Category Archives: Uncategorized

Koperasi Kampus; Awal Kebangkitan STIT Sunan Giri Bima

Category : Uncategorized

Dalam pembangunan perekonomian  dunia,  negara melakukan transaksi perdagangan sebagai sistem untuk melancarkan keuangan dan membantu kesejahteraan masyarakat.

Para ahli ekonom dunia mengatakan Pasar bebas (Free Market) sebagai salah satu bentuk usaha dan menstabilkan sistem jual beli dalam meningkatkan kebutuhan primer dan tersier dalam dunia perdagangan.

Dalam Islampun, sistem perdagangan dan jual beli sudah menjadi keunikan yang diterapkan oleh nabi Muhammad SAW dalam meningkatkan perekonomian dan tatanan sosial untuk kehidupan yg lebih baik. Sesuai dengan sabdanya “sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada di jual-beli”.

Di era millenal  ini perdagangan dan jual beli sudah menjadi persaingan yang sangat urgen dalam dunia perekonomian, dalam hal ini pun orang-orang mulai menerapkan sistem jual beli sebagai bentuk melancarkan perekonomian secara individu dan kelompok.

Bahkan instansi dan perguruan tinggi-pun melakukan sistem jual beli dalam melancarkan perekonomian secara sistematis dan teroganisir.

STIT Sunan Giri Bima merupakan salah satu perguruan tinggi yang melakukan sistem perdagangan dan jual beli (Koperasi). Yang sekarang di beri nama Koperasi Pegawai dan Staf STIT Sunan Giri Bima.

Ketika kampus ini sedang mengalami kemunduran dari sisi peminatnya, salah satu wacana yang dilemparkan oleh unsur pimpinan STIT Sunan Giri Bima adalah mewujudkan roda perekonomian lewat koperasi. Pada tahun 2017, lahirlah perkoperasian kampus STIT Sunan Giri Bima.

Ketua STIT Sunan Giri Bima bahkan mengatakan, “Dengan adanya koperasi akan memperlihatkan kepada masyarakat dan alumnus bahwa stit masih eksis dalam dunia pendidikan” sehingga, terbantahkan semua anggapan yang mengatakan bahwa STIT telah tidur. Dengan adanya koperasi Kampus, STIT hendak menunjukkan bahwa kampus ini sedang bangun dari tidurnya.

Tamu dan alumnus yang mengunjungi STIT Sunan Giri Bima, tempat pertama yang mereka masuki adalah koperasi dan ucapan yang terlontar dari mereka sekata “Waah, hebat yaah STIT sudah ada koperasinya, sudah maju kampus ini”

Secara umum, Alquran telah menjelaskan sistem jual-beli dan hukum dalam pelaksanaannya. Allah berfirman : “Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”.

Dengan adanya perkoperasian kampus ini, telah memberikan efek positif bagi keberadaan kampus, di samping menunjang program unggulan kampus yang memberikan kemudahan kepada mahasiswa yaitu Asrama Gratis. Sehingga, segala keperluan mahasiswa yang tinggal di asrama terpenuhi kebutuhannya di koperasi kampus dan bahkan masyarakat sekitarpun lebih sering mendatangi kampus walau sekedar ingin berbelanja.

Semoga dengan adanya koperasi kampus ini, STIT Sunan Giri Bima bisa lebih dikenal oleh masyarakat.

Oleh; Adie Kharyadin


Catatan Perjalanan ke Campa

Category : Kronik , Uncategorized

Tak ada kata lelah saat kami harus menyambangi satu persatu umat yang tersebar di berbagai pelosok kota dan kabupaten Bima. Kesadaran untuk membangun generasi tetap menggelora memantik semangat keluarga besar civitas akademika STIT Sunan Giri Bima untuk menebar rahmat dan menguatkan konsep kehidupan Islam ahlu sunnah wal jamaah.

Selasa kemaren, tepatnya tanggal 30 April 2019, pukul 19.00 Wita rombongan yang berjumlah tiga mini bus bertolak dari Kampus Hijau menuju desa Campa, Sebuah desa yang terletak di ujung selatan Kecamatan Madapangga. Dibutuhkan waktu lebih kurang 1,5 jam dengan kecepatan rata-rata 60-70 km/jam untuk tiba di sana, namun karena diminta untuk hadir lebih awal maka, kendaraan yang kami tumpangi pun di pacu lebih cepat agar dapat tiba lebih awal ke lokasi acara dari waktu yang direncanakan.

Meskipun harus menerobos jalanan tepi pegunungan dan sungai yang sepi dan gelap, dan sesekali melewati jalanan berkubang sepanjang lebih kurang 1,5 Km, akhirnya kami tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 wita, kami disambut oleh pak Samsudin, M.Pd.I, salah satu dosen yang berdomisili di desa Campa sekaligus fasilitator kegiatan sosialisasi malam ini.

Sesuai rencana, kehadiran tim sosialisasi akan mempersembahkan rangkaian kegiatan hiburan dan siraman rohani sebagai strategi sosialisasi kampus ke tengah-tengah masyarakat. Kepala Desa Campa yang mewakili pihak keluarga berhajat dalam sambutan dan arahannya memberikan ucapan selamat datang dan sukses kepada seluruh tim sosialisasi yang berkenan hadir untuk memeriahkan acara kambolo weki umum yang dihelat oleh keluarga Bapak Ahmad Amin sekeluarga pada malam itu. Beliau juga mengapresiasi berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang ditampilkan oleh para mahasiswa pada pra acara kambolo weki yang di antaranya adalah seni tari dan marawis sebagai upaya dalam melestarikan budaya dan syiar Islam di tengah gempuran industri hiburan yang tidak sejalan dengan tradisi dan budaya masyarakat Bima yang Islami. Beliau ingin agar kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan di berbagai tempat sebagai bagian dari dakwah dan syiar agama, demikian harapan diakhir sambutannya.

Bagi STIT Sunan Gri Bima, Kegiatan sosialisasi sesungguhnya bukan program menebar janji namun lebih dari itu merupakan unjuk gigi dan unjuk bukti kepada masyarakat dari program yang telah dijalankan lebih kurang 8 bulan terakhir. Untuk itu di sela-sela ceramah panjangnya di hadapan masyarakat Campa, Ustadz Zul atau yang biasa kami sapa dengan UJ menyisipkan dan menyampaikan banyak hal tentang bentuk-bentuk kegiatan pembinaan yang telah dijalani oleh mahasiswa selama berada di asrama STIT Sunan Giri Bima, yakni Pencapaian yang telah diraih oleh kampus STIT Sunan Giri Bima dalam mendidik dan mengasah intelektual mahasiswa yang tidak hanya siap secara keilmuan agama untuk dirinya sendiri, namun siap dan mampu menjadi obor penerang di tengah kehidupan masyarakat.
Di akhir urainnya UJ menekankan perlunya masyarakat untuk terus melakukan kebaikan dan amal shaleh terutama mendekati bulan romadhon yakni dengan membersihkan hati dan pikiran serta i’tikad dan hubungan antara sesama manusia, hal tersebut penting karena i’tikad terhadap sesama manusia akan berpengaruh terhadap semua amalan yang kita lakukan yang berhubungan dengan manusia dan Tuhan. Di samping itu UJ juga sempat menyinggung mengenai pentingnya pendidikan agama bagi keluarga terutama anak dan istri, sebab keselamatan seorang suami bergantung dari ketaatan istri dan anaknya terhadap suami.

