yang bertepatan dengan tahun 1980 M di makamkan di Ntobo Kota Bima. Ketika beliau meninggal, ribuan orang melayat mengantar jenazah beliau, bahkan banyak orang berebutan menggali kuburan beliau. Hal ini terjadi karena mereka hendak mengambil berkah terhadap karomah beliau. Akhirnya, gelarang atau kepala desa memberi kesempatan tiap satu orang lima kali galian.

Sepeninggal beliau, praktek tarekat qadariyah naqsabandiyah tersebut dipercayakan kepada putra keduanya yang bernama TGH. Afandi Ibrahim yang telah dibaiatnya pada tanggal 17 Ramadhan yang bertepatan dengan tahun 1979 M. Dzikir tarekat tersebut tetap dilaksanakan hingga saat ini sebagaimana pesan almarhum, walaupun tidak seramai yang dulu.

Untuk melanjutkan misi dakwahnya tersebut, beliau juga berwasiat kepada putra putrinya untuk membangun pesantren. Saat ini, wasiat tersebut sudah diwujudkan oleh putra-putranya dengan membangun dua pondok sekaligus yaitu pondok pesantren Nurul Ihsan dan pondok pesantren al-Khitab al-Islami. Pondok pesantren Nurul Ihsan diasuh oleh putra keduanya TGH. Afandi Ibrahim, mendirikan Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sedangkan pondok pesantren al-Khitab al-Islami diasuh oleh TGH. Muhammad Husain dan TGH. Muhammad Yusuf (al-Marhum) dengan mendirikan Madrasah Tsanawiyah.

Keistimewaan yang dimiliki

Beliau juga dikenal sebagai sosok kharismatik yang memiliki karomah tertentu. Untuk membuktikan itu, ada beberapa kesaksian yang dituturkan oleh putra-putranya atau kerabat yang pernah mendampingi beliau, diantaranya sebagai berikut:

(1) Beliau mengetahui terlebih dahulu tamu yang akan datang mengunjunginya (2) Begitu juga ketika tidak ada ikan untuk dimakan, lalu beliau menginginkan ayam hutan (peo), maka dengan seketika ayam hutan tersebut datang masuk ke kolong rumah, ditangkap, disembelih lalu dimakan (3) almarhum H. Muhtar pernah bercerita bahwa ketika pergi ke Busu, dusun sebelah, hujan turun dengan lebatnya tapi selama perjalanan mereka tidak basah karena dinaungi.

(4) Begitu juga Jamal Ama Dija bercerita ketika berangkat dari Rontu menuju Ntobo, datanglah banjir besar di kali Rontu yang menyebabkan mereka tidak bisa menyebrang. Kalau mau menyebrang, harus menunggu air banjir surut. Jika menunggu air banjir surut, maka membutuhkan waktu yang agak lama. Sementara hari sudah mulai gelap. Lalu beliau berjalan bersama si Jamal Ama Dija bolak balik dipinggir sungai sebanyak tujuh kali. Ketika si Jamal Ama Dija sadar, tiba-tiba mereka berdua sudah berjalan di sebelah barat penjara.

(5) Syeikh Abdarab Dompu, setelah TGH. Ibrahim meninggal dunia, datang ke Ntobo untuk berziarah dan bersilaturrahmi dengan keluarga beliau. Ketika waktu sholat tiba, Syeikh Abdarab mengimami sholat berjama’ah di Masjid. Syeikh Abdarab mengimami sholat tersebut sambil menangis terisak-isak. Ketika beliau sedang memberi tausiah, masuklah isteri Ruma Guru ke dalam mushollah, langsung saja beliau mendatangi istri Ruma Guru lalu mencium tangannya sambil berkata; “Saya bukan mencium tangan umi tapi mencium tangan Ruma Guru H. Ibrahim”, karena menurut beliau Ruma Guru H. Ibrahim adalah seorang wali. “Suami umi itu seorang wali”. Begitu ujarnya sampai tiga kali.