Sedangkan Pembantu Ketua III yang didapuk untuk mewakili ketua STIT memaparkan mengenai perlunya masyarakat untuk jeli dan memahami status sebuah Kampus yang telah atau yang belum terakreditasi untuk dijadikan sebagai tempat melanjutkan studi, ia mencontohkan STIT Sunan Giri Bima yang telah mendapatkan akreditasi B dan C pada masing-masing program studi Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, karena keberadaan akreditasi menjadi prasyarat mutlak bagi sarjana untuk melamar pekerjaan yang diidamkan utamanya di instansi pemerintahan.

Lebih lanjut ia memaparkan di hadapan masyarakat Campa bahwa keunggulan STIT Sunan Giri Bima apabila dibandingkan dengan kampus yang lain adalah paket program kreativitas yang bertujuan mengantarkan mahasiswa menjadi insan yang mandiri dan memiliki life skill dalam memenuhi kebutuhan kuliah maupun biaya hidupnya sehingga dengan adanya kegiatan pembinaan kreativitas ini, praktis seluruh kebutuhan kuliah para mahasiswa dapat terpenuhi secara mandiri, dan dimasa yang akan datang dapat dipastikan bahwa alumni STIT tidak akan menjadi bagian dari penambah jumlah pengangguran di tengah masyarakat.

Sebagaimana penampilannya di beberapa tempat yang lainnya, kali ini pun tim sosialisasi menunjukkan performa terbaiknya dalam menghibur masyarakat desa Campa, semoga saja kehadiran tim sosialisasi kali ini memberikan kesan positif di tengah masyarakat sehingga mereka memberikan kepercayaan kepada STIT untuk dijadikan tujuan pendidikan bagi anak-anaknya di masa yang akan datang.

Penulis : Irwan Supriadin


STIT KAMPUS SEDERHANA

Category : Uncategorized

stit-sunangiribima.ac.id – STIT Sunan Giri Bima adalah kampus yang telah berdiri sejak tahun 1971, sebenarnya sudah sangat tua, jika sejak awal selalu dirawat, kemungkinan besar kampus STIT telah dinobatkan sebagai kampus tertua dan patuh dicontohi oleh kampus-kampus yang ada disekitarnya.

Kampus STIT Sunan Giri Bima terjadi masa transisi beberapa tahun terakhir, sehingga tim lapangan yang turun sering mendapatkan pernyataan masyarakat bahwa kampus STIT terasa asing dan bahkan baru diketahuinya saat tim lapangan bertemu dengan masyarakat, ini sebenarnya ada apa? Bahkan sering dilontarkan bahwa kampus STIT Sunan Giri Bima itu adalah kampus baru dan ilegal.

Yah…. mungkin ini buah dari kesederhanaannya atau memang selama ini tak pernah ada promosi seperti yang dilakukan sekarang. Namun, terbantahkan oleh sudah sekian banyak alumni STIT yang telah menyebar di tanah pulau Sumbawa hingga tanah NTT, mencetak rekor menjadi orang hebat ditubuh lembaga pemerintah, apakah itu belum cukup bukti.?

Memang masa transisi itu adalah masa senyap  untuk menghilangkan noda buruk yang perlu dihindari dan tak perlu diulangi lagi, dan semoga hal yang terjadi itu sebagai tanda bahwa STIT itu akan menjadi kampus raksasa yang berkualitas dibalik gedung yang sederhana, dosen-dosen yang sederhana namun berkualitas dalam berbuat.

Beberapa kisah terbangun dari berbagai lembaga besar  yang ada di Indonesia tidak pernah terlepas dari persoalan yang sama, sehingga yang memberikan kode bahwa lembaga tersebut bisa bangkit menjadi hebat dan kuat pasti menorehkan fase masa kelamnya dan semoga salah satunya STIT juga memiliki kisah yang sama diantara kisah-kisah lembaga yang sudah hebat sebelumnya. Artinya bisa bangkit dan diminati oleh para mahasiswa.

Topik yang selalu hangat diakhir ini di kampus STIT Sunan Giri Bima adalah perjuangan tim Lapangan,  namun bagi tim lapangan tidak memiliki kekuatan dan tak ada jaminan bahwa kampus akan bisa besar jika tidak dinahkodai oleh pemimpin yang super, pemimpin yang merangkul, apik dan berwibawa dan sangat cocok dinobatkan kampus yang sederhana, baik dari bangunan dan cara hidup masyarakat didalamnya.

Diakhir-akhir ini ada tanda besar bahwa kampus STIT Sunan Giri Bima akan besar, yaitu dengan konsep yang terbangun dari para pimpinan untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa STIT Sunan Giri Bima siap terjun ke masyarakat dan mahasiswa didalamnya telah dibina khusus dengan berbagai macam program unggulannya, yaitu.

  1. Pembinaan bahasa Arab
  2. Bahasa Inggris
  3. Tahfiz
  4. Tilawah
  5. Kreativitas
  6. Pembelajaran aksara bima

Pembinaan yang dilakukan tidak hanya sebatas teori namun mahasiswa diwajibkan untuk terjun langsung di  lapangan dan menunjukan kebolehannya, dan tidak kalah pentingnya lagi dari konsep para pimpinan kampus STIT Sunan Giri Bima iyalah hadirnya asrama GRATIS ini sangat membantu bagi masyarakat yang ingin menguliahkan putra dan putrinya di kampus STIT Sunan Giri Bima mengingat biaya kos-kosan yang sangat mahal.

Kampus STIT Memang sederhana namun siap menciptakan intelektual yang siap, mandiri, profesional dan kreatif. Semoga kampus STIT Sunan Giri Bima Bisa menjadi contoh, suatu saat nanti Bagaimana cara bangkitnya dari tangan-tangan pemimpin yang muda.

Penulis : Hermawansyah


STIT Sunan Giri Gelar Workshop Jurnalistik Millenial

Category : Uncategorized

Kamis, 25 April 2019  Prodi PGMI STIT Sunan Giri Bima mengadakan Workshop Jurnalistik Millenial yang bertempat di aula kampus. “Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa agar termotivasi untuk mengembangkan minat dan bakat menulis. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk membenahi kembali MEDIKA (Media Kreasi Mahasiswa) yang telah vakum beberapa tahun terakhir”, ungkap  ketua STIT bapak Dr. Syukri Abubakar M. Ag. dalam sambutannya.

Beliau sangat antusias dengan adanya kegiatan tersebut dan berharap agar  semua mahasiswa STIT termotivasi untuk terus menulis karena menulis merupakan cara yang baik untuk mengasah kemampuan intelektual agar ilmu yang dimiliki tidak gampang hilang dan dapat dibaca oleh orang banyak, jelasnya lebih lanjut.