(6) Suatu saat beliau pernah memberitahukan murid-murid dan keluarganya untuk berjaga-jaga bahwa akan ada suatu hal yang ditakuti tahun depan, setahun kemudian terjadilah peristiwa G30S PKI. Begitu juga dengan gagal panen, keadaan pemerintahan, semuanya bisa beliau ketahui lebih dahulu. Wallahu a’lam. By Syukri Abubakar dan Iwan Sadaruddin

Surabaya, 15 Desember 2018


Serial Ulama Kharismatik Bima (1)

Category : Tokoh Lokal

Biorafi dan Karomah Syaikh Nurul Mubin Soro Sape Bima

Syaikh Nurul Mubin atau yang lebih dikenal dengan nama Ama Bibu merupakan sosok yang cukup masyhur di daerah Bima khususnya di Sape. Beliau dianggap sebagai salah seorang ulama pembawa Islam di Sape yang kemudian menyebar ke daerah lainnya di Bima. Tentang siapa sosok beliau ini, penulis sama sekali belum mendapatkan informasi atau tulisan sedikit pun baik berupa catatan harian, buku, ataupun hasil riset sebelumnya. Tulisan ini murni berdasarkan wawancara penulis dengan sejumlah anak keturunan Syaikh Nurul Mubin yang berdomisi di Bima dan yang tinggal di Lambu. Karena berdasarkan cerita yang dituturkan secara turun temurun, barangkali kisah tersebut bisa diceritakan ulang secara utuh, bisa juga tidak karena kemampuan ingatan satu orang dengan lainnya sangat berbeda.

Banyak kisah-kisah mistis yang melingkupi kehidupan dari keluarga ini, sehingga pihak keturunannya sebenarny enggan menceritakannya kembali karena dikhawatirkan dianggap mengada-ada atau lainnya. Tapi sebagai pengetahuan bahwa kisah tersebut memang terjadi pada masanya dan banyak juga orang lain yang mengkisahkannya, maka pihak keturunannya pun menceritakannya juga sesuai dengan apa yang mereka dengar dari leluhurnya dulu.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dari sejumlah anak keturunannya tersebut, maka penulisa rangkum sebagaimana uraian berikut ini. Menurut informasi yang berkembang di kalangan keluarga, Syaikh Nurul Mubin berasal dari keturunan Sayyid Adam yang tinggal di kampung Gajah Makkah al-Mukarramah, orang-orang Bima yang ke Makkah menyebutnya dengan luru gajah atau luru nggati, karena atap rumah tersebut menggunakan seng. Bangunan itu konon terletak di sebelah timur Baitullah Makkah al-Mukarramah. Dikisahkan bahwa Sayyid Adam hendak berdakwah di luar jazirah Arab. Daerah pertama yang didatanginya adalah wilayah Kasmir (India). Beliau kesana menaiki Ikan Hiu. Di Kasmir, beliau berdakwah beberapa waktu, sambil mempelajari adat istiadat dan kesenian daerah tersebut, semisal tari lenggo, gendang, silu, buja kadanda, dan kesenian lainnya. Setelah dirasa cukup, maka beliau melanjutkan perjalanan menuju Padang Panjang Minangkabau.

Di Minangkabau ini, beliau menikahi seorang putri keturunan Nabi Dawud As. Dari hasil pernikahannya itu, melahirkan dua orang anak yang diberi nama Sayyid Umar dan Sayyid Abdul Qa’uf. Diceritakan bahwa kedua anak ini bersaing agar dianggap lebih tua. Untuk mewujudkan keinginan itu, mereka sepakat untuk bertanding. Hewan yang dipertandingkan adalah kerbau. Maka pergilah mereka berdua mencari kerbau untuk diadu. Mereka diberi waktu satu minggu. Sayyid Umar mencari kerbau yang besar sementara Sayyid Abdul Qa’uf mencari anak kerbau yang masih menyusui. Ketika melihat anak kerbau yang dibawa oleh Sayyid Abdul Qa’uf itu, Sayyid Umar mempertanyakan kenapa membawa anak kerbau?. Seakan-anak ia yakin kerbaunya menang. Namun Sayyid Abdul Qa’uf tidak menanggapi pertanyaan Sayyid Umar tersebut.