Muhahmmad Irfan, M.Pd.I selaku Ketua Prodi PGMI sekaligus ketua panitia pelaksana Workshop Jurnalistik Millenial menyampaikan pesan dan motivasi buat para mahasiswa/i agar terus berbenah dan meningkatkan bakat menulis karena menulis sangat bermanfaat buat pribadi yang bersangkutan dan orang lain.

Pada Workshop kali ini, yang menjadi pemateri adalah kakanda RAFIIN,  salah seorang Jurnalis media online, Suara NTB. Ia bisa dikatakan pemateri yang cukup handal karena memiliki kemampuan yang cukup luar biasa dalam hal tulis menulis karena memang kesehariannya adalah berkutat dalam bidang penulisan. 

Ketika ia menyampaikan materi, audiens nampak antusias menyimak isi materi yang disampaikan olehnya. Namun sebelum menyampaikan materi lebih jauh, ia sedikit berintermezo bahwa ia sangat sering mengunjungi kampus STIT dan ia sampaikan pula bahwa ia telah banyak menimba ilmu tentang jurnalistik kepada senior-senior yang ada di kampus STIT yang salah satunya sedang duduk sebagai ketua Komisioner KPU Kabupaten Bima, bang Ady Supriadin yang cukup lama berkecimpung di media online Kahaba.net.

Menurutnya, dari semua kampus yang ada di Bima, kampus STITlah yang telah banyak mencetak mahasiwa dan alumni yang konsens terhadap bidang jurnalistik sehingga bermunculan jurnalis-jurnalis milineal di kampus ini. Hal ini tidak terlepas dari adanya mata kuliah Pendidikan Jurnalistik yang harus diikuti oleh semua mahasiswa. Dosen pengajarnya pun merupakan Jurnalis senior di kota Bima, bapak Sofiyan Asy’ari, S.Pd.I.

Hal demikian menjadi cambuk buat mahasiswa baru yang masih duduk di semester awal untuk senantiasa mengasah kemampuan dan bakat menulis sehingga bisa meniru senior-seniornya yang lebih dahulu berhasil.

Oleh:  Afina


STIT Sunan Giri Bima Peduli Kemanusiaan

Category : Uncategorized

Kebakaran yang terjadi di desa Renda Kecamatan Belo Kabupaten Bima pada Senin 18 Februari 2019 yang lalu menjadi duka paling dalam bagi para korban. Hingga saat ini, para korban masih trauma dengan musibah yang menimpanya, terutama dalam penggunaan gas elpiji, karena kebakaran tersebut dipicu oleh ledakan gas elpiji.
Akibat kebakaran tersebut, para korban kehilangan tempat tinggal. Sejumlah 24 unit rumah rata dengan tanah dilalap si jago merah. Kondisi ini yang membuat dosen dan mahasiswa STIT Sunan Giri Bima memberikan bantuan kepada korban guna meringankan beban mereka.
“Kami bersyukur sekali dengan kedatangan dosen-dosen dan mahasiswa-mahasiswi STIT Sunan Giri Bima yang memberikan bantuan, sekali lagi terimakasih banyak,” ucap salah satu korban kebakaran Renda.
Sebelum menyalurkan bantuan rombongan STIT Sunan Giri Bima terlebih dahulu melakukan pendataan terhadap korban kebakaran, setelah itu baru bantuan berupa bahan makanan dan perlengkapan tidur dibagikan.
Mahasiswa-mahasiswi STIT Sunan Giri Bima juga melakukan penggalangan dana dari masyarakat Kota Bima sebagai bentuk solidaritas antar sesame.
“Selama 4 hari berturut-turut kami turun ke jalan menggalang bantuan secara langsung dari masyarakat Kota Bima dan Alhamdulillah dana yang terkumpul sejumlah Rp. 8.120.000,00. Kami langsung membelanjakannya semua untuk bahan makanan dan perlengkapan tidur,” ungkap salah satu mahasiswa STIT.
Kerja sama mahasiswa-mahasiswi STIT Sunan Giri Bima diapresiasi dengan baik oleh Ketua STIT Sunan Giri Bima Syukri Abubakar.
“Alhamdulillah mahasiswa-mahasiswi STIT luar biasa sekali, kompak dan sangat peduli dengan saudara-saudarinya yang sedang diuji oleh Allah SWT. Semoga kebaikan anak-anak mahasiswa STIT Sunan Giri Bima bermanfaat bagi semua korban kebakaran di Renda,” harap Syukri Abubakar.
Sementara itu Puket III STIT Sunan Giri Irwan Supriadin mengajak semua kalangan akademika untuk bekerja sama dalam memberikan bantuan kepada siapapun yang memerlukan bantuan.
“Diharapkan kepada seluruh jajaran dosen dan mahasiswa STIT Sunan Giri Bima untuk bekerja sama dalam membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan. Kita harus selalu siap memberikan dorongan dan dukungan secara langsung kepada masyarakat yang membutuhkan, tidak hanya berhenti pada korban kebakaran ini saja,” ungkap Irwan Supriadin.
Reporter: Nurhasanah


STIT Sunan Giri Bima Sosialisasi di Wera

Category : Uncategorized

Dosen dan mahasiswa STIT Sunan Giri Bima baru-baru ini melakukan sosialisasi kampus secara face to face dengan calon mahasiswa di Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Sosialisasi kali ini berhasil menyasar 5 sekolah SMA/SMK/MA sederajat, Sabtu, (23/02/2019).

STIT Sunan Giri Bima saat ini menyelenggarakan dua Program Studi (Prodi), yakni Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Sebagai penunjang keunggulan, STIT Sunan Giri memiliki program unggulan seperti Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Tahfiz, Tilawah, Khattil Qur’an, Marawis, dan Bimbingan Belajar Aksara Bima dan Arab Melayu.

Selain program unggulan, STIT Sunan Giri Bima juga memberikan kemudahan kepada calon mahasiswa dengan menyiapkan asrama gratis.

“Selain program unggulan, kampus STIT Sunan Giri Bima memfasilitasi mahasiswa-mahasiswi asrama gratis guna memudahkan mereka belajar tanpa membebani lagi orangtuanya untuk biaya tempat tinggal,” ujar Ketua STIT Sunan Giri Bima Syukri Abubakar.

Mendapatkan informasi seperti itu, calon mahasiswa di Wera begitu antusias. STIT Sunan Giri mengharap antusiasme tersebut terus dirawat dan diwujudkan dengan cara memilih kampus yang berada di jantung Kota Bima tersebut sebagai tempat untuk menimba ilmu.

Pada kesempatan tersebut, salah seorang calon mahasiswa berharap STIT Sunan Giri menjadi titik awal bagi mereka meraih pendidikan tertinggi.

“Saya berharap kampus membantu dan memudahkan mahasiswa-mahasiswi dalam belajar dan meraih pendidikan setinggi-tingginya,” harap salah seorang calon mahasiswa pada saat tanya jawab.[]

Reporter: Nurhasanah

Pada kesempatan tersebut, salah seorang calon mahasiswa berharap STIT Sunan Giri menjadi titik awal bagi mereka meraih pendidikan tertinggi.

“Saya berharap kampus membantu dan memudahkan mahasiswa-mahasiswi dalam belajar dan meraih pendidikan setinggi-tingginya,” harap salah seorang calon mahasiswa pada saat tanya jawab.[]

Reporter: Nurhasanah


STIT BERBENAH

Category : Uncategorized

STIT Sunan Giri Bima dalam perjalanan menjemput agenda besar yang tertahan dari kejauhan sana yang belum sempat sampai, sehingga tertukar oleh masa keheningannya hingga beberapa tahun.

Jarak tempuh itu tak mampu lagi dirawat hingga STIT Bima Berbekas karena ada pergulatan penting di dalamnya.

Sembari berjalannya waktu, banyak yang lupa terhadap kampus tua ini, kampus yang pernah mengangkat bendera setinggi-tingginya sebagi salah satu pusat pembelajaran yang menghasilkan kaum intelektual.

Makna dan prestasi STIT ingin dilumpuhkan dengan cara menghilangkannya di balik kaca lalu di musiumkan sebagai contoh pertukaran antara horizontal ke fertikal. bahkan, percikan semangat tak mampu lagi mengukur akan bangkit entah terlihat di waktu subuh, sing atau petang.

Namun ada kewajiban besar sebagai tanggung jawab moral terhadap umat, jika STIT Sunan Giri Bima di musiumkan lalu dilabeli nama sudah tak beraktifitas lagi.

STIT sama sekali tidak membutuhkan orang hebat untuk mengembalikan wajah cerah dan gemilangnya. Namun membutuhkan kinerja yang bersinergis dan saling menjaga antara satu dengan yang lainnya kemudian di topang oleh kearifan seorang pemimpin yang bijak dan bahkan tidak membutuhkan pengalaman yang lebih hanya saja butuh pemimpin yang mempu memberikan makna atau arti dari kata “sukses”. Dan itu telah dimulainya.

Maka Rengkarnasi itu mesti dikenal walaupun tidak nyata, setidaknya meminjam bahasanya yang fenomenal itu, sebagai janji yang kuat untuk saling bergandengan tangan agar tak satu celah pun ada sifat yang akan melumpuhkan salah satu di antara kekuatan yang ada.

Sebab kekuatan yang ada laksana jemari saling memegang yang tak pantas di curangi atau di berikan kecacatan karena tinggi hati atau mental ego, karna itu semua tidak masuk dalam agenda ajaib.

Agenda ajaib itu adalah STIT Sunan Giri Bima bangkit dari tangan-tangan kecil, pikiran sederhana dan berjiwa besar dari pengalaman seadanya. Kemudian mengisi angenda-agenda yang kosong agar bisa memberikan solusi kepada masyarakat lalu di cintai kemudian mulai menorehkan kembali namanya di setiap sudut-sudut Desa sebagi pasung pengembalian wajah intelektualitas bagi umat.

Saat ini, STIT Sunan giri Bima menjadi kampus yang akan mengkaji sebuah kesusksesan masa depan yang bisa integral dengan pertukaran zaman yang kian waktu serasa kecepatannya beriringan dengan detakan jantung dan perubahan pikiran. Sehingga pemimpin STIT, pak Syukri memberikan instruksi “lakukan yang besar dan luarbiasa” untuk mengkaji bahwa STIT Itu Masi kuat untuk berlari sepanjang mungkin.

Oleh: Hermawansyah


Serial Ulama Kharismatik Bima (10)

Category : Uncategorized

Biografi dan Jejak Dakwah TGH. Muhammad Said Ngali

Informasi tentang TGH. Muhammad Said ini diperoleh penulis dari buku suntingan Marwan Sarijo yang berjudul “Mengenang KH. Muhammad Said dan KH. Usman Abidin”. Buku ini mengurai secara lengkap sosok kedua Tuan Guru tersebut mulai dari kelahiran, jenjang pendidikan, peran-peran yang dimainkan selama hidup sampai akhir hayat mereka.

Walaupun kisah hidup beliau sudah diurai lengkap dalam sebuah buku, tidak salah juga penulis menceritakan ulang intisari dari buku tersebut sebagai pembelajaran penulis dan penikmat sejarah hidup seorang tokoh dalam menggali nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan dalam kehidupan.

TGH. Muhammad Said lahir di desa Ngali pada tahun 1912 M. Tidak disebutkan tanggal dan bulan berapa beliau dilahirkan. Dijelaskan bahwa beliau lahir setelah beberapa tahun terjadinya perang Ngali (1905-1909 M). Pada usia yang relatif muda (remaja), beliau berangkat ke Makkah al-Mukarramah dan mukim di sana selama 13 tahun dalam rangka berangkat haji dan memperdalam ilmu agama.

Disana beliau belajar secara formal di madrasah Falaqiyah yang mengajarkan materi agama dan umum. Selebihnya beliau menggembleng diri dengan mengaji di masjidil haram. Guru-guru yang mengajarnya berasal dari berbagai latarbelakang, ada yang dari Bima, ada yang dari semenanjung Malaka dan Indonesia dan ada yang dari negara lain.

Guru-gurunya yang dari Bima diantaranya adalah orang tuanya sendiri Syaikh Abubakar Ngali, Tuan Guru Hamzah Cenggu dan Tuan Guru Haji Abidin, dan lain-lain. Guru-guru dari semenanjung Malaka dan Indonesia diantaranya al-Alim al-Hajj Muhammad bin Dawud Fathani, Malaya Patani Thailand Selatan, al-Alim al-Hajj Ibrahim Fathani, Malaya Patani Thailand Selatan, al-Alim al-Hajj Ahyad al-Bagari, Bogor Jawa Barat, al-Alim Husein bin Abdul Gani Palembang Kamri, Komering Palembang Sumatera Selatan, dan al-Alim al-Falaqi Syaikh M. Yasin al-Fadangi, padang Sumatera Barat.

Selain diajar oleh ulama Nusantara, beliau juga diajar oleh guru-guru manca negara seperti Syaikh Omar Hamdan, Syaikh Alawi Maliki, Syaikh Amin Qurthubi, Syaikh Said Yaman, dan lain-lain.

Setelah mendapatkan “Syahadatut Tadris” atau “Syahadah” beliau dipercaya untuk mengajar di masjidil Haram mengikuti jejak sang ayah Syaikh Abubakar, bersama Tuan Guru Abdurrahman Idris.

Di Makkah inilah beliau menemukan jodoh yang menjadi isterinya, siti Zainab, putri al-Marhum Syaikh Ali Yunus Sila Bolo. Mereka pada awal tahun 1930 di Gaza Makkatul Mukarramah. Saat itu Zainab berumur 15 tahun dan TGH. Muhammad Said berumur 20 tahun. Menjelang dua tahun usia pernikahan dan sang isteri dalam keadaan hamil tua, TGH. Muhammad Said memutuskan untuk pulang ke Bima.