Ketika waktu pertandingan tiba, terlebih dahulu kerbau Sayyid Umar memasuki arena pertandingan, disusul kemudian oleh anak kerbau Sayyid Abdul Qa’uf. Dalam pada itu, anak kerbau Sayyid Abdul Qa’uf, lari menuju kerbau Sayyid Umar dan langsung meneteki kerbau besar itu. Melihat kelakuan anak kerbau tersebut, kerbau besar itu lari menjauh. Dari kejadian itu, berkatalah Sayyid Abdul Qa’uf: menang kerbau saya, menang kerbau saya, menang kerbau saya, diulanginya sebanyak tiga kali. Dari perkataan itu, maka daerah tersebut dinamai Minangkabau sampai sekarang.

Selanjutnya, Sayyid Umar berdakwah di Banjarmasin beberapa tahun, kemudian melanjutkan dakwah ke Makassar. Di Makassar, Raja Hasanuddin menceritakan kepada Sayyid Umar bahwa beliau bermimpi selama tujuh hari berturut-turut bertemu dengan Sayyid Umar. Pada hari yang ketujuh, beliau diminta untuk menjemput gurunya dengan menaiki kuda menuju pantai. Namun apa yang terjadi, setibanya di pantai, Raja Hasanuddin tiba-tiba melihat Sayyid Umar sedang melakukan sholat subuh di pinggir pantai. Karena itu, Raja Hasanuddin pun mengajak Sayyid Umar ke Istana. Di istana, Sayyid Umar mendakwahkan Islam, dan raja Hasanuddin pun menerima Islam yang ditandai dengan pemberian Gentong Emas kepada Sayyid Umar. Gentong Emas tersebut, saat ini masih tersimpan di Museum Makassar.

Setelah dirasa berhasil berdakwah di Makassar, Sayyid Umar kemudian melanjutkan dakwah ke Ternate. Disana beliau berhasil mengislamkan raja Cirililiyati yang kemudian berganti nama dengan Syahadatin. Di Ternate ini, beliau berdakwah kurang lebih tiga sampai empat tahun. Setelah itu, beliau berkeinginan pulang ke Padang Panjang. Dalam perjalanan pulang itu, beliau tidak langsung menuju Padang Panjang, tapi beliau singgah dulu di Sape.

Sampai disni ceritanya terputus. Hanya diceritakan bahwa yang datang ke Sape itu adalah Syaikh Nurul Mubin. Apakah Syaikh Nurul Mubin itu Syaikh Umar itu sendiri atau anaknya cucunya Syaikh Umar, wallahu a’alam perlu penelusuran lebih lanjut. Menurut penuturan anak keturunannya di Soro Sape, Syaikh Nurul Mubin, datang ke Sape dengan menaiki kuda, diperkirakan pada akhir abad ke 17, awal abad ke 18 M. Kalau memang perkiraan ini benar, bisa jadi beliau termasuk pendakwah pertama yang datang ke Sape karena berdasarkan catatan BO Sangaji Kai, Islam masuk Bima pada abad ke-17.

Tempat pertama yang disinggahi adalah sori Jo, sori artinya sungai, Jo nama tempat yang lokasinya terletak di pinggir laut. Ketika sampai di sori Jo, kuda tersebut mati dan dikuburkan di situ. Sampai saat ini, kuburan kuda tersebut masih bisa dikunjungi. Setelah menguburkan kudanya, beliau berjalan kaki mencari murid sampai perkampungan Soro. Disinilah beliau menemukan murid dan tinggal situ dengan menempati rumah yang amat sederhana, sambil berdakwah dan akhirnya meninggal serta dimakamkan di kampung itu, tepatnya dipinggir sungai. Saat ini, makam tersebut sering dijiarahi oleh kerabat dan warga sekitar.

Menurut penuturan warga setempat, walaupun banjir bandang menerjang, makam tersebut tetap utuh sampai sekarang. Pada masa almarhum Nurlatif menjadi walikota Bima, makam tersebut dipugar dan di semen dengan baik sehingga terlihat terrawat. Konon, Nurlatif sendiri termasuk dari keturunan Syaikh Nurul Mubin dari keturunan Panggi Bima.