Kepulangan ke kampung halaman ini disebabkan beberapa pertimbangan di antaranya: pada saat itu di Makkah terjadi perebutan kekuasaan antara dinasti Syarif Husein yang berpaham ahli sunnah bermazhab Syafi’iyah dengan dinasti al-Saud yang berpaham Wahabi bermazhab Hanbali, yang dimenangkan oleh dinasti al-Saud, sehingga paham Wahabilah yang digunakan sebagai paham negara sehingga membuat keresahan di kalangan masyarakat dan mendapat resistensi keras di kalangan ulama Syafi’iyah karena kebijakan-kebijakannya yang bertolak belakang dengan paham kebanyakan ulama seperti hendak memindahkan makam Nabi Besar Muhammad Saw. dan makam sahabat Nabi yang terdapat dalam masjid nabawi ke kompleks makam Baqi’ yang lokasinya jauh dari masjid Nabawi.

Gerakan Wahabi ini terkenal keras dalam membasmi segala macam bentuk bid’ah, khurafat, dan berbagai tindakan musyrik lainnya. Gerakan ini bermusuhan dengan kelompok ahli tasawuf dan Syi’ah karena dianggap telah melenceng dari ajaran Rasulullah Saw. sehingga karena ketidaksetujuannya dengan penguasa, banyak ulama mukimin yang pulang ke negaranya masing-masing yang mengakibatkan berkurangnya intensitas pengajian kitab kuning di Masjidil Haram.

Alasan lain kepulangannya adalah adanya perintah dari sultan Muhammad Salahuddin agar mukimin di Makkah segera pulang ke Bima untuk mengajar di sekolah yang telah didirikan oleh Sultan yakni Darut Tarbiyah di Raba (saat ini SMA Yasim Raba) dan sekolah Darul Ulum di Suntu Bima (sebelah selatan Sigi Nae Bima, TK Perwanida) yang dirintis oleh Persatuan Islam Bima (PIB).

Dan alasan yang paling mendasar adalah adanya surat dari Abahnya Syaikh Abubakar bin Nawawi yang meminta TGH. Muhammad Said dan ibunya Saleha untuk segera pulang ke Bima. Atas dasar surat itu, pulanglah TGH. Muhammad Said beserta ibunya Saleha, isterinya Zainab dan anak semata wayangnya menuju kampung halaman di Ngali Bima. Sesampainya di Ngali, abahnya kaget dan heran melihat kepulangan TGH. Muhammad Said beserta ibu, isteri dan anaknya karena tidak dikabarkan terlebih dahulu.

Memperhatikan abahnya yang kaget, TGH. Muhammad Said malah merasa heran, padahal kepulangannya beserta ibu, isteri dan anaknya ke Ngali atas perintah abahnya melalui surat yang dikirim ke Makkah al-Mukarramah.

Dalam kebingungan seperti ini, muncul Aisyah, adik dari Saleha dan yang melahirkan Marwan Saridjo, datang bersimpuh dihadapan Syaikh Abubakar bin Nawawi meminta maaf yang sebesar-besarnya bahwa tanpa sepengetahuan Syaikh Abubakar, ia mengirim surat ke Makkah al-Mukarramah meminta agar kakaknya Saleha segera pulang ke Bima. Surat yang pertama atas namanya tidak digubris oleh kakaknya, lalu ia mengirim lagi surat yang kedua dengan mengatasnamakan Syaikh Abubakar bin Nawawi, suaminya Saleha.

Setelah berada di Bima pada tahun 1932, ia diminta oleh sultan Muhammad Salahuddin untuk mengajar di madrasah Darut Tarbiyah Raba Bima dan di madrasah Darul Ulum Suntu Bima. Oleh karena itu, untuk mempermudah mobilisasi, Tuan Guru memilih tinggal di rumah tempat tinggal abahnya dulu. Setelah pensiun, abahnya memilih tinggal di Ngali beserta isteri dan anak-anaknya yang lain.

Rumah tersebut berlokasi di kampung Sigi, di samping masjid sultan Muhammad Salahuddin. Di rumah inilah Tuan Guru, secara informal mengajar santri-santrinya pada sore atau malam hari dimana banyak siswa yang menginap di rumahnya sehingga mereka jadikan rumah Tuan Guru sebagai semacam “pondok pesantren”.

Murid-muridnya berasal dari berbagai pelosok desa, diantaranya M. Nur Parado, Abdurrahim Parado, M. Said Dena, M. Taher Rade, Hasan Sondosia, dan lain-lain.

Menurut informasi Hj. Aminah Muchtar, putri keduanya, Tuan Guru juga diangkat oleh sultan Muhammad Salahuddin menjadi Khatib Toi (khatib pengganti). Ketika menjadi Khatib Toi ini, ada kejadian menarik yang menimpa Tuan Guru. Pada saat itu, khatib di semua masjid di tanah Bima berkhutbah menggunakan bahasa Arab. Teks khutbah diambil di Bima untuk dibacakan tiap kali jum’atan. Jika tidak sempat mengambil teks khutbah, maka khatib membaca teks khutbah minggu sebelumnya.

Memperhatikan bahasa yang digunakan oleh Khatib adalah bahasa arab seluruhnya, yang berarti jama’ah tidak mengerti isi khutbah yang dibaca oleh khatib, maka ketika Tuan Guru menjadi khatib, ia membaca khutbah dengan tiga bahasa yakni bahasa Arab, bahasa Bima dan bahasa Melayu. Tujuannya agar materi khutbah dapat dipahami oleh jama’ah sehingga dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mendengar Tuan Guru Muhammad Said membaca teks Khutbah dengan tiga bahasa tersebut, maka Ruma Bicara Abdul Hamid menemui mantan Imam Kerajaan Syaikh Abubakar bin Nawawi bapak dari TGH. Muhammad Said di Ngali memintanya untuk menegur putranya mengenai khutbah tiga bahasa tersebut. Bertepatan dengan hari itu juga, TGH. Muhammad Said berkhutbah di masjid Ngali dengan menggunakan tiga bahasa, Arab, Bima dan Melayu.

Menyikapi hal ini, maka diadakanlah semacam dialog untuk mengetahui apakah khutbah denga menggunakan tiga bahasa sebagaimana yang dilakukan oleh TGH. Muhammad Said tersebut, sah atau tidak.

Dalam dialog tersebut, TGH. Muhammad Said menjelaskan dalil-dalil yang tertera dalam kitab kuning tentang mana-mana yang diperbolehkan menggunakan bahasa Arab dan mana-mana yang tidak boleh menggunakan bahasa Arab. Dari penjelasan TGH. Muhammad Said tersebut maka disepakati bahwa khutbah menggunakan selain bahasa Arab itu diperbolehkan. Walaupun ada beberapa Tuan Guru saat itu yang tidak sependapat, namun praktek khutbah dengan selain bahasa Arab berlaku hingga saat ini.

Selain menjadi khatib Toi, sejak tahun 1920 M, beliau menjadi pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Bima bersama paduka sultan Muhammad Salahuddin, TGH. Usman Abidin, Zakariah Landrente, H. Sulaiman, H. Sanuddin, H. Mansyur Abu La Hila, dan Ama Kau Sangga (M. Hasyim) yaitu orang istana yang memegang bagian kepanduan Anshor.