Beliau termasuk ulama kharismatik, pembawa Islam pertama di Sape Bima. Berdasarkan cerita yang ditutur dari mulut ke mulut oleh kalangan keluarga, banyak keistimewaan atau karomah yang pernah dilihat dan didengar tentang beliau. Diantaranya adalah;

(1) ketika terjadi kebakaran di kota Makkah, beliau menyiram tebing sungai di kampung Soro sambil mengatakan; “mudu Makka, mudu Makka, mudu Makka” yang artinya terbakar kota Makkah. Melihat perilaku beliau, orang-orang mengatakan bahwa beliau orang gila. Ketika itu, kebetulan musim haji. Diceritakan oleh muridnya yang dari Goa, bahwa dia bertemu dengan beliau di Makkah pada saat kejadian kebakaran itu. Dan dia melihat, beliau membantu memadamkan api. Beliau berpesan kepada muridnya agar menyampaikan salam kepada wa’i (istrinya) yang berada di Soro Sape. Sekembalinya sang murid dari Makkah, ia langsung menuju Soro Sape untuk menyampaikan pesan sang Guru. Sesampainya ia di depan rumah sang Guru, ia mengucapkan salam. Ternyata sang Gurulah yang membukakan pintu rumah dan menjawab salamnya.

(2) Kalau tidak ada ikan di rumah, biasanya beliau mancing ikan di kolong rumah (3) Pada suatu malam, turunlah hujan yang sangat lebat di Soro Sape. Warga Soro mengkhawatirkan robohnya rumah Syaikh Nurul Mubin yang sudah sangat rapuh (uma mbinca). Pada pagi harinya, orang-orang mendatangi beliau dengan menanyakan keadaan rumahnya. Beliau menjawab bahwa tadi malam tidak ada hujan. Jadi rumahnya baik-baik saja.

(4) Ketika sultan Bima ketinggalan kitab Sabilul Muhtadin di Madinah, sultan mengundang Syaikh Abdul Gani Dompu. untuk mencari tahu bagaimana caranya agar kitab itu bisa kembali. Syaikh Abdul Gani menyaarankan agar sultan berkendaraan dengan menaiki perahu menuju Madinah. Mendengar jawaban Syaikh Abdul Gani tersebut, sultan merasa kecewa, lalu sultan berinisiatif untuk memanggil Syeikh Nurul Mubin di Soro Sape. Kemudian Sultan memerintahkan 6 orang pengawal berkuda untuk menjemput Syeikh Nurul Mubin. Berangkatlah mereka menemui Syeikh Nurul Mubin untuk memberitahukan bahwa Sultan mengundang beliau ke istana. Sebelum 6 orang pengawal berkuda itu sampai di rumah Syaikh Nurul Mubin, Syaikh Nurul Mubin memberitahukan istrinya agar menyiapkan makanan untuk 6 orang. Sesampainya 6 orang pengawal itu di rumah Syaikh Nurul Mubin, mereka menjelaskan tentang tujuan kedatangan mereka. Beliau pun mengiyakannya, namun beliau mempersilahkan dulu menyantap makanan yang sudah tersaji untuk 6 oang pengawal tersebut. setelah selesai mereka makan, beliau menyuruh 6 orang pengawal berkuda itu untuk berangkat duluan. Sesampainya pengawal di istana, mereka melihat Syaikh Nurul Mubin sudah lebih dahulu sampai. Sultan memaparkan hajatnya kepada Syeikh Nurul Mubin mengenai kitab yang ketinggalan di Madinah. Lalu Syaikh Nurul Mubin manggut-manggut sambil berdzikir, maka tiba-tiba kitab tersebut jatuh dihadapan mereka dan kitab itu diserahkan kepada sultan.

Syeikh Nurul Mubin memiliki dua orang istri, yaitu Halimatussa’diah, putri dari sultan Goa dan Hamidah. Dari pernikahannya dengan Hamidah melahirkan beberapa orang anak. Diantaranya Sulaiman yang tinggal di Rontu, Bahtiar tinggal di Santi dan Azzumar tinggal di desa Donggobolo. Sulaiman memiliki lima orang anak, yaitu Muhammad, Kadir, Muslimin atau Datuk Lime, Abbas, dan Janibah dari isteri yang lain. Kemudian Muslimin atau datuk Lime memiliki empat orang isteri, yaitu Hamilah, Asiah, Mila Rontu dan Moa Salma Pena. Buah pernikahannya dengan Asiah menghasilkan empat orang anak, yaitu Sam’ilah, Halijah, Hamidah, dan Hafifah. Halijah atau yang biasa disapa oleh anak cucunya dengan Nene Laju, menikah dengan H. Musa keturunan ulama terpandang di Bima tapi beliau seorang duda yang memiliki seorang anak perempuan yang bernama Fatimah. Buah pernikahan Halijah dengan H. Musa ini melahirkan tujuh orang anak. Anak pertama laki-laki bernama Ibrahim dan enam orang adiknya perempuan semua, yaitu Hadijah, Halimah, Kamariah, Hawiyah, St. Hawa dan Marjan.