Ketika itu, bangsa Indonesia dijajah oleh Jepang dan sekutu datang membombardir wilayah kota Bima sehingga menjadi porak-poranda termasuk masjid sultan dan rumah beliau sendiri. Karya-karya kaligrafi yang beliau tulis dan digantung didinding rumah menjadi tidak berbekas.

Di kala situasi mencekam seperti itu, Jepang meminta kepada sultan Bima agar mengumpulkan gadis-gadis Bima untuk menjadi “pelayan bar” guna melayani tentara Jepang. Permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh sultan Bima dan segenap jajaran kesultanan serta masyarakat secara umum serta diprotes keras atas permintaan Jepang tersebut.

Memperhatikan nada protes dari masyarakat Bima itu, maka Jepang mendatangkan wanita-wanita dari luar Bima untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dalam situasi seperti ini, sultan Bima menganjurkan warga masyarakat yang memiliki anak gadis untuk segera dinikahkan untuk menghindari pemaksaan dari Jepang.

Maka berlomba-lombalah kaum bapak mencarikan jodoh untuk anak-anak perempuan mereka. Pada masa itu harga laki-laki menjadi mahal dan lunturlah adat kebiasaan yang berlaku, dimana biasanya perempuan yang dilamar oleh laki-laki. Biasanya laki-laki datang melamar dengan merendahkan diri “kabawa ku weki ku ka su’u kai ku tuta ku, mada ma mai kili rofa ro popo mama di tando penta ro tini ita doho” (dengan segala kerendahan hati, saya junjung di atas kepala segala titah, kiranya ibu/bapak berkenan menerima lamaran saya).

Namun pada saat itu, sang gadis menjadi turun wibawanya dengan menjadi pelamar seorang laki-laki. Begitulah yang terjadi pada diri TGH. Muhammad Said, dimana beliau dilamar oleh calon mertuanya Ja’far Rato RasanaE, bangsawan Melayu yang memiliki kedudukan tinggi dan menjabat sebagai Khatib To’i, menulis surat lamaran dengan aksara arab Melayu yang ditujukan kepada TGH. Muhammad Said agar mau menikahi putrinya yang bernama Chadijah (ince dadu).

Pada masa itulah yang dikenal dengan “kawin baronta” yaitu suatu terobosan yang terpaksa dilakukan menyebabkan dilanggarnya adat kebiasaan. Dimana biasanya gadis Melayu hanya boleh dinikahi oleh orang Melayu sendiri, tidak boleh menikah dengan selain suku Melayu. Tapi karena keadaan yang memaksa, maka adat tersebut dilanggar juga.

Sosok TGH. Muhammad Said ini, berdasarkan catatan Syamsudin Haris dapat dirangkai dengan tiga kata kunci, yaitu kepemimpinan, keulamaan, dan keteladanan. Tiga kata kunci ini merupakan warisan yang cukup luar biasa, tidak hanya bernilai bagi keluarganya tapi juga bernilai bagi masyrakat Bima secara keseluruhan. Namun, Syamsudin Haris menyayangkan tiga kata kunci tersebut, kepemimpinan, keulamaan dan keteladanan hampir-hampir terputus pada generasi tokoh Bima pada saat ini.

Sejak rumahnya terkena bom oleh sekutu pada tahun 1944, mengharuskan beliau pindah tempat tinggal ke Ngali dengan keluarganya. Beliau kadang pulang pergi Ngali Bima yang dilalui dengan dokar. Kadang juga menginap di kampung Melayu bersama isterinya Ince Dadu dan ikut bergabung juga bersama rombongan sultan dan keluarga dalam lubang prlindungan di Dodu bersama tokoh NU lainnya.

Akibat pengeboman sekutu yang bertubi-tubi itu, menyebabkan banyak korban jiwa yang bergelimpangan, sehingga kewajiban yang hidup untuk menguburkannya dengan baik. Tuan Guru pun ikut andil dalam mengumpulkan mayat-mayat yang banyak itu kemudian dikafani dan di sholati. Kebanyakan jenazah tidak dikuburkan dengan kain kafan tapi dikuburkan dengan tikar saja.

Dalam kondisi yang cukup melelahkan itu, kesehatan Tuan Guru pelan-pelan tambah menurun drastis. Barangkali karena kurang tidur dan kurang minum sehingga beliau menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 34 tahun sebelum kemerdekaan RI. Wallahu a’lam

Dara Bima, 16 Januari 2019

Sumber ruujukan disarikan dari buku:
Marwan Sarijo (penyunting), Mengenang KH.Muhammad Said dan KH. Usman Abidin, Bogor, Yayasan Ngali Aksara dan Pesantren al-Manar Press, 2001.


Serial Ulama Kharismatik Bima (7)

Category : Uncategorized

Biografi dan Jejak Intelektual Syaikh Abdul Ghani al-Bimawi

Salah satu ulama Bima-Dompu yang cukup terkenal di nusantara bahkan di dunia Islam adalah Syaikh Abdul Ghani al-Bimawi, atau dikenal dengan al-Bimawi. Azyumardi Azra dalam bukunya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan VXIII” mencatat bahwa beliau dianggap sebagai “Maha Guru” ulama nusantara pada abad ke XIX yang belajar di Makkah al-Mukarramah, sehingga tidak mengherankan ulama-ulama sekaliber KH. Hasyim Asy’ari Jombang pendiri Nu dan KH. Holil Bangkalan yang terkenal dengan karomahnya, sangat menghormati Syaikh Abdul Ghani, sehingga muncul cerita ketika keduanya naik delman, dan mengetahui bahwa kuda penarik delman itu berasal dari dari Bima, maka segera beliau berdua turun dari delman karena menghormati kuda Bima asal sang Guru.

Syaikh Abdul Ghani al-Bimawi lahir pada paruh terakhir abad ke-18, kira-kira tahun 1780 M di Bima, Nusa Tenggara Barat dan wafat pada tahun 1270-an H/1854 M dimakamkan di Ma’la Makkah al-Mukarramah. Tidak ada catatan yang terang mengenai kapan hari lahirnya, tapi yang jelas beliau berasal dari lingkungan keluarga ulama yang memiliki perhatian yang sangat tinggi dalam mengkaji al-Qur’an.

Syaikh Abdul Ghani al-Bimawy merupakan putra dari Syaikh Subuh, pernah menjadi imam Masjidil Haram. Beliau menikah dengan gadis asal Dompu dan melahirkan seorang putra yang bernama Syeikh Mansur atau biasa disapa Sehe Jedo. Syaikh Mansur memiliki dua orang putra yaitu Syaikh Mahdali atau lebih masyhur dengan sebutan Sehe Boe dan Syaikh Muhammad. Syaikh Boe sempat menjadi Qadhi Kesultanan Dompu di masa-masa akhir kesultanan Dompu.