Menurut informasi yang berkembag di keluarga Nata Palibelo, sebagaimana yang dituturkan oleh H. Abubakar H. Usman bahwa salah satu anak dari Syaikh Nurul Mubin menikah dengan perempuan Nata sehingga beranak pinak di sana. Diceritakan ketika itu, ia berprofesi sebagai penjual kabaho yang dibawanya dari Sape. Ia menjajakan dagangannya dari desa satu ke desa lainnya sehingga sampailah ia di desa Nata. Setelah menjajakan dagangannya di Nata, ia tidak langsung pulang ke Sape, tapi menetap dulu untuk beberapa hari. Selama di Nata, ia nampak rajin beribadah dan terlihat sebagai orang yang mudah bergaul dan patuh pada agama sehingga menarik perhatian orang Nata yang pada akhirnya ia jatuh hati pada seorang gadis Nata yang kemudian disuntingnya sehingga menurunkan banyak keturunan termasuk H. Abubakar H. Usman sendiri.

Kemudian bagaimana sepak terjang beliau dalam mengajarkan agama Islam kepada murid-muridnya dan masyarakat sekitar, belum didapatkan informasi yang memadai. Perlu penelusuran lebihh lanjut untuk melengkapi sejarah hidup dan peran beliau dalam membumikan ajaran Islam di Bima khususnya di Sape. Namun terdapat sedikit informasi sebagaimana yang disampaikan oleh Ince Rohani Soro, salah seorang keturunannya, ia mendapatkan warisan dua buah kitab yang beraksara Arab Melayu dan kalau saya baca isinya mengarah kepada pemahasan ilmu kalam dan ilmu Tasawuf. Wallahu a’alm. By Syukri Abubakar dan Iwan Sadaruddin

Surabaya, 14 Desember 2018


Maqasidul hayat Menurut Said Nursi

Category : Artikel , Tokoh Lokal

Meneruskan uraian tentang Said Nursi, ada yang menarik dari apa yang disampaikan oleh Kyai Imam Mawardi bahwa dalam salah satu tema kitabnya, Said Nursi menjelaskan tentang maqasidul hayat, tujuan hidup. Kyai Imam menuturkan bahwa jika saja manusia mengetahui tujuan hidupnya di dunia ini, maka kehidupannya akan selalu diwarnai dengan kebahagiaan dan keindahan. Sebaliknya, manusia yang tidak mengetahui tujuan hidupnya, maka keresahan, gundah gulana, kesusahan dan kesedihan akan selalu mewarnai kehidupannya walau secara fisik ia termasuk manusia tampan tanpa cacat, kaya, hartawan, the have tanpa kekurangan.

lebihb lanjut Kyai Imam menjelaskan bahwa Said Nursi dalam kitabnya menetapkan lima tujuan hidup manusia. Jika kelima hal ini dapat dijalankan secara beriringan, maka dia akan merasakan keindahan dan kenikmatan hidup yang sungguh luar biasa. Dalam tulisan singkat ini, hanya dijelaskan tiga poin terlebih dahulu, yaitu;

Pertama, Said Nursi mengatakan bahwa jika ingin kehidupan kita diwarnai kebahagiaan, keindahan dan kenyamanan, maka pertama-tama kita harus mengenal Tuhan, mengenal Allah, ma’rifatullah. Kalau orang sudah mengenal Allah pasti hidupnya indah, nyaman, tentram dan nikmat. Karena segala seuatu yang ia rasakan, yang ia nikmati dan yang ia hadapi benar-benar diyakini datang dari Allah Swt. Apapun bentuknya, berupa nikmat ataupun cobaan dan musibah, maka diterima dengan lapang dada, dinikmati dengan senang hati.