Muslimin Hamzah dalam “Ensiklopedi Bima” menjelaskan bahwa karena putra-putra Syeikh Subuh ini memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bidang agama juga memiliki karomah, maka mereka dianggap setara dengan sultan. Panggilan atau sebutan yang disematkan kepada mereka pun sama dengan sebutan untuk sultan. Masyarakat Bima-Dompu menyebut keturunan Syaikh Abdul Ghani al-Bimawi ini sebagai keturunan Ruma Sehe (Ruma artinya Tuhan, Tuan, Sehe yang berarti Syaikh) atau juga dikenal dengan “Koko Janga Ruma Sehe” (kokok ayamnya Ruma Sehe) “orang-orang yang tidak pernah tidur karena rajin beribadah sepanjang malam sebagaimana ayam berkokok di pagi buta.

Kakek buyutnya bernama Syaikh Abdul Karim berasal dari Makkah al-Mukarramah kelahiran Baghdad. Konon Syaikh Abdul Karim datang ke Indonesia dalam rangka mencari saudaranya. Daerah nusantara pertama kali yang beliau datangi adalah Aceh, lalu ke Banten dan ke Sumbawa. Sebelum ke Sumbawa, beliau singgah terlebih dahulu di pulau Lombok bagian Utara. Syaikh Abdul Karim mengajarkan sholat masyarakat disana hanya sampai tiga waktu sholat sehingga muncul istilah “wetu telu” yang berarti waktu tiga yang sampai saat ini dikenal luas oleh masyarakat Lombok.

Sebelum sampai ke Dompu, beliau mampir dulu di Sumbawa untuk berdagang dan mengajarkan agama Islam disana, setelah itu beliau menuju ke timur hingga sampai daerah Dompu. Disini juga beliau berdagang sambil memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat hingga sultan. Memperhatikan kemampuan beliau, Sultan Dompu pun sangat mengaguminya dan jatuh hati padanya sehingga sultan Dompu menikahkan putrinya dengan Syaikh Abdul Karim.

Dari pernikahannya dengan putri sultan Dompu ini, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail. Ismail juga mengikuti jejak ayahnya sebagai pendakwah kemudian menikah dengan seorang gadis sehingga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Subuh. Syaikh Subuh sendiri merupakan seorang penghafal al-Qur’an sejak muda dan pernah menjadi imam kesultanan Bima pada masa Sultan Alauddin Muhammad Syah (1731-1748). Syaikh Subuh merupakan penulis mushaf Bima yang diberi nama LA LINO, (al-Syamil, melimpah ruah, menyeluruh), satu-satunya mushaf Bima yang ditulis tangan dan termasuk mushaf tertua di Indonesia.

Dalam perjalanannya menuju Bima, Syaikh Subuh sempat menikahi seorang gadis dari kampung Sarita, Soromandi Bima. Dari pernikahan tersebut melahirkan seorang putra yang diberi nama Abdul Ghani.

Setelah Abdul Ghani tumbuh besar dan menyerap ilmu agama dari keluarga dan ulama ulama yang ada di sekitarnya, Syaikh Abdul Ghani meminta izin kepada ayahnya untuk pergi haji yang selanjutnya menuntut ilmu di tanah Hijaz. Ada semacam slogan tidak tertulis di kalangan ulama nusantara “jika ingin mendalami Islam secara spesifik dan mendalam maka belajarnya di kampong Al Jawi di Hijaz”, dan itulah yang dilakukan oleh Syaikh Abdul Ghani.

Di Haramain Syaikh Abdul Ghani belajar kepada ulama ulama yang bertebaran di Serambi Masjidil Haram dengan halaqoh ilmiahnya. Beliau mengaji kepada ulama-ulama ternama di sana diantaranya; al-Allamah al-Sayyid Muhammad al-Marzuki dan saudaranya Sayyid Ahmad al-Marzuqi, pengarang kitab Aqidatul Awam, Muhammad Sa’id al-Qudsi -mufti madzhab syafi’i-, dan al-‘Allamah ‘Utsman Ad-Dimyathi. Khairuddin Az-Zirikli dalam kamus tarajimnya, al-A’lam, mencatat bahwa Syaikh Abdul Ghani banyak mengambil ilmu dari ulama-ulama tersebut di atas.

Keilmuan Syaikh Abdul Ghani sudah terlihat menonjol sedari beliau belajar dasar-dasar ilmu agama Islam terlebih ilmu Fiqih dan ilmu Falak, maka tidak mengherankan jika beliau ditunjuk oleh para gurunya agar ikut serta mengajar di Masjidil Haram. Sebagai pengajar di Masjidil Haram Syaikh Abdul Ghani banyak membantu pelajar pelajar terutama dari Nusantara, baik dari urusan keilmuan maupun perekonomiannya. Hal ini disebabkan banyak pelajar Nusantara waktu itu kiriman untuk biaya hidup pelajar sangat digantungkan melalui titipan Jamaah Haji Nusantara.

Selama mengajar di Masjidil Haram banyak dikerumuni para pelajar dari penjuru dunia, di antara murid-muridnya Syaikh Muhammad Bin Muhammad bin Wasi al-Jawi, Syaikh Abdul Hamid bin Ali al-Qudsi, Syaikh Ahmad Khathib bin ‘Abdul Ghaffar As-Sambasi, Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Bantani, penulis Tafsir Muroh Labid, Tafsir al-Munir li Ma’alimit Tanzil. Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Bantani adalah guru dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama, TGH. Zainuddin Abdul Majid (maulana Syaikh) pendiri Nahdlatul Wathan di Lombok, Syaikh Tubagus Ahmad Bakri dari Purwakarta, Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Kyai Agung Asnawi Banten, Abuya Dimyati Banten, Syaikh Mubarok bin Nuh Muhammad Tasikmalaya, KH. Abdul Karim Kediri, KH. Muhammad Falak dari Bogor, dll. Syaikh Abdul Ghani senantiasa menyibukkan diri dengan mengajar, ibadah & menulis, tapi sayang tulisan-tulisannya tidak terlacak hingga kini.

Karenanya, dalam suatu acara yang dihadiri oleh Ginanjar Sya’ban pengarang buku “Mahakarya Islam Nusantara”, yang merangkum kitab-kitab karya ulama nusantara, penulis sengaja menanyakan keberadaan kitab-kitab yang dikarang oleh Syaikh Abdul Ghani, Ginanjar Sya’ban menjawab bahwa ia belum menemukan jejaknya.

Syaikh Abul Faidh Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isa al-Fadani dalam tashihnya terhadap kitab Kifayah al-Mustafid Lima ‘Ala Lada At-Tarmisi min al-Asanid menyebutkan bahwa Syaikh ‘Abdul Ghani bin Subuh al-Bimawi termasuk salah satu dari 103 ulama asal Melayu yang banyak meriwayatkan hadits. Beliau, kata Abul Faidh, telah meriwayatkan hadist dari ‘Umar bin ‘Abdul Karim al-‘Aththar al-Makki, Ahmad bin ‘Ubaid al-‘Aththar al-Dimasyqi, Sayyid Muhammad Murtadha al-Zabidi, Sa’id bin ‘Ali al-Suwaidi al-Baghdadi, dan Khairuddin bin Syihabuddin al-Maidani al-Dimasyqi. Wallahu a’alam.