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak membutuhkan Tuhan hatta orang yang tidak mengakui eksistensi Tuhan sekalipun. Dalam kondisi tertentu, ia pasti akan kembali kepada Tuhan. Suatu misal, ketika seseorang sedang berada dalam pesawat yang hendak terbakar dan jatuh, berada dalam kapal laut yang mau tenggelam, dikejar ular kobra di hutan, tiada sesiapa yang dapat menolongnya, maka dalam kondisi demikian, secara naluriah kemanusiaan, orang itu pasti akan menyerahkan sisa hidupannya kepada kekuatan Yang Maha Agung, siapa lagi kalau bukan Allah Swt., Tuhan pencipta jagat raya. “Oh my god, help me please!, I’m so worried, so afraid”, “wahai Tuhan ku, bantulah aku karena aku sangat khawatir dan takut atas keadaanku!”. Kira-kira seperti itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya ketika dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan dan menakutkannya.

Seorang fir’aun yang memiliki segala harta dan tahta duniawi bahkan mengaku jadi Tuhan, meminta pertolongan Allah Swt. dan mengakui kekhilafannya ketika hampir tenggelam di laut merah pada saat mengejar nabi Musa As. Namun pengakuannya tersebut terlambat karena nyawa sudah berada di kerongkongan, selangkah lagi akan keluar dari mulutnya.

Pengakuan terhadap keberadaan Tuhan di alam raya ini adalah fitrah kemanusiaan, bawaan lahir, karena manusia ketika dalam alam arwah sudah berdialog dengan Tuhan, “Alastu bi rabbikum?, balaa syahidna”, bukankah Aku ini rabb kalian, Tuhan kalian?, Arwah itu menjawab, iya Engkau adalah rabb kami, Tuhan kami. Jadi jika kita ingin kehidupan kita ini bahagia, maka kita harus mengenal Tuhan kita secara lebih mendalam.

Kedua, beribadah. Setelah kita mengenal Tuhan, maka langkah selanjutnya adalah beribadah kepada-Nya dengan mengikuti apa-apa yang menjadi perintahnya dan menjauhi apa-apa yang menjadi larangannya, dalam bahasa agama, disebut dengan taqwa kepada Allah Swt.

Karena kita menyadari bahwa ibadah adalah tujuan hidup kita, maka tidak ada alasan untuk bermalas-malasan. Kita harus menikmatinya sepenuh hati karena beribadah kepada Allah Swt. merupakan kebutuhan kita, bukan kebutuhan orang lain apalagi kebutuhan Allah Swt. Allah Swt tidak butuh disembah oleh manusia tapi manusialah yang butuh menyembah Allah Swt. Jika manusia tidak memenuhi kebutuhannya sebaik-baiknya dalam mengerjakan amal saleh, baik kesalehan individual maupun kesalehan sosial, maka sudah pasti menempati kaplingnya di neraka. Sebaliknya, jika kedua kesalehan tersebut dikerjakan sebaik-baiknya, maka sungguh dia akan menikmati kenyamanan hidup di dunia dan akhirat.
Ketiga, bersyukur dan Sabar. Orang yang selalu bersyukur dan sabar atas apa yang dialami, maka dia akan mendapatkan keberuntungan dengan tambahan nikmat yang melimpah dan mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Allah Swt. berfirman dalam Qs. (14), 7:
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Memang kadang apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan senyatanya. Tapi jika kita bersyukur dan menikmati apa yang ada, maka kita akan merasakan kebahagian dan enaknya hidup walaupun kita tinggal digubuk reok dan makan seadanya. Lain halnya, walaupun orang kaya, hidup mewah tapi tidak pandai bersyukur dan tidak sabar dalam menjalani hidup, maka ia selalu merasa kurang dan kurang sehingga ia menggunakan cara apapun agar hajatnya bisa digapai. Orang seperti ini, kalau keinginannya tidak bisa dicapai, maka akan menimbulkan stres yang berkepanjangan sehingga mudah terserang penyakit. Penyakitnya aneh-aneh lagi sehingga membutuhkan pengobatan yang ekstra. Namanya orang kaya tentu tidak memilih dokter sembarangan. Ia akan memilih dokter top yang mahal sehingga banyak menghabiskan anggaran. Kalau bagi orang biasa yang pandai bersyukur, jika sakit mendera, maka cukup disuwuk oleh ustadz, selesai itu barang, hehe. Wallauhu a’alm.

Surabaya, 9 Desember 2018