Surabaya, 20 Desember 2018

Sumber rujukan, diantaranya:
1.Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan VXIII.
2.Zainul Milal Bizawie, Mastrepiece Islam Nusantara
3.Muslimin Hamzah, Ensiklopedi Bima
4.Ginanjar Sya’ban, Maha karya Islam Nusantara
5.https://tebuireng.online/syaikh-abdul-ghani-bima-matahari-…/
6.https://mumaseo.wordpress.com/…/biografi-lengkap-syaikh-ab…/
7.https://kambalidompumantoi.wordpress.com/…/syekh-abdulgani…/
8.https://mauhub.wordpress.com/…/abdul-ghani-bima-al-jawi-ul…/
9.http://komunitasbinu.blogspot.com/…/islam-nusantara-di-nusa…


Sekali lagi tentang Bid’ah

Category : Uncategorized

Menyambung kajian tentang bid’ah minggu lalu, hari ini, Prof. Ahmad Zahro menjelaskannya secara lebih detail berkaitan dengan analisis kategoris masalah bid’ah dalam bidang ibadah.

Berdasarkan definisi yang termuat dalam disertasi mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya yang mengkaji masalah bid’ah, Dr. Abdul Asrar dan Dr. Hamis Syafaq menjelaskan pengertian bid’ah sebagai “Sesuatu ajaran yang tidak ada tuntunannya dari Nabi Muhammad Saw. terkait dengan masalah aqidah dan ibadah”.

Terkait masalah ibadah, dipilah-pilah lagi berdasarkan analisis kategoris, mana yang dikatakan bid’ah dan mana yang tidak dikatakan bid’ah, yaitu:

1.Ibadah mahdhoh yang telah ditentukan waktu, tempat dan tata caranya oleh al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw., jika tidak mengikuti ketentuan tersebut maka disebut bid’ah. Sebagai contoh, ibadah haji telah ditentukan waktu, tempat dan tata caranya. Waktunya dilaksanakan pada bulan haji di Makkah al-Mukarramah dengan kaifiyyat sebagaimana yang telah ditentukan. Jika dilakukan di bulan, tempat dan tata cara yang lain, maka dinamakan bid’ah. Misalnya pergi haji ke India atau ke Iran dan seterusnya.

2.Ibadah mahdhoh yang telah ditentukan waktu dan caranya, tapi tempatnya tidak ditentukan. Seperti sholat lima waktu dilaksanakan pada waktunya sesuai dengan tatacara yang telah ditetapkan. Adapun tempatnya bisa di masjid, mushollah, rumah atau tempat-tempat lain yang layak digunakan untuk sholat. Jika waktu dan caranya dirubah, maka dinamakan bid’ah. Misalnya sholat subuh digeser pada waktu isya, atau ditambah rakaatnya menjadi tiga.

3.Ibadah yang telah ditentukan tata cara dan tempatnya tapi tidak ditentukan waktunya seperti ibadah thowaf. Ibadah Thowaf itu adalah mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali. Tempatnya di Makkah al-Mukarramah. Waktunya bisa kapan saja. Jika menambah atau mengurangi jumlah thawaf maka itulah bid’ah. Atau thawaf dilaksanakan dengan ka’bah buatan di luar kota Makkah, kecuali diniati sekedar hanya untuk latihan bagi calon jama’ah haji atau latihan untuk memperkenalkan tatacara thawaf kepada anak-anak kecil.

4.Ada juga ibadah yang tidak ditentukan cara, waktu, dan tempatnya. Contohnya dzikir. Dzikir itu bebas secara kaifiyyat atau cara, bebas secara waktu dan bebas secara tempat. Karena perintahnya bersifat umum berdzikir sebanyak-banyaknya. Dari segi cara bisa dilakukan secara sendiri-sendiri, bisa secara bersama-sama, bisa dilakukan secara keras-keras bisa juga secara khafi, bisa pagi hari, siang hari, malam hari atau kapanpun ada waktunya. Dzikir bisa dilakukan di rumah, di masjid, musholla, atau dimana saja yang layak, kecuali di WC.

Kemudian Prof. Ahmad Zahro bercerita bahwa suatu waktu, di masjid al-Akbar Surabaya, dikunjungi oleh Imam Masjidil Haram, setelah selesai sholat, beliau diberi kesempatan untuk berdiskusi, tanya jawab dengan jama’ah sholat. Seorang jama’ah bertanya tentang dzikir berjama’ah usai sholat. Imam Masjidil Haram yang wahabi itu menjawab bahwa dzikir berjama’ah usai sholat itu bid’ah. Setelah acara tanya jawab usai, Prof. Ahmad Zahro mengajak diskusi Imam Masjidil Haram di ruang khusus terkait jawaban bid’ah tadi. Prof. Ahmad Zahro menjelaskan panjang lebar tentang masalah bid’ah ini, Imam Masjidil Haram yang dari segi umur lebih tua dari Prof. Ahmad Zahro itu pun mengerti dan paham.

Hadist Nabi yang menjelaskan tentang dzikir itu bisa hadist qauli, biasanya dimulai dengan kata-kata sami’tu, saya mendengar, bisa hadist fi’li, biasanya diawali dengan kaana, suatu saat, atau hadist taqiri dimana Nabi diam atau menyetujui apa yang dilakukan oleh para sahabatnya tanpa menegur atau melarangnya.

Yang membuat beliau heran adalah orang yang berusaha untuk melakukan amal kebajikan, kok dipersoalkan. Seharusnya yang dipersoalkan itu mereka yang tidak melakukan amal apa-apa. Oleh karenanya, beliau menegaskan bahwa orang yang beramal itu pasti ada dalilnya, tidak mungkin orang yang beramal tanpa dalil. Perkara tidak setuju dengan dalil yang dijadikan patokan, ya tidak masalah, yang penting tidak melanggar aturan agama.

Orang yang melakukan dzikir secara sendiri-sendiri, ada dalilnya, orang yang melakukan dzikir secara berjama’ah ada dalilnya bahkan yang tidak melakuka dzikir pun, ada dalilnya karena mengganggap bahwa dzikir itu hukumnya sunnah saja. Jadi menurut beliau, orang yang mudah mengatakan bid’ah itu adalah mereka-mereka yang belum menemukan dalilnya.

Oleh karenanya, beliau menekankan sekali lagi, jangan mudah mengkafirkan saudara muslim, jangan mudah mencap saudara muslim menjadi ahli neraka, jangan mudah memunafiqkan saudara muslim dan jangan mudah membid’ah-bid’ahkan amalan saudara muslim, karena hal itu akan membuat mereka sakit dan tersinggung sehingga menimbulkan perpecahan diantara umat. Bahkan takutnya nanti, mereka yang biasa membid’ahkan orang lain itulah ahli bid’ah yang sebenarnya. Wallahu a’lam.

Surabaya, 13 Desember 2